Saturday, March 13, 2010

Dalam Perjalanan

“Maaf, Bapak! Bapak harus meminta surat keterangan tidak mampu dari kepala RT, baru Bapak kembali ke sini, ” petugas kelurahan itu mengembalikan map kuning itu kepada seorang lelaki tua yang berdiri di depannya. 

Tangan lelaki tua itu bergetar-getar ketika menerima map kuning itu. Bibirnya berusaha untuk tersenyum. Nyaris satu jam dia menunggu, seperti itu jawaban yang ia terima. Setelah mengucapkan terima kasih dengan tulus, lelaki tua itu berbalik. Langkahnya tersendat-sendat menuju sepeda ontel tua yang dia parkir di samping mobil dan beberapa sepeda motor. Ia naik ke sepeda dan mengayuhnya perlahan. Ia pulang lagi, dengan tangan hampa. Wajahnya letih, tapi tidak terbaca kesedihan di sana. Ia sudah terbiasa menelan kekecewaan tanpa protes. Ia mengerti, waktu berjalan sangat cepat dan hidup sudah berubah. Manusia, selalu tidak bisa menahan waktu, harus takluk kepadanya. Sekarang , ia bukan siapa-siapa. 

Tidak siapa-siapa. Sebenarnya, dari dulu pun ia bukan siapa-siapa. Lelaki itu memilih kembali ke rumah sakit daripada pulang ke rumah. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Ia juga harus memberi tahu istrinya, surat yang mereka perlukan itu belum bisa diurus hari ini. Karena dokumen belum lengkap. Siang ini ia tidak bisa mengurus surat keterangan tidak mampu dari Pak RT, karena ia sangat tahu, Pak RT hanya berada di rumah di saat hari libur dan malam hari. Ini bukan hari libur. Ini belum malam. Pak RT sedang bekerja di kantornya. Entah di mana. Lelaki tua itu mengayuh sepedanya di tepi jalan raya. Kendaraan berseliweran di sampingnya. Kadang ia tersentak, ketika tiba-tiba sebuah bis melaju kencang hanya sejengkal dari sisinya. 

Atau sebuah sepeda motor membunyikan klakson padahal ia sudah mengambil jalan sangat di tepi. Matahari tepat di atas ubunubunnya. Membuatnya mengutuki keteledorannya. Ia lupa lagi memakai pecinya yang usang itu. Pasti tertinggal di rumah sakit. Mungkin di sisi ranjang cucunya. Ia berusaha mengayuh pedal sepeda lebih cepat lagi. Sayup-sayup suara sirene meraung. Mungkin, ada yang mati lagi hari ini. Atau ada yang setengah mati dan harus segera tiba di rumah sakit. Ia mengayuh sepedanya semakin ke pinggir. Memberi jalan lebih lapang pada ambulans itu. Dugaannya salah, bukan ambulans yang akan lewat.

Ternyata raungan itu berasal dari mobil patroli polisi. Lewat pengeras suara ia mendengar perintah agar pengguna jalan menghentikan kendaraan. Maka ia berhenti. Di belakang mobil patroli itu berjejer mobil mewah dan mengkilap. Pasti di dalamnya ada pejabat. Mungkin pejabat kota ini yang akan pergi dinas ke luar kota, atau juga pejabat luar kota yang akan pulang dinas kerja dari kota ini. Setelah iring-iringan itu lewat, lelaki tua itu mengayuh sepedanya lagi. Gara-gara ada pejabat lewat, perjalanannya menjadi tertunda. Padahal ia harus segera tiba di rumah sakit. Ia selalu tidak tenang jika jauh dari cucunya. Sial baginya. 

Belum lima ratus meter berjalan. Laju sepeda tidak stabil. Pasti bannya kempes. Ia berhenti lagi di tepi dan memeriksa ban sepedanya. Ia temukan sebuah paku menancap di ban belakang. Kepalanya berputar ke segala arah, berharap ada tambal ban terdekat. Sial kedua menimpanya. Tidak ada tambal ban sepandangannya. Ia menuntun sepeda itu ke depan. Belum lagi ia menemukan sebuah tambal ban, ia mendengar lagi suara dari belakang. Seperti dengungan lebah. Ia menoleh. Ada arak-arakan mendekat. Mungkin hendak berdemonstrasi. Banyak di antara mereka membawa spanduk dan karton penuh tulisan. Ada tulisan-tulisan “Turunkan Pak Ketua”, “Jangan Tindas Lagi Rakyat Kecil”, “Perut Kami Butuh Makanan, Bukan Omonganmu yang Memuakkan Itu”, dan berbagai tulisan yang tidak sempat terbacanya.

