<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290</id><updated>2012-01-10T12:31:04.461+07:00</updated><category term='kisah dan tamtsil'/><category term='berita'/><category term='konspirasi zionis'/><category term='sisi burukku'/><category term='cerpen'/><category term='kesehatan'/><category term='fenomena'/><category term='kilas balik'/><category term='sajak'/><category term='bahan renungan'/><category term='illuminati and freemason'/><category term='punya orang'/><category term='qaul &apos;ulama'/><title type='text'>Cerita Perjalanan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>70</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-7574235704598488932</id><published>2010-12-22T19:53:00.001+07:00</published><updated>2010-12-25T11:17:44.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konspirasi zionis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='illuminati and freemason'/><title type='text'>Tembok Apartheid Zionis Israel</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlLJonvBI/AAAAAAAAAW4/FPee87AjAPc/s1600/apartheid.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlLJonvBI/AAAAAAAAAW4/FPee87AjAPc/s1600/apartheid.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Sebuah tembok dengan panjang beratus kilometer dibangun oleh Zionis Israel. Tembok itu, bukan saja untuk mengamankan Zionis Israel, tapi juga untuk membunuh rakyat Palestina secara perlahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;16 Juni 2002, sejak saat itu keadaan tak akan pernah sama bagi rakyat Palestina, baik yg Muslim ataupun Kristiani, sejak hari itulah pembangunan tembok apartheid yg memisahkan Palestina mulai dibangun oleh Zionis. Kita nyaris tak pernah tahu bahwa Zionis Israel telah melaksanakan pembangunan tembok yg memisahkan tanah Palestina yg satu dengan yg lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Israel berencana membangun tembok sepanjang 721 km, dengan tinggi 25 kaki atau hampir 8 meter. Dalam jarak tertentu dibangun sebuah menara pengintai, tempat tentara-tentara Zionis yg biadab berjaga. Sepanjang tembok dipasangi alat pendeteksi suhu tubuh manusia, kamera pengintai infra merah, dialiri listrik dan sniper yg siap memuntahkan peluru-peluru tajamnya.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlPqvLyjI/AAAAAAAAAXA/GaBaITiWHUQ/s1600/image011.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="323" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlPqvLyjI/AAAAAAAAAXA/GaBaITiWHUQ/s400/image011.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Hari ini, proyek pembangunan tembok biadab yg memisahkan ayah dengan anaknya, istri dengan suaminya, serta keluarga Palestina, sudah terbangun lebih dari 50%. Sepanjang 80% tembok akan dibangun dan mencaplok tanah Palestina di Tepi Barat. Hanya 20% tembok saja yg dibangun sesuai batas tanah yg ditentukan oleh PBB sejak tahun 1967 silam.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Zionis Israel telah mengeluarkan dana lebih kurang 3,7 miliar US Dollar untuk membangun tembok yg membelenggu rakyat Palestina. Padahal sebesar 230 km persegi yg dicaplok untuk membangun tembok raksasa ini adalah lahan-lahan subur milik Muslim Palestina di tepi Barat. Arti lain dari pencaplokan tanah subur ini adalah semakin tersedotnya sumber air bersih bagi rakyat Palestina.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Sebanyak 60.500 kaum Muslim Palestina yg terpisah-pisah karena pembangunan tembok biadab Israel ini. Tembok ini membentang dan membelah 42 kota dan perkampungan yg dilaluinya. Sebanyak 12 kampung dengan 31.400 orang penduduknya terkepung tanpa bisa kemana-mana, atau diakses oleh siapapun. Makanan tak ada. Obat-obatan pun langka. Selimut untuk menghalau dingin yg menggigit, benar-benar seadanya. Listrik apalagi, jangan pernah ditanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Tapi, tak ada satupun dari negara-negara Islam yg membela rakyat Palestina dengan cara menolak pembangunan tembok apartheid yg masih terus berlangsung ini. Tak ada pernyataan dari&amp;nbsp; Organisasi Konferensi Negara-Negara Islam seperti OKI. Mahkamah Internasional di Hague, pada 9 Juli 2004 malah mengakui dan  mengakomodasi pembangunan tembok biadab ini dalam hukum internasional. Bahkan PBB mengizinkan proyek pembangunan tersebut dengan alasan menjaga dan melindungi warga Israel dari ancaman. Padahal dalam fakta sebenarnya, rakyat Palestina lah yg membutuhkan penjagaan dan perlindungan dari perlakuan keji Zionis biadab itu. Apakah ini yg disebut keadilan?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlRAA2MQI/AAAAAAAAAXE/qr6tNvA0fd8/s1600/Israel-Wall_300_0.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlRAA2MQI/AAAAAAAAAXE/qr6tNvA0fd8/s1600/Israel-Wall_300_0.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Di dalam tembok-tembok yg didirikan itu, berpuluh ribu rakyat Palestina hidup dengan sengsara. Sementara di sisi lain tembok, akan dibangun pemukiman-pemukiman baru warga Yahudi. Berdasarkan perencanaan tata kota Israel, 76% wilayah pemukiman Israel akan dibangun di wilayah tembok tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Dulu sekali, ketika tembok Berlin masih berdiri, hampir seluruh penduduk dunia seolah-olah memiliki kepedulian yg sama. Mereka ingin tembok yg memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur itu diruntuhkan, karena tidak sesuai dengan rasa perdamaian dan keadilan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dulu sekali, ketika Tembok Berlin masih berdiri, negara-negara --termasuk negara-negara Islam di dalamnya-- bersatu padu melakukan berbagai cara, dari yg legal sampai yg ilegal, bahkan konspirasi untuk meruntuhkan tembok tebal tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Hari ini, reruntuhan Tembok Berlin dijual dan disimpan sebagai souvenir dan prasasti runtuhnya kezhaliman, tumbangnya diktatorian dan menangnya keadilan. Tapi hari ini, semua dunia berdiam diri dengan pendirian Tembok Apartheid Israel yg semakin tinggi dan bertambah panjang saja. Tembok-tembok itu telah memisahkan rakyat Palestina dari keluarganya. Tembok itu telah menghancurkan rakyat Palestina. Anak-anak menjadi bodoh karena terhalang untuk bersekolah. Bahkan setiap hari, bayi-bayi terus mati karena sang ibu yg akan melahirkan harus melewati sekian puluh pos check point yg tidak gampang. Akhirnya, mereka melahirkan di tengah jalan, dan berujung dengan kematian.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Setiap hari, tembok ini semakin panjang dan tinggi. Seharusnya kita bisa melakukan banyak hal untuk menentangnya. Membuat dan mengirim petisi, menandatangani dan mendukung Amnesty International melawan pembangunan tembok biadab tersebut. Atau menggelar pertemuan-pertemuan besar sampai lobby-lobby kecil dengan handai taulan kita untuk memberitahu, bahwa ada tembok setinggi 8 meter dengan panjang 721 kilometer yg membelenggu saudara kita di Palestina.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;Bangun kawan, apakah tak akan ada yg mau peduli dan mulai bergerak?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlM1XPXAI/AAAAAAAAAW8/wQUzZ9-abQg/s1600/Fifth_anniversary_texte.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlM1XPXAI/AAAAAAAAAW8/wQUzZ9-abQg/s400/Fifth_anniversary_texte.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-7574235704598488932?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/7574235704598488932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/tembok-apartheid-zionis-israel.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7574235704598488932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7574235704598488932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/tembok-apartheid-zionis-israel.html' title='Tembok Apartheid Zionis Israel'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TRHlLJonvBI/AAAAAAAAAW4/FPee87AjAPc/s72-c/apartheid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-193839491033950589</id><published>2010-12-07T13:01:00.003+07:00</published><updated>2010-12-07T15:49:24.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='illuminati and freemason'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>ILLUMINATI SYMBOL Dalam Desain Produk ROCKMEN CLOTHING</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MiXuYqPI/AAAAAAAAAW0/8WaNcJV1qRE/s1600/pro20101108221336.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MiXuYqPI/AAAAAAAAAW0/8WaNcJV1qRE/s320/pro20101108221336.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin sore saya hunting jacket. Lokalisasi distro di sekitaran Jl  Trunojoyo, Bandung, pun menjadi tujuan saya. Singkat cerita, saya  memasuki salah satu distro dengan nama:&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;span style="color: red;"&gt;BEATBOX&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;.&lt;/span&gt;  Di dalamnya terdapat beberapa produk dari beberapa label distro  terkenal di Bandung. Diantaranya; ROCKMEN, EVIL ARMY, dan lain  sebagainya. Ada satu desain jacket yg sangat menarik perhatian saya.  Pada dada kanan jacket tersebut terdapat symbol khas dari organisasi  Freemason dan Illuminati sepertimana yang ada dalam uang 1 dollar  Amerika.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena penasaran, malam harinya saya pun membuka official website&lt;b&gt; ROCKMEN&lt;/b&gt;  untuk melihat desain-desain kaos mereka. Karena saya rasa, tidak  mungkin symbol tersebut terpampang dalam desain produk-produk mereka  bila mereka tidak memiliki pesan yang hendak mereka sampaikan. Dan  sangat mustahil rasanya hal tersebut dilakukan atas dasar  ketidaksengajaan atau ketidaktahuan. Apa mungkin seorang desainer tidak  memahami symbol? Di bawah ini adalah beberapa contoh desain &lt;i&gt; &lt;/i&gt; yg saya dapatkan dari official website &lt;b&gt;ROCKMEN&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3Mf3AtmUI/AAAAAAAAAWo/CjQfw1afzoA/s1600/pro20101108020957.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3Mf3AtmUI/AAAAAAAAAWo/CjQfw1afzoA/s320/pro20101108020957.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;dalam tag nya mereka memberikan judul; EYE OF GOD&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MgoI3DgI/AAAAAAAAAWs/ITilsR_jEWo/s1600/pro20101108030519.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MgoI3DgI/AAAAAAAAAWs/ITilsR_jEWo/s320/pro20101108030519.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;perhatikan dengan seksama; mata satu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MhiS_qnI/AAAAAAAAAWw/Lt_wnnjpxng/s1600/pro20101108040206.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MhiS_qnI/AAAAAAAAAWw/Lt_wnnjpxng/s320/pro20101108040206.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;ini yg paling jelas: EYE OF HORUS pada telapak tangan&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan masih banyak lagi desain kaos dengan symbol Illuminati yang mereka  pampang dalam produk-produknya, silahkan anda lihat pada katalog produk  mereka dalam situs resminya. Satu yang saya sadari, ternyata usaha para  penyembah iblis (Illuminati dan Freemason) untuk menguasai setiap sektor  dalam kehidupan kita memang sudah mereka lakukan dengan  terang-terangan. Tidak lagi sembunyi-sembunyi. Maka, masihkah kita  berani berkata: &lt;i&gt;"ah, itu kan hanya kebetulan saja...." &lt;/i&gt;? Dan  masihkah kita menutup mata dan telinga kita? Bangun kawan, mereka terus  melakukan teror lewat pesan-pesan yang mereka masukan ke alam bawah  sadar kita. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MiXuYqPI/AAAAAAAAAW0/8WaNcJV1qRE/s1600/pro20101108221336.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-193839491033950589?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/193839491033950589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/illuminati-symbol-dalam-desain-produk.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/193839491033950589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/193839491033950589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/12/illuminati-symbol-dalam-desain-produk.html' title='ILLUMINATI SYMBOL Dalam Desain Produk ROCKMEN CLOTHING'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TP3MiXuYqPI/AAAAAAAAAW0/8WaNcJV1qRE/s72-c/pro20101108221336.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-4215770646796417450</id><published>2010-11-22T08:59:00.002+07:00</published><updated>2010-11-22T09:13:40.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='illuminati and freemason'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Tentang 2012</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;Apa yang terbenam di dalam benak anda semua ketika berbicara 2012? Banyak orang berpikir bahwa itu adalah End of the times atau  Kiamat. Kebanyakan orang, mungkin termasuk anda dan saya, sudah menjadi  korban pencucian otak para konspirator dunia lewat berbagai macam media yang mereka sebar begitu gencar. Yang paling heboh, tentu saja film 2012.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan lihainya mereka mengumandangkan Isu 2012, sehingga menjadi stigma  keresahan di masyarakat. Hmmmm, well done !! Tapi saya sangat tidak percaya  mengenai hal itu, karena hanya Tuhan yang tahu kapan kiamat akan tiba. Mereka yang berpikir seperti itu pun bukanlah sepenuhnya kesalahan mereka. Mereka hanya menjadi korban gencarnya arus doktrinasasi para konspirator dunia yang  berencana menguasai dunia dengan slogan &lt;b&gt;New World  Order&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Novus Ordo Seclorum&lt;/b&gt; yang isunya akan di mulai 2012 itu, sehingga isu 2012 diluncurkan  untuk mengawali keresahan masyarakat sehingga dunia bersatu di bawah  pengaruh suatu kaum elite.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Disini saya tidak akan mengungkapkan pendapat tentang kiamat 2012, tetapi  masih akan berbicara tentang konspirasi yang ada hubungannya dengan New World Order  yang dilakukan kaum Illuminati dan Freemason dengan cara menguasai semua bidang strategis, dan salah satunya adalah olahraga.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;Perhatikan logo Olimpiade London 2012 di bawah ini:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBEREM6eI/AAAAAAAAAWc/i8kplFVZ3Ns/s1600/article-1279736-09A7F9E8000005DC-924_634x366.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBEREM6eI/AAAAAAAAAWc/i8kplFVZ3Ns/s400/article-1279736-09A7F9E8000005DC-924_634x366.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Lucu bukan? Namun, tidakkah anda melihat ada kejanggalan pada logo tersebut? Bukan su'uzhon, saya hanya mencoba mengaitkan atau  membuat sebuah persepsi terhadap hal tersebut. Saya benar-benar merasa heran dengan karakter logo  olimpiade 2010 tersebut. Sudah kita ketahui bersama para Freemason,  Iluminati dan organisasi lainnya secara tidak langsung membuat suatu  pola terencana yang sangat rapih dan sangat kita tidak sadari bahwa kita  sedang dalam kondisi penjajahan, baik mental, pemikiran maupun fisik sejak ratusan tahun yang lalu. Dan harus kita ingat pula, kaum tersebut selalu menggunakan simbol-simbol dan lambang-lambang yang rumit untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan karakter makhluk dalam logo tersebut ?? Sepintas tidak ada yang salah, dan malah terkesan sangat lucu.  Tapi apakah kita tidak memperhatikan sesuatu "kejanggalan"?&amp;nbsp; Mari kita lihat sekali lagi:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnA9yY9TdI/AAAAAAAAAWY/USuHWCkqxGo/s1600/article-1279736-09A7FFEB000005DC-301_634x429.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnA9yY9TdI/AAAAAAAAAWY/USuHWCkqxGo/s400/article-1279736-09A7FFEB000005DC-301_634x429.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="background-color: black; color: red;"&gt;1. Sebuah mata.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: black; color: red;"&gt;Seperti kita ketahui bahwa simbol sebuah mata  terdapat di dalam uang 1 dollar. Simbol tersebut merupakan ciri  khas kaum Freemason dan Illuminati. Lambang ini disebut "all seeing eye". Silahkan anda lihat website&lt;/span&gt;&lt;i style="background-color: black; color: red;"&gt;&lt;b&gt; masons of california&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: black; color: red;"&gt;.&amp;nbsp; Saat ini  Freemason mulai menampakan diri mereka secara nyata, dan tidak dengan  rahasia dan sembunyi - sembunyi lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ingatkah kita mengenai ciri-ciri Dajjal yang memiliki Sebuah Mata ? Sebuah kebetulan yang sangat aneh bukan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Tulisan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lihat tulisan yang terdapat di karakter tersebut:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBMROtO9I/AAAAAAAAAWk/r9ddaoC9d5o/s1600/olympic+london+2012.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBMROtO9I/AAAAAAAAAWk/r9ddaoC9d5o/s1600/olympic+london+2012.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;Sekilas kita akan melihat angka 2012 yang menandakan Tahun  penyelenggaran Olimpiade tersebut. Coba sekarang kita putar dan susun  tulisan tersebut :&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBLBb1PYI/AAAAAAAAAWg/xInBfHpcIE4/s1600/olympic+london+2012+zion.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="125" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBLBb1PYI/AAAAAAAAAWg/xInBfHpcIE4/s400/olympic+london+2012+zion.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;ZION. Siapa ZION? Pandangan saya: ZIONIS. Dan yang lebih  mengherankan, Internation Olympic Commitee dengan cepat meresmikan logo  tersebut tanpa merevisi lagi gambarnya pada saat proses bidding calon penyelenggara. (untuk referensi, silahkan cek situs resmi mereka)&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;Apakah itu suatu kebetulan yang biasa? Atau kebetulan yang sistematis?  Atau saya saja yang terlalu mengada-ada? Yang paling tahu maksud dari logo ini adalah si Pembuat  Logo, dan Allah, - tentu saja-. Pertanyaannya, jika ini memang hanya merupakan sebuah kebetulan, mengapa harus banyak kebetulan yang serupa? Terlalu banyak malah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, saat ini kaum Illuminati dengan organisasi Freemasonnya mulai menunjukan diri kepada  publik batang hidungnya, tidak lagi secara sembunyi-sembunyi dan  rahasia. Pertanda apakah ini? Apakah mereka mulai keluar dari  persembunyian untuk mempersiapkan sesuatu yang besar ? lihat saja website mereka. Mereka tidak sembunyi-sembunyi&amp;nbsp; lagi, tetapi mempublish kepada  khalayak umum mengenai organisasi mereka. Sama halnya ketika Indonesia  berjuang memperoleh kemerdekaan. Dimulai dengan pergerakan Gerilya para pahlawan, dan  ketika ada kesempatan, para pahlawan mulai melakukan gerakan secara nyata  dan menunjukkan kepada dunia. Saya rasa memang akan ada yang spesial di Tahun  2012.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: red; text-align: justify;"&gt;Wallahu a'lam......... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-4215770646796417450?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/4215770646796417450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/tentang-2012.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4215770646796417450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4215770646796417450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/tentang-2012.html' title='Tentang 2012'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TOnBEREM6eI/AAAAAAAAAWc/i8kplFVZ3Ns/s72-c/article-1279736-09A7F9E8000005DC-924_634x366.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-7718048431697067501</id><published>2010-11-11T20:16:00.001+07:00</published><updated>2010-11-11T20:18:32.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='illuminati and freemason'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>EYE OF HORUS = MATA DAJJAL ?</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;Rasulullah SAW berdiri di hadapan manusia menyanjung Allah dgn sanjungan yg  merupakan hak-Nya kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku  memperingatkan kalian, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan  memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah  memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian  satu ucapan yg belum pernah disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah  dia (Dajjal) itu &lt;b&gt;buta sebelah&lt;/b&gt; adapun Allah (Tuhanmu) tidaklah demikian.”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="background-color: black; float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvlNeswAXI/AAAAAAAAAV4/Y7MmKJ9pZ_c/s1600/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-5-image1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvlNeswAXI/AAAAAAAAAV4/Y7MmKJ9pZ_c/s320/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-5-image1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="color: #cccccc; text-align: center;"&gt;Eye Of Horus&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;All seeing eye, istilah ini berarti “mata yang melihat segala hal,” yaitu  sebuah mata (dalam keyakinan illuminati dan freemason) yang dapat melihat segala sesuatu, terutama untuk  melihat dan mengontrol semua manusia di dunia ini. Iblis suka meniru apa  yang Allah kerjakan dan all seeing eye juga adalah tiruan Iblis yang  diambil dari lambang supreme being-nya bangsa Israel, namun agak berbeda  sedikit dimana mata yang sebelumnya ada dua (sepasang) sekarang menjadi  satu mata saja. Ke-Maha Melihatan Tuhan dan kepercayaan bangsa Israel  bahwa mereka adalah biji mata Allah ditiru oleh Iblis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="background-color: black; float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvmoDE-koI/AAAAAAAAAV8/bKicV2YdQnA/s1600/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-3-image.jpg" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvmoDE-koI/AAAAAAAAAV8/bKicV2YdQnA/s320/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-3-image.