Sudah seminggu ini tubuhku terkulai lemah di atas sebuah brankar dalam ruangan di sebuah rumah sakit. Entah penyakit apa yg menyerangku, aku tak tahu dan tak mengerti. Yg pasti aku merasakan demam yg sangat tinggi dan rasa nyeri di kepala dengan sakit yg amat menyiksa, Kesakitan yg belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan aku tak bisa melakukan apapun untuk melawan rasa sakit itu. Aku hanya bisa pasrah menerimanya.
Pagi itu aku merasa kondisiku sedikit membaik. Panas tubuhku tidak seperti kemarin, dan nyeri di kepalaku pun tidak seberat beberapa hari sebelumnya.
“Mau sarapan?” Tanyanya dengan raut muka yg cerah, barangkali karena melihat ada perkembangan baik dengan kondisiku.
Aku menggelengkan kepala, karena memang belum memiliki keinginan untuk menyentuh makanan.
“Minum ini saja ya?” Kali ini Ibu menawarkan sari kurma, beliau tidak memaksaku untuk makan. Aku menurut saja, kusambut satu sendok sari kurma itu dengan suapan, meski tanpa selera.
Lengang, tiba-tiba saja aku merasa seperti itu. Padahal suasana pagi di rumah sakit itu cukup meriah. Lorong-lorong rumah sakit penuh tawa para pengunjung yg hendak menghibur si sakit.
Rijal datang. Kemarin sore aku menelponnya untuk datang menjengukku hari ini. Awalnya dia menawarkan hari yg lain ketika dia libur dari mengajar. Namun entah mengapa aku merasa dia harus datang hari itu juga. Aku masih ingat saat itu, antara sadar dan tidak aku katakan padanya , aku ingin dialah yg mengurus jenazahku dari awal. Saat itu sahabatku tersebut terdiam cukup lama, entah apa yg ada di benaknya setelah mendengar perkataanku itu. Aku katakan lagi padanya bahwa itulah permintaan terakhirku sebagai seorang sahabat.
“Apa kabar avonturir?” Tanyanya dengan senyum menyejukkan setelah menyalami dan memelukku. Wajahnya begitu teduh.
Kami berdua dibesarkan dalam lingkungan yg sama semenjak kecil, sampai kami terpisah di masa remaja kami. Aku dengan petualangan dan dia mondok, jadi santri.
“Beginilah ustadz,” jawabku. Dia memang sudah sangat layak dgn sebutan itu. Bukan hanya karena kadar keilmuannya, namun juga karena perilaku kesehariannya “Aku masih menunggu,.” lanjutku.
“Sabarlah,” katanya. Dia memahami arah perkataanku. “Tapi apa kau yakin dengan apa yg kau rasakan ?”
“Ya, aku yakin sekali. Aku akan mati, dan kurasa saat itu sudah semakin dekat.”
Sahabatku itu terdiam, tak mampu berkata-kata lagi. Dia seperti asyik memandangi wajahku. Sesekali dia tersenyum setelah memandanginya, lalu ada bulir bening di kelopak matanya.
Suasana berubah seketika menjadi sedikit gaduh setelah kedatangan beberapa temanku yg lainnya. Sebenarnya, dari hari pertama dirawat aku langsung menghubungi beberapa orang dari meraka untuk segera menjengukku. Aku ingin mereka menemaniku dalam keadaan seperti itu. Namun karena memang mereka memiliki kesibukan yg mungkin saat itu tak bisa mereka tinggalkan, maka di hari itulah mereka baru sempat datang menjenguk untuk melihat keadaaanku.
*** Menjelang zhuhur, aku minta Rijal memapahku untuk mengambil wudhu. Beberapa orang dalam ruangan itu merasa keberatan. Mereka memberikan alasan yg sangat logis dan memang dibenarkan syari’at. Aku sedang sakit, dan dengan kondisiku ini aku mendapat keringanan. Aku boleh mengganti wudhu dengan tayammum. Namun aku tetap dengan keinginanku. Akhirnya Rijal memapahku dan membantuku berwudhu.