Mungkin arak-arakan itu hendak menuju kantor kota, atau juga sebuah kantor tempat mereka bekerja. Lelaki itu tidak ingin menebak lalu salah. Setelah arak-arakan itu habis, ia menuntun sepedanya lagi. Seraya berjalan, angannya terlempar pada beberapa puluh tahun lalu, ketika dia masih muda. Ia juga kurang lebih sama seperti pemuda-pemuda tadi. Semangatnya selalu berkobar jika melihat penindasan. Ia tidak pernah tenang melihat jika seseorang mengekang orang lain, atau sebuah negara berusaha mengangkangi negara lain. Ia tidak sudi, negerinya ini diperas habis-habisan oleh penjajah, dan rakyat yang lemah selalu dianggap hewan, diperah susunya sampai habis.

Setelah itu hidupnya berakhir di meja penjagalan. Ketika itu, dengan gagah berani dia mengangkat bambu runcing. Menancapkannya di dada penjajah dengan teriakan membelah langit. Seolah hendak berkata kepada Tuhan: aku tidak ingin membunuh, tapi aku tak sudi dijajah. Ia siap mati, demi kemerdekaan negeri ini. Demi kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untuknya, tapi semua anak bangsa ini. Langkahnya semakin bergetar menuntun sepeda itu, membuatnya tersadar, ia belum makan sedari pagi tadi. Untunglah, kemudian ia menemukan sebuah tambal ban. Penambal ban itu, seorang lelaki muda berkaki satu. Ia memakai kruk di ketiak kirinya.

Senyumnya merekah ketika lelaki tua itu meminta ditambal ban sepedanya. Matanya bersinar bahagia, seolah ia akan memperoleh banyak uang dari lelaki tua itu. Lelaki tua itu jadi meraba sakunya sendiri. Hanya ada dua ribu rupiah. Penambal ban itu menawarinya secangkir air putih, lalu habis hanya dalam sekali tegukan. Penambal ban itu mengisi lagi air ke dalam gelasnya. “Kelihatannya Bapak letih sekali. ” Lelaki tua itu mengangguk. Tak hendak ia membagi kisahnya kepada penambal ban itu. Ia tidak ingin menambah kesusahan penambal ban itu dengan pilu kisahnya.

“Aku hanya memiliki uang segini. Maaf!” lelaki tua itu menyalamkan uang dua ribunya, setelah penambal ban itu menyelesaikan pekerjaannya. “Bapak bawa saja. Mungkin akan Bapak butuhkan di perjalanan, ” katanya tulus. “Tapi…. ” “Tak apa, Bapak. Maaf aku hanya bisa menjamu Bapak dengan air putih. ” Lelaki tua itu terharu sekali. Mungkin, jika penambal ban itu lahir di masanya dulu. Ia juga akan berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah, tanpa berharap akan mendapat balasan yang setimpal, kelak setelah merdeka. “Bapak tidak ingat kepadaku?” penambal ban sepeda itu bertanya. Lelaki tua itu menatap wajah si pemuda seraya berusaha membuka kotak ingatan di kepalanya. Tetapi ia gagal mengeluarkan wajah pemuda itu dari sana.

“Maaf, tidak ingat, ” sahut lelaki tua itu pelan. “Dulu, aku pernah berniat menjahitkan sepatu kepada Bapak. Tapi Bapak bilang, sepatu itu tidak mungkin lagi bisa dijahit. Lalu Bapak memberiku sebuah sepatu. Kebetulan sepatu itu memang tidak ada pasangannya. Bapak ingat?” Lelaki tua itu tetap tidak mengingat. Tetapi dia yakin, lelaki muda itu tidak sedang salah orang. Ia memang seorang penjahit sepatu, di emperan ruko tidak terpakai. Di tepi pasar. Lelaki tua itu mengayuh sepedanya lagi. Ia lihat langit berubah mendung, entah ke mana perginya matahari yang tadi garang membakar bumi. Angin berhembus cepat, melawan laju sepedanya.

Angin itu membawa bau hujan. Kedua kakinya berusaha mengayuh pedal sepeda lebih kencang lagi. Rumah sakit cucunya dirawat masih cukup jauh, ia tidak ingin kehujanan di tengah perjalanan. Tapi hujan benar-benar tak punya belas kasih. Ia tercurah dari langit, seperti seember air yang disiramkan kepada sepasang kucing yang tengah kawin. Lelaki tua itu terpaksa berteduh di depan sebuah warung bakso, ia tidak ingin segala berkas dalam mapnya hancur terkena air hujan. Ia ngilu menatap air-air hujan yang jatuh. Perutnya semakin perih, mungkin karena sedari tadi mencium aroma bakso dari dalam warung. Sedikit ia melirik ke dalam.