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;eye of horus dalam mata uang amerika pecahan 1 dollar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;Dajjal hendak membuat dirinya menjadi “maha melihat” dengan membuat sistem kontrol global pada dunia ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;Mata yang digunakan kaum illuminati diambil dari mata kepercayaan orang Mesir kuno  yang bernama Horus (eye of Horus). Dalam mitos Mesir diceritakan bahwa  pada waktu Horus bertarung dengan Seth-)dewa gurun, badai dan kekacauan)-  salah satu matanya terluka parah, yang kemudian disembuhkan oleh Isis  ayahnya. Namun sejak ia menjadi dewa langit mata Horus dianggap mewakili  Matahari pada mata kanannya dan bulan pada mata kirinya. Mengapa bulan ?  karena mata kirinya pernah terluka sehingga menjadi lebih redup  dibanding yang satunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;Oleh sebab itu para penyembah Iblis itu (Illuminati dan Freemason) menggunakan mata kanan Horus /matahari (Ra) sebagai  lambang ke-maha melihatan versi mereka. Sedangkan segitiga adalah tiruan  dari trinitas dalam keyakinan umat Kristiani (Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;Saat ini kita dapat melihat bagaimana para penyembah Iblis itu sudah mengontrol hampir  seluruh aspek kehidupan manusia, kita akan sangat terkejut jika  menyadari bagaimana mereka telah menguasai dunia ini melalui  organisasi Illuminatinya. Media-media yang setiap hari kita lihat,  badan-badan keuangan, perbankan, dunia politik, pemerintahan,  pendidikan, arsitektur, dll. Semuanya sudah dimasuki oleh kaki tangan  Iblis. Mereka adalah orang-orang berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan  dana yang tidak terbatas. Kenyataan all seeing eye sedang berlangsung  dan menuju kesempurnaan sampai kelak setiap manusia ini berada DIBAWAH  PENGAWASAN Iblis.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;Contoh beberapa logo perusahaan dengan lambang eye of Horus:&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: #cccccc; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoW-GKA-I/AAAAAAAAAWA/qu8gmq6EtMQ/s1600/AOL-image.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoW-GKA-I/AAAAAAAAAWA/qu8gmq6EtMQ/s320/AOL-image.jpeg" width="302" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: #cccccc; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoXrV7KII/AAAAAAAAAWE/HPAsVBrrtAk/s1600/Geo-eye-image1.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="160" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoXrV7KII/AAAAAAAAAWE/HPAsVBrrtAk/s320/Geo-eye-image1.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: #cccccc; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoYqPpgdI/AAAAAAAAAWI/7dhIGwbHDUc/s1600/illuminati-image.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoYqPpgdI/AAAAAAAAAWI/7dhIGwbHDUc/s320/illuminati-image.jpeg" width="314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; color: #cccccc; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoZg5cL3I/AAAAAAAAAWM/pbr1fP5Ft1Q/s1600/second-life-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvoZg5cL3I/AAAAAAAAAWM/pbr1fP5Ft1Q/s1600/second-life-image.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;Waktunya sudah dekat, dari semua yang telah diuraikan, kita sekarang  mengetahui bahwa kita sekarang berada di penghujung akhir jaman, kita  dapat memperhatikan bagaimana segala persiapan kemunculan Dajjal sudah  dipersiapkan, dan tulisan ini adalah untuk pengetahuan dan pengertian  dalam rangka mempersiapkan umat akhir jaman agar “mengenali” semua rencana  Iblis di akhir jaman ini. Sehingga kita tidak terjerumus ke dalam sistem dunia yang menuju  kehancuran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;Dajjal bekerja secara terselubung, diperlukan pengetahuan  yang luas dan ditopang dengan keyakinan kepada Firman Allah dan Sabda Baginda Nabi saw untuk mengetahui pekerjaannya. Hampir  seluruh produk yang kita pakai adalah produk mereka, semua media yang  kita lihat adalah dibawah kendali mereka yang menanamkan nilai-nilai jaman baru kepada dunia. Lalu apa yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus menolak menggunakan produk-produk dunia ini ? Tidak tentunya, semua ini  mengajarkan kita untuk mengerti dan berhati-hati bahwa kedatangan Al-Mahdi dan Isa Al-Masih  sudah semakin dekat, dan itu berarti kemunculan Dajjal sudah dekat pula.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;Iblis dan kaki tangannya sangat aktif dan sibuk hari-hari ini, mereka  sedang merencanakan sebuah “kerajaan” agar Dajjal dapat bertahta  sebagai rajanya. jadi jika kita tidak keluar dari sistem yang sedang berjalan di dunia sekarang ini, maka  kita akan masuk dalam rencana mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="background-color: black; color: #cccccc; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvqaeDlQsI/AAAAAAAAAWQ/q-y-pcMWjb0/s1600/Eye-Of-Horus-church-Mata-Horus-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="305" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvqaeDlQsI/AAAAAAAAAWQ/q-y-pcMWjb0/s400/Eye-Of-Horus-church-Mata-Horus-image.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Mata Horus di sebuah Gereja Katolik&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="background-color: black; color: #cccccc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="background-color: black; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="color: #cccccc;"&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvqdybM46I/AAAAAAAAAWU/SxV47M-LhuQ/s1600/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-4-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvqdybM46I/AAAAAAAAAWU/SxV47M-LhuQ/s400/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-4-image.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #cccccc;"&gt;Pembukaan Hari Pemuda Sedunia di Barangaroo, Sydney&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="background-color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="background-color: black; clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvmoDE-koI/AAAAAAAAAV8/bKicV2YdQnA/s1600/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-3-image.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-7718048431697067501?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/7718048431697067501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/eye-of-horus-dajjal.html#comment-form' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7718048431697067501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7718048431697067501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/eye-of-horus-dajjal.html' title='EYE OF HORUS = MATA DAJJAL ?'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNvlNeswAXI/AAAAAAAAAV4/Y7MmKJ9pZ_c/s72-c/Eye-Of-Horus-Mata-Horus-5-image1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8498893276311105748</id><published>2010-11-08T18:08:00.004+07:00</published><updated>2010-11-14T14:39:19.967+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='illuminati and freemason'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>HATI-HATI DENGAN AHMAD DHANI DAN DEWA 19 ( WARNING, BIOHAZARD !)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfS7o8NeDI/AAAAAAAAAVk/Xm_8C34ma9Y/s1600/Ahmad-Dhani-SImbol-Okultis-image.jpg" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Apakah benar Ahmad Dhani keturunan Yahudi? Mengapa dalam album –  album grup musik Dewa 19 banyak simbol aneh? Apa yang sebenarnya  terkandung dalam lirik2 lagu Dewa 19? Sebenarnya saya  tidak  terlalu ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan diatas, tetapi setelah  mencermati buku berjudul &lt;b&gt;“Fakta &amp;amp; Data Yahudi di Indonesia”&lt;/b&gt; karangan  &lt;i&gt;Ridwan Saidi &amp;amp; Rizki Ridyasmara (Februari 2006)&lt;/i&gt; dan buku &lt;b&gt;“Talmud,  Kitab Hitam Yahudi Yang menggemparkan“&lt;/b&gt; karangan &lt;i&gt;M.A Syarkawi (cetakan  edisi Indonesia, 2005)&lt;/i&gt;. Saya merasa mempunyai beban moral untuk  menyebarluaskan informasi ini kepada publik. Dengan tulisan ini , saya  berharap lebih banyak pihak yang lebih memperhatikan &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Sebelum membahas lebih jauh tentang simbol, kita perlu ketahui siapa  sebenarnya &lt;b&gt;Ahmad Dhani Manaf&lt;/b&gt;, sang komandan grup musik ini. Dalam Album  Laskar Cinta, Dhani menulis sebagai berikut : &lt;i&gt;&lt;b&gt;DHANI THANKS TO : JAN  PIETER FREDERICH KOHLER ( THANKS FOR THE GEN ) …&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, Siapakah JAN PIETER  FREDERICH KOHLER?? &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Merunut silsilah keluarga, pemilik nama tersebut ternyata ayah dari  ibu kandung Ahmad Dhani, alias kakeknya. Ibunya sendiri bernama &lt;b&gt;Joyce  Theresia Pamela Kohler&lt;/b&gt;. Jan Pieter Frederich Kohler adalah orang Yahudi  Jerman. Secara jujur Dhani berterima kasih atas gen Yahudi yang ia  terima dari sang kakek. (THANKS FOR THE GEN). Bisa jadi karena  kebanggaannya mewarisi gen dari opa-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfOHLI2w5I/AAAAAAAAAVM/PT1t28Zka28/s1600/Ahmad-Dhani-Bintang-David-image.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfOHLI2w5I/AAAAAAAAAVM/PT1t28Zka28/s320/Ahmad-Dhani-Bintang-David-image.jpg" width="285" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;1) Dhani sering tampil dengan memakai kalung Bintang David (simbol  Zionis-Israel, hexagram), baik dalam aksi panggungnya ataupun dalam  kesehariannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfNyVeMSAI/AAAAAAAAAVI/nJDb2izK2MY/s1600/Ahmad-Dhani-Bintang-David-panggung-image.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="201" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfNyVeMSAI/AAAAAAAAAVI/nJDb2izK2MY/s320/Ahmad-Dhani-Bintang-David-panggung-image.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfNyVeMSAI/AAAAAAAAAVI/nJDb2izK2MY/s1600/Ahmad-Dhani-Bintang-David-panggung-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;2) Pada cover album pertama DEWA 19, terdapat gambar Piramida Tak  Sempurna (Unfinished Pyramid). Piramida tersebut terpancung dibagian  ujungnya. Lambang tersebut sudah dikenal luas sebagai salah satu lambang  Yahudi (lambang gerakan Masonis “ salah satu organisasi Yahudi, dan  juga lambang tsb terdapat pada uang 1 dollar Amerika). Dan untuk diingat, dalam  mitologi Judaisme angka 19 dikenal sebagai Dark Star (Bintang  Kegelapan).&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfPYgmlyII/AAAAAAAAAVQ/Vn53vmDBIZU/s1600/Ahmad-Dhani-all-seeing-eye-image.jpeg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfPdllQcgI/AAAAAAAAAVU/E9Egk9DehEc/s1600/Ahmad-Dhani-Puncak-Piramida-image.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfPdllQcgI/AAAAAAAAAVU/E9Egk9DehEc/s200/Ahmad-Dhani-Puncak-Piramida-image.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfPYgmlyII/AAAAAAAAAVQ/Vn53vmDBIZU/s1600/Ahmad-Dhani-all-seeing-eye-image.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;3) Dalam album TERBAIK TERBAIK&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Pertama, secara jelas dimuat simbol Dewa Ra (Dewa matahari dalam  mitologi Mesir Kuno). Dalam agama Yahudi (Judaisme) Dewa Ra diklaim  sebagai salah satu Tuhan mereka. Pada Sinagog (rumah ibadah Yahudi)  lambang ini lazim di pajang.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfRD-C-bJI/AAAAAAAAAVY/vQc4muDOa4I/s1600/Ahmad-Dhani-Terbaik-terbaik-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfRD-C-bJI/AAAAAAAAAVY/vQc4muDOa4I/s640/Ahmad-Dhani-Terbaik-terbaik-image.jpg" style="height: 192px; width: 512px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Kedua, terdapat pula lembaran satu &lt;i&gt;Protocol Of Zions&lt;/i&gt; (Ayat-ayat Iblis) dalam bahasa Ibrani. Untuk menyamarkan, &lt;i&gt;Protocol of Zions&lt;/i&gt;  dalam cover album ini diletakkan secara terbalik horizontal. Yang sisi  kiri dipindah kekanan dan sebaliknya. Untuk membacanya hadapkan dulu ke  depan cermin.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfRbhsaRMI/AAAAAAAAAVc/pPj_8oh4uLo/s1600/Ahmad-Dhani-Protocol-Zionist-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfRbhsaRMI/AAAAAAAAAVc/pPj_8oh4uLo/s400/Ahmad-Dhani-Protocol-Zionist-image.jpg" width="400" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;4) Dalam album The Best Of DEWA 19, ada dua lambang yang dimuat, tulisan tangan  italic yang ditumpuk jadi satu sehingga membentuk garis lurus. Satu  garis horizontal, satunya lagi vertical, dan saling bersilangan seperti  salib miring. Cover berbentuk horizontal ini baru memiliki arti jika diberdirikan  atau diputar 90 derajat kearah kiri (lihat tanda panah biru di  sudutkanan bawah cover tsb, itu bukan sekedar gambar panah tapi suatu  instruksi) agar ‘pesan’nya sampai. Dikepala salib terdapat gambar  personil Dewa yang jika dicermati membentuk sebuah bulatan. Ini sama  dengan symbol okultisme yang terdapat dalam lambang Dewa Horus.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfSnkU8fDI/AAAAAAAAAVg/jXis1j6mGu4/s1600/Simbol-Okultis-Dewa-19-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfSnkU8fDI/AAAAAAAAAVg/jXis1j6mGu4/s640/Simbol-Okultis-Dewa-19-image.jpg" style="height: 212px; width: 514px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfS-eQEX5I/AAAAAAAAAVo/Ly9VVzRtA1g/s1600/Simbol-Okultis-Dewa-19-3-image.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfS-eQEX5I/AAAAAAAAAVo/Ly9VVzRtA1g/s320/Simbol-Okultis-Dewa-19-3-image.jpg" width="299" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfS7o8NeDI/AAAAAAAAAVk/Xm_8C34ma9Y/s1600/Ahmad-Dhani-SImbol-Okultis-image.jpg" style="color: #eeeeee; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfS7o8NeDI/AAAAAAAAAVk/Xm_8C34ma9Y/s320/Ahmad-Dhani-SImbol-Okultis-image.jpg" width="262" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Kedua, Juga dicover depan. Di sudut kiri bawah ada gambar kepala seorang  gadis dengan rambut panjang terurai, dikepala si gadis seolah ada  pusaran air. Jika diperbesar maka akan terlihat bahwa “pusaran air” dan rambut si gadis itu sesungguhnya adalah mata dari Dewa Horus. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfUzCb526I/AAAAAAAAAVs/9jk16iudN8g/s1600/Ahmad-Dhani-Mata-Dewa-Horus-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="145" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfUzCb526I/AAAAAAAAAVs/9jk16iudN8g/s400/Ahmad-Dhani-Mata-Dewa-Horus-image.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;5) Dalam cover Album BINTANG LIMA (2000), Gambar sayap dengan hati di  tengah dimuat utuh dengan latar belakang empat personil Dewa. Simbol ini  lajim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan Teosofie  Yahudi. Ritual pengikut Teosofi biasanya mengadakan upacara pemanggilan  arwah atau jin.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfWMXMVZuI/AAAAAAAAAVw/RUIb1JLrzTM/s1600/Ahmad-Dhani-Bintang-Lima-Theosofi-image.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfWMXMVZuI/AAAAAAAAAVw/RUIb1JLrzTM/s640/Ahmad-Dhani-Bintang-Lima-Theosofi-image.jpg" style="height: 243px; width: 535px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfWyJYwAkI/AAAAAAAAAV0/up7cIy5keIc/s1600/Ahmad-Dhani-Cintailah-Cinta-image.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfWyJYwAkI/AAAAAAAAAV0/up7cIy5keIc/s200/Ahmad-Dhani-Cintailah-Cinta-image.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;6) Dalam cover Album CINTAILAH CINTA (2002), Pertama, Cover depan album  ini memuat secara menyolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung  dalam Mitologi Mesir Kuno yang diklaim sebagai salah satu dewa mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Apa yang sebenarnya terkandung dalam lirik2 lagu Dewa 19?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, Lirik lagu “Sweetest Place” adalah sebuah lirik penantian akan  ratu adil, penantian akan datangnya sesuatu, yang bisa membuat kehidupan  menjadi menyenangkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;"THIS IS THE SWEETEST PLACE&lt;br /&gt;BARING MY FEELING&lt;br /&gt;I’M &lt;b&gt;WELCOMING AN EYE&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;INTO &lt;b&gt;THE DARKEST ONE&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;IT TELLS ME NOT TO WORRY&lt;br /&gt;FOR THE TIME IS YET TO COME&lt;br /&gt;FOR SOMEONE TO ARRIVE&lt;br /&gt;AND HEAL THE TROUBLED ONE&lt;br /&gt;SUDDENLY THE RAINFALLS&lt;br /&gt;SHOWERING A DESERT STONE&lt;br /&gt;WASH AWAY THESE TEARS OF YESTERDAY&lt;br /&gt;I HEAR THE SOUND OF&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A RAISING CHORUS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;SUNG BY THE ANGELS&lt;br /&gt;AND THE BROKEN HEROES&lt;br /&gt;I WONT GO BACK NOW I FEEL SO RIGHT&lt;br /&gt;I’VE FOUND A PLACE&lt;br /&gt;WHERE DREAMS AND LIFE BECOME ONE&lt;br /&gt;AND FINALLY I DON'T HAVE TO RUN&lt;br /&gt;I’VE FOUND A PLACE&lt;br /&gt;WHERE DREAMS AND LIFE BECOME ONE&lt;br /&gt;BECOME ONE"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;Dan yang dinanti adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;MATA (I’am welcoming an eye/ Into the darkest one / It tells me not  to worry…) Ratu adil itu adalah MATA. Menurut teologi Yahudi (Kabbala),  The eye atau Mata merupakan mata Lucifer, Sang Pangeran Penguasa  Kegelapan sekaligus Sang Penguasa alam raya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, Dalam Album Laskar Cinta , ada sebuah lagu berjudul “SATU”.  Syairnya bagaikan kerinduan yang teramat sangat seorang kekasih kepada  pujaan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;"aku ini adalah dirimu&lt;br /&gt;cinta ini adalah cintamu&lt;br /&gt;aku ini adalah dirimu&lt;br /&gt;jiwa ini adalah jiwamu&lt;br /&gt;rindu ini adalah rindumu&lt;br /&gt;darah ini adalah darahmu&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;reff: tak ada yang lain selain dirimu&lt;br /&gt;yang selalu ku puja&lt;br /&gt;ku sebut namamu di setiap hembusan nafasku&lt;br /&gt;ku sebut namamu, ku sebut namamu&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: center;"&gt;dengan tanganmu aku menyentuh&lt;br /&gt;dengan kakimu aku berjalan&lt;br /&gt;dengan matamu aku memandang&lt;br /&gt;dengan telingamu aku mendengar&lt;br /&gt;dengan lidahmu aku bicara&lt;br /&gt;dengan hatimu aku merasa"&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Ternyata TIDAK. Syair lagu tersebut merupakan manifestasi dari paham  sesat &lt;b&gt;“Wihdatul Wujud” &lt;/b&gt;(bersatunya mahluk dengan pencipta). Adapun pada  versi CD nya terdapat ucapan terima kasih kepada : &lt;b&gt;Syekh Lemah Abang&lt;/b&gt;.  Dibawah syair lagu tersebut pada versi kaset terdapat ucapan terima  kasih kepada Al Hallaz.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Siapapun yang pernah membaca sejarah Walisanga pasti tahu bahwa &lt;i&gt;Syekh  Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar&lt;/i&gt;. Jika Syekh Siti  Jenar diperintahkan untuk dipenggal kepalanya oleh Walisanga, bagaimana  dengan Dewa??, tentu tidak demikian..&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Theosofie memang mengajarkan agar kita hanya fokus kepada cinta terhadap sesama manusia dan seolah tidak peduli kepada cinta terhadap Tuhan. Mereka  mengajarkan Pluralisme, bahwa siapa tuhanmu adalah tidak penting, yang  penting adalah hatimu yang mencintai sesama manusia. Pemikiran seperti  ini disebarkan agar manusia-manusia yang sudah tersesat dan menyembah  tuhan-tuhan palsu tidak lagi peduli untuk meneliti apakah yang mereka  sembah itu betul-betul Tuhan atau bukan. Padahal, kita harus mengenal  dulu siapa Tuhan yang akan kita sembah,baru kita menyembah-Nya dengan  berbagai kebajikan. Jika kita tidak teliti, bisa-bisa yang kita sembah  bukannya Tuhan, melainkan Iblis. Dan yang pertama kali harus kita cintai  adalah Tuhan,baru kemudian manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee; text-align: justify;"&gt;Pemusik yang juga anggota Free Mason bukan hanya Dhani, dan anggota Free  Mason bukan hanya pemusik. Di segala bidang, anggota Free Mason telah  berada di segala bidang untuk menyesatkan manusia dari berbagai jalan.  Melalui musik,lirik lagu,pendidikan di  sekolah-sekolah,ideologi,politik,gaya hidup,televisi, hiburan,dan bidang  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #eeeeee;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8498893276311105748?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8498893276311105748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/apakah-benar-ahmad-dhani-keturunan.html#comment-form' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8498893276311105748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8498893276311105748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/11/apakah-benar-ahmad-dhani-keturunan.html' title='HATI-HATI DENGAN AHMAD DHANI DAN DEWA 19 ( WARNING, BIOHAZARD !)'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/TNfOHLI2w5I/AAAAAAAAAVM/PT1t28Zka28/s72-c/Ahmad-Dhani-Bintang-David-image.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-150524390361517154</id><published>2010-04-07T16:41:00.002+07:00</published><updated>2010-06-27T15:12:14.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Ceracau Seorang Petualang</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt; &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Apakah pulang selalu jadi alamat terakhir setiap tualang? Pertanyaan  itu acap muncul tiba-tiba, menyentak dalam benak, ketika bermil-mil  jarakku dari rumah. Membuatku bagai tercekat di riuh simpang jalan. Hawa  dingin yang berkelebat di tengkuk membuatku gamang: melanjutkan langkah  atau memutar arah ke belakang?  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Bapak melarung  ari-ariku di sungai kecil belakang rumah dan masih kuingat cerita nenek  tentang tahi lalat di telapak kakiku. Maka, ketika rumah membuat jemu  kian liat, sepasang kakiku kerap merayu untuk pergi mencarinya. Sedikit  pakaian dalam ransel, tanpa peta di saku belakang celana atau kompas, aku menjelma jadi anak mata angin. Bergurau dengan takdir.  Bergumul dengan kecemasan tak berujung. Dari satu kota ke lain kota,  dari satu kisah ke lain kisah, dari satu tubuh ke lain tubuh, dari satu  luka ke lain luka.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Aku, mungkin juga kau, pernah  dicekam keterasingan, ditelikung kesepian. Kapan saja. Di mana saja.  Termasuk di kampung halaman, bahkan dalam rumah sendiri. Padamu ingin  kuceracaukan sejumlah ruang dalam perjalanan yang mengerak dalam  ingatan. Semacam catatan tentang kota-kota yang menitipkan jejaknya  dalam benak. Barangkali kelak ada yang harus kau lupakan juga tentang  rumah, dan kau akan mencatatnya sekadar penanda bahwa di sana kau pernah  ada. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; ***  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt;TERMINAL&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Senyampang menunggu bis penuh, menyusup ke sebuah kedai yang  berserak jadi jadwal selingan. Gelombang manusia dan kendaraan keluar  masuk terminal. Paras batu para preman dan copet, lebur dalam kerumunan  penumpang yang membopong letih. Teriak calo, tumpang tindih dengan bising  kendaraan. Aroma mesin dan asap knalpot, bercampur kecut keringat.  Orang-orang menjinjing cemas dalam benaknya masing-masing. Ditemani  segelas kopi, kudengarkan suara-suara dalam hati merumuskan  berbagai kemungkinan yang bakal menyambangi dalam perjalanan. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dalam bis antarkota yang berisi paras-paras beku, entah didera  rindu atau diburu waktu, kupilih menekuri segala yang berlesatan di luar  jendela. Bentang hijau kebun teh dan sawah. Bukit yang nyaris longsor.  Jurang nganga dengan taring-taring yang siap menerkam. Hutan yang nampak  pasrah namun memeram kesumat. Siapa sesungguhnya yang ditinggalkan?  Siapa pula yang meninggalkan? Dan ketika senja rebah perlahan ke telapak  malam, deretan rumah sederhana berlampu temaram di tepi jalan menjelma  wajah-wajah yang menyembunyikan kemurungan. Pintu-pintunya menutup diri  dari angin malam. Menolak segala isyarat celaka dari luar rumah.  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt;  ***   &lt;/span&gt;&lt;strong style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;STASIUN&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Acap kupergoki lelaki berpunuk dan berkaki cacat itu ketika pagi merekah di  WC umum Stasiun Bandung. Menunggui orang-orang mandi, buang hajat, atau  sekadar basuh muka. Di wajahnya kutemukan bahwa kesetiaan kadang  menyakitkan. Saat matahari mendaki langit, gemuruh datang dari kejauhan  dan kian dekat di atas kepala. Tembok-tembok gemetar. Udara bergetar.  Ular besi yang baru datang memuntahkan manusia.  Dipisahkan kaca bening gerai donat, aku &lt;em&gt;ngungun&lt;/em&gt; menatap  kaki-kaki bergegas itu. Kaki-kaki yang seolah hendak melepaskan diri  dari bayangannya sendiri.  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Menuju Tugu sekian tahun  lalu. Tak ada sisa bangku meski tiket di genggaman. Aku jongkok  meringkuk persis depan kakus berpintu rusak. Terhimpit tubuh-tubuh dan  tumpukan kardus. Derap kereta membuat kertas pengganjal pintu kakus  kerap jatuh. Bau busuk kontan menohok paru-paru. Aku menghambur keluar  gerbong ketika tengah malam kereta berhenti di stasiun sebuah kota.  Menghirup udara sembari merekam wajah stasiun berarsitektur kuno. Kios  24 jam mengantuk menunggu pembeli. Satu dua lelaki lelap bergelimpangan  di bangku tunggu. Beberapa gelandangan melingkari gundukan sampah yang  dibakar. Lalu kereta kembali berderap menembus pekat hingga tiba di Tugu  pagi buta. Menjauhi hiruk pikuk, gerbong-gerbong panjang yang di atas  rel yang berkilau oleh sisa embun, di mataku menjelma untaian kenangan  kelam dan muram. Aku mencari seseorang di antara kelimunan manusia.  Berharap kutemukan lambaian tangannya. Seseorang itu: aku.  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt;  ***  &lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;JALAN RAYA&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;"Tuan, berapa simpang dan kelok jalan lagi mesti kutempuh? Apa pula  yang tersembunyi di balik kabut tipis yang menghadang di tengah jalan  itu? Sungguh, dalam perjalanan panjang dan melelahkan ini, bukan jurang  dalam atau tikungan tajam yang kutunggu."&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Ada  debar kala simpang jalan nampak di depan mata. Menerka ke mana sopir  akan mengarahkan kemudi. Jalanan murung seusai hujan atau aspal melepuh  dirajam terik. Dini hari terjaga dari tidur, mendapati embun menempel di  kaca jendela bis. Selalu kuhindari bercakap dengan sesama penumpang  ketika bis rehat di rumah makan. Berulangkali kudengar pertanyaan serupa  yang membuat jengah: Dari mana? Hendak ke mana? Aku ingin sebuah pantat  mengisi bangku hampa disampingku. Sambil mengaduk kopi dan memesan  semangkuk sepi, pemiliknya menepuk benakku dengan pertanyaan getas:  Beragam rambu tegak, namun mengapa makin banyak saja yang tersesat? &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;O, kota-kota yang berlomba menyusun tangga ke langit.  Kota-kota yang tergesa memburu masa depan namun lupa memahami diri  sendiri. Orang-orang memborong topeng. Lebur dalam riuh mall, memeluk  manekin, turun naik tangga jalan, mematut sepatu dan jam tangan. Lampu  merah, zebra cross, dan jembatan penyeberangan menjadi benda-benda asing  tak punya arti. Dan aku, setiap mencari penanda kota, justru tersesat  dalam rimba iklan, lorong-lorong remang lokalisasi, kumuh pasar, lengang  museum, sejuk kafetaria, dan tersungkur di antara lalu lalang manusia  di trotoar.  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;, di jalan raya yang  disesaki kecemasan, aku membaca luka di mata orang-orang yang lalu  lalang.  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt; ***   &lt;/span&gt;&lt;strong style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;KAMAR&lt;/strong&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Entah kenapa malam pertama di tempat atau kota asing  senantiasa menyiksaku. Meski gelap pekat dan badan penat, kantuk tak  kunjung mengetuk pelupuk mata. Kerap aku diam-diam keluar kamar.  Mengayun langkah ringan sepanjang trotoar jam dua malam. Menghirup udara  dingin dengan sepasang tangan terbenam dalam saku jaket. Menoreh jejak  di kota asing yang telah pulas. Sesekali bertukar sapa dengan  manusia-manusia yang setia pada malam. Bayanganku hitam memanjang,  menguntit di bawah temaram lampu jalan. Dari balik gedung-gedung tinggi  dan kelam itu seperti ada ribuan mata menatapku, berbisik sinis dan  asing.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; Bila sendiri dalam kamar, aku suka telentang  telanjang dada di lantai. Meresapi jarum-jarum dingin yang mengecupi  pori-pori punggung. Mendengarkan rintihanku berpantulan silang sengkarut  di tembok kamar. Menerka telah berapa jauh jarakku dari rumah. Di  langit-langitnya kuarsir sejumlah wajah bidadari nostalgi yang luput  dari genggaman, juga peri binal yang pernah menemani membakar malam  dengan kecupan-kecupan liar dan lenguh tertahan. Esoknya ada  yang mesti usai. Kami akan berpisah, saling melupa, dan hidup harus  dilanjutkan. Begitulah, selalu ada yang lucu dari masa lalu.  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt;  ***   &lt;/span&gt;&lt;strong style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;HALTE&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Menatap sebuah halte seperti memergoki sosokku risau menunggu di situ. &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt; ***  &lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;DERMAGA&lt;/strong&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Selat Sunda senantiasa melantunkan haru. Aku, putih buih ombak  yang tak letih berlari membentur lambung kapal, pecah berkeping, lalu  kembali lari menjauh. Aku ombak yang selalu gagal menafsir rasi bintang  di langit malam.  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Duduk di geladak, digigilkan desau  angin, aku melihat orang-orang mangu menatap laut. Mungkin lirih ombak  membuat mereka rindu dermaga. Mungkin lengking camar di keluasan langit  mengingatkan mereka pada paras rumah. Mungkin mereka letih mencari sorot  mercusuar atau menerka di horison mana matahari mekar atau jatuh dalam  dekap lautan. Mungkin juga memikirkan ribuan puisi yang lahir di laut  dan entah di mana dan bagaimana nasib mereka sekarang. Mungkin seorang  gadis gelisah di tubir dermaga menanti lelakinya pulang. Saat kapal  sandar dan lelakinya menyibak kerumunan manusia, dia memeluknya meski  pulang dengan tangan hampa dan kaki telanjang bernanah. Ah, entah  harapan atau impian macam apa yang diburu orang-orang ke pulau seberang  dengan liur menggenang. &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt; ***  &lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;BANDARA &lt;/strong&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Semogalah para pilot di negeri penuh bala ini dapat bilik  nyaman di sorga. Bukan sebab membuatku terpukau melihat gumpalan awan,  biru laut, atau kelok sungai serupa liuk naga dari jendela pesawat.  Mereka membuatku berakrab-akrab dengan Tuhan dan kematian.  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Bila jadwal penerbangan ditunda, aku suka mengamati bagaimana  orang-orang memaknai waktu di bandara. Ada yang bersungut-sungut tak  tentu, berselancar ke dunia maya lewat laptopnya, bertukar pesan pendek  atau bercakap-cakap dengan seseorang lewat ponsel. Sempatkah terlintas  di benak mereka jika burung besi yang akan mereka tumpangi menukik  deras, pecah berkeping di bukit-bukit perawan atau karam di palung laut.  Siapa di antara kami yang duduk dekat pintu darurat?  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt; ***   &lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Begitulah, ceracauku tentang sejumlah tempat yang mengerak  dalam benak. Tempat-tempat dalam perjalanan yang kadang memantik  rinduku pada rumah. Seperti ada sesuatu yang terpasung di dalamnya,  tabah menunggu kujenguk. Mungkin kenangan atau kisah masa kanak yang  menghunuskan remah-remah ingatan ketika aku mabuk dibuai tualang.  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="color: rgb(204, 204, 204); font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-family:&amp;quot;;" &gt;Apakah  pulang selalu jadi alamat terakhir bagi setiap tualang? Begitulah, acap  pertanyaan itu menohok ulu batin bila kudengar kata pulang ketika  bermil-mil jarakku dari rumah. Aku masih ragu untuk percaya bahwa tak  setiap tanya butuh jawaban. Mungkin lebih baik aku dan waktu saling  mengintai saja. Menunggu saat yang tepat untuk memulai perjalanan baru  menuju entah. Barangkali, dengan kendaraan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-150524390361517154?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/150524390361517154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/04/ceracau-petualang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/150524390361517154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/150524390361517154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/04/ceracau-petualang.html' title='Ceracau Seorang Petualang'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-462679082231070197</id><published>2010-03-13T12:14:00.001+07:00</published><updated>2010-03-13T21:19:02.150+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Dalam Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Maaf, Bapak! Bapak harus meminta surat keterangan tidak mampu dari kepala RT, baru Bapak kembali ke sini, ”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; petugas kelurahan itu mengembalikan map kuning itu kepada seorang lelaki tua yang berdiri di depannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tangan lelaki tua itu bergetar-getar ketika menerima map kuning itu. Bibirnya berusaha untuk tersenyum.  Nyaris satu jam dia menunggu,  seperti itu jawaban yang ia terima.  Setelah mengucapkan terima kasih dengan tulus,  lelaki tua itu berbalik.  Langkahnya tersendat-sendat menuju sepeda ontel tua yang dia parkir di samping mobil dan beberapa sepeda motor.  Ia naik ke sepeda dan mengayuhnya perlahan. Ia pulang lagi, dengan tangan hampa. Wajahnya letih,  tapi tidak terbaca kesedihan di sana. Ia sudah terbiasa menelan kekecewaan tanpa protes. Ia mengerti,  waktu berjalan sangat cepat dan hidup sudah berubah. Manusia, selalu tidak bisa menahan waktu, harus takluk kepadanya. Sekarang , ia bukan siapa-siapa.&lt;/span&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Tidak siapa-siapa.  Sebenarnya, dari dulu pun ia bukan siapa-siapa.  Lelaki itu memilih kembali ke rumah sakit daripada pulang ke rumah.  Di rumah tidak ada siapa-siapa.  Ia juga harus memberi tahu istrinya,  surat yang mereka perlukan itu belum bisa diurus hari ini.  Karena dokumen belum lengkap.  Siang ini ia tidak bisa mengurus surat keterangan tidak mampu dari Pak RT, karena ia sangat tahu,  Pak RT hanya berada di rumah di saat hari libur dan malam hari.  Ini bukan hari libur.  Ini belum malam. Pak RT sedang bekerja di kantornya. Entah di mana.  Lelaki tua itu mengayuh sepedanya di tepi jalan raya. Kendaraan berseliweran di sampingnya.  Kadang ia tersentak,  ketika tiba-tiba sebuah bis melaju kencang hanya sejengkal dari sisinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Atau sebuah sepeda motor membunyikan klakson padahal ia sudah mengambil jalan sangat di tepi.  Matahari tepat di atas ubunubunnya.  Membuatnya mengutuki keteledorannya. Ia lupa lagi memakai pecinya yang usang itu.  Pasti tertinggal di rumah sakit. Mungkin di sisi ranjang cucunya. Ia berusaha mengayuh pedal sepeda lebih cepat lagi.  Sayup-sayup suara sirene meraung.  Mungkin, ada yang mati lagi hari ini.  Atau ada yang setengah mati dan harus segera tiba di rumah sakit.  Ia mengayuh sepedanya semakin ke pinggir. Memberi jalan lebih lapang pada ambulans itu.  Dugaannya salah, bukan ambulans yang akan lewat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ternyata raungan itu berasal dari mobil patroli polisi.  Lewat pengeras suara ia mendengar perintah agar pengguna jalan menghentikan kendaraan.  Maka ia berhenti. Di belakang mobil patroli itu berjejer mobil mewah dan mengkilap.  Pasti di dalamnya ada pejabat.  Mungkin pejabat kota ini yang akan pergi dinas ke luar kota,  atau juga pejabat luar kota yang akan pulang dinas kerja dari kota ini.  Setelah iring-iringan itu lewat,  lelaki tua itu mengayuh sepedanya lagi.  Gara-gara ada pejabat lewat,  perjalanannya menjadi tertunda.  Padahal ia harus segera tiba di rumah sakit. Ia selalu tidak tenang jika jauh dari cucunya.  Sial baginya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Belum lima ratus meter berjalan.  Laju sepeda tidak stabil. Pasti bannya kempes. Ia berhenti lagi di tepi dan memeriksa ban sepedanya.  Ia temukan sebuah paku menancap di ban belakang.  Kepalanya berputar ke segala arah, berharap ada tambal ban terdekat.  Sial kedua menimpanya. Tidak ada tambal ban sepandangannya.  Ia menuntun sepeda itu ke depan.  Belum lagi ia menemukan sebuah tambal ban, ia mendengar lagi suara dari belakang.  Seperti dengungan lebah.  Ia menoleh.  Ada arak-arakan mendekat.  Mungkin hendak berdemonstrasi.  Banyak di antara mereka membawa spanduk dan karton penuh tulisan.  Ada tulisan-tulisan “Turunkan Pak Ketua”, “Jangan Tindas Lagi Rakyat Kecil”,  “Perut Kami Butuh Makanan,  Bukan Omonganmu yang Memuakkan Itu”, dan berbagai tulisan yang tidak sempat terbacanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Mungkin arak-arakan itu hendak menuju kantor kota,  atau juga sebuah kantor tempat mereka bekerja.  Lelaki itu tidak ingin menebak lalu salah. Setelah arak-arakan itu habis,  ia menuntun sepedanya lagi. Seraya berjalan, angannya terlempar pada beberapa puluh tahun lalu, ketika dia masih muda.  Ia juga kurang lebih sama seperti pemuda-pemuda tadi.  Semangatnya selalu berkobar jika melihat penindasan. Ia tidak pernah tenang melihat jika seseorang mengekang orang lain,  atau sebuah negara berusaha mengangkangi negara lain.  Ia tidak sudi,  negerinya ini diperas habis-habisan oleh penjajah,  dan rakyat yang lemah selalu dianggap hewan,  diperah susunya sampai habis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Setelah itu hidupnya berakhir di meja penjagalan.  Ketika itu,  dengan gagah berani dia mengangkat bambu runcing.  Menancapkannya di dada penjajah dengan teriakan membelah langit.  Seolah hendak berkata kepada Tuhan: aku tidak ingin membunuh,  tapi aku tak sudi dijajah. Ia siap mati, demi kemerdekaan negeri ini. Demi kehidupan yang lebih baik.  Bukan hanya untuknya,  tapi semua anak bangsa ini.  Langkahnya semakin bergetar menuntun sepeda itu,  membuatnya tersadar, ia belum makan sedari pagi tadi.  Untunglah,  kemudian ia menemukan sebuah tambal ban.  Penambal ban itu,  seorang lelaki muda berkaki satu.  Ia memakai kruk di ketiak kirinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Senyumnya merekah ketika lelaki tua itu meminta ditambal ban sepedanya.  Matanya bersinar bahagia,  seolah ia akan memperoleh banyak uang dari lelaki tua itu.  Lelaki tua itu jadi meraba sakunya sendiri. Hanya ada dua ribu rupiah.  Penambal ban itu menawarinya secangkir air putih,  lalu habis hanya dalam sekali tegukan.  Penambal ban itu mengisi lagi air ke dalam gelasnya.  “Kelihatannya Bapak letih sekali. ” Lelaki tua itu mengangguk. Tak hendak ia membagi kisahnya kepada penambal ban itu. Ia tidak ingin menambah kesusahan penambal ban itu dengan pilu kisahnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Aku hanya memiliki uang segini.  Maaf!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; lelaki tua itu menyalamkan uang dua ribunya,  setelah penambal ban itu menyelesaikan pekerjaannya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Bapak bawa saja.  Mungkin akan Bapak butuhkan di perjalanan, ”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; katanya tulus.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Tapi…. ”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Tak apa,  Bapak.  Maaf aku hanya bisa menjamu Bapak dengan air putih. ” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Lelaki tua itu terharu sekali.  Mungkin,  jika penambal ban itu lahir di masanya dulu. Ia juga akan berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah,  tanpa berharap akan mendapat balasan yang setimpal,  kelak setelah merdeka.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Bapak tidak ingat kepadaku?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;penambal ban sepeda itu bertanya.  Lelaki tua itu menatap wajah si pemuda seraya berusaha membuka kotak ingatan di kepalanya. Tetapi ia gagal mengeluarkan wajah pemuda itu dari sana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Maaf,  tidak ingat, ” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;sahut lelaki tua itu pelan.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Dulu, aku pernah berniat menjahitkan sepatu kepada Bapak. Tapi Bapak bilang,  sepatu itu tidak mungkin lagi bisa dijahit.  Lalu Bapak memberiku sebuah sepatu. Kebetulan sepatu itu memang tidak ada pasangannya. Bapak ingat?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Lelaki tua itu tetap tidak mengingat.  Tetapi dia yakin, lelaki muda itu tidak sedang salah orang. Ia memang seorang penjahit sepatu,  di emperan ruko tidak terpakai. Di tepi pasar.  Lelaki tua itu mengayuh sepedanya lagi.  Ia lihat langit berubah mendung, entah ke mana perginya matahari yang tadi garang membakar bumi. Angin berhembus cepat,  melawan laju sepedanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Angin itu membawa bau hujan.  Kedua kakinya berusaha mengayuh pedal sepeda lebih kencang lagi.  Rumah sakit cucunya dirawat masih cukup jauh,  ia tidak ingin kehujanan di tengah perjalanan.  Tapi hujan benar-benar tak punya belas kasih.  Ia tercurah dari langit, seperti seember air yang disiramkan kepada sepasang kucing yang tengah kawin.  Lelaki tua itu terpaksa berteduh di depan sebuah warung bakso,  ia tidak ingin segala berkas dalam mapnya hancur terkena air hujan.  Ia ngilu menatap air-air hujan yang jatuh.  