Setelah beberapa saat aku merebahkan tubuh di atas brankar selesai berwudhu, tiba-tiba kondisiku drop. Entah apa yg terjadi. Semua orang panik. Aku minta Rijal untuk terus duduk di dekatku. Di sisi lainnya, Ibuku sedari tadi duduk di
Seorang dokter bergegas menghampiri brankarku. Dia meminta semua orang dalam ruangan itu untuk bersikap tenang. Sejurus kemudian dokter itu menempelken stetoskop di beberapa bagian tubuhku, kemudian memintaku membuka mulut dan menjulurkan lidah. Begitu selesai, dia berkata begini dan begitu. Entah apa yg dikatakannya, aku tak begitu memperhatikan. Aku semakin merasa terpisah dari orang-orang yg ada dalam ruangan itu. Aku merasa tak berada dalam ruangan di sebuah rumah sakit bersama orang-orang dekat yg menyayangiku dan saat itu mulai cemas dengan keadaanku Aku merasa aku sedang memasuki sebuah dunia baru.
Aku berpaling ke sebelah kiriku, sedikit berbisik aku berkata pada sahabatku itu, “Mungkin aku sedang sekarat. Ya, aku sedang merasakan pedihnya sekarat,” ucapku dengan bola mata yg terus bergerak seolah akan terbalik.
“Istighfar!” Begitu katanya. Bulir bening yg sedari tadi sudah menganak sungai di kelopak matanya kini mulai jatuh satu-satu di pipinya. Dia mengusap keningku yg mulai mengucurkan keringat cukup deras.
“Tak usah bersedih ustadz,” pintaku.
“Aku bukan sedih. Aku iri padamu,” katanya berbisik di telingaku. ”Ini adalah tanda kebaikan. Baginda Nabi saw katakan saat Beliau dalam sakaratul mautnya, orang beriman akan mengeluarkan keringat yg deras dari keningnya saat sakaratul maut” katanya mengutip sebuah hadits.
Kali ini mataku yg menjatuhkan bulir-bulir bening setelah mendengar penjelasan sahabatku itu. Entahlah, sebagai seorang pendosa aku merasa tak pantas, tapi di sisi lain aku merasa sangat beruntung dengan kemurahan-Nya.
Aku minta disandarkan agar aku bisa melihat semua orang yg ada dalam ruangan itu dengan jelas. Kulihat Ibu mulai sesenggukan, mungkin dia mendengar percakapanku dengan Rijal.
“Sabarlah, Bu. Jika memang sudah saatnya, relakan saja. Maafkan semua kesalahan saya,” ucapku. “Saya mohon Ibu mau mengikhlaskan semuanya.”
Ibu tak mampu berkata-kata, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus menciumi wajahku. Airmatanya semakin deras mengalir.
Semua orang yg berada di ruangan itu terkejut. Mereka mulai memahami arah pembicaraanku.
Bapak yg ada di samping Ibu terlihat lebih tegar, namun rona kesedihan di wajahnya tak mampu beliau sembunyikan..
“Maafkan semua kesalahan saya, Pak,” ucapku lirih. Aku merasa begitu banyak perbuatanku yg telah membuatnya kecewa. Dan hingga saat itu aku belum mampu memberikan apapun untuk membahagiakannya.
Bapak hanya mengangguk pasrah. Matanya mulai basah.
Aku mengalihkan pandanganku kepada teman-temanku yg sedari tadi berdiri di depan brankar, dekat kakiku. Kupandangi satu persatu wajah mereka.
“Tidak, kamilah yg harus minta maaf. Kami baru sempat mengunjungimu hari ini, padahal kau sudah seminggu berada di sini. Kami lebih mementingkan kesibukan kami daripada engkau, sahabat kami,” salah seorang dari mereka berbicara. Yg lain mengangguk senada.
“Sudahlah, tak ada yg perlu kalian sesali. Kalian tetap teman-teman terbaikku. Ini semua tak akan mengubah kedudukan kalian di hatiku,” suaraku semakin terdengar lemah. “Aku sangat senang kalian ada di sampingku saat ini. Aku sedang sekarat.”
“Tidak. Kau tak boleh berkata seperti itu,” salah seorang temanku menyela. “Ini semua akan berlalu. Dan kau akan kembali sehat. Kita akan kembali bersama.”
Aku tersenyum, “Kalian tak perlu menghiburku seperti itu, aku sudah siap dan rela dengan apa yg akan terjadi. Dan kalian pun harus rela.”
Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yg amat sangat. Perih yg tak terperi. Aku mengatupkan kedua mulutku, ada erang tertahan di
“Wajaa-at sakratul mauti bil haqq” aku menggumam berulang-ulang, mengutip sepenggal ayat Qur’an. Aku meniru apa yg dikatakan Sayyidina Abu Bakar r.hu, orang yg paling dicintai Baginda Nabi saw saat menghadapi sakaratul mautnya
Rijal mendekatkan telinganya ke mulutku, mencoba mendengar apa yg aku gumamkan. Lantas dia mengangguk-anggukan kepalanya dan ikut bergumam, “Benar. Sungguh, sakaratul maut pasti akan datang dengan sebenar-benarnya.”
