Wednesday, October 28, 2009

Jendela Senja

Bila petang datang membayang, aku rindu membawa tubuhku ke pinggir laut luas. Duduk terdiam di tepi dermaga yang mulai senyap. Memanjakan bola mataku pada langit keemasan yg terlukis di angkasa. Berlama-lama, membiarkan retinaku berlarian di atas kanvas nan luas di tengah samudera. Jadikan diri serasa camar yang bercericit hingar. Mengepak-ngepak sayap di atas laut lepas.


Laut, petang, dan langit, adalah kombinasi keindahan semesta. Dalam balutan senja, aku terbang mengembara menuju langit luas. Menyibak tiap awan-awan, menyusuri tiap jengkal kenangan. Selayak layang-layang, menggelinjang dalam taburan fatamorgana. Menelisik dan menghinggapi detik-detik.

Camar dan laut adalah dua keindahan yang sayang dilewatkan. Camar-camar terbang melayang, membelah angkasa dan menyibak lautan. Mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang bisa didapat. Setelah itu, jika sunset telah jatuh ke pelukan senja, mereka berbondong-bondong pulang ke sarang.

Serupa itulah diriku. Mungkin. Terkadang, aku tak bisa menjawabnya. Acap kali aku kelewat terbuai dalam pendar-pendar mentari yang menciptakan keindahan di permukaan laut. Cahaya yang menyatu dengan air biru itu begitu melenakan. Membuatku ingin merengkuhnya lebih dalam ke pelukan mata.



Tak seperti camar, aku terkadang lupa pulang. Padahal, senja telah berganti malam. Dan gelap telah bersanding dengan langit pekat. Menciptakan bintang gemintang yang membuai. Seperti menikmati indahnya siang di permukaan lautan. Malam di atas laut pun tak kalah menakjubkan.

Lupa pulang? Mengapa? Selalu itu tanya yang dilontarkan senyap ketika aku terjaga. Dan aku sering tergagap karena tak bisa menjawab. Bukankah camar saja selalu ingat dengan tujuannya? Otakku menari dalam diam. Pelan berlahan, angin membisikiku jawaban.

"Aku terlalu menikmati indahnya lautan hingga siang dan malam begitu membuai," bibirku meniru bisikan angin yang terburu pergi bersama dingin.

Lautan memang membuai. Membuai setiap yang menikmatinya. Membuai pelaut, membuai camar, membuai turis dan guide-nya. Dan juga membuai, dirimu. Tetapi, di antara mereka ada yang tidak lupa bila senja telah datang. Pulang. Itu yang harus mereka lakukan. Dan membawa setiap bekal dan kenangan yang telah mereka dapatkan seharian.

Karena laut hanyalah sebuah keindahan yang fana. Di balik pendar-pendar cahaya sang raja siang, sesungguhnya tak ada permata di permukaannya. Itu hanyalah ilusi yang ingin mengunci hati. Dan tentunya menipu mata yang terbuai olehnya. Tahukah dirimu, apa sebenarnya warna laut? Jangan pernah menjawab biru. Karena ada juga yang bilang ungu. Padahal, sebenarnya laut tak berwarna.

Aku tersenyum simpul mendengarnya. Senyap tengah bercerita bersama laut dan semilir angin yang melenakan. Membawa kisah-kisah yang dilakoni camar, atau petualangan hebat para pelayar. Dalam sunset keemasan yang memesona, aku terdiam. Membiarkan saja mereka menemani diriku di jendela senja.

Tak percaya? Ambillah sedikit airnya, kemudian tampung di tanganku. Tak ada warna biru itu di sana, yang ada hanya garis-garis tangan yang bercerita akan bekal dan petualangan. Nyatalah, laut itu memang tak punya warna.

Tetapi, mengapa banyak orang yang terbuai akan laut sepertimu? Ah, aku ingin tertawa mendengar itu. Sudah aku katakan tadi, laut itu sangat indah untuk dinikmati.

Indah. Dari mana kau dapat? Tebaklah apa isi di dalam lautan? Selain ikan-ikan elok nan rupawan, karang-karang cantik yang memukau. Laut menyimpan kejahatan terencana buat penikmatnya. Telah menjadi kenangan yang usang kalau badai sering kali menenggelamkan para pelayar. Belum lagi hiu-hiu buas yang siap memangsa. Hanya satu yang membuat mereka seperti itu; kelewat terbuai!

Kembali, aku menenggelamkan diriku dalam sunset senja yang semakin sempurna. Mentari yang seperti tampah merah besar, tergantung di langit barat. Di atas lay out itulah, camar-camar dan kelelawar mengepak-ngepak sayap. Ah, siapa yang tidak akan terbuai akan kerupawanan lautan? Di waktu mentari tengah pongah berkuasa di kursinya, lautan tetap indah menawan. Pun ketika mentari telah ringkih dan letih, laut malah bertambah indah.