Perutnya semakin perih,  mungkin karena sedari tadi mencium aroma bakso dari dalam warung.  Sedikit ia melirik ke dalam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Pengunjung warung cukup banyak.  Lebih banyak berpasangan dan bergerombol.  Semuanya sangat lahap mengunyah bakso. Mereka tertawa-tawa dan bahagia. Lelaki tua itu ikut tersenyum, merasa ia tidak sia-sia. Dulu telah ikut berjuang merebut kemerdekaan. Jika negeri ini masih berada di bawah jajahan,  amat mustahil mereka bisa menikmati bakso sebahagia itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Sekitar setengah jam kemudian,  setelah hujan menyisakan butiran kecil yang jarang-jarang,  ia putuskan melanjutkan perjalanan.  Istrinya pasti cemas menanti kehadirannya.  Tadi pagi saja, istrinya lebih memilih dia yang mengurus surat keterangan tidak mampu dari kepala desa dan lelaki itu yang menemani cucu mereka di rumah sakit.  Mungkin istrinya takut jika ditagih lagi oleh pihak rumah sakit.  Tapi lelaki itu sanggup meyakinkan istrinya bahwa pihak rumah sakit tidak akan menagih mereka lagi,  dengan alasan bohong, ia sudah berbicara dengan kepala rumah sakit.  Cucu satu-satu mereka, terkena demam berdarah.  Pihak rumah sakit memilih merawat seadanya saja karena ketiadaan biaya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Lalu pihak rumah sakit mengusulkan agar mereka mengurus surat keterangan bahwa mereka orang miskin, tetapi ternyata mengurus itu juga sangat berbelit sekali.  Banyak persyaratan harus dipenuhi,  banyak dokumen yang harus dilengkapi. Dan dokumen itu tidak bisa segera keluar tanpa pelicin.  Lelaki tua itu tidak bisa berbuat banyak.  Apalagi anak satusatunya dan menantunya setelah pergi merantau ke luar negeri,  sama sekali tidak pernah berkabar sekalipun. Tapi ia tidak boleh menyerah,  menghalau penjajah bersenjata saja dia sanggup. Apalagi hanya masalah seperti ini.  Jalan penuh lubang dan genanganair. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ia harus berhati-hati jika tidak ingin terjungkal pada salah satunya.  Lelaki tua itu, hanya bisa menarik napas panjang, ketika sebuah mobil melintas cepat pada sebuah lubang,  di sampingnya. Air kotor menyiprat ke bajunya yang lembab.  Sekarang ia sudah berada di depan rumah sakit. Hanya tinggal menyeberang jalan.  Ia turun dari sepeda dan menuntunnya ke seberang.  Tiba-tiba ia tersentak mendengar ban beradu dengan aspal yang basah. Suaranya berdenyit dan ngilu di telinga. Setang sepeda hampir lepas dari tangannya yang bergetar.  Lututnya tersentuh moncong sedan mungil itu.  Sebuah kepala keluar dari bagian sopir.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Seorang perempuan muda berwajah cantik sekali membulatkan matanya lebar-lebar,  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Heh,  orang tua, goblok! Mau mati kau?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; bentaknya.  Lelaki tua itu menepikan sepedanya dan membungkuk seraya mengucapkan maaf berkali-kali.  Tetapi perempuan muda pengendara mobil itu seolah tidak peduli.  Ia masih memaki-maki sebelum melarikan mobilnya seperti dikejar setan.  Lelaki tua itu menuntun sepedanya lagi.  Memasuki parkiran rumah sakit,  yang disesaki sepeda motor.  Sebelum menemui bagian kasir,  lelaki tua itu memutuskan ke ruangan cucunya dulu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;Ingin memastikan cucunya baik-baik saja.  Ia mendengar lengkingan istrinya di saat memasuki ruangan itu. Istrinya berlari memeluk bajunya yang lembab dan kotor.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Ada apa?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; suaranya mengambang,  matanya berusaha melihat cucunya yang terbaring di atas tempat tidur. Ada seorang dokter dan dua orang perawat di sana,  seperti orang gagu menatap cucunya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;“Cucu kita sudah pergi,  Pak!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; rintih istrinya.  Lelaki tua itu tidak ingin memercayai itu. Tapi ia lihat seorang perawat menutup seluruh tubuh cucunya dengan sehelai kain. Tangannya yang keriput bergetar, memegang permohonan surat keterangan keluarga miskin,  yang belum lengkap dokumennya. ***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;, &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif;"&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-462679082231070197?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/462679082231070197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/03/dalam-perjalanan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/462679082231070197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/462679082231070197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/03/dalam-perjalanan.html' title='Dalam Perjalanan'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-3793909284836133339</id><published>2010-02-26T21:50:00.000+07:00</published><updated>2010-02-26T21:50:59.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Pernah kau bergidik mendengar ombak yang bergemuruh;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;pucat oleh raungan halilintar;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;berdegup kencang karena bumi bergemerutupan;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;gemetar hebat menyaksikan angin yang memuting.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Ah, itu tak ada apa-apanya, Kawan!&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Adakah yang lebih hebat dari rindu?&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-3793909284836133339?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/3793909284836133339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/02/pernah-kau-bergidik-mendengar-ombak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3793909284836133339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3793909284836133339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/02/pernah-kau-bergidik-mendengar-ombak.html' title=''/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Bekasi, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2474466 107.1484521</georss:point><georss:box>-6.5887286 106.6815331 -5.9061646 107.6153711</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-5824992500441491942</id><published>2010-02-17T06:29:00.001+07:00</published><updated>2010-02-17T06:55:52.458+07:00</updated><title type='text'>Epilog</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;*episode paling menegangkan dalam salah satu journeyku &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Hujan terlihat begitu ganas mengguyur bumi di satu malam. Suara  halilintar ikut melengkapi malam yg menyedihkan itu. Satwa-satwa liar  sepertinya menggigil kedinginan di tempat persembunyiannya. Di sebuah  hutan kecil, di luar kota, tampak sesosok tubuh tergeletak. Rata. Tidak  bergerak. Basah kuyup, menyatu dengan lumpur. Dan tampak pula sebuah  ransel tergolek di samping tubuh itu, menemaninya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Masih hidupkah tubuh itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Hei, lihat! Lihatlah! Tangan itu bergerak! Mulai meremasi lumpur. Dan,  lihat! Kepalanya yg terbenam di lumpur terangkat pelan-pelan. Dan,  matanya terbuka perlahan. Tubuh itu mencoba bangkit, kawan. Namun, ah,  tersungkur lagi. Dia berusaha bangkit lagi, Tangan kanannya menjadi  tumpuan berat tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Suara gelegar halilintar menyentaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Hei," gumamnya parau. "Ada dimana aku?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Dia memandang ke sekeliling yg gelap gulita, lalu dengan susah payah  mencoba duduk. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #b45f06; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sekujur tubuhnya terasa lemah, dia menggigil kedinginan,  bibirnya biru gemetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Terhuyung-huyung dia menyeret ranselnya. Suasana mencekam mendera  jiwanya. Beberapa kali ia terpeleset, terjerembab, dan mencium lumpur  lagi. Tapi remaja bandel itu terus menerobos hujan dan semak  belukar,untuk mencari setitik nyala lilin. Seseorang yg ingin mencapai  tujuan dalam pergulatan hidupnya, bukan berarti dia tidak pernah jatuh.  Akan tetapi, dia berusaha untuk bangkit berdiri lagi setelah jatuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt;Remaja bandel itu berhasil mencapai jalan raya, dia tersungkur kelelahan  di pinggirnya. Dia belum berusaha berdiri, dadanya masih terasa sesak.  Mulutnya megap-megap. Tubuhnya semakin menggigil dan bibirnya gemetar  kebiru-biruan. Pucat pasi. Tangannya beberapa kali mengusap air yg  membasahi wajahnya. Penderitaan jelas tergambar di wajah remaja bandel  itu, namun sinar matanya memancarkan kemauan yg keras untuk terus hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Dari kejauhan, dia melihat sorot lampu menembus curah hujan yg rapat.  Tergesa-gesa ia pun bangkit, lantas melamaikan tangannya. Namun, oh!  Mobil sialan itu tak mempedulikannya, terus melaju. Air bercipratan  menampar jiwanya. Remaja bandel itu menggerutu kecewa, tapi ia tetap  mempertahankan nyala kecil di hatinya agar tidak padam. Ia pun mencoba  melangkah lagi, tapi harus mengambil langkah ke arah mana? Sementara  langit yg menjadi patokan sedang mendung kelabu, dan jiwa yg biasanya  diajak kompromi pun gundah gulana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Beberapa kali mobil melintas mencipratkan genangan air ke tubuhnya, dan  beberapa kali pula ia sia-sia menyetopnya. Sepertinya sopir-sopir itu  sangat ketakutan untuk mengangkut muatan di tengah jalan dalam cuaca  seperti itu. Dia mendengar lagi deru suara mesin di belakanganya. Truk  itu melindas genangan air. Remaja bandel itu berusaha menepi, saat itu  dia sudah tak lagi mempunyai niat untuk menyetopnya. Ia berpikir, toh  hal itu akan sia-sia juga ia lakukan. Namun sekitar sepuluh meteran,  truk itu berhenti mendadak. Suara remnya yg berderit tertelan bunyi  gemuruh hujan. Truk itu mundur dan berhenti di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Pintu depannya terbuka. "Cepat, naik!" Terdengar suara orang. Suara  tersebut menyulut semangat remaja bandel itu yg mulai mengecil. Dia  menyerahkan ranselnya, mengulurkan tangannya. Tubuhnya ditarik ke atas  truk, dia masih terlihat lemah sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ada dua orang di dalam truk itu. Sopir dan keneknya. Mereka  memperhatikan sosok remaja bandel tadi dengan tatapan memprihatinkan dan  keheranan. "Mau rokok?" Si kenek menyodorkan sebungkus filter. Dia  berharap dengan sebatang rokok bisa mengusir rasa dingin yg menusuk  tulang remaja bandel itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Tidak pak, terima kasih. Saya tidak merokok," remaja bandel itu  menolak. Tangannya masih gemetar, si kenek buru-buru menyerahkan sebuah  handuk untuk menghangatkan tubuh remaja itu. Dia pun tersenyum, "Terima  kasih pak," ucapnya masih dengan mulut yg bergetar. Dan si kenek hanya  mengangguk dengan sebuah senyum di wajahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Mau ke mana, Pak?" remaja bandel itu semakin menggigil, suaranya pelan  sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Ke timur," kata si sopir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Remaja bandel itu menghela nafas, dadanya terasa sangat lapang. Ada  kehangatan yg menjari dadanya, matanya berkaca-kaca. Ternyata benar:  seperti juga orang jahat, orang baik itu ada dimana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Terima kasih, pak" ucap remaja tadi dengan isak tertahan. Si bandel itu  menatap lurus ke depan. Ke kaca mobil yg buram dipukuli hujan. Ke jalan  yg suram diterobos lampu mobil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Habis dirampok, Nak?" Si sopir menyatakan keheranannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Remaja bandel itu menggeleng, "Saya tersesat, Pak" itu saja yg keluar  dari mulutnya. Kemudian dia berusaha melawan dinginnya malam. Kepalanya  disandarkan ke jok, dan matanya pelan-pelan terpejam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Dia lelah sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; ***Remaja bandel itu merasa sedang berada di tengah padang tandus yg  lengang, sendirian. Ia berjalan, kepanasan, kedinginan. Kerongkongannya  kering, seperti tercekat. Ia merasa haus sekali. Lantas tangannya  menggapai-gapai langit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Tiba-tiba ia melihat Ibu-Bapaknya, kemudian adik-adik kecilnya. Mereka  tersenyum serempak ke arahnya. Ia menangis menikmati senyum mereka,  lantas berteriak-teriak mengejar bayangan mereka. Ia berusaha meraih  mereka, orang-orang yg begitu ia cintai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Tubuh remaja bandel itu tergolek memprihatinkan. Orang-orang yg berpeci  dan sarung itu dengan telaten merawatnya. Secara bergilir mereka  menjagainya, memberinya air minum bila ia kehausan, melagukan ayat-ayat  suci bila ia gelisah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Tiba-tiba tubuh itu menggeliat, terjaga dari tidurnya yg menggelisahkan.  "Oh,..ada dimanakah saya?" Suaranya begitu lirih, "Siapakah kalian?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Para santri itu mengucap syukur. Wajah mereka yg sering dibasuh air  wudhu tambah bersinar saking gembiranya. Mereka menadahkan kedua  tangannya sambil berkomat-kamit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Remaja kesepian itu menyadari itu semua. Kemudian ia duduk, mengedarkan  pandangnya ke sekeliling. Ternyata ia berada di sebuah pesantren. Ia  memandangi sebuah bangunan memanjang yg terdiri dari blok-blok itu.  Setiap blok terdiri dari beberapa kamar, dihuni sekitar sepuluh orang  santri, dan setiap blok dikepalai seorang santri yg sudah lama tinggal  di pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Sudah mendingan, Ilham?" Syafi'i, anak Madura, kepala blok itu  menegurnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Si bandel mengangguk lemah. "Siapa yg membawa saya ke tempat ini, Mas?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Seorang sopir dan keneknya," anak Madura itu tersenyum. "Mereka  melihatmu di jalan ketika hujan lebat. Kata mereka, kamu tersesat."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Saya belum sempat mengucapkan terima kasih pada mereka," Ilham  menunduk. "Dimana saya bisa menjumpai mereka, Mas?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Sebulan sekali mereka datang ke sini, mengantarkan beras pesanan kami,"  katanya lagi. "Untung ranselmu tahan air. Barang-barangmu ada di dalam.  Kamu periksa saja, takut ada yg hilang."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ilham mengangkat wajahnya, dia merasakan sorot mata yg teduh di sana.  Sesuatu yg lama ia dambakan. Kematangan akan makna hidup, akan sesuatu  yg mana harus dilakukan dan mana yg harus ditinggalkan. Tiba-tiba, ia  merasa kecil sekali di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; *** "Am, sini sebentar." Syafi'i,anak Madura itu memanggil si bandel&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ilham menutup Al-Qur'annya, menyimpannya di atas lemari. "Ada apa, Mas?"  tanyanya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Ada yg ingin Mas bicarakan," lembut dan pasti nadanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Tentang apa, Mas" Ilham bersila di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Tentang orangtuamu."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Si bandel terkesiap mendengarnya. Ia seperti tersadar dari lamunannya,  "Ada apa, Mas?" Cemas sekali nadanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Syafi'i membetulkan letak duduknya. "Tanpa sepengetahuan kamu, Am, Mas  mengambil inisiatif untuk memberi kabar kepada orang tuamu di Bandung.  Alamatnya Mas lihat di catatan perjalananmu. Ketika kamu sedang sakit,  Mas kirim surat ke orang tuamu di Bandung," dia berbicara sambil  memperhatikan reaksi Ilham.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Mas menceritakan tentang keadaan saya semuanya? Tentang sakit saya?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Syafi'i mengangguk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Oh!" Si bandel menutup wajahnya. "Ibu tentu akan cemas sepanjang hari  karena memikirkan kesehatan saya, Mas!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Ini ada balasan dari Ibumu, Am. Mas sendiri dapat juga surat dari  Ibumu. Beliau menyuruh Mas untuk membujuk kamu agar cepat pulang."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Si bandel menyambar surat yg disodorkan Syafi'i, lalu menuju teras.  Buru-buru sekali ia menyobek bagian pinggirnya. Tangannya gemetar ketika  mencabut secarik kertas dari dalam amplop itu. Bibirnya gemetar mengeja  kalimat-kalimat itu. Surat dari Ibunya tidak begitu panjang:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; "Ilham, anakku sayang,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ibu hanya bisa mendo'akan agar kamu lekas sembuh. Jagalah dirimu  baik-baik. Jangan terlalu menuruti nafsumu. Ibu tidak akan memaksamu  untuk pulang. Tapi, tidak rindukah kamu pada Ibu, pada Bapak, dan juga  adik-adikmu? Tidakkah kamu rindu dengan sekolahmu? Dengan masa remajamu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ibu sekarang sering sakit-sakitan. Mungkin Ibu terlalu capek dan banyak  pikiran. Tapi, bagaimana ibu tidak akan sakit bila setiap makan selalu  ingat, apakah anak Ibu juga sedang makan? Atau bila Ibu hendak tidur Ibu  selalu ingat, dimanakah saat ini anak Ibu tidur?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ilham,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Kalau Ibu boleh meminta, pulanglah! Tapi, bila kamu memang belum puas  dengan petualanganmu, maka puaskanlah dulu. Tapi ingat Am, jangan lupa  shalat."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Remaja bandel itu menutupkan kertas putih itu ke wajahnya. Dia menangis,  kertas itu jadi basah karena air matanya. Dia tercekam oleh perasaan  berdosa. Kini, terbayang wajah Ibunya yg keletihan mengurusi adik-adik  kecilnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Pelan-pelan, si bandel beranjak. Dia melintasi lapangan, menuju Masjid.  Dia berkumur-kumur, membasuh muka, membasuh lengan, rambut, telinga dan  kedua kakinya. Dia merasa sejuk sekali. Lalu dia bersujud. Berdo'a.  Tubuh dan jiwanya terasa tentram dinaungi tempat ibadah itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ya Allah, lindungilah Ibuku. Itu saja do'a yg bisa keluar dari mulutnya.  Ia tidak mampu berkata-kata lagi, karena ia hanya bisa menangis  membayangkan wajah Ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br style="color: #b45f06;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #b45f06;"&gt; Ya, remaja bandel itu menangis. Sungguh.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-5824992500441491942?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/5824992500441491942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/02/episode-paling-menegangkan-dalam-salah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5824992500441491942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5824992500441491942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2010/02/episode-paling-menegangkan-dalam-salah.html' title='Epilog'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-437735024166712530</id><published>2009-11-19T22:42:00.008+07:00</published><updated>2010-02-17T06:57:15.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Musuh Wong Cilik  (Tentang Satpol PP)</title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di tengah hancurnya kondisi perekonomian bangsa, kota-kota besar masih dianggap sebagai tumpuan kaum pendatang untuk sekedar bertahan hidup. Namun pada kenyataannya, kota yg mereka dambakan itu ternyata tak ubahnya tebaran duri-duri tajam dan berbisa bagi orang miskin. Ya, kota adalah tebaran duri-duri tajam bagi para pedagang kecil yg menjajakkan barang dagangannya di tepi jalan, di kota-kota besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Benar kata sebuah pepatah, ada gula ada semut. Kaum miskin di pedesaan masih menganggap kota sebagai sebuah ladang rejeki, namun sebaliknya bagi pemerintah kota. Para pendatang dianggap sebagai suatu sumber masalah pembangunan, tidak heran apabila setiap tahun terutama pasca Idul Fitri, kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung giat menggelar operasi yustisi. Bukan itu saja, pemerintah kota seringkali melaksanakan program pemberantasan orang miskin. Penggusuran PKL tanpa adanya solusi tempat penampungan yang layak, pembangunan mall berkedok renovasi pasar yang seringkali diawali dengan aksi pembakaran, penangkapan gelandangan, pengemis, pengamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah sebuah strategi jitu untuk memberantas orang miskin di Indonesia yang praktis semuanya ditangani oleh sebuah korps bernama SATPOL PP.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Namun sayang, berbeda jauh dengan namanya,-- “pamong”--, pamong-among-ngemong yang artinya adalah mengasuh-mendidik-mengawasi. Kini Satpol PP identik dengan penggusuran, penangkapan serta kekerasan terhadap kaum miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SwVpEQwYROI/AAAAAAAAAUA/osJn2T0Gi00/s1600/a.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405842449666426082" src="http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SwVpEQwYROI/AAAAAAAAAUA/osJn2T0Gi00/s400/a.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 226px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 285px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ini adalah sebuah realita yang ada dan sudah menjadi rahasia umum. Bagaimana tingkah polah anggota satpol pp yang ada di negeri ini yang sejatinya di tujukan untuk menjadi pelayan masyarakat dan diharapkan bisa meminimalisir pelanggaran yang menyangkut ketertiban umum sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga, yang ada malah tindak tanduk mereka selalu meresahkan masyarakat.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bukan rahasia lagi bahwa tak sedikit oknum Satpol PP yang menjadi preman kambuhan dengan meminta uang kutipan dari para pedagang kaki lima maupun rumah-rumah tenda di sepanjang kali dengan dalih uang setor agar usaha mereka aman. Namun bukannya keamanan yang di dapat, malah mereka pulalah yg menjadi pihak paling pertama yang melakukan pengusuran maupun razia dengan cara yg sangat tak berhati. Bahkan tak segan-segan melakukan kekerasan fisik .&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dokumen dari Litbang LBH Jakarta memaparkan bahwa anggaran Satpol PP dan kawan-kawan pada APBD Jakarta pada tahun 2007 mencapai 303,2 M, jauh diatas anggaran untuk pendidikan dasar yang hanya 188 M. Anggaran untuk “musuh wong cilik” ini hampir sama dengan anggaran untuk Puskesmas dan rumah sakit se-DKI sebesar 322,4 M.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pemberantasan kemiskinan bukanlah pemberantasan orang miskin. Pengentasan kemiskinan adalah sebuah kata yang terasa lebih nyaman di telinga dan merupakan sebuah program jangka panjang dan harus berkelanjutan. Seringkali masalah dianggap tuntas ketika kaum miskin tidak lagi tinggal di kota atau segan untuk datang ke kota.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mirip kehidupan di Negeri antah berantah yang amat subur pertumbuhan parpol-parpol yg juga berbanding seimbang dengan pertumbuhan organisasi premannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi kehidupan bagi orang miskin di tempat serupa itu. Sekedar berjualan sayur di pasar Gemar Ramai pun, ternyata sudah tak ada lagi sejengkal tanah yang tak dikapling para penguasa lokasi itu.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mereka tak berinstansi tapi hak dan legalitas mereka melampaui pemerintah yang konon katanya sangat berdaulat dengan paham kerakyatannya. Cara mereka menjalankan tugas lapangan terkenal tegas tanpa tedeng aling-aling dan diyakini jauh melampaui cara-cara kerja polisi walau mereka itu tak pernah didiklat. Sebenarnya modal mereka satu saja, nekad! Yang punya nyali bawaan lahir seperti itu silakan masuk tanpa birokrasi berbelit seperti yang biasanya dianut pemerintahan yang sah. Bos mereka pasti senang menerima mereka. Belati dan pentungan adalah senjata yang paling dikuasai, dan setiap anggota menggunakannya. Mereka berkarakter keras, hatinya tak pernah luluh karena tangisan dan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SwVqqrpyEoI/AAAAAAAAAUI/hvZDn0nGWls/s1600/b.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405844209233171074" src="http://4.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SwVqqrpyEoI/AAAAAAAAAUI/hvZDn0nGWls/s400/b.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 280px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-437735024166712530?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/437735024166712530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/11/di-tengah-hancurnya-kondisi.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/437735024166712530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/437735024166712530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/11/di-tengah-hancurnya-kondisi.html' title='Musuh Wong Cilik  (Tentang Satpol PP)'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SwVpEQwYROI/AAAAAAAAAUA/osJn2T0Gi00/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-2285547411521034590</id><published>2009-10-28T22:20:00.005+07:00</published><updated>2010-02-17T06:57:39.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Jendela Senja</title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bila petang datang membayang, aku rindu membawa tubuhku ke pinggir laut luas. Duduk terdiam di tepi dermaga yang mulai senyap. Memanjakan bola mataku pada langit keemasan yg terlukis di angkasa. Berlama-lama, membiarkan retinaku berlarian di atas kanvas nan luas di tengah samudera. Jadikan diri serasa camar yang bercericit hingar. Mengepak-ngepak sayap di atas laut lepas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Laut, petang, dan langit, adalah kombinasi keindahan semesta. Dalam balutan senja, aku terbang mengembara menuju langit luas. Menyibak tiap awan-awan, menyusuri tiap jengkal kenangan. Selayak layang-layang, menggelinjang dalam taburan fatamorgana. Menelisik dan menghinggapi detik-detik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Camar dan laut adalah dua keindahan yang sayang dilewatkan. Camar-camar terbang melayang, membelah angkasa dan menyibak lautan. Mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang bisa didapat. Setelah itu, jika sunset telah jatuh ke pelukan senja, mereka berbondong-bondong pulang ke sarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Serupa itulah diriku. Mungkin. Terkadang, aku tak bisa menjawabnya. Acap kali aku kelewat terbuai dalam pendar-pendar mentari yang menciptakan keindahan di permukaan laut. Cahaya yang menyatu dengan air biru itu begitu melenakan. Membuatku ingin merengkuhnya lebih dalam ke pelukan mata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tak seperti camar, aku terkadang lupa pulang. Padahal, senja telah berganti malam. Dan gelap telah bersanding dengan langit pekat. Menciptakan bintang gemintang yang membuai. Seperti menikmati indahnya siang di permukaan lautan. Malam di atas laut pun tak kalah menakjubkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Lupa pulang? Mengapa? Selalu itu tanya yang dilontarkan senyap ketika aku terjaga. Dan aku sering tergagap karena tak bisa menjawab. Bukankah camar saja selalu ingat dengan tujuannya? Otakku menari dalam diam. Pelan berlahan, angin membisikiku jawaban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; "Aku terlalu menikmati indahnya lautan hingga siang dan malam begitu membuai," bibirku meniru bisikan angin yang terburu pergi bersama dingin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Lautan memang membuai. Membuai setiap yang menikmatinya. Membuai pelaut, membuai camar, membuai turis dan guide-nya. Dan juga membuai, dirimu. Tetapi, di antara mereka ada yang tidak lupa bila senja telah datang. Pulang. Itu yang harus mereka lakukan. Dan membawa setiap bekal dan kenangan yang telah mereka dapatkan seharian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Karena laut hanyalah sebuah keindahan yang fana. Di balik pendar-pendar cahaya sang raja siang, sesungguhnya tak ada permata di permukaannya. Itu hanyalah ilusi yang ingin mengunci hati. Dan tentunya menipu mata yang terbuai olehnya. Tahukah dirimu, apa sebenarnya warna laut? Jangan pernah menjawab biru. Karena ada juga yang bilang ungu. Padahal, sebenarnya laut tak berwarna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Aku tersenyum simpul mendengarnya. Senyap tengah bercerita bersama laut dan semilir angin yang melenakan. Membawa kisah-kisah yang dilakoni camar, atau petualangan hebat para pelayar. Dalam sunset keemasan yang memesona, aku terdiam. Membiarkan saja mereka menemani diriku di jendela senja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tak percaya? Ambillah sedikit airnya, kemudian tampung di tanganku. Tak ada warna biru itu di sana, yang ada hanya garis-garis tangan yang bercerita akan bekal dan petualangan. Nyatalah, laut itu memang tak punya warna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tetapi, mengapa banyak orang yang terbuai akan laut sepertimu? Ah, aku ingin tertawa mendengar itu. Sudah aku katakan tadi, laut itu sangat indah untuk dinikmati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Indah. Dari mana kau dapat? Tebaklah apa isi di dalam lautan? Selain ikan-ikan elok nan rupawan, karang-karang cantik yang memukau. Laut menyimpan kejahatan terencana buat penikmatnya. Telah menjadi kenangan yang usang kalau badai sering kali menenggelamkan para pelayar. Belum lagi hiu-hiu buas yang siap memangsa. Hanya satu yang membuat mereka seperti itu; kelewat terbuai!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Kembali, aku menenggelamkan diriku dalam sunset senja yang semakin sempurna. Mentari yang seperti tampah merah besar, tergantung di langit barat. Di atas lay out itulah, camar-camar dan kelelawar mengepak-ngepak sayap. Ah, siapa yang tidak akan terbuai akan kerupawanan lautan? Di waktu mentari tengah pongah berkuasa di kursinya, lautan tetap indah menawan. Pun ketika mentari telah ringkih dan letih, laut malah bertambah indah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Serupa siang, malam tak kalah menggoda. Apalagi ketika purnama tengah sempurna. Bulat. Putih. Besar. Berlayar sendiri di langit luas. Mahakarya yang tiada tara. Pasir-pasir pantai yang basah juga menggoda kulit kaki untuk menjejaknya. Pun debur ombak yang menggelitik gendang telinga. Sayang untuk tak dinikmati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tak ada yang tidak membuat orang terbuai dengan lautan. Setiap inci dan detik dari laut adalah keindahan. Kenyamanan akan hati yang tengah gulana. Hingga lupa rumah adalah sebuah kewajaran. Terlampau menikmati, membuatku lupa akan pulang di kala senja yang telah datang membayang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Setiap orang punya rumah. Dan setiap orang harus pulang juga para pelaut dan camar. Mau atau tidak, pasti akan wajib untuk pulang. Karena kepulangan adalah keharusan. Bila kantuk telah datang menghinggapi mata, tentu tempat terbaik untuk menuntaskannya adalah ranjang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Apa yang membatasi keduanya? Masa. Sebuah rentang yang punya awal dan akhir. Sama seperti ketika mentari menyembul di balik laut sebelah timur, setelah bergerak pelan berlahan menuju langit sebelah barat. Rentang dan masa yang membentuknya. Dan camar pun melakoninya. Mengapa dirimu tidak?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Aku tergagap. Laut bagi nelayan hanyalah tempat mencari ikan. Dan ikan akan selalu dibawa pulang ke daratan. Sebagai wujud tanggung jawab kepada keluarga, kalau nelayan mencintai mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Selayaknya, begitulah diriku. Pulang sebuah keharusan. Dan kewajibanku adalah mengumpulkan bekal untuk dipertanggungjawabkan. Sebagai bukti kecintaan pada keluarga. Bukan tenggelam dalam ilusi sunset yang hinggap di jendela senja. Sebab, itu hanya akan membuat diri terlena dan lupa akan tujuan awal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Camar bercericit riang. Ingar-bingar suara mereka di atas permukaan laut. Sepetang ini mereka masih sibuk menyambar-nyambar ikan yang muncul di permukaan. Memanfaatkan tiap detik yang tengah merangkak bersama senja, agar malam-malam dingin tak membuat lapar perut dan anak istri. Serupa camarkah diriku? Berkejaran dengan detik yang makin tergesa. Berkepak-kepak riuh laksana sayap mereka di tengah gempuran ombak dan karang yang mulai ganas. Terlena, terlampau lupa aku akan semua!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Dan aku terjaga dari sunset yang keemasan ketika tempat dudukku telah basah oleh air laut. Rupanya, petang hendak bersalin rupa menjadi malam. Air pasang telah datang sebagai penanda kalau angin laut tengah bertiup ke daratan. Membawa gigil yang membungkus seribu dingin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; "Laut lebih cepat pasang sekarang. Bergegaslah, sebelum terlambat," itu yang dibisikkan senyap. Entah, aku tak tahu, apa yang membawa langkahku bergegas petang ini? Seirama camar yang mulai pulang aku menyusuri bibir pantai, menuju satu arah. Pulang ke rumah yang lebih nyaman. Tetapi, apa yang aku hasilkan dari laut hari ini? Sebuah pendapatan yang wajib aku serahkan kepada orang-orang di rumah. Sebab, laut adalah tempat mencari bekal sebelum pulang di kala senja. Dan tak mungkin aku pulang dengan tangan hampa. Harus ada sesuatu yang dibawa pulang. Tetapi, apa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tak mungkin aku membawa sunset pulang ke rumah. Sebab, dia hanya ilusi yang mulai lenyap di balik layar malam. Aku tercenung diam, kakiku dingin dicumbu air laut. Tak ada yang bisa kubawa pulang. Celakalah!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Terburu aku mencari apa pun yang ada di pantai untuk dibawa pulang. Tak mungkin tidak membawa sebuah hasil pun. Masih ada waktu, sebelum malam jatuh kepelukkan pekat. Dan senja bersalin rupa menjadi malam. Aku tak ingin pulang dengan tangan hampa. Sebab, lautan adalah tempat untuk mencari bekal. Bagaimana jika aku lapar di tengah malam? Siapa yang bisa menolongku? Tak ada. Cemas, berkejaran bersama camar yang kenyang dan sarat membawa ikan diparuh mereka. Aku pias, sunset hampir lenyap di jendela senja. ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-2285547411521034590?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/2285547411521034590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/10/jendela-senja.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2285547411521034590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2285547411521034590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/10/jendela-senja.html' title='Jendela Senja'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-3453512471288446309</id><published>2009-07-27T11:29:00.005+07:00</published><updated>2010-02-17T06:58:05.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Mimpi Didit</title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dari sudut sesak sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta,tercium aroma kematian. Aromanya sempat membuat pengap orang-orang di sekitarnya. Mereka merasa membaui nanah dari borok sebesar kepala.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Aroma kematian itu berasal dari Didit, anak yang diperkirakan berumur sepuluh tahun. Anak yang mempunyai sebentuk wajah yang panjang, juga lengan dan tungkai yang panjang.Kulitnya gelap terpanggang matahari. Bocah itu meninggal dengan cara yang amat remeh. Hanya tertusuk paku. Penyebabnya pun juga sangat remeh, orang tua yang kebanyakan anak, dan tak becus mengurus anak-anaknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bapak yang pemalas karena hanya mampu memberi penghasilan senen-kemis sebagai tukang servis elektronik. Ibu si Didit, pun tak kalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gemblung&lt;/span&gt;nya. Entah mengapa perempuan itu tidak henti-hentinya bunting, dan sudah tiga minggu ditahan rumah sakit karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya persalinan. Mulutnya yang berbusa-busa mengatakan dia meninggalkan tiga orang anaknya di rumah ditanggapi perawat rumah sakit dengan cibiran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Emangnya gue goblok, bisa dikadalin.”&lt;/span&gt; Ya, begitulah. Didit wafat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Biarlah dia mendapat penghormatan dengan kata wafat, daripada menyebutnya dengan mampus seperti anjing jalanan, walaupun nasib Didit pun sebhenarnya tak lebih baik. Setidaknya dengan kata-kata itu ia tetap mendapat penghargaan sebagai manusia, bahwa di dalam tubuhnya juga ada nyawa manusia.Walaupun mungkin Didit sudah lupa semuanya, karena ruhnya sudah terbang ke alam ruh. Lupa bagaimana ia meregang nyawa di rumah sakit.Lupa sudah ia, bagaimana mahasiswi-mahasiswi kedokteran hanya menontonnya seperti pertunjukan sirkus saat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;tubuhnya mengejang dan matanya membelalak, sebagai pertanda infeksi tengah menyeruak di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didit sudah lupa itu semua, seperti semua orang, yg sebentar lagi akan melupakan kewafatannya. Semudah melupakan kisah tragis di sebuah sinetron. Karena berita-berita seperti Didit akan lebih banyak lagi terdengar, bahkan yang jauh lebih buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didit dimakamkan dengan layak, setidaknya ada doa bersama yang menghantarkan pemakamannya. Ia dikuburkan di bawah gundukan tanah dengan sebuah nisan yang mencuatkan namanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Akan ada orang lewat nantinya yang akan membacanya, dan menyadari ada anak manusia yang dikubur di sana. Walaupun orang yang lewat itu barangkali tidak akan berpikir lebih jauh untuk mempertanyakan siapa Didit sebenarnya. Seakan gundukan tanah merah dan batu nisan itu telah menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Didit adalah kewajaran semata-mata. Siapa yang dapat mengetahui ajal manusia? Siapa pula yang dapat melawan takdir kematian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Didit telah berakhir begitu nyawanya lepas dari raga. Kerumunan orang yang tadinya menggebu- gebu membicarakan perihal kematiannya mulai kehilangan gairah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mereka kehabisan bahan dan peminat. Apalagi yang dapat dibicarakan pada orang yang ruh-nya telah terbang? Tak seorang pun dari para penggunjing itu yg berminat membicarakannya lagi, apakah suatu ketika dalam hidupnya, Didit pernah mempunyai cita-cita. Pernahkah dalam tubuh dekil dan kulit legamnya tercipta lamunan akan hidupnya di masa depan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;** Didit masih terpekur memandangi layar TV yang menyala. Sudah dua minggu Ibu tidak pulang dan keadaan rumah semakin berantakan. Bapak tidak pernah mau mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun ia lebih banyak menganggur. Bapak lebih sering kelihatan bengong sambil menghisap rokoknya daripada mengerjakan apapun. Diditlah yang lebih banyak mengurus Lita adiknya yang berusia tiga tahun, sementara Mona adiknya yang berumur lima tahun asyik main sendiri, entah ke mana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mungkin Mona main ke tetangga dan merengek minta makan di sana. Sudah tiga hari tidak ada makanan sama sekali di rumah. Bapak tidak memasak dan tidak berusaha mencari makanan buat mereka. Selama hampir dua minggu Didit-lah yang memasak nasi dengan magic jar dengan lauk seadanya, lebih sering kerupuk atau mi instan. Didit membenci Bapak yang tidak peduli pada keluarga. Bapak tidak pernah sungguh bekerja keras untuk keluarga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Pekerjaan sebagai tukang servis elektronik dikerjakan Bapak dengan asal-asalan, sehingga tidak ada orang yang menjadi langganan Bapak. Bapak lebih sering menipu daripada sungguh-sungguh bekerja. Bila tidak ada uang yang masuk ke kantongnya, Diditlah yang menjadi pelampiasan kemarahan Bapak. Kata-kata makian dan pukulan diterima Didit dengan dada yang meradang. Bapak berkali-kali mengatakan Didit anak yang tidak berguna, anak yang keras kepala, sering mengusir Didit, bahkan mengatakan akan membuang Didit di jalanan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Didit menghembuskan nafas perlahan, merasakan hangat bara di sana. Didit mengelus perutnya dan melihat jam dinding. Sudah jam dua siang.Belum sebutir makanan pun yang masuk ke perutnya.Tadi pagi ia sempat menyuapi Lita dengan sepotong pisang goreng yang dikasih Mbak Wati yang mengontrak di kamar sebelah. Didit sedang berpikir keras untuk mencari uang, agar besok mereka bisa makan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Didit ingin menelepon Ibu agar segera pulang, tapi kata Bapak, Ibu sendiri tidak bisa pulang karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Kapankah Ibu akan pulang? Didit sudah berniat untuk bekerja, tapi ia betul-betul tidak tahu harus bekerja apa. Lamunan Didit buyar dengan kedatangan Bapak yang tergopoh-gopoh. Terlihat jelas wajah Bapak merah padam. Didit belum sempat berpikir banyak ketika Bapak melesat menarik leher kaosnya. Satu tangannya lagi terkepal, siap mendaratkan pukulan. Didit mengkeret ketakutan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bajingan kamu,bocah tengil!” &lt;/span&gt;teriak Bapak memekakkan telinga Didit. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bisa-bisanya kamu ngemisngemis ke orang lain, bikin Bapakmu ini malu dan diremehkan. Apa kamu tidak bisa mengerem perut gembulmu biar tidak bikin malu keluarga?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Maksud Bapak apa? Didit tidak mengemis...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bisa-bisanya kamu minta makanan ke para tetangga. Lebih baik aku mati kelaparan daripada mengemis pada mereka. Mana harga dirimu sebagai laki-laki?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bapak yang keterlaluan...”