Wednesday, February 17, 2010

Epilog

*episode paling menegangkan dalam salah satu journeyku

Hujan terlihat begitu ganas mengguyur bumi di satu malam. Suara halilintar ikut melengkapi malam yg menyedihkan itu. Satwa-satwa liar sepertinya menggigil kedinginan di tempat persembunyiannya. Di sebuah hutan kecil, di luar kota, tampak sesosok tubuh tergeletak. Rata. Tidak bergerak. Basah kuyup, menyatu dengan lumpur. Dan tampak pula sebuah ransel tergolek di samping tubuh itu, menemaninya.


Masih hidupkah tubuh itu?
Hei, lihat! Lihatlah! Tangan itu bergerak! Mulai meremasi lumpur. Dan, lihat! Kepalanya yg terbenam di lumpur terangkat pelan-pelan. Dan, matanya terbuka perlahan. Tubuh itu mencoba bangkit, kawan. Namun, ah, tersungkur lagi. Dia berusaha bangkit lagi, Tangan kanannya menjadi tumpuan berat tubuhnya.

Suara gelegar halilintar menyentaknya.
"Hei," gumamnya parau. "Ada dimana aku?"
Dia memandang ke sekeliling yg gelap gulita, lalu dengan susah payah mencoba duduk.
Sekujur tubuhnya terasa lemah, dia menggigil kedinginan, bibirnya biru gemetar.

Terhuyung-huyung dia menyeret ranselnya. Suasana mencekam mendera jiwanya. Beberapa kali ia terpeleset, terjerembab, dan mencium lumpur lagi. Tapi remaja bandel itu terus menerobos hujan dan semak belukar,untuk mencari setitik nyala lilin. Seseorang yg ingin mencapai tujuan dalam pergulatan hidupnya, bukan berarti dia tidak pernah jatuh. Akan tetapi, dia berusaha untuk bangkit berdiri lagi setelah jatuh.


Remaja bandel itu berhasil mencapai jalan raya, dia tersungkur kelelahan di pinggirnya. Dia belum berusaha berdiri, dadanya masih terasa sesak. Mulutnya megap-megap. Tubuhnya semakin menggigil dan bibirnya gemetar kebiru-biruan. Pucat pasi. Tangannya beberapa kali mengusap air yg membasahi wajahnya. Penderitaan jelas tergambar di wajah remaja bandel itu, namun sinar matanya memancarkan kemauan yg keras untuk terus hidup.

Dari kejauhan, dia melihat sorot lampu menembus curah hujan yg rapat. Tergesa-gesa ia pun bangkit, lantas melamaikan tangannya. Namun, oh! Mobil sialan itu tak mempedulikannya, terus melaju. Air bercipratan menampar jiwanya. Remaja bandel itu menggerutu kecewa, tapi ia tetap mempertahankan nyala kecil di hatinya agar tidak padam. Ia pun mencoba melangkah lagi, tapi harus mengambil langkah ke arah mana? Sementara langit yg menjadi patokan sedang mendung kelabu, dan jiwa yg biasanya diajak kompromi pun gundah gulana.

Beberapa kali mobil melintas mencipratkan genangan air ke tubuhnya, dan beberapa kali pula ia sia-sia menyetopnya. Sepertinya sopir-sopir itu sangat ketakutan untuk mengangkut muatan di tengah jalan dalam cuaca seperti itu. Dia mendengar lagi deru suara mesin di belakanganya. Truk itu melindas genangan air. Remaja bandel itu berusaha menepi, saat itu dia sudah tak lagi mempunyai niat untuk menyetopnya. Ia berpikir, toh hal itu akan sia-sia juga ia lakukan. Namun sekitar sepuluh meteran, truk itu berhenti mendadak. Suara remnya yg berderit tertelan bunyi gemuruh hujan. Truk itu mundur dan berhenti di depannya.

Pintu depannya terbuka. "Cepat, naik!" Terdengar suara orang. Suara tersebut menyulut semangat remaja bandel itu yg mulai mengecil. Dia menyerahkan ranselnya, mengulurkan tangannya. Tubuhnya ditarik ke atas truk, dia masih terlihat lemah sekali.

