Mengenangnya, apalagi menceritakannya kepada kalian, sosoknya begitu membebani pikiranku. Bagaimana tidak? Sosoknya begitu kontroversial. Kata-katanya ceplas-ceplos. Tetapi penuh tekanan dan hikmah. Tingkah lakunya, setali tiga uang dengan ucapannya. Pakaiannya, ala kadarnya. Compang-camping seperti gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya memunguti kaleng, botol, atau gelas air minum bekas.
Entah bagaimana aku mesti menceritakan kepada kalian. Sebagai pemungut sampah, ia tampak rapi dan bersih. Sebagai gelandangan, ia memiliki rasa dan karsa. Dianggap penjahat pun, ia jauh dari sosok kriminal. Entah siapa dia sebenarnya?
"Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas. Botol dan gelas air minum bekas. Juga pemulung kata-kata bekas. Peristiwa demi peristiwa yang membekas," ujarnya pada suatu pagi. Ia datang kepadaku saat aku celingukan. Kemudian dituturkannya sepotong hikayat tentang seorang kakek yang hidup dengan satu istri dan empat anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah penjualan lencak kaju* yang dipasarkannya. Satu lencak kaju, memberinya Rp 7,500. "Kakek yang menyita perhatianku," lanjutnya. Ia bercerita penuh intonasi dan penghayatan. Matanya selalu menerawang jauh, hingga pada detik yang penuh inspirasi.
"Suatu hari", lanjutnya. "Aku berkesempatan bertemu dengannya. Wajahnya lusuh, tapi tidak menampakkan aura yang lumpuh. Tuturnya lembut. Kilat matanya penuh imajinasi. Sesekali, ia tersenyum. Apalagi, ketika mendengar berita huru-hara, senyumnya semakin menampakkan kematangan. Senyum yang mengembang dari mental kokoh," ia terus bercerita.
Di sela-sela ceritanya, ia menegaskan makna dan hikmah setiap kejadian 'penting'. Ceritanya mengingatkan aku akan nenekku. Nenek yang selalu berdongeng menjelang tidur saat aku masih kanak-kanak. Dongeng yang selalu diterjemahkan: buah apa yang bisa kita petik?
Dan seperti kebiasaannya, ia selalu mengakhiri ceritanya dengan sebait ucapan filosofis. "Aku tidak makan sama manusia. Aku minta makan kepada Tuhanku," tegas kakek itu, ujarnya dengan tatapan sayu. Sunggingan senyumnya seperti hendak menusuk dada pendengarnya.
Ah, mungkin ia pendongeng? Tapi aku selalu dihinggapi keraguan, kegamangan setiap menebak dirinya. Namanya pun, aku selalu sangsi: Kron, Danto, Cobik, Centong, dan sederet nama lainnya. Aku selalu ditertawakan setiap kali memanggilnya.
"Ah apalah arti sebuah nama? Mengenang Shakespeare terlalu lapuk," selorohnya. "Sebagai doa, ia terlalu singkat"
"Lalu?"
Ia tertawa. Tawa yang membangkitkan gairah. Aku mengenangnya karena tawanya yang berteknik ini.
**** Kali pertama aku menemukan namanya di sebuah halaman koran: Kron! Puisi-puisinya begitu rancak. Puisi yang lahir dari kejernihan. Puisi yang tidak menyita kening berkerut. Puisi yang bersahaja.
Kali pertama aku bertemu dengannya, juga mengesankan bahwa ia seorang penyair. Mungkin juga sastrawan. Tapi setelah pertemuan kedua kalinya, kesanku berbeda lagi. Petuah-petuahnya, bahkan ide-ide yang dituangkan dalam cerita-ceritanya, menandaskan keyakinanku akan sosoknya yang lain: kiai atau dai, atau pemangku adat!
"Pesan apa De'?" suara Bu Dango membuatku tergeragap. Aku angkat mukaku. Dan kulihat sumringah Bu Dango secerah pagi.
"Sudah baca cerpen tentang aku?" suara Bu Dango menampakkan kebanggaan. Binar matanya memancar bahagia. "Warung Tepi Kali, judulnya".
"Kron itu pemuda yang hebat, De'," sejenak Bu Dango duduk di dekatku. Tangan ringkihnya meletakkan kopi susu pesananku. Suatu sore, ia datang padaku. Ia utarakan niatnya untuk berbagi cerita denganku. Aku pun bercerita. Bu Dango menerawang jauh. Kata-katanya seperti tetesan hujan. Begitu ritmis. Meski sesekali laksana hempasan ombak menghantam karang. Tidak karuan. Kata-kata yang terus berletusan dari bibir keriputnya. Legam dan berkerut.
Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango sungguh menggugah. Kehidupan orang cilik. Seorang penjaga warung. Pendapatan rata-rata Rp 20.000 per hari. Tanggungan keluarga lima orang. Disuguhkan lewat narasi yang runtut. Bahkan, bumbu kesewenang-wenangan penguasa kepada orang cilik seperti Bu Dango, semisal penggusuran warung Bu Dango yang sudah ketiga kalinya, menyegarkan kilasan ingatan kita akan realita yang biasa direkam siaran televisi. Siaran bernuansa berita dan tragedi. Masih berdasar pengakuan Bu Dango, juga sedikit pendapatku, Kron kadang-kadang seperti para pengarang 'kiri'. Di sini pun, aku curiga: jangan-jangan Kron penganut paham komunis! Kalau ya, apakah ia tidak boleh mengeluarkan pendapatnya tentang diorama hidup yang suram dan penuh intrik para bandit ini?!
"Meski omongannya terasa beraroma kiri, Kron juga shalat," tepis Bu Dango buru-buru. Lalu lanjutnya, "Kron memiliki kepekaan yang tidak dimiliki orang sembarangan. Tidak hanya aku yang diangkatnya dalam cerita-ceritanya. Kasus Bu Wiwit, tetangga sebelah ibu, selesai, berkat tulisan Kron. Ia tidak pandang bulu membantu orang. Ketulusannya dalam membantu orang seperti kami, telah terbukti. Waktu ia mendampingi Bu Aslan," sejenak Bu Dango menggantung ceritanya.
"Cerita apa ya?" Pak Kandeng nampang di ambang pintu. Ia memesan kopi item dan sebatang rokok. "Cerita tentang Kron, toh?" Pak Kandeng mengelap keringat yang menetas di dahinya. "Kron tidak hanya peka. Ia begitu halus dan tulus menerjemahkan fragmen hidup. Ia cerdas dan tangkas menanggapi. Pendapat-pendapatnya tidak asal."
"Enggak makan Pak?" Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak Kandeng. Pak Kandeng tersenyum kecil. Lalu, ia memutuskan tidak makan. Lalu melanjutkan kenangnya akan sosok Kron. "Tafsir Al-Qur'annya juga fasih. Ia mampu menangkap dan menerangkan isinya amat detailnya. Amat terangnya bagi kami yang tidak tahu-menahu apa-apa," tawa Pak Kandeng berderai renyah.
Ah Kron! Perpisahan dengannya, tidak mengurangi akan kehadiran sosoknya. Ia tetaplah sosok yang kontroversial sekaligus menyisakan fenomena kekaguman. Lima hari tidak bertemu dengannya, ternyata referensi tentangnya begitu berlimpah ruah. Referensi yang membuatku semakin ragu dan gamang untuk menebak dan menceritakannya secara pasti: siapa Kron sebenarnya?
**** Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan kegamanganku semakin bertumpuk. Pencarianku akan siapa sebenarnya dirinya, hanya menambah kabur pemahamanku. Tetapi hal yang perlu kalian ingat, berdasar simpulanku: Kron orang penuh misteri! Di mataku dan di mata orang-orang sepertiku:Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, dan Bu Wiwit, Kron sosok yang gagah, berani. Ia tak hanya pahlawan. Bahkan, kami diam- diam memimpikannya bak seorang nabi: penuh pencerahan dan totalitas kepekaan sosial. Sebaliknya, di mata orang-orang yang jadi lawan kami: penguasa, pemilik modal, Kron adalah ular yang menyimpan bisa, yang sewaktu-waktu akan mematikan mangsanya, lawannya: lawan kami!
Seperti pagi ini, kejanggalan diri Kron terpampang di tengah kota. Di tengah alun-alun. Ia telah membuat penguasa kota marah. Ia digantung di tengah alun-alun.
Tubuhnya compang-camping. Ceceran darah mengering di sekujur pakaiannya. Tapi, bukan aroma amis yang menyeruak sampai jarak lima puluh meter. Seperti dipenuhi semerbak bunga setaman hidungku, saat aku mendekat. Tubuh Kron begitu tirus. Ringkihnya lirih. Suaranya pelan. Sangat pelan. Dan di sekelilingnya, orang-orang tersedu. Mata mereka sembab. Orang yang berbaju putih. Di bawah kelabu langit, gerombolan mereka menguar cahaya. Tubuh Kron menjelma mercusuar di tengah mereka. Tubuh yang tergantung di tiang berlumur darah. Sungguh parade magis!
"Dosa apakah yang kau perbuat kawan?" bisikku di telinganya yang menggema. Telinga yang seolah sarang lebah. Suara-suara yang bertahan di gendang pendengarnya, suara-suara yang begitu akrab. Begitu dekat.
"Dosaku hanyalah seorang pemulung, kawan," senyumnya bangga. Kedua tapuk matanya pun mengisyaratkan perjalanan panjang.
Ya, perjalanan panjang. Sejak saat itu, sejak Kron melempar senyum pada kelabu langit, kelam malam. Sejak Kron menghembuskan napasnya di tiang gantungan, kami pun paham akan posisi kami: "para pemulung!" ***
I cant say anything de'.. bangus banget..kenapa sih ga kreatif lagi??apa pekerjaan sudah begitu menyita waktu??
ReplyDeletewah wah a makasih dah mampir ke blog neng lagih, baru in lagi nih neng tapi g tau kreatifitas neng buat bikin cerpen jadi agak mandek karena dah lama g diasah kali ya, ow ya neng baru ngirimin cerpen ma puisi neng loh kemarin ke koran :D mdh2an diterima deh :(, eh btw bagus pisan tulisannya, heuh si aa mah emang g pnh keabisan ide buat bikin tulisan sip lahhh
ReplyDeleteHi…
ReplyDeleteAda info penting banget nih.. Tahun ini Jawaban.Com kembali mengadakan event gede-gedean untuk Para Bloger Kristen, yaitu Christian Indonesian Blogger Festival 2009 (CIBfest 2009). CIBfest kali ini bertema "Menjadi Jawaban Melalui Kreativitas Yang Berdampak". Ada hadiah berupa uang tunai Rp. 15 Juta Rupiah untuk 3 orang pemenang.Pastikan kamu ikutan juga Writing Competitionnya, siapa tahu hasil tulisan kamu terpilih untuk dibukukan! Yupz, Jawaban.Com bekerjasama dengan PT. Elex Media Komputindo akan menerbitkan buku kumpulan karya finalis CIBfest. Kamu ingin ikut terlibat dalam event ini? Caranya gampang dan Gratis!!! Ayo buruan daftar!! Pendaftaran terakhir tgl 30 Agustus 2009 loh.. Jadi log on langsung ke www.cibfest.jawaban.com
Di tunggu yaaa….. God Bless…
ahh...masih sama saat saya baca cerpenmu kali pertama, menghanyutkan karena rangkaian kalimat2 yang kamu susun...
ReplyDelete