Kedua kakiku sampai lutut sudah mati rasa. Aku sudah tak mampu lagi menggerakkannya. Kini rasa sakit itu datang lagi, merambat dari lutut sampai pusarku. Rasa sakit yg tak pernah terbayang sebelumnya. Barangkali setara dengan rasa sakit yg dihasilkan sayatan puluhan pedang dalam waktu bersamaan. Begitu hebat. Namun ada sesuatu yg mengalihkan perhatianku, sehingga rasa sakit itu sedikit terlupakan. Aku mencium bau yg sangat harum. Begitu semerbak. Wangi yg sebelumnya tak pernah kucium. Bahkan mungkin tak akan pernah didapati di dunia ini. Semakin lama wangi itu semakin jelas.
Rijal mulai mentalqinkanku. Dia terus membimbingku untuk mengucapkan kalimat Thayyibah. Dengan susah payah kuikuti. Terbata-bata mulutku mengucapkan kalimat itu. Rasa sakit itu masih ada. Atau mungkin akan selalu ada. Kini malah semakin hebat. Aku merasa semua anggota tubuhku tak mampu lagi kugerakkan. Tenggorokanku serasa tercekat. Nafasku begitu berat. Dadaku megap-megap. Aku merasakan haus yg sangat menyiksa. Barangkali, bila semua air yg ada di atas permukaan bumi saat itu kuminum untuk menghilangkan dahaga tersebut, aku rasa tetap tak mampu menghilangkannya. Namun beruntunglah aku, wangi itu semakin semerbak. Semakin dekat denganku. Semakin nyata. Sehingga perhatianku bisa teralihkan dari rasa sakit yg sangat menyiksa itu, dan hal itu mampu menguranginya..
Saat itu pun tiba, saat akhirku. Beriring erang tertahan dari mulut yg terkatup, tubuhku meregang nyawa. Sayup-sayup suara tangisan di ruangan itu mulai mengabur. Semua yg kulihat kini serba putih. Benar-benar pemandangan yg menyejukkan mata. Begitu menggembirakan. Kini aku benar-benar bisa melihat makhluq menawan yg tak pernah kulihat sebelumnya dengan mata kepalaku sendiri. Makhluq yg selama ini hanya kudengar dari cerita yg keluar dari mulut ustadz dan para penceramah. Ini nyata, mereka benar-benar ada. Mereka seperti sedang bersiap menyambut kedatangan seseorang. Tapi siapa yg sedang mereka tunggu? Aku sangat berharap akulah yg sedang mereka nantikan kedatangannya. Sungguh. Tiba-tiba semua makhluq menawan itu melihat ke arahku kemudian mereka tersenyum, lalu serentak mereka berkata padaku: “Salaamun ‘alaik……………………”
ikut merinding euy...
ReplyDeleteKematian yang indah, semoga saja kematianku nanti bisa seindah itu, didampingi orang2 yang kusayangi.amiinn
ReplyDeletebtw, ak kasi award lo ke atenk. Friendship award
wah postingan ttg kematian...
ReplyDeletesedih bro
postingan yg bagus, mengingatkan kita kepada kematian, sesuai sabda Rasul Perbanyaklah mengingat kematian karena dapat membuat hati menjadi lembut hingga tak ada lagi keinginan untuk menzalimi orang lain, GREAT DEH
ReplyDeletebtw sibuk apa nih skrg a, kok g pnh online lagih??? kapan mu journey nya??
cieeeee yg mu lamaran, ma sapa tuh, eh aa itu bukan puisi buat neng lgih, itu cerita seseorang yang aku buatin puisinya hihihii, tp makasih dah mampir ya a
ReplyDeletemampir. baru sempet. kok gak ada buku tamu?
ReplyDeletecerita yang sungguh menakjubkan, jadi ingat mati!
ReplyDeleteceritamu menyentuh.
ReplyDeletemengingatkan isma pada suatu waktu, dimana azdal hampir menghimpit jiwaku.
saat-saat tersulit dalam hidupku.
akhirnya menyadari, bahwa hidup sangat berharga.
mampir...ceritanya serem amat. soal kematian.
ReplyDeletehikz.. ceritanya bener2 ngena ke hati..
ReplyDeletemampir mas.. ada award buat mas