Ada dua orang di dalam truk itu. Sopir dan keneknya. Mereka memperhatikan sosok remaja bandel tadi dengan tatapan memprihatinkan dan keheranan. "Mau rokok?" Si kenek menyodorkan sebungkus filter. Dia berharap dengan sebatang rokok bisa mengusir rasa dingin yg menusuk tulang remaja bandel itu.

"Tidak pak, terima kasih. Saya tidak merokok," remaja bandel itu menolak. Tangannya masih gemetar, si kenek buru-buru menyerahkan sebuah handuk untuk menghangatkan tubuh remaja itu. Dia pun tersenyum, "Terima kasih pak," ucapnya masih dengan mulut yg bergetar. Dan si kenek hanya mengangguk dengan sebuah senyum di wajahnya.

"Mau ke mana, Pak?" remaja bandel itu semakin menggigil, suaranya pelan sekali.
"Ke timur," kata si sopir.
Remaja bandel itu menghela nafas, dadanya terasa sangat lapang. Ada kehangatan yg menjari dadanya, matanya berkaca-kaca. Ternyata benar: seperti juga orang jahat, orang baik itu ada dimana-mana.
"Terima kasih, pak" ucap remaja tadi dengan isak tertahan. Si bandel itu menatap lurus ke depan. Ke kaca mobil yg buram dipukuli hujan. Ke jalan yg suram diterobos lampu mobil.

"Habis dirampok, Nak?" Si sopir menyatakan keheranannya.
Remaja bandel itu menggeleng, "Saya tersesat, Pak" itu saja yg keluar dari mulutnya. Kemudian dia berusaha melawan dinginnya malam. Kepalanya disandarkan ke jok, dan matanya pelan-pelan terpejam.
Dia lelah sekali.


***Remaja bandel itu merasa sedang berada di tengah padang tandus yg lengang, sendirian. Ia berjalan, kepanasan, kedinginan. Kerongkongannya kering, seperti tercekat. Ia merasa haus sekali. Lantas tangannya menggapai-gapai langit.

Tiba-tiba ia melihat Ibu-Bapaknya, kemudian adik-adik kecilnya. Mereka tersenyum serempak ke arahnya. Ia menangis menikmati senyum mereka, lantas berteriak-teriak mengejar bayangan mereka. Ia berusaha meraih mereka, orang-orang yg begitu ia cintai.

Tubuh remaja bandel itu tergolek memprihatinkan. Orang-orang yg berpeci dan sarung itu dengan telaten merawatnya. Secara bergilir mereka menjagainya, memberinya air minum bila ia kehausan, melagukan ayat-ayat suci bila ia gelisah.

Tiba-tiba tubuh itu menggeliat, terjaga dari tidurnya yg menggelisahkan. "Oh,..ada dimanakah saya?" Suaranya begitu lirih, "Siapakah kalian?"
Para santri itu mengucap syukur. Wajah mereka yg sering dibasuh air wudhu tambah bersinar saking gembiranya. Mereka menadahkan kedua tangannya sambil berkomat-kamit.

Remaja kesepian itu menyadari itu semua. Kemudian ia duduk, mengedarkan pandangnya ke sekeliling. Ternyata ia berada di sebuah pesantren. Ia memandangi sebuah bangunan memanjang yg terdiri dari blok-blok itu. Setiap blok terdiri dari beberapa kamar, dihuni sekitar sepuluh orang santri, dan setiap blok dikepalai seorang santri yg sudah lama tinggal di pesantren.

"Sudah mendingan, Ilham?" Syafi'i, anak Madura, kepala blok itu menegurnya.
Si bandel mengangguk lemah. "Siapa yg membawa saya ke tempat ini, Mas?"
"Seorang sopir dan keneknya," anak Madura itu tersenyum. "Mereka melihatmu di jalan ketika hujan lebat. Kata mereka, kamu tersesat."

"Saya belum sempat mengucapkan terima kasih pada mereka," Ilham menunduk. "Dimana saya bisa menjumpai mereka, Mas?
"Sebulan sekali mereka datang ke sini, mengantarkan beras pesanan kami," katanya lagi. "Untung ranselmu tahan air. Barang-barangmu ada di dalam. Kamu periksa saja, takut ada yg hilang."