Pengunjung warung cukup banyak. Lebih banyak berpasangan dan bergerombol. Semuanya sangat lahap mengunyah bakso. Mereka tertawa-tawa dan bahagia. Lelaki tua itu ikut tersenyum, merasa ia tidak sia-sia. Dulu telah ikut berjuang merebut kemerdekaan. Jika negeri ini masih berada di bawah jajahan, amat mustahil mereka bisa menikmati bakso sebahagia itu.

Sekitar setengah jam kemudian, setelah hujan menyisakan butiran kecil yang jarang-jarang, ia putuskan melanjutkan perjalanan. Istrinya pasti cemas menanti kehadirannya. Tadi pagi saja, istrinya lebih memilih dia yang mengurus surat keterangan tidak mampu dari kepala desa dan lelaki itu yang menemani cucu mereka di rumah sakit. Mungkin istrinya takut jika ditagih lagi oleh pihak rumah sakit. Tapi lelaki itu sanggup meyakinkan istrinya bahwa pihak rumah sakit tidak akan menagih mereka lagi, dengan alasan bohong, ia sudah berbicara dengan kepala rumah sakit. Cucu satu-satu mereka, terkena demam berdarah. Pihak rumah sakit memilih merawat seadanya saja karena ketiadaan biaya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang?

Lalu pihak rumah sakit mengusulkan agar mereka mengurus surat keterangan bahwa mereka orang miskin, tetapi ternyata mengurus itu juga sangat berbelit sekali. Banyak persyaratan harus dipenuhi, banyak dokumen yang harus dilengkapi. Dan dokumen itu tidak bisa segera keluar tanpa pelicin. Lelaki tua itu tidak bisa berbuat banyak. Apalagi anak satusatunya dan menantunya setelah pergi merantau ke luar negeri, sama sekali tidak pernah berkabar sekalipun. Tapi ia tidak boleh menyerah, menghalau penjajah bersenjata saja dia sanggup. Apalagi hanya masalah seperti ini. Jalan penuh lubang dan genanganair.

Ia harus berhati-hati jika tidak ingin terjungkal pada salah satunya. Lelaki tua itu, hanya bisa menarik napas panjang, ketika sebuah mobil melintas cepat pada sebuah lubang, di sampingnya. Air kotor menyiprat ke bajunya yang lembab. Sekarang ia sudah berada di depan rumah sakit. Hanya tinggal menyeberang jalan. Ia turun dari sepeda dan menuntunnya ke seberang. Tiba-tiba ia tersentak mendengar ban beradu dengan aspal yang basah. Suaranya berdenyit dan ngilu di telinga. Setang sepeda hampir lepas dari tangannya yang bergetar. Lututnya tersentuh moncong sedan mungil itu. Sebuah kepala keluar dari bagian sopir. 

Seorang perempuan muda berwajah cantik sekali membulatkan matanya lebar-lebar, “Heh, orang tua, goblok! Mau mati kau?” bentaknya. Lelaki tua itu menepikan sepedanya dan membungkuk seraya mengucapkan maaf berkali-kali. Tetapi perempuan muda pengendara mobil itu seolah tidak peduli. Ia masih memaki-maki sebelum melarikan mobilnya seperti dikejar setan. Lelaki tua itu menuntun sepedanya lagi. Memasuki parkiran rumah sakit, yang disesaki sepeda motor. Sebelum menemui bagian kasir, lelaki tua itu memutuskan ke ruangan cucunya dulu.

Ingin memastikan cucunya baik-baik saja. Ia mendengar lengkingan istrinya di saat memasuki ruangan itu. Istrinya berlari memeluk bajunya yang lembab dan kotor. “Ada apa?” suaranya mengambang, matanya berusaha melihat cucunya yang terbaring di atas tempat tidur. Ada seorang dokter dan dua orang perawat di sana, seperti orang gagu menatap cucunya.

“Cucu kita sudah pergi, Pak!” rintih istrinya. Lelaki tua itu tidak ingin memercayai itu. Tapi ia lihat seorang perawat menutup seluruh tubuh cucunya dengan sehelai kain. Tangannya yang keriput bergetar, memegang permohonan surat keterangan keluarga miskin, yang belum lengkap dokumennya. ***


1 komentar: