Dari sudut sesak sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta,tercium aroma kematian. Aromanya sempat membuat pengap orang-orang di sekitarnya. Mereka merasa membaui nanah dari borok sebesar kepala.
Aroma kematian itu berasal dari Didit, anak yang diperkirakan berumur sepuluh tahun. Anak yang mempunyai sebentuk wajah yang panjang, juga lengan dan tungkai yang panjang.Kulitnya gelap terpanggang matahari. Bocah itu meninggal dengan cara yang amat remeh. Hanya tertusuk paku. Penyebabnya pun juga sangat remeh, orang tua yang kebanyakan anak, dan tak becus mengurus anak-anaknya.
Bapak yang pemalas karena hanya mampu memberi penghasilan senen-kemis sebagai tukang servis elektronik. Ibu si Didit, pun tak kalah gemblungnya. Entah mengapa perempuan itu tidak henti-hentinya bunting, dan sudah tiga minggu ditahan rumah sakit karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya persalinan. Mulutnya yang berbusa-busa mengatakan dia meninggalkan tiga orang anaknya di rumah ditanggapi perawat rumah sakit dengan cibiran, ”Emangnya gue goblok, bisa dikadalin.” Ya, begitulah. Didit wafat.
Biarlah dia mendapat penghormatan dengan kata wafat, daripada menyebutnya dengan mampus seperti anjing jalanan, walaupun nasib Didit pun sebhenarnya tak lebih baik. Setidaknya dengan kata-kata itu ia tetap mendapat penghargaan sebagai manusia, bahwa di dalam tubuhnya juga ada nyawa manusia.Walaupun mungkin Didit sudah lupa semuanya, karena ruhnya sudah terbang ke alam ruh. Lupa bagaimana ia meregang nyawa di rumah sakit.Lupa sudah ia, bagaimana mahasiswi-mahasiswi kedokteran hanya menontonnya seperti pertunjukan sirkus saat tubuhnya mengejang dan matanya membelalak, sebagai pertanda infeksi tengah menyeruak di tubuhnya.
Didit sudah lupa itu semua, seperti semua orang, yg sebentar lagi akan melupakan kewafatannya. Semudah melupakan kisah tragis di sebuah sinetron. Karena berita-berita seperti Didit akan lebih banyak lagi terdengar, bahkan yang jauh lebih buruk.
Didit dimakamkan dengan layak, setidaknya ada doa bersama yang menghantarkan pemakamannya. Ia dikuburkan di bawah gundukan tanah dengan sebuah nisan yang mencuatkan namanya. Akan ada orang lewat nantinya yang akan membacanya, dan menyadari ada anak manusia yang dikubur di sana. Walaupun orang yang lewat itu barangkali tidak akan berpikir lebih jauh untuk mempertanyakan siapa Didit sebenarnya. Seakan gundukan tanah merah dan batu nisan itu telah menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Didit adalah kewajaran semata-mata. Siapa yang dapat mengetahui ajal manusia? Siapa pula yang dapat melawan takdir kematian?
Kisah Didit telah berakhir begitu nyawanya lepas dari raga. Kerumunan orang yang tadinya menggebu- gebu membicarakan perihal kematiannya mulai kehilangan gairah. Mereka kehabisan bahan dan peminat. Apalagi yang dapat dibicarakan pada orang yang ruh-nya telah terbang? Tak seorang pun dari para penggunjing itu yg berminat membicarakannya lagi, apakah suatu ketika dalam hidupnya, Didit pernah mempunyai cita-cita. Pernahkah dalam tubuh dekil dan kulit legamnya tercipta lamunan akan hidupnya di masa depan?
Didit sudah lupa itu semua, seperti semua orang, yg sebentar lagi akan melupakan kewafatannya. Semudah melupakan kisah tragis di sebuah sinetron. Karena berita-berita seperti Didit akan lebih banyak lagi terdengar, bahkan yang jauh lebih buruk.
Didit dimakamkan dengan layak, setidaknya ada doa bersama yang menghantarkan pemakamannya. Ia dikuburkan di bawah gundukan tanah dengan sebuah nisan yang mencuatkan namanya. Akan ada orang lewat nantinya yang akan membacanya, dan menyadari ada anak manusia yang dikubur di sana. Walaupun orang yang lewat itu barangkali tidak akan berpikir lebih jauh untuk mempertanyakan siapa Didit sebenarnya. Seakan gundukan tanah merah dan batu nisan itu telah menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Didit adalah kewajaran semata-mata. Siapa yang dapat mengetahui ajal manusia? Siapa pula yang dapat melawan takdir kematian?
Kisah Didit telah berakhir begitu nyawanya lepas dari raga. Kerumunan orang yang tadinya menggebu- gebu membicarakan perihal kematiannya mulai kehilangan gairah. Mereka kehabisan bahan dan peminat. Apalagi yang dapat dibicarakan pada orang yang ruh-nya telah terbang? Tak seorang pun dari para penggunjing itu yg berminat membicarakannya lagi, apakah suatu ketika dalam hidupnya, Didit pernah mempunyai cita-cita. Pernahkah dalam tubuh dekil dan kulit legamnya tercipta lamunan akan hidupnya di masa depan?
** Didit masih terpekur memandangi layar TV yang menyala. Sudah dua minggu Ibu tidak pulang dan keadaan rumah semakin berantakan. Bapak tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun ia lebih banyak menganggur. Bapak lebih sering kelihatan bengong sambil menghisap rokoknya daripada mengerjakan apapun. Diditlah yang lebih banyak mengurus Lita adiknya yang berusia tiga tahun, sementara Mona adiknya yang berumur lima tahun asyik main sendiri, entah ke mana.
Mungkin Mona main ke tetangga dan merengek minta makan di sana. Sudah tiga hari tidak ada makanan sama sekali di rumah. Bapak tidak memasak dan tidak berusaha mencari makanan buat mereka. Selama hampir dua minggu Didit-lah yang memasak nasi dengan magic jar dengan lauk seadanya, lebih sering kerupuk atau mi instan. Didit membenci Bapak yang tidak peduli pada keluarga. Bapak tidak pernah sungguh bekerja keras untuk keluarga.
Pekerjaan sebagai tukang servis elektronik dikerjakan Bapak dengan asal-asalan, sehingga tidak ada orang yang menjadi langganan Bapak. Bapak lebih sering menipu daripada sungguh-sungguh bekerja. Bila tidak ada uang yang masuk ke kantongnya, Diditlah yang menjadi pelampiasan kemarahan Bapak. Kata-kata makian dan pukulan diterima Didit dengan dada yang meradang. Bapak berkali-kali mengatakan Didit anak yang tidak berguna, anak yang keras kepala, sering mengusir Didit, bahkan mengatakan akan membuang Didit di jalanan.
Didit menghembuskan nafas perlahan, merasakan hangat bara di sana. Didit mengelus perutnya dan melihat jam dinding. Sudah jam dua siang.Belum sebutir makanan pun yang masuk ke perutnya.Tadi pagi ia sempat menyuapi Lita dengan sepotong pisang goreng yang dikasih Mbak Wati yang mengontrak di kamar sebelah. Didit sedang berpikir keras untuk mencari uang, agar besok mereka bisa makan.
Didit ingin menelepon Ibu agar segera pulang, tapi kata Bapak, Ibu sendiri tidak bisa pulang karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Kapankah Ibu akan pulang? Didit sudah berniat untuk bekerja, tapi ia betul-betul tidak tahu harus bekerja apa. Lamunan Didit buyar dengan kedatangan Bapak yang tergopoh-gopoh. Terlihat jelas wajah Bapak merah padam. Didit belum sempat berpikir banyak ketika Bapak melesat menarik leher kaosnya. Satu tangannya lagi terkepal, siap mendaratkan pukulan. Didit mengkeret ketakutan.
”Bajingan kamu,bocah tengil!” teriak Bapak memekakkan telinga Didit. ”Bisa-bisanya kamu ngemisngemis ke orang lain, bikin Bapakmu ini malu dan diremehkan. Apa kamu tidak bisa mengerem perut gembulmu biar tidak bikin malu keluarga?”
”Maksud Bapak apa? Didit tidak mengemis...”
”Bisa-bisanya kamu minta makanan ke para tetangga. Lebih baik aku mati kelaparan daripada mengemis pada mereka. Mana harga dirimu sebagai laki-laki?”
”Bapak yang keterlaluan...” tiba-tiba suara Didit meninggi, kedua bola matanya basah menahan takut. ”Bisa-bisanya Bapak membiarkan anak Bapak yang masih kecil kelaparan? Mana tanggung jawab Bapak sebagai orang yang menyebabkan anak-anak itu lahir ke dunia. Bapak yang berhutang kepada kami....” air mata Didit mengalir deras melewati kedua pipinya yang tirus. Dadanya yang membara oleh amarah telah membuatnya sanggup untuk bicara.
”Bocah tengik kamu! Berani-beraninya kamu melawan Bapakmu. Durhaka kamu,bajingan kecil. Pergi kamu. Lebih baik aku tidak punya anak daripada punya anak seperti kamu. Aku mau lihat apa kamu bisa hidup di jalanan seperti kata-katamu yang gagah itu. Paling-paling kamu hanya bisa mengemis karena kamu memang tidak punya harga diri...” menggelegar suara Bapak.
Dengan mata memerah Bapak mengumpulkan pakaian Didit dan memasukkan ke sebuah tas. Tubuh Didit yang membungkuk didorong-dorongnya dengan kaki. Lalu Bapak melesat pergi meninggalkan rumah dengan langkah yang garang. Wajah Didit beku. Putih seperti tidak lagi dialiri darah.
”Maksud Bapak apa? Didit tidak mengemis...”
”Bisa-bisanya kamu minta makanan ke para tetangga. Lebih baik aku mati kelaparan daripada mengemis pada mereka. Mana harga dirimu sebagai laki-laki?”
”Bapak yang keterlaluan...” tiba-tiba suara Didit meninggi, kedua bola matanya basah menahan takut. ”Bisa-bisanya Bapak membiarkan anak Bapak yang masih kecil kelaparan? Mana tanggung jawab Bapak sebagai orang yang menyebabkan anak-anak itu lahir ke dunia. Bapak yang berhutang kepada kami....” air mata Didit mengalir deras melewati kedua pipinya yang tirus. Dadanya yang membara oleh amarah telah membuatnya sanggup untuk bicara.
”Bocah tengik kamu! Berani-beraninya kamu melawan Bapakmu. Durhaka kamu,bajingan kecil. Pergi kamu. Lebih baik aku tidak punya anak daripada punya anak seperti kamu. Aku mau lihat apa kamu bisa hidup di jalanan seperti kata-katamu yang gagah itu. Paling-paling kamu hanya bisa mengemis karena kamu memang tidak punya harga diri...” menggelegar suara Bapak.
Dengan mata memerah Bapak mengumpulkan pakaian Didit dan memasukkan ke sebuah tas. Tubuh Didit yang membungkuk didorong-dorongnya dengan kaki. Lalu Bapak melesat pergi meninggalkan rumah dengan langkah yang garang. Wajah Didit beku. Putih seperti tidak lagi dialiri darah.
Ini untuk kesekian kalinya Bapak mengusirnya. Terbayang wajah Ibu. Ibu pasti akan sangat khawatir jika ia meninggalkan rumah. Terbayang wajah Lita dan Mona yang tak berdosa. Bagaimana nasib kedua adiknya itu bila ia pergi. Mengapa Ibu pergi begitu lama dan meninggalkan anak-anaknya yang terlantar? Mengapa Ibu tidak boleh pulang karena ia tidak mampu membayar biaya melahirkan? Bukankah dengan tinggal di rumah sakit, biaya yang harus dibayar Ibu menjadi semakin banyak? Apakah Ibu akan selamanya tinggal di rumah sakit menjadi sandera?
Mengapa rumah sakit menyandera bukan mengobati? Tahukah para pemilik rumah sakit itu bahwa ada tiga anak terancam nyawanya karena ditelantarkan. Barangkali nyawa mereka bertiga tidak sebanding dengan biaya melahirkan yang harus dibayar Ibu. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Didit namun tak satu pun mampu ia jawab. Didit bertekad untuk mencari Ibu atau paling tidak meneleponnya untuk mengabarkan keadaan mereka.
Didit ingin pergi dari rumah karena ia begitu membenci Bapak, namun tak tega melihat dua adiknya terlantar. Kebimbangan berkecamuk di hatinya, sementara rasa lapar membuat perutnya terasa terpilin. Didit meringis memegangi perutnya. Matanya meremang oleh air mata. Bagaimanapun Didit adalah seorang bocah yang baru melewati umur sepuluh tahun. Ia merasa takut, marah, sedih, kecewa, cemas, bingung, lelah, dan lapar. Segala rasa itu bercampur aduk di benak Didit. Didit memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya.
Matahari mulai menggelincir ke barat. Hawa panas yang tadinya menyengat kulit sudah mulai terasa sejuk. Dengan badan lemas, Didit melangkah perlahan-lahan menuju ke jalan besar. Sebetulnya Didit tak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia hanya merasa bahwa ia memang harus berjalan.Tidak seorang pun memperhatikan kepergian Didit. Tetangga-tetangga kontrakannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Untunglah Lita sedang tertidur di kontrakan Mbak Wati,dan Mona sedang bermain di rumah Pak De pemilik kontrakan.
Jadi, Didit merasa tenang meninggalkannya. Mudah-mudahan mereka berbaik hati memberi sedikit makanan kepada kedua adiknya itu. Didit melangkahkan kakinya menyusuri jalan sempit di antara rumah-rumah kontrakan yang diapit oleh kompleks perumahan yang dipagari tembok-tembok tinggi. Langkahnya belum jauh ketika ia merasakan sesuatu yang tajam menghujam kakinya. Didit mengerang menahan sakit, sementara darah bercucuran deras dari kakinya.
Didit terus mengaduh-aduh sambil berusaha mencabut paku empat senti yang menancap di kakinya. Rupanya sandal bututnya yang sangat tipis, tidak mampu menahan ketajaman paku. Seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di areal itu menghampiri Didit. ”Kenapa kamu?”
”Ketusuk paku, Bang!” kata Didit lirih sambil memegangi kakinya yang berdarah.
”Makanya hati-hati. Rumahmu di mana?”
”Sana Bang!” tunjuk Didit ke arah rumahnya. ”Tapi aku mau ke jalan besar!”
”Jalan besar apa, kakimu ngocor begitu. Aku anter situ pulang. Kaki situ mesti cepet diobatin.”
”Di rumah tidak ada obat Bang. Orang tuaku lagi tidak di rumah”
”Bocah edan, lalu selama ini yang kasih makan kamu siapa? Aku minta obat merah dulu ke sana. Tunggu sini.” kata si tukang bangunan. Didit memegang erat telapak kakinya yang deras mengucurkan darah. Ia merasa tubuhnya bertambah lemas. Ketika si tukang bangunan kembali membawa obat merah, kesadaran Didit tak lagi sempurna. Ia hanya bisa pasrah ketika si tukang bangunan memapahnya sampai rumah.
”Ketusuk paku, Bang!” kata Didit lirih sambil memegangi kakinya yang berdarah.
”Makanya hati-hati. Rumahmu di mana?”
”Sana Bang!” tunjuk Didit ke arah rumahnya. ”Tapi aku mau ke jalan besar!”
”Jalan besar apa, kakimu ngocor begitu. Aku anter situ pulang. Kaki situ mesti cepet diobatin.”
”Di rumah tidak ada obat Bang. Orang tuaku lagi tidak di rumah”
”Bocah edan, lalu selama ini yang kasih makan kamu siapa? Aku minta obat merah dulu ke sana. Tunggu sini.” kata si tukang bangunan. Didit memegang erat telapak kakinya yang deras mengucurkan darah. Ia merasa tubuhnya bertambah lemas. Ketika si tukang bangunan kembali membawa obat merah, kesadaran Didit tak lagi sempurna. Ia hanya bisa pasrah ketika si tukang bangunan memapahnya sampai rumah.
** Begitulah, cerita Didit menuju ke babak akhir. Darah yang mengucur dari telapak kakinya berangsur- angsur berkurang.Namun kaki itu menjadi bengkak dan membuat tubuh Didit menjadi demam dan ia merasa tubuhnya kaku. Para tetangga yang tidak paham pada penyakit Didit hanya berusaha mengobati dengan berbagai ramuan dan jamu-jamuan yang dibeli di warung. Selama beberapa hari Didit hanya berbaring di tempat tidur.
Tubuhnya meriang dan otot perutnya terasa keras. Bapak memandangnya dengan mata sukar diartikan. Berkali-kali Bapak membanting barang-barang rumah pertanda kekesalan telah memuncak di hatinya. Sampai kondisi Didit menjadi sangat parah. Tubuhnya kejang-kejang , dan ia sulit membuka mulutnya, sehingga para tetangga segera membawanya ke bidan. Namun sang bidan pun sudah angkat tangan karena kondisi Didit sudah teramat parah.
Akhirnya Didit pun terdampar di rumah sakit di mana Ibunya disandera. Keinginan Didit untuk bertemu Ibunya terkabul, hanya sayang, sehari berada di rumah sakit dengan kondisi yang semakin kritis, nyawa Didit lepas dari raga, membawa setumpuk mimpi yang pernah ada di kepalanya. Ibunya hanya dapat memandangi kepergiannya dengan mata bengkak dan perasaan yang hancur lebur.***
kamu tuch kalo nulis cerpen kok slalu yang bikin nangis sich...hicks..hicks...
ReplyDeleteTenk,ini cerpen apa dr kisah nyata sih?kok kayak nyata sekali.. Salute bung atenk!
ReplyDeleteIni cerpen yg diambil dari kisah nyata. Bocah itu tetangga temen saya, di Tambora, Jakarta.
ReplyDeleteDi hari dia meninggal saya sedang di tempat teman saya itu
huuuuuuuu
ReplyDeletesedih banget........
TOP BGT dah ....
siip....
a.... meni mengharukan melow wae caritana, sesekali yg riang gembira dunk, tp two thumbs up, bagus banget meni menyentuh ^_^
ReplyDeletea kemana waktu hari minggu ditunggu dibsm kok g ada yaa
ReplyDeleteweh.. baru tau saya antum penulis cerpen bos.. salute.. nerbitin buku ntar..
ReplyDeletenb: bermimpilah... seperti mimpi seorang lelaki kecil untuk menjadi agen perubahan paradigma matematika yang lebih mudah untuk anak bangsa..