Ilham mengangkat wajahnya, dia merasakan sorot mata yg teduh di sana. Sesuatu yg lama ia dambakan. Kematangan akan makna hidup, akan sesuatu yg mana harus dilakukan dan mana yg harus ditinggalkan. Tiba-tiba, ia merasa kecil sekali di depannya.


*** "Am, sini sebentar." Syafi'i,anak Madura itu memanggil si bandel
Ilham menutup Al-Qur'annya, menyimpannya di atas lemari. "Ada apa, Mas?" tanyanya kemudian.
"Ada yg ingin Mas bicarakan," lembut dan pasti nadanya.
"Tentang apa, Mas" Ilham bersila di depannya.
"Tentang orangtuamu."

Si bandel terkesiap mendengarnya. Ia seperti tersadar dari lamunannya, "Ada apa, Mas?" Cemas sekali nadanya

Syafi'i membetulkan letak duduknya. "Tanpa sepengetahuan kamu, Am, Mas mengambil inisiatif untuk memberi kabar kepada orang tuamu di Bandung. Alamatnya Mas lihat di catatan perjalananmu. Ketika kamu sedang sakit, Mas kirim surat ke orang tuamu di Bandung," dia berbicara sambil memperhatikan reaksi Ilham.

"Mas menceritakan tentang keadaan saya semuanya? Tentang sakit saya?"
Syafi'i mengangguk
"Oh!" Si bandel menutup wajahnya. "Ibu tentu akan cemas sepanjang hari karena memikirkan kesehatan saya, Mas!"
"Ini ada balasan dari Ibumu, Am. Mas sendiri dapat juga surat dari Ibumu. Beliau menyuruh Mas untuk membujuk kamu agar cepat pulang."

Si bandel menyambar surat yg disodorkan Syafi'i, lalu menuju teras. Buru-buru sekali ia menyobek bagian pinggirnya. Tangannya gemetar ketika mencabut secarik kertas dari dalam amplop itu. Bibirnya gemetar mengeja kalimat-kalimat itu. Surat dari Ibunya tidak begitu panjang:

"Ilham, anakku sayang,
Ibu hanya bisa mendo'akan agar kamu lekas sembuh. Jagalah dirimu baik-baik. Jangan terlalu menuruti nafsumu. Ibu tidak akan memaksamu untuk pulang. Tapi, tidak rindukah kamu pada Ibu, pada Bapak, dan juga adik-adikmu? Tidakkah kamu rindu dengan sekolahmu? Dengan masa remajamu?

Ibu sekarang sering sakit-sakitan. Mungkin Ibu terlalu capek dan banyak pikiran. Tapi, bagaimana ibu tidak akan sakit bila setiap makan selalu ingat, apakah anak Ibu juga sedang makan? Atau bila Ibu hendak tidur Ibu selalu ingat, dimanakah saat ini anak Ibu tidur?

Ilham,
Kalau Ibu boleh meminta, pulanglah! Tapi, bila kamu memang belum puas dengan petualanganmu, maka puaskanlah dulu. Tapi ingat Am, jangan lupa shalat."

Remaja bandel itu menutupkan kertas putih itu ke wajahnya. Dia menangis, kertas itu jadi basah karena air matanya. Dia tercekam oleh perasaan berdosa. Kini, terbayang wajah Ibunya yg keletihan mengurusi adik-adik kecilnya.

Pelan-pelan, si bandel beranjak. Dia melintasi lapangan, menuju Masjid. Dia berkumur-kumur, membasuh muka, membasuh lengan, rambut, telinga dan kedua kakinya. Dia merasa sejuk sekali. Lalu dia bersujud. Berdo'a. Tubuh dan jiwanya terasa tentram dinaungi tempat ibadah itu.

Ya Allah, lindungilah Ibuku. Itu saja do'a yg bisa keluar dari mulutnya. Ia tidak mampu berkata-kata lagi, karena ia hanya bisa menangis membayangkan wajah Ibunya.

Ya, remaja bandel itu menangis. Sungguh.

0 komentar:

Post a Comment