Serupa siang, malam tak kalah menggoda. Apalagi ketika purnama tengah sempurna. Bulat. Putih. Besar. Berlayar sendiri di langit luas. Mahakarya yang tiada tara. Pasir-pasir pantai yang basah juga menggoda kulit kaki untuk menjejaknya. Pun debur ombak yang menggelitik gendang telinga. Sayang untuk tak dinikmati.

Tak ada yang tidak membuat orang terbuai dengan lautan. Setiap inci dan detik dari laut adalah keindahan. Kenyamanan akan hati yang tengah gulana. Hingga lupa rumah adalah sebuah kewajaran. Terlampau menikmati, membuatku lupa akan pulang di kala senja yang telah datang membayang.

Setiap orang punya rumah. Dan setiap orang harus pulang juga para pelaut dan camar. Mau atau tidak, pasti akan wajib untuk pulang. Karena kepulangan adalah keharusan. Bila kantuk telah datang menghinggapi mata, tentu tempat terbaik untuk menuntaskannya adalah ranjang.

Apa yang membatasi keduanya? Masa. Sebuah rentang yang punya awal dan akhir. Sama seperti ketika mentari menyembul di balik laut sebelah timur, setelah bergerak pelan berlahan menuju langit sebelah barat. Rentang dan masa yang membentuknya. Dan camar pun melakoninya. Mengapa dirimu tidak?

Aku tergagap. Laut bagi nelayan hanyalah tempat mencari ikan. Dan ikan akan selalu dibawa pulang ke daratan. Sebagai wujud tanggung jawab kepada keluarga, kalau nelayan mencintai mereka.

Selayaknya, begitulah diriku. Pulang sebuah keharusan. Dan kewajibanku adalah mengumpulkan bekal untuk dipertanggungjawabkan. Sebagai bukti kecintaan pada keluarga. Bukan tenggelam dalam ilusi sunset yang hinggap di jendela senja. Sebab, itu hanya akan membuat diri terlena dan lupa akan tujuan awal.

Camar bercericit riang. Ingar-bingar suara mereka di atas permukaan laut. Sepetang ini mereka masih sibuk menyambar-nyambar ikan yang muncul di permukaan. Memanfaatkan tiap detik yang tengah merangkak bersama senja, agar malam-malam dingin tak membuat lapar perut dan anak istri. Serupa camarkah diriku? Berkejaran dengan detik yang makin tergesa. Berkepak-kepak riuh laksana sayap mereka di tengah gempuran ombak dan karang yang mulai ganas. Terlena, terlampau lupa aku akan semua!

Dan aku terjaga dari sunset yang keemasan ketika tempat dudukku telah basah oleh air laut. Rupanya, petang hendak bersalin rupa menjadi malam. Air pasang telah datang sebagai penanda kalau angin laut tengah bertiup ke daratan. Membawa gigil yang membungkus seribu dingin.

"Laut lebih cepat pasang sekarang. Bergegaslah, sebelum terlambat," itu yang dibisikkan senyap. Entah, aku tak tahu, apa yang membawa langkahku bergegas petang ini? Seirama camar yang mulai pulang aku menyusuri bibir pantai, menuju satu arah. Pulang ke rumah yang lebih nyaman. Tetapi, apa yang aku hasilkan dari laut hari ini? Sebuah pendapatan yang wajib aku serahkan kepada orang-orang di rumah. Sebab, laut adalah tempat mencari bekal sebelum pulang di kala senja. Dan tak mungkin aku pulang dengan tangan hampa. Harus ada sesuatu yang dibawa pulang. Tetapi, apa?

Tak mungkin aku membawa sunset pulang ke rumah. Sebab, dia hanya ilusi yang mulai lenyap di balik layar malam. Aku tercenung diam, kakiku dingin dicumbu air laut. Tak ada yang bisa kubawa pulang. Celakalah!

Terburu aku mencari apa pun yang ada di pantai untuk dibawa pulang. Tak mungkin tidak membawa sebuah hasil pun. Masih ada waktu, sebelum malam jatuh kepelukkan pekat. Dan senja bersalin rupa menjadi malam. Aku tak ingin pulang dengan tangan hampa. Sebab, lautan adalah tempat untuk mencari bekal. Bagaimana jika aku lapar di tengah malam? Siapa yang bisa menolongku? Tak ada. Cemas, berkejaran bersama camar yang kenyang dan sarat membawa ikan diparuh mereka. Aku pias, sunset hampir lenyap di jendela senja. ***

3 komentar:

  1. Pada redupnya senja...
    Aku tlah mengisap semua darah dan air mata
    Aku tlah menukarnya dengan segala senyum,
    Untuknya.

    ReplyDelete
  2. rangkaian katanya bagus neng suka :)

    ReplyDelete
  3. @isma: nice poem
    @c1ty: hehe, bkn itu yg penting, bisa nangkep pesannya ga?

    ReplyDelete