&lt;/span&gt; tiba-tiba suara Didit meninggi, kedua bola matanya basah menahan takut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bisa-bisanya Bapak membiarkan anak Bapak yang masih kecil kelaparan? Mana tanggung jawab Bapak sebagai orang yang menyebabkan anak-anak itu lahir ke dunia. Bapak yang berhutang kepada kami....” &lt;/span&gt;air mata Didit mengalir deras melewati kedua pipinya yang tirus. Dadanya yang membara oleh amarah telah membuatnya sanggup untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bocah tengik kamu! Berani-beraninya kamu melawan Bapakmu. Durhaka kamu,bajingan kecil. Pergi kamu. Lebih baik aku tidak punya anak daripada punya anak seperti kamu. Aku mau lihat apa kamu bisa hidup di jalanan seperti kata-katamu yang gagah itu. Paling-paling kamu hanya bisa mengemis karena kamu memang tidak punya harga diri...”&lt;/span&gt; menggelegar suara Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata memerah Bapak mengumpulkan pakaian Didit dan memasukkan ke sebuah tas. Tubuh Didit yang membungkuk didorong-dorongnya dengan kaki. Lalu Bapak melesat pergi meninggalkan rumah dengan langkah yang garang. Wajah Didit beku. Putih seperti tidak lagi dialiri darah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ini untuk kesekian kalinya Bapak mengusirnya. Terbayang wajah Ibu. Ibu pasti akan sangat khawatir jika ia meninggalkan rumah. Terbayang wajah Lita dan Mona yang tak berdosa. Bagaimana nasib kedua adiknya itu bila ia pergi. Mengapa Ibu pergi begitu lama dan meninggalkan anak-anaknya yang terlantar? Mengapa Ibu tidak boleh pulang karena ia tidak mampu membayar biaya melahirkan? Bukankah dengan tinggal di rumah sakit, biaya yang harus dibayar Ibu menjadi semakin banyak? Apakah Ibu akan selamanya tinggal di rumah sakit menjadi sandera? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mengapa rumah sakit menyandera bukan mengobati? Tahukah para pemilik rumah sakit itu bahwa ada tiga anak terancam nyawanya karena ditelantarkan. Barangkali nyawa mereka bertiga tidak sebanding dengan biaya melahirkan yang harus dibayar Ibu. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Didit namun tak satu pun mampu ia jawab. Didit bertekad untuk mencari Ibu atau paling tidak meneleponnya untuk mengabarkan keadaan mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Didit ingin pergi dari rumah karena ia begitu membenci Bapak, namun tak tega melihat dua adiknya terlantar. Kebimbangan berkecamuk di hatinya, sementara rasa lapar membuat perutnya terasa terpilin. Didit meringis memegangi perutnya. Matanya meremang oleh air mata. Bagaimanapun Didit adalah seorang bocah yang baru melewati umur sepuluh tahun. Ia merasa takut, marah, sedih, kecewa, cemas, bingung, lelah, dan lapar. Segala rasa itu bercampur aduk di benak Didit. Didit memaksakan diri untuk melangkahkan kakinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Matahari mulai menggelincir ke barat. Hawa panas yang tadinya menyengat kulit sudah mulai terasa sejuk. Dengan badan lemas, Didit melangkah perlahan-lahan menuju ke jalan besar. Sebetulnya Didit tak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia hanya merasa bahwa ia memang harus berjalan.Tidak seorang pun memperhatikan kepergian Didit. Tetangga-tetangga kontrakannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Untunglah Lita sedang tertidur di kontrakan Mbak Wati,dan Mona sedang bermain di rumah Pak De pemilik kontrakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jadi, Didit merasa tenang meninggalkannya. Mudah-mudahan mereka berbaik hati memberi sedikit makanan kepada kedua adiknya itu. Didit melangkahkan kakinya menyusuri jalan sempit di antara rumah-rumah kontrakan yang diapit oleh kompleks perumahan yang dipagari tembok-tembok tinggi. Langkahnya belum jauh ketika ia merasakan sesuatu yang tajam menghujam kakinya. Didit mengerang menahan sakit, sementara darah bercucuran deras dari kakinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Didit terus mengaduh-aduh sambil berusaha mencabut paku empat senti yang menancap di kakinya. Rupanya sandal bututnya yang sangat tipis, tidak mampu menahan ketajaman paku. Seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di areal itu menghampiri Didit. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Kenapa kamu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Ketusuk paku, Bang!” &lt;/span&gt;kata Didit lirih sambil memegangi kakinya yang berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Makanya hati-hati. Rumahmu di mana?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Sana Bang!”&lt;/span&gt; tunjuk Didit ke arah rumahnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Tapi aku mau ke jalan besar!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Jalan besar apa, kakimu ngocor begitu. Aku anter situ pulang. Kaki situ mesti cepet diobatin.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Di rumah tidak ada obat Bang. Orang tuaku lagi tidak di rumah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Bocah edan, lalu selama ini yang kasih makan kamu siapa? Aku minta obat merah dulu ke sana. Tunggu sini.” &lt;/span&gt;kata si tukang bangunan. Didit memegang erat telapak kakinya yang deras mengucurkan darah. Ia merasa tubuhnya bertambah lemas. Ketika si tukang bangunan kembali membawa obat merah, kesadaran Didit tak lagi sempurna. Ia hanya bisa pasrah ketika si tukang bangunan memapahnya sampai rumah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;** Begitulah, cerita Didit menuju ke babak akhir. Darah yang mengucur dari telapak kakinya berangsur- angsur berkurang.Namun kaki itu menjadi bengkak dan membuat tubuh Didit menjadi demam dan ia merasa tubuhnya kaku. Para tetangga yang tidak paham pada penyakit Didit hanya berusaha mengobati dengan berbagai ramuan dan jamu-jamuan yang dibeli di warung. Selama beberapa hari Didit hanya berbaring di tempat tidur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tubuhnya meriang dan otot perutnya terasa keras. Bapak memandangnya dengan mata sukar diartikan. Berkali-kali Bapak membanting barang-barang rumah pertanda kekesalan telah memuncak di hatinya. Sampai kondisi Didit menjadi sangat parah. Tubuhnya kejang-kejang , dan ia sulit membuka mulutnya, sehingga para tetangga segera membawanya ke bidan. Namun sang bidan pun sudah angkat tangan karena kondisi Didit sudah teramat parah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Akhirnya Didit pun terdampar di rumah sakit di mana Ibunya disandera. Keinginan Didit untuk bertemu Ibunya terkabul, hanya sayang, sehari berada di rumah sakit dengan kondisi yang semakin kritis, nyawa Didit lepas dari raga, membawa setumpuk mimpi yang pernah ada di kepalanya. Ibunya hanya dapat memandangi kepergiannya dengan mata bengkak dan perasaan yang hancur lebur.*** &lt;/span&gt;                                                                                                     &lt;/div&gt;&lt;hr style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-3453512471288446309?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/3453512471288446309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/07/mimpi-didit.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3453512471288446309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3453512471288446309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/07/mimpi-didit.html' title='Mimpi Didit'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-1592874460031326119</id><published>2009-07-01T19:46:00.002+07:00</published><updated>2010-02-17T05:58:16.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Pemulung</title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Mengenangnya, apalagi menceritakannya kepada kalian, sosoknya begitu membebani  pikiranku. Bagaimana tidak? Sosoknya begitu kontroversial. Kata-katanya  &lt;i&gt;ceplas-ceplos&lt;/i&gt;. Tetapi penuh tekanan dan hikmah. Tingkah lakunya, setali  tiga uang dengan ucapannya. Pakaiannya, &lt;i&gt;ala kadarnya&lt;/i&gt;. Compang-camping  seperti gelandangan lazimnya. Pekerjaannya hanya memunguti kaleng, botol, atau  gelas air minum bekas. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Entah bagaimana aku mesti menceritakan kepada kalian. Sebagai pemungut  sampah, ia tampak rapi dan bersih. Sebagai gelandangan, ia memiliki rasa dan  karsa. Dianggap penjahat pun, ia jauh dari sosok kriminal. Entah siapa dia  sebenarnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku hanya seorang pemulung. Pemulung kaleng bekas. Botol dan gelas air minum  bekas. Juga pemulung kata-kata bekas. Peristiwa demi peristiwa yang membekas&lt;/span&gt;,"  ujarnya pada suatu pagi. Ia datang kepadaku saat aku &lt;i&gt;celingukan&lt;/i&gt;. Kemudian  dituturkannya sepotong hikayat tentang seorang kakek yang hidup dengan satu  istri dan empat anak. Penghasilannya hanya didapat dari upah penjualan &lt;i&gt;lencak  kaju&lt;/i&gt;* yang dipasarkannya. Satu &lt;i&gt;lencak kaju&lt;/i&gt;, memberinya Rp 7,500. &lt;br /&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kakek yang menyita perhatianku,"&lt;/span&gt; lanjutnya. Ia bercerita penuh intonasi dan  penghayatan. Matanya selalu menerawang jauh, hingga pada detik yang penuh  inspirasi. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Suatu hari"&lt;/span&gt;, lanjutnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku berkesempatan bertemu dengannya. Wajahnya  lusuh, tapi tidak menampakkan aura yang lumpuh. Tuturnya lembut. Kilat matanya  penuh imajinasi. Sesekali, ia tersenyum. Apalagi, ketika mendengar berita  huru-hara, senyumnya semakin menampakkan kematangan. Senyum yang mengembang dari  mental kokoh,"&lt;/span&gt; ia terus bercerita. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Di sela-sela ceritanya, ia menegaskan makna dan hikmah setiap kejadian  'penting'. Ceritanya mengingatkan aku akan nenekku. Nenek yang selalu berdongeng  menjelang tidur saat aku masih kanak-kanak. Dongeng yang selalu diterjemahkan: buah apa yang bisa kita  petik?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dan seperti kebiasaannya, ia selalu mengakhiri ceritanya dengan sebait ucapan  filosofis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku tidak makan sama manusia. Aku minta makan kepada Tuhanku,"&lt;/span&gt; tegas kakek  itu, ujarnya dengan tatapan sayu. Sunggingan senyumnya seperti hendak menusuk  dada pendengarnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, mungkin ia pendongeng? Tapi aku selalu dihinggapi keraguan,  kegamangan setiap menebak dirinya. Namanya pun, aku selalu sangsi: Kron, Danto,  Cobik, Centong, dan sederet nama lainnya. Aku selalu ditertawakan setiap kali  memanggilnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;Ah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; apalah arti sebuah nama? Mengenang Shakespeare terlalu lapuk,"&lt;/span&gt;  selorohnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sebagai doa, ia terlalu singkat"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Lalu?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ia tertawa. Tawa yang membangkitkan gairah. Aku mengenangnya karena tawanya  yang berteknik ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;**** Kali pertama aku menemukan namanya di sebuah halaman koran: Kron!  Puisi-puisinya begitu rancak. Puisi yang lahir dari kejernihan. Puisi yang tidak  menyita kening berkerut. Puisi yang bersahaja. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kali pertama aku bertemu dengannya, juga mengesankan bahwa ia seorang  penyair. Mungkin juga sastrawan. Tapi setelah pertemuan kedua kalinya, kesanku  berbeda lagi. Petuah-petuahnya, bahkan ide-ide yang dituangkan dalam  cerita-ceritanya, menandaskan keyakinanku akan sosoknya yang lain: kiai atau  dai, atau pemangku adat!&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Pesan apa De'?"&lt;/span&gt; suara Bu Dango membuatku tergeragap. Aku angkat mukaku. Dan  kulihat sumringah Bu Dango secerah pagi. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sudah baca cerpen tentang aku?"&lt;/span&gt; suara Bu Dango menampakkan kebanggaan. Binar  matanya memancar bahagia. "&lt;i&gt;Warung Tepi Kali&lt;/i&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;judulnya".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kron itu pemuda yang hebat, De'," &lt;/span&gt;sejenak Bu Dango duduk di dekatku. Tangan  ringkihnya meletakkan kopi susu pesananku. Suatu sore, ia datang padaku. Ia  utarakan niatnya untuk berbagi cerita denganku. Aku pun bercerita. Bu Dango  menerawang jauh. Kata-katanya seperti tetesan hujan. Begitu ritmis. Meski  sesekali laksana hempasan ombak menghantam karang. Tidak karuan. Kata-kata yang  terus berletusan dari bibir keriputnya. Legam dan berkerut.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku akui, cerita Kron tentang Bu Dango sungguh menggugah. Kehidupan orang  cilik. Seorang penjaga warung. Pendapatan rata-rata Rp 20.000 per hari.  Tanggungan keluarga lima orang. Disuguhkan lewat narasi yang runtut. Bahkan,  bumbu kesewenang-wenangan penguasa kepada orang cilik seperti Bu Dango, semisal  penggusuran warung Bu Dango yang sudah ketiga kalinya, menyegarkan kilasan  ingatan kita akan realita yang biasa direkam siaran televisi. Siaran bernuansa  berita dan tragedi. Masih berdasar pengakuan Bu Dango, juga sedikit pendapatku,  Kron kadang-kadang seperti para pengarang 'kiri'. Di sini pun, aku curiga:  jangan-jangan Kron penganut paham komunis! Kalau &lt;i&gt;ya&lt;/i&gt;, apakah ia tidak boleh mengeluarkan pendapatnya tentang diorama hidup yang suram  dan penuh intrik para bandit ini?!&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Meski omongannya terasa beraroma kiri, Kron juga shalat,"&lt;/span&gt; tepis Bu Dango  buru-buru. Lalu lanjutnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kron memiliki kepekaan yang tidak dimiliki orang  sembarangan. Tidak hanya aku yang diangkatnya dalam cerita-ceritanya. Kasus Bu  Wiwit, tetangga sebelah ibu, selesai, berkat tulisan Kron. Ia tidak pandang bulu  membantu orang. Ketulusannya dalam membantu orang seperti kami, telah terbukti.  Waktu ia mendampingi Bu Aslan,"&lt;/span&gt; sejenak Bu Dango menggantung ceritanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Cerita apa &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;ya&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;?"&lt;/span&gt; Pak Kandeng nampang di ambang pintu. Ia memesan kopi  &lt;i&gt;item&lt;/i&gt; dan sebatang rokok. &lt;i style="font-style: italic;"&gt;"Cerita tentang Kron, toh&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;?"&lt;/span&gt; Pak Kandeng  mengelap keringat yang menetas di dahinya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kron tidak hanya peka. Ia begitu  halus dan tulus menerjemahkan fragmen hidup. Ia cerdas dan tangkas menanggapi.  Pendapat-pendapatnya tidak asal."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Enggak makan Pak?"&lt;/span&gt; Suara Bu Dango dari dapur memotong kata-kata Pak Kandeng.  Pak Kandeng tersenyum kecil. Lalu, ia memutuskan tidak makan. Lalu melanjutkan  kenangnya akan sosok Kron. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tafsir Al-Qur'annya juga fasih. Ia mampu menangkap  dan menerangkan isinya amat detailnya. Amat terangnya bagi kami yang tidak  tahu-menahu apa-apa," &lt;/span&gt;tawa Pak Kandeng berderai renyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt; Kron! Perpisahan dengannya, tidak mengurangi akan kehadiran  sosoknya. Ia tetaplah sosok yang kontroversial sekaligus menyisakan fenomena  kekaguman. Lima hari tidak bertemu dengannya, ternyata referensi tentangnya  begitu berlimpah ruah. Referensi yang membuatku semakin ragu dan gamang untuk  menebak dan menceritakannya secara pasti: siapa Kron sebenarnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;**** Aku tidak bisa menceritakannya secara pasti. Belum bisa! Keraguan dan  kegamanganku semakin bertumpuk. Pencarianku akan siapa sebenarnya dirinya, hanya  menambah kabur pemahamanku. Tetapi hal yang perlu kalian ingat, berdasar  simpulanku: Kron orang penuh misteri! Di mataku dan di mata orang-orang  sepertiku:Bu Aslan, Bu Dango, Pak Kandeng, dan Bu Wiwit, Kron sosok yang gagah,  berani. Ia tak hanya pahlawan. Bahkan, kami diam- diam memimpikannya bak seorang  nabi: penuh pencerahan dan totalitas kepekaan sosial. Sebaliknya, di mata  orang-orang yang jadi lawan kami: penguasa, pemilik modal, Kron adalah ular yang  menyimpan bisa, yang sewaktu-waktu akan mematikan mangsanya, lawannya: lawan  kami!&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Seperti pagi ini, kejanggalan diri Kron terpampang di tengah kota. Di tengah  alun-alun. Ia telah membuat penguasa kota marah. Ia digantung di tengah  alun-alun. &lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tubuhnya compang-camping. Ceceran darah mengering di sekujur pakaiannya.  Tapi, bukan aroma amis yang menyeruak sampai jarak lima puluh meter. Seperti  dipenuhi semerbak bunga setaman hidungku, saat aku mendekat. Tubuh Kron begitu  tirus. Ringkihnya lirih. Suaranya pelan. Sangat pelan. Dan di sekelilingnya,  orang-orang tersedu. Mata mereka sembab. Orang yang berbaju putih. Di bawah  kelabu langit, gerombolan mereka menguar cahaya. Tubuh Kron menjelma mercusuar  di tengah mereka. Tubuh yang tergantung di tiang berlumur darah. Sungguh parade  magis!&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;"Dosa apakah yang kau perbuat kawan?" bisikku di telinganya yang menggema.  Telinga yang seolah sarang lebah. Suara-suara yang bertahan di gendang  pendengarnya, suara-suara yang begitu akrab. Begitu dekat.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06; font-family: trebuchet ms;"&gt;"Dosaku hanyalah seorang pemulung, kawan," senyumnya bangga. Kedua tapuk matanya pun  mengisyaratkan perjalanan panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ya&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;, perjalanan panjang. Sejak saat itu, sejak Kron melempar senyum  pada kelabu langit, kelam malam. Sejak Kron menghembuskan napasnya di tiang  gantungan, kami pun paham akan posisi kami: "para pemulung!" ***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-1592874460031326119?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/1592874460031326119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/07/pemulung.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1592874460031326119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1592874460031326119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/07/pemulung.html' title='Pemulung'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-5408511448347783506</id><published>2009-05-16T22:01:00.000+07:00</published><updated>2009-05-16T22:05:18.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Sangkakala Itu</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku mendengar sangkakala Israfil kala melihat seonggok mayat tengkurap dengan helm di kepala. Dekat. Jelas dan kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mayat itu terlapik debu dan tanah kini, seperti ingin menyatu dengan zat terdahulunya, --saripati tanah. &lt;i style=""&gt;Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan&lt;/i&gt;(&lt;b style=""&gt;1&lt;/b&gt;), aku mendesah. Dia telah mati, benar. Tetapi seorang menyalahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia masih bernapas. Dengar, dadanya masih berdetak," ujar seorang sopir. &lt;i style=""&gt;Dan dikatakan (kepadanya), "Siapakah yang dapat menyembuhkan?” &lt;/i&gt;(&lt;b style=""&gt;2&lt;/b&gt;)&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Cepat, kita bawa ke rumah sakit! Dokter akan menyembuhkannya" teriak sopir itu kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Jangan. Telah dihadapkan dua manusia itu, saat-saat sakratulmaut. Tidakkah kau mendengar desah? Desah mereka tatkala Izrail menyunting ruh pelan-pelan, kuat-kuat, atau begitu saja."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Kita masih punya waktu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Tidak lama lagi."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sopir bus itu terkejut mendengar pernyataanku. Tampak dari dua bola matanya terlihat dua garis merah bertaut. Tak lama, ia menunduk sambil menyela, "Orang sinting." Sopir itu mendekat, mengusap kedua pergelangan dan dada lalu menyentuh detak jantung dua mayat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dia menggeleng. Dilihatnya lekat-lekat wajah yang satu. Satu itu terperangah seperti tidak percaya, tiba-tiba. Matanya membelalak seperti tidak pernah siap kalau-kalau Izrail secepat kilat meminang ruhnya. Dia telah mati setelah motornya beradu di likuk jalan ini. Sopir itu mengusap mata jasad itu lalu melafaz innalillah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku melihat kini mayat yang satu telah terbalut kain yang diulur dari dadanya. Terlapik debu dan tanah pada lesung, pelipis, dahi, dagu, tangan, dan kaki. Sopir itu hendak memindahkan, tetapi aku diam saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; sesuatu yang menakutkan naluriku. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sesuatu yang mengingatkan. Seperti ada suara ghaib yang kudengar kuat. &lt;i style=""&gt;Sekali-kali, dia tidak akan pernah mendengar. Seruling Israfil tatkala (kiamat kecil), bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) &lt;/i&gt;(&lt;b&gt;3&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;)&lt;/span&gt;. Penyeru yang tidak berbelok-belok-- bilakah malaikat meluruskanku pada Dzat kemudian? Kapan? Ya, kapan? Hidup hanya hari ini, wahai kalian. Kapan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Ke mana tempat lari? Ke mana esok?" Tiba-tiba aku berteriak di tempat itu. Di likuk itu, ilalang masih tenang. Jalur-jalur masih sepi. Suara jangkrik tidak terdengar. Suara katak mengalun ritmis lalu pulang bila matahari telah sepenggalah. Sepi. Sunyi. Sendiri. Oh, aku ingat. Mengingat-Mu, karena kematian dua orang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Orang gila," pikir sopir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku patung di tempat itu. Sedang sopir itu bersusah payah meluruskan jenazah dan menungguinya hingga pertolongan tiba. Bukan pertolongan, menurutku. Karena orang mati, tinggal empat perkara lagi. Dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dikuburkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Hei kau sopir, kau tidak mendengar sangkakala (kiamat kecil). Karena itu kau diam saja? Ah, kau melafal ayat-ayat lalu berdoa. Kau menyesal, bila suatu kali kau menitikkan air mata karena kematian mereka? Jangan begitu, mereka tidak mati wahai saudaraku."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku patung di sini, tetapi aku menggigil. Aku mendengar sangkakala itu. Menohok karena aku tidaklah siap. Bak gaung yang menguak langit dini hari kaum &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Sodom&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; di zaman Nabi Luth, kala Jibril datang tidak untuk mewahyukan, tapi untuk mengabarkan tentang diturunkannya adzab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku hanya diam saja di tempat itu, mematung. Membayangkan kejadian di pagi buta itu. Aku diam saja seakan-akan aku bisa mendengar batu-batu panas berjatuhan dari langit dan menimpa kepalaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oh, mengapa sopir itu diam saja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Plukkk&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, aku tertimpa batu. Aku menjadi patung batu. Darah tidak mengucur dari ubun-ubun kepalaku. Aku terkesima. Aku terkejut. Aku takut. Aku hanya diam saja, mematung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Orang aneh, mengapa kau diam saja di situ?" timpal sopir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;*** "Siapa saksinya," tanya seorang polisi berkumis pada sopir yang masih bersimpuh di depan mayat itu. Ia sigap. Aku mendengar dan melihat mereka. Tapi, aku tak peduli dengan percakapannya. Sopir itu menunjukku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Polisi itu melihatku. Aku tak peduli, aku tetap diam saja dan mematung seperti kena batu kaum &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Sodom&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Kini rapuh, sangat rapuh sampai ulu hati. Tidak hanya ingat mati, tetapi ingat kejadiannya kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Bagaimana kronologinya?" Tanya polisi itu tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Ini takdir," ucapku pendek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Bagaimana Anda bisa berkata seperti itu?" Polisi itu keheranan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Cerita ini telah dibuat, ditetapkan, diputuskan," ucapku begitu saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Anda mengada-ada," sahut polisi itu lalu memalingkan tubuhku ke arahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ah, aku bukan orang sinting. Tapi sopir itu tak peduli, dia menyangka aku orang sinting. Tak waras. Tak punya akal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia orang sinting. Ucapannya sangat aneh. Dari tadi dia terus saja mengigau memanggil nama Israfil. Israfil! Israfil! Seruling Israfil telah ditiup. Dengar! Dengar!" timpal dan tiru sopir itu dari belakang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Aku tidak berkata seperti itu," belaku. "Ternyata benar aku mendengar seruling Israfil sangatlah dekat dan kuat," gumamku kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian polisi itu mengangkat satu jari ke dahi. Ia berucap, "Hukum dibebaskan bagi orang yang tidak waras. Hukum tidak mengambil saksi yang sinting." Lalu keduanya beralih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Oh, aku ingat tatkala di tikungan itu. Aku menyetir dan memotong ke jalur kiri. Aku melihat tiba-tiba lampu sein dihidupkan di jalur kanan. Aku melihat motor itu sangatlah dekat. Aku membanting setir ke luar di jalur kanan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Terus," ucap polisi berkumis lalu mereka berbalik arah mendengarkan. Aku jadi sinting. Aku tak ingat lagi. Aku?...tetapi motor di jalur kiri yang mengikuti jalur mobilku memotong jalan terkesiap, hingga beradu. Duuaaar, pecah berantakan. Hangus. Lepas. Dua ruh kini hilang. Hilang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;*** Telah seperti anai-anai yang bertebaran. Lihat saja, aku, --dan, kita semua tentu saja-- , akan serupa &lt;i style=""&gt;dzarrah&lt;/i&gt; (&lt;b style=""&gt;4&lt;/b&gt;) kala Israfil meniup seruling--&lt;i style=""&gt;dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan &lt;/i&gt;(&lt;b&gt;5&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;)&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku mendengar seruling Israfil, walau tidak melihat dengan kasat mati. Tetapi mataku terbelalak. Bingung. &lt;span style=""&gt;Takut&lt;/span&gt; luar biasa. Gigil ini telah kaku. Tulang ini lumpuh, bak ngilu kini mati. Ruh lalu pergi. Aku hanya jasad! Aku hanya seonggok mayat! Mayat, karena sarafku tidak merespons otak. Semuanya telah putus. Oh, tidakkah mereka demikian?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Gempa berkekuatan ribuan skala Richter mengena. Pembuluh darahku tersirap, setelah gemetar yang luar biasa. Aku merasa akan kiamat. Oh, mengapa harus setelah peristiwa ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sangkakala itu terdengar lagi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, nyaring dan panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Benar, bulan hilang cahaya. Matahari dan bintang dikumpulkan, planet-planet ditabrakan. &lt;i&gt;Duaaar&lt;/i&gt;! Pecah berkeping-keping, hancur berantakan. Rapuh, lalu berdebu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tinggal puing-puing dan sirna ditelan angin. Kemudian aku, --dan, kita semua tentu saja--, dibangkitkan, setelah bumi menjadi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang luas. Atau aku salah terka? Tidak, bukan bumi, tetapi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang sangat luas! Oh, mereka tidak percaya kebenaran, bahwa sangkakala telah dan memang akan ditiupkan, lagi. Aku tidak buta, wahai kalian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku terbata-bata. Setelah hidup, aku tegak di liang lahat. Mati itu terasa lebih dekat. Dekat, sangat dekat. Dia mati, mereka mati, engkau mati, dan aku? Pun aku,--dan, kita semua tentu saja--, pasti akan mati. Hanya saja aku tidak tahu bilakah saat itu tiba. Entah saja setelah ini, setelah itu, tapi pasti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah bulan dan matahari dibutakan. Setelah langit dikosongkan. Sebentar lagi, sebentar lagi! Apa yang telah kusiapkan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Ikut kami ke kantor polisi," ucap polisi itu kuat-kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku tak menanggapi, bukan aku tak mendengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Borgol dia," polisi yang satunya berkata. Aku patung batu, maka aku tak perlu mendengarkan ocehannya. Mataku tak mau beralih dari langit yang satu, dari ufuk terjauh Sidratulmuntaha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku menangis, ingat ke sekian kali, aku sujud dengan alif yang telah patah, dengan bismillah yang tak sempurna, dengan ketidak khusyuanku, dengan rukuk dan sujud seperti mematuk. Padahal aku bukan seekor burung pelatuk, Rabb. Aku ‘Abdullah, hamba-Mu. Ah, aku hanya bisa menangis, menyesali betapa buruknya shalat yg telah kupersembahkan untuk-Nya, serupa kain buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Tangkap dia dan naikkan ke mobil.” Aku dengar ceracau itu kuat. Sopir itu mengumpat, ketika tahu aku adalah pembunuh. Oh, mereka salah. Aku tidak sengaja!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Seret saja, bila ia tak mau."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia patung, Pak."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia manusia."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Matanya buta, Pak."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Matanya tidak buta. Lihat, ada cahaya di matanya. Dia hanya pura-pura."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Tidak, Pak. Matanya tidak mau beralih dari situ, seperti melihat sesuatu di ufuk terjauh. Sesuatu yang ngeri hingga peluhnya tak lagi berhenti. Dia gemetar. Dia takut."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Ah, tarik saja."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia batu, Pak. Dia tidak bergerak, tidak bicara."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia linglung," timpal sopir bus itu kembali. "Sejak tadi dia tak mau bergerak."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oh, aku mengisyaratkan dengan telunjuk. Menghadap-Mu dengan kurus tirus, kotor, lecek, dan penuh noda. Diam, kuharap Engkau memperkenankan. Biar mereka memaki di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; karena aku tak perlu makian mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Benar, tidak ada masa lalu, kecuali dosa yang telah sebesar Uhud itu, Rabb. Tidak ada masa depan, karena aku tidak tahu apakah esok akan sampai. Hanya hari ini, hanya sebelum aku disemayamkan. Kini tanah ini dipertempatkan shalat, sebelum aku masuk dan tidur di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Dipertempatkan setelah ruh usai luruh. Luruh! Lepas! Bebas!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sangkakala itu terdengar lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Telah seperti seonggok mayat, aku. Aku tidak melihat ruh, aku hanya jasad. Jasad yang terlapis kulit hitam kuning langsat. Ke mana ruh usai ia luruh? Ke mana jasad usai ditinggal ruh? Ke mana kami nantinya setelah Israfil tiupkan sangkakala? Ke mana ruh dua mayat tadi pergi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tiba-tiba aku jatuh. "Dia jatuh, Pak. Lihat! Lihat!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dia hanya pingsan. Angkat saja!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;**Keterangan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surah ke-75 Al-Qiyamah (Hari Kiamat) ayat 26 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surah ke-75 Al-Qiyamah (Hari Kiamat) ayat 27 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surah ke-75 Al-Qiyamah (Hari Kiamat) ayat 29 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Debu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surah ke-101 Al-Qori’ah (Hari Kiamat) ayat 5&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-5408511448347783506?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/5408511448347783506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/05/sangkakala-itu.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5408511448347783506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5408511448347783506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/05/sangkakala-itu.html' title='Sangkakala Itu'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-5438845402216757421</id><published>2009-05-03T10:50:00.004+07:00</published><updated>2009-05-03T12:21:38.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Hari Pemilihan Dan Keesokan Harinya</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Di hari pemilihan, hampir semua pemilih hadir. TPS yang dibuat di atas tanah lahan kosong luasnya 16 X 10 meter persegi berdiri tepat di bawah pohon flamboyan dan dibatasi oleh tali rapia agar ada pembatas antara pemilih dan petugas. Tampak teduh, nyaman dan damai. Panwaslu sibuk mengatur para pemilih agar tertib dan duduk di bangku yang telah disediakan. Para kandidat kader dari puluhan partai juga hadir untuk menyumbangkan suaranya bagi diri dan kepentingan partainya masing-masing. Satu persatu para pemilih masuk ke bilik penyontrengan. Mereka berseri-seri saat keluar dari bilik penyontrengan itu. Dan hampir semua yang keluar dari bilik penyontrengan tersenyum saat berpapasan dengan Parjo. Pasti mereka telah mencontreng nomor urutku, pikir Parjo. Hmm, aku tidak sia-sia menjual semua hartaku demi memberi bantuan pada mereka sebelum waktu kampanye.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;&lt;br /&gt;Memang, demi meraih cita-cita, pengorbanan itu perlu! Lanjut Parjo lagi. Setelah pemungutan suara usai, istirahat sebentar. Lalu dilanjutkan penghitungan suara. Para petugas KPPS dan panwaslu sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk penghitungan suara hingga usai. Para pemilih bahkan para caleg termasuk Timo seorang caleg yang diusung oleh partai Mambu sangat antusias untuk melihat hasil penghitungan akhir di TPS. Terlebih lagi Parjo. Caleg yang satu ini tampak lebih antusias daripada caleg-caleg lainnya yang turut hadir untuk menyaksikan hasil penghitungan akhir. Parjo duduk di bangku deretan paling depan yang disediakan panitia. Parjo ingin segala sesuatunya tidak terlewatkan oleh tatapan matanya. Pengalaman masa lalu membuktikan, masih ada petugas yang curang dengan melakukan pengglembungan surat suara. Maka untuk pemilu kali ini dia sangat berhati-hati agar kecurangan pada pemilu lima tahun lalu tidak terjadi lagi pada pemilu tahun ini. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Perhitungan suara teramat sengit. Angka-angka saling kejar. Hati Parjo berdebar. Suara buat nama-nama caleg saling susul. Caleg dari partai Belang mengejar. Tapi disusul oleh caleg dari partai Mambu. Timo tersenyum. Para pendukung partai Bumi bersorak karena nama Parjo mengejar bahkan merapat ke urutan dua. Suara riuh. Kadang gaduh dikarenakan petugas pencatat salah menaruh garis angka di baris yang lain. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Petugas goblok! Jangan curang ya?" seru seorang pemilih. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Awas, curang tak telanjangi, kowe!" timpal suara dari dalam kerumunan. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Dipelintir saja burungnya!" balas suara berikutnya. Pengunjung pada gerr. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Para penonton tenang, ya. Tenang" pinta seorang petugas hansip yang turut membantu mengamankan tempat pemungutan suara. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Makanya, jangan salah hitung kalau nggak mau bonyok!" teriak dari dalam kerumunan.  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Petugas penghitung suara tersinggung, "Suara siapa itu?" bentaknya sambil matanya mencari asal suara. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Sudah, kerja saja yang bener! Jangan melawan sama massa, bahaya!" teriak para penonton yang tidak lain adalah para pemilih. Akhirnya kegaduhan reda lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Suara buat para kandidat kian sengit. Angka terus berkejaran. Semua punya harapan, semua punya peluang untuk menang. Tapi di sisa limapuluh suara terakhir, nama Parjo mulai tertinggal. Justru suara buat caleg Timo makin naik, nyaris diurutan pertama. Parjo mulai panik. Berdoa dalam hati. Mulut Parjo komat-kamit. Dia berharap tak kalah oleh Timo. Maka dia terus bedoa. Memohon Allah berpihak padanya. Perbedaan angka mulai terlihat. Keringat dingin mulai bermunculan di kening Parjo saat mengetahui kertas suara telah habis. Dan surat suara terakhir milik Timo. Timo menjerit. Melompat setinggi langit. Ucapan selamat berdatangan. Timo girang, Timo senang. Parjo menunduk sedih. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt; &lt;/p&gt;&lt;center style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;**** Keesokan harinya, di bawah pohon flamboyan yang teduh, bilik bekas TPS belum dibongkar. Parjo sejak pagi hari sudah berada di situ. Tapi tak ada para pemilih yang berjubel seperti kemarin dia lihat. Hari ini hanya dirinya sendiri berdiri mematung memandangi sampah-sampah yang berserakan di sekitarnya. Kekecewaan menggunung di dalam hatinya. Sampah kulit kacang, gelas aqua, puntung rokok, pembungkus permen berserakan seperti kepingan hatinya yang telah hancur. Parjo ingat, kemarin dia berdiri empat meter dari papan penghitungan suara. Suara tepuk tangan, suara aplaus, suara maki, suara cibir, suara marah, suara riuh yang dia dengar kemarin bergumul di telinganya jadi satu. Kadang berdengung, kadang mengiang. Kemudian dia melihat senyum manis para pendukungnya, senyum sinis para pesaingnya. Dan semua itu berubah pahit. Getir. Mengamuk, membadai. Mulut Timo yang bersungut-sungut, senyum Sari yang mengejek! Parjo merunduk. Parjo ambruk. Adakah yang curang? Pikir Parjo setelah dia menaruh pantatnya di bawah pohon flamboyan itu. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Parjo terbayang juga wajah-wajah panwaslu, wajah-wajah petugas KPPS, wajah-wajah yang mencerminkan keadilan, wajah-wajah yang mencerminkan kejujuran. Lalu muncul wajah-wajah yang dia curigai, wajah-wajah yang licik, wajah-wajah yang meragukan cara kerjanya. Kenapa aku bisa tak terpilih? Bukankah modalku sudah cukup besar untuk mendapatkan suara mereka? Ah, aku jadi malu. Malu kepada mereka yang telah kujanjikan sesuatu. Malu kepada mereka yang telah kurendahkan. Aku tak bisa membalas sakit hatiku kepada Sari, tak bisa membalas kesombongan Timo terhadapku, renung Parjo. Ah, pasti ada yang curang! Bukankah massaku begitu banyak saat kampanye? Mereka mendukung aku untuk jadi caleg di pemilu legislatif tahun ini demi perubahan. Dipegang Timo, mana bisa ada perubahan? &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Parjo tidak tahu, kecurangan tetaplah kecurangan. Dibelahan manapun manusia berada, kecurangan itu pasti ada. Dan ini telah dilakukan oleh Timo saingan terdekatnya. Tanpa diketahui oleh Parjo dan oleh siapapun juga, kecuali mereka yang telah didatangi Timo secara diam-diam pada pagi buta di hari penyontrengan. Timo secara diam-diam telah mendatangi  semua warga desa itu satu persatu untuk membeli suaranya dengan sejumlah uang. Timo berhasil. Dan cara ini tidak dilakukan Parjo terhadap warga desanya. Juga soal ini tidak disadari oleh Parjo kalau cara tidak sehat itu telah dilakukan Timo demi kemenangan dalam pemilu legislative kali ini. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Kegagalan jadi caleg karena kalah suara, jiwa Parjo amat terpukul. Dia lupa istigfar. Dia lupa pepatah, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Tiba-tiba hati Parjo mendengar suara-suara gaduh hari kemarin. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Awas, curang tak telanjangi, kowe!" &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Dipelintir saja burungnya!" &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Parjo tiba-tiba tertawa. Geli mendengarnya. Lalu dia ingat orasi-orasinya di panggung kampanye tempo hari. Orasi-orasinya telah menciptakan dunia baru di dalam benaknya. Parjo telah membangun dunia baru di dalam kehidupannya kini. Sebuah kemenangan di dalam mimpinya. "Ha ha ha,.. Terima kasih, terima kasih saudara-saudara. Kita telah meraih sebuah kemenangan yang sangat berharga ini. Tidak sia-sia kita berjoget dalam hujan, tidak sia-sia kita jual harga diri demi kursi panas ini. Ayo, mau saya bangun apa di desa saudara-saudara ini? Bilang saja! Pabrik, hotel, bandara? Ayo, bilang saja. Sekolahan, panti pijat, lapangan golf, atau jalan layang di atas kepala saudara-saudara? Ayo, ngomong saja! Ha ha ha" teriak Parjo. Lalu lelaki yang masih perjaka ini berjalan menuju perkampungan penduduk. Bernyanyi sambil tertawa. Orang-orang yang mengenalnya pada terkejut. Kaget melihat Parjo jadi gila. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Mas Parjo kenapa bisa jadi gila begitu?" celetuk Imah, seorang janda beranak satu yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Sari, seorang gadis desa yang menolak cinta Parjo. Sari cepat-cepat keluar rumah setelah mendengar Imah mengabarinya. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Ih, untung aku tolak dia. Kalau tidak, malulah aku punya pacar jadi orang gila!" &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Sambil memukuli kaleng kosong, Parjo mengingatkan orang-orang yang berpapasan dengannya, "Saudara-saudara, jaga tanah air ini. Jangan sampai somplak. Jangan sampai dipotong-potong walau secuilpun. Jaga, jangan sampai dipimpin oleh mereka yang tukang jual asset negara Anak cucu kita harus menikmati hasil kemerdekaan ini. Nang neng nong gung. Nang neng nong gung" celoteh Parjo sambil menari-nari. Bergerak berputar kian kemari. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Wah, kalah bersaing Parjo jadi gila!" celetuk Timo ketika Parjo lewat di depan rumah Timo yang kebetulan sedang ramai dikunjungi para kerabatnya untuk merayakan keberhasilan Timo jadi caleg. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Kasihan," kata salah satu teman Timo setelah melihat keadaan Parjo. "Bawa ke rumah sakit saja! Bukankah beberapa rumah sakit sudah menyediakan tempat bagi caleg yang stress atau depresi berat seperti Parjo?"  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah mengurusi orang-orang yang masih waras!" tukas Timo. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Betul juga, Mo!" sahut teman Timo lainnya. &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Sari Sari, sori ya. Aku tak jadi kawini kamu. Oya, Sara. Kita jadi kawin. Kita jadi kawin, win, win! Tang ting tung ting tong, tang ting tung ting tong. Timo kalah, Timo kalah, wek wek! Timo keok, Timo keok,wok wok wok!" Parjo terus mengoceh sepanjang jalan. Siapa yang salah? Siapa yang patut disalahkan kalau setiap caleg yang gagal jadi gila seperti yang dialami Parjo? Apakah peluang jadi caleg itu sendiri yang begitu mudah persyaratannya sehingga dengan mudah pula menjelma mimpi-mimpi indah menjadi seorang yang bakal duduk di kursi panas dengan gaji yang menggiurkan? &lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Parjo jadi gila karena kalah. Adakah Parjo Parjo lain setelah pemilu ini?&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-5438845402216757421?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/5438845402216757421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/05/hari-pemilihan-dan-keesokan-harinya.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5438845402216757421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5438845402216757421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/05/hari-pemilihan-dan-keesokan-harinya.html' title='Hari Pemilihan Dan Keesokan Harinya'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-4779406148226574867</id><published>2009-03-19T09:33:00.001+07:00</published><updated>2009-03-19T09:38:59.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Sebuah Kematian</title><content type='html'>&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} ins  {mso-style-type:export-only;  text-decoration:none;} span.msoIns  {mso-style-type:export-only;  mso-style-name:"";  text-decoration:underline;  text-underline:single;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Sudah seminggu ini tubuhku terkulai lemah di atas sebuah brankar dalam ruangan di sebuah rumah sakit. Entah penyakit apa yg menyerangku, aku tak tahu dan tak mengerti. Yg pasti aku merasakan demam yg sangat tinggi dan rasa nyeri di kepala dengan sakit yg amat menyiksa, Kesakitan yg belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan aku tak bisa melakukan apapun untuk melawan rasa sakit itu. Aku hanya bisa pasrah menerimanya. &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Pagi itu aku merasa kondisiku sedikit membaik. Panas tubuhku tidak seperti kemarin, dan nyeri di kepalaku pun tidak seberat beberapa hari sebelumnya. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ibu yg sedang merapihkan barang-barang di atas meja di samping brankar dekat kepalaku. Baliau dengan sabar menungguiku setiap harinya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Mau sarapan?” Tanyanya dengan raut muka yg cerah, barangkali karena melihat ada perkembangan baik dengan kondisiku.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Aku menggelengkan kepala, karena memang belum memiliki keinginan untuk menyentuh makanan. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; semacam perasaan tidak enak yg keluar dari pangkal lidahku. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Minum ini saja ya?” Kali ini Ibu menawarkan sari kurma, beliau tidak memaksaku untuk makan. Aku menurut saja, kusambut satu sendok sari kurma itu dengan suapan, meski tanpa selera.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Lengang, tiba-tiba saja aku merasa seperti itu. Padahal suasana pagi di rumah sakit itu cukup meriah. Lorong-lorong rumah sakit penuh tawa para pengunjung yg hendak menghibur si sakit. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; perawat pun ikut memercikkan meriahnya suasana dengan senyum manusiawinya. Namun entah mengapa saat itu aku merasa sendiri. Aku merasa terpisah. Aku merasa tidak sedang dalam ruangan itu. Aku merasa tidak sedang ada di rumah sakit itu. Aku merasa berada di alam lain. Aku seperti akan memasuki sebuah dunia baru. Benar-benar baru.. Tapi ini kenyataannya: tubuhku masih ada di atas brankar dalam ruangan kelas dua di sebuah rumah sakit umum. Aku masih menginjak dunia fana ini. Entahlah, aku seolah tak berani menduga apa yg akan terjadi. Aku hanya menantikan apa yg akan terjadi selanjutnya, serta melihat babak demi babak yg akan berlangsung nanti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Rijal datang. Kemarin sore aku menelponnya untuk datang menjengukku hari ini. Awalnya dia menawarkan hari yg lain ketika dia libur dari mengajar. Namun entah mengapa aku merasa dia harus datang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hari itu juga. Aku masih ingat saat itu, antara sadar dan tidak aku katakan padanya , aku ingin dialah yg mengurus jenazahku dari awal. Saat itu sahabatku tersebut terdiam cukup lama, entah apa yg ada di benaknya setelah mendengar perkataanku itu. Aku katakan lagi padanya bahwa itulah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;permintaan terakhirku sebagai seorang sahabat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Apa kabar avonturir?” Tanyanya dengan senyum menyejukkan setelah menyalami dan memelukku. Wajahnya begitu teduh. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kenyamanan yg kudapat saat aku menatapnya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kami berdua dibesarkan dalam lingkungan yg sama semenjak kecil, sampai kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terpisah di masa remaja kami. Aku dengan petualangan dan dia mondok, jadi santri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Beginilah ustadz,” jawabku. Dia memang sudah sangat layak dgn sebutan itu. Bukan hanya karena kadar keilmuannya, namun juga karena perilaku kesehariannya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Aku masih menunggu,.” lanjutku.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Sabarlah,” katanya. Dia memahami arah perkataanku. “Tapi apa kau yakin dengan apa yg kau rasakan ?”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Ya, aku yakin sekali. Aku akan mati, dan kurasa saat itu sudah semakin dekat.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Sahabatku itu terdiam, tak mampu berkata-kata lagi. Dia seperti asyik memandangi wajahku. Sesekali dia tersenyum setelah memandanginya, lalu ada bulir bening di kelopak matanya. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Suasana berubah seketika menjadi sedikit gaduh setelah kedatangan beberapa temanku yg lainnya. Sebenarnya, dari hari pertama dirawat aku langsung menghubungi beberapa orang dari meraka untuk segera menjengukku. Aku ingin mereka menemaniku dalam keadaan seperti itu. Namun karena memang mereka memiliki kesibukan yg mungkin saat itu tak bisa mereka tinggalkan, maka di hari itulah mereka baru sempat datang menjenguk untuk melihat keadaaanku. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;*** Menjelang zhuhur, aku minta Rijal memapahku untuk mengambil wudhu. Beberapa orang dalam ruangan itu merasa keberatan. Mereka memberikan alasan yg sangat logis dan memang dibenarkan syari’at. Aku sedang sakit, dan dengan kondisiku ini aku mendapat keringanan. Aku boleh mengganti wudhu dengan tayammum. Namun aku tetap dengan keinginanku. Akhirnya Rijal memapahku dan membantuku berwudhu. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Setelah beberapa saat aku merebahkan tubuh di atas brankar selesai berwudhu, tiba-tiba kondisiku drop. Entah apa yg terjadi. Semua orang panik. Aku minta Rijal untuk terus duduk di dekatku. Di sisi lainnya, Ibuku sedari tadi duduk di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dia terus menatapiku, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kudapati kecemasan dalam tatapannya. Kugenggam tangannya dengan lembut, kuminta Ibu untuk tak beranjak. Aku ingin beliau menemaniku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada saat-saat seperti itu.&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:AtenK" datetime="2009-03-17T14:36"&gt; &lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;Aku merasa, itulah saat-saat akhirku. Dan perasaan itu sangat jelas. Begitu nyata.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Seorang dokter bergegas menghampiri brankarku. Dia meminta semua orang dalam ruangan itu untuk bersikap tenang. Sejurus kemudian dokter itu menempelken stetoskop di beberapa bagian tubuhku, kemudian memintaku membuka mulut dan menjulurkan lidah. Begitu selesai, dia berkata begini dan begitu. Entah apa yg dikatakannya, aku tak begitu memperhatikan. Aku semakin merasa terpisah dari orang-orang yg ada dalam ruangan itu. Aku merasa tak berada dalam ruangan di sebuah rumah sakit bersama orang-orang dekat yg menyayangiku dan saat itu mulai cemas dengan keadaanku Aku merasa aku sedang memasuki sebuah dunia baru. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Aku berpaling ke sebelah kiriku, sedikit berbisik aku berkata pada sahabatku itu, “Mungkin aku sedang sekarat. Ya, aku sedang merasakan pedihnya sekarat,” ucapku dengan bola mata yg terus bergerak seolah akan terbalik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Istighfar!” Begitu katanya. Bulir bening yg sedari tadi sudah menganak sungai di kelopak matanya kini mulai jatuh satu-satu di pipinya. Dia mengusap keningku yg mulai mengucurkan keringat cukup deras. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Tak usah bersedih ustadz,” pintaku.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Aku bukan sedih. Aku iri padamu,” katanya berbisik di telingaku. ”Ini adalah tanda kebaikan. Baginda Nabi saw katakan saat Beliau dalam sakaratul mautnya, orang beriman akan mengeluarkan keringat yg deras dari keningnya saat sakaratul maut” katanya mengutip sebuah hadits.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kali ini mataku yg menjatuhkan bulir-bulir bening setelah mendengar penjelasan sahabatku itu. Entahlah, sebagai seorang pendosa aku merasa tak pantas, tapi di sisi lain aku merasa sangat beruntung dengan kemurahan-Nya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Aku minta disandarkan agar aku bisa melihat semua orang yg ada dalam ruangan itu dengan jelas. Kulihat Ibu mulai sesenggukan, mungkin dia mendengar percakapanku dengan Rijal.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Sabarlah, Bu. Jika memang sudah saatnya, relakan saja. Maafkan semua kesalahan saya,” ucapku. “Saya mohon Ibu mau mengikhlaskan semuanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Ibu tak mampu berkata-kata, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus menciumi wajahku. Airmatanya semakin deras mengalir. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Semua orang yg berada di ruangan itu terkejut. Mereka mulai memahami arah pembicaraanku. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Bapak yg ada di samping Ibu terlihat lebih tegar, namun rona kesedihan di wajahnya tak mampu beliau sembunyikan.. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Maafkan semua kesalahan saya, Pak,” ucapku lirih. Aku merasa begitu banyak perbuatanku yg telah membuatnya kecewa. Dan hingga saat itu aku belum mampu memberikan apapun untuk membahagiakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Bapak hanya mengangguk pasrah. Matanya mulai basah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Aku mengalihkan pandanganku kepada teman-temanku yg sedari tadi berdiri di depan brankar, dekat kakiku. Kupandangi satu persatu wajah mereka. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; rona menyesal, panik, dan sedih yg menyatu di wajah mereka. Selama ini merekalah yg menjadi sandaran semua bebanku. Merekalah yg selalu menghampiri saat semua orang menjauh dariku. Aku tersenyum pada mereka, “Maafkan aku. Ikhlaskan semua kesalahan yg terlanjur telah kubuat.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Tidak, kamilah yg harus minta maaf. Kami baru sempat mengunjungimu hari ini, padahal kau sudah seminggu berada di sini. Kami lebih mementingkan kesibukan kami daripada engkau, sahabat kami,” salah seorang dari mereka berbicara. Yg lain mengangguk senada.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Sudahlah, tak ada yg perlu kalian sesali. Kalian tetap teman-teman terbaikku. Ini semua tak akan mengubah kedudukan kalian di hatiku,” suaraku semakin terdengar lemah. “Aku sangat senang kalian ada di sampingku saat ini. Aku sedang sekarat.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;“Tidak. Kau tak boleh berkata seperti itu,” salah seorang temanku menyela. “Ini semua akan berlalu. Dan kau akan kembali sehat. Kita akan kembali bersama.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Aku tersenyum, “Kalian tak perlu menghiburku seperti itu, aku sudah siap dan rela dengan apa yg akan terjadi. Dan kalian pun harus rela.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yg amat sangat. Perih yg tak terperi. Aku mengatupkan kedua mulutku, ada erang tertahan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Semua orang memperhatikanku.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;“Wajaa-at sakratul mauti bil haqq”&lt;/i&gt; aku menggumam berulang-ulang, mengutip sepenggal ayat Qur’an. Aku meniru apa yg dikatakan Sayyidina Abu Bakar r.hu, orang yg paling dicintai Baginda Nabi saw saat menghadapi sakaratul mautnya&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Rijal mendekatkan telinganya ke mulutku, mencoba mendengar apa yg aku gumamkan. Lantas dia mengangguk-anggukan kepalanya dan ikut bergumam, “Benar. Sungguh, sakaratul maut pasti akan datang dengan sebenar-benarnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kedua kakiku sampai lutut sudah mati rasa. Aku sudah tak mampu lagi menggerakkannya. Kini rasa sakit itu datang lagi, merambat dari lutut sampai pusarku. Rasa sakit yg tak pernah terbayang sebelumnya. Barangkali setara dengan rasa sakit yg dihasilkan sayatan puluhan pedang dalam waktu bersamaan. Begitu hebat. Namun ada sesuatu yg mengalihkan perhatianku, sehingga rasa sakit itu sedikit terlupakan. Aku mencium bau yg sangat harum. Begitu semerbak. Wangi yg sebelumnya tak pernah kucium. Bahkan mungkin tak akan pernah didapati di dunia ini. Semakin lama wangi itu semakin jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Rijal mulai mentalqinkanku. Dia terus membimbingku untuk mengucapkan kalimat Thayyibah. Dengan susah payah kuikuti. Terbata-bata mulutku mengucapkan kalimat itu. Rasa sakit itu masih ada. Atau mungkin akan selalu ada. Kini malah semakin hebat. Aku merasa semua anggota tubuhku tak mampu lagi kugerakkan. Tenggorokanku serasa tercekat. Nafasku begitu berat. Dadaku megap-megap. Aku merasakan haus yg sangat menyiksa. Barangkali, bila semua air yg ada di atas permukaan bumi saat itu kuminum untuk menghilangkan dahaga tersebut, aku rasa tetap tak mampu menghilangkannya. Namun beruntunglah aku, wangi itu semakin semerbak. Semakin dekat denganku. Semakin nyata. Sehingga perhatianku bisa teralihkan dari rasa sakit yg sangat menyiksa itu, dan hal itu mampu menguranginya..&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 204, 0);" class="MsoNormal"&gt;Saat itu pun tiba, saat akhirku. Beriring erang tertahan dari mulut yg terkatup, tubuhku meregang nyawa. Sayup-sayup suara tangisan di ruangan itu mulai mengabur. Semua yg kulihat kini serba putih. Benar-benar pemandangan yg menyejukkan mata. Begitu menggembirakan. Kini aku benar-benar bisa melihat makhluq menawan yg tak pernah kulihat sebelumnya dengan mata kepalaku sendiri. Makhluq yg selama ini hanya kudengar dari cerita yg keluar dari mulut ustadz dan para penceramah. Ini nyata, mereka benar-benar ada. Mereka seperti sedang bersiap menyambut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kedatangan seseorang. Tapi siapa yg sedang mereka tunggu? Aku sangat berharap akulah yg sedang mereka nantikan kedatangannya. Sungguh. Tiba-tiba semua makhluq menawan itu melihat ke arahku kemudian mereka tersenyum, lalu serentak mereka berkata padaku: “&lt;i style=""&gt;Salaamun ‘alaik&lt;/i&gt;……………………” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-4779406148226574867?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/4779406148226574867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/03/sebuah-kematian.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4779406148226574867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4779406148226574867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/03/sebuah-kematian.html' title='Sebuah Kematian'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8632616837707677464</id><published>2009-03-03T10:09:00.005+07:00</published><updated>2009-03-03T11:26:56.287+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='punya orang'/><title type='text'>Kado Dari Sahabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SaygtymJD1I/AAAAAAAAAQo/-52FCIwRECg/s1600-h/kado.bmp"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308794769299279698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SaygtymJD1I/AAAAAAAAAQo/-52FCIwRECg/s320/kado.bmp" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Maaf aku baru sempat menulis kabar padamu. Seperti yang kamu tahu, aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku. Maaf juga aku telah melupakan ulang tahunmu. Bukan sengaja ingkar untuk mengirimimu kado dari tanah seberang. Aku kehilangan alamat yang pernah kau berikan padaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Selamat Ulang Tahun sahabat. Aku memang tidak sehebat kamu untuk menulis kata-kata indah, merangkai tulisan penuh makna. Aku cuma bisa berdoa semoga impian dan harapan kamu akan segera menjadi kenyataan. Rencana perjalanan kamu dan harapan kamu tentang masa depan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Selamat Ulang Tahun sahabat. Ulang tahun bukanlah perpanjangan usia, tapi pengurangan jatah hidup. Semoga kamu lebih bisa menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;good friend in a good place (hehe..)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;sebuah tulisan Mbak Ayusnita&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;disadur dari: lumbung hati&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8632616837707677464?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8632616837707677464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/03/kado-dari-sahabat.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8632616837707677464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8632616837707677464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/03/kado-dari-sahabat.html' title='Kado Dari Sahabat'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SaygtymJD1I/AAAAAAAAAQo/-52FCIwRECg/s72-c/kado.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-3546235973667572457</id><published>2009-02-19T14:21:00.003+07:00</published><updated>2009-02-19T15:00:48.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Kenangan Dalam Secangkir Coffemix</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kenangan. Terbuat dari apakah kenangan itu? Apakah kenangan itu seperti secangkir &lt;em&gt;coffemix &lt;/em&gt;yang selalu kurindukan kedatangannya? Atau seperti lengkingan terompet Miles Davis yang getir dan menyayat di malam-malam yang basah? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hidup kita memang penuh kenangan. Sebuah kisah sambung-menyambung dengan kisah lain. Kadang terangkai dengan sempurna keindahannya hingga kita selalu menginginkan kenangan itu datang lagi. Kadang pula tercabik di sana-sini, dan meninggalkan perih yang mengiris. Aku ingin menjadi bagian dari kenangan itu, sepotong &lt;em&gt;scene&lt;/em&gt; dalam kehidupanmu tanpa harus tahu akan kau letakkan di mana, &lt;em&gt;intro, reffrain, &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt; ending&lt;/em&gt;? Terserah. Atau mungkin menjadi bagian &lt;em&gt;interlude&lt;/em&gt; yang bisa timbul-tenggelam? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku memang sering merindukan kenangan, bersama rintik hujan sore hari, di saat malam sangat senyap, atau ketika berada di sebuah sudut tanpa batas. Kenangan sering datang perlahan, mendadak di depan mata, lalu lenyap begitu saja. Atau mungkin beringsut, &lt;em&gt;ngendon&lt;/em&gt; sekian lama, membentuk sebuah gambar di bingkai kaca, dan melambai-lambai bak fatamorgana. Kenangan memang maya, tapi kita sering ditarik dalam alam nyata. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Seperti senja itu, aku mengenangmu. Bersama semua cerita dan bayangan yang pernah ada, membentuk sepetak fatamorgana di depan mata, ditemani secangkir mungil &lt;em&gt;coffemix&lt;/em&gt;. Bersama selarik black forrest yang manisnya seperti masih tertinggal di ujung lidah. Bersama pendar-pendar bola matamu yang kadang tampil malu-malu. Bersama sekulum senyummu yang selalu kurindukan. Aku hanya bisa mengingat dan mengenangnya, karena pertemuan sudah menjadi sesuatu yang asing. Sebuah pertemuan yang kau tawarkan membuatku bergairah. Kehadiranmu adalah bening. Pertemuan adalah penyegar bagi dahaga panjang kenangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Aku ingin bertemu denganmu besok sore,"&lt;/em&gt; begitu yang terbaca di layar ponselku. Aku langsung memencet tombol paling kiri atas dan menuliskan: &lt;em&gt;"Jam brp? Di mana?"&lt;/em&gt; Aku sangat antusias, seperti hujan pagi hari yang menyegarkan. Ini adalah kabar pertama setelah perjalanan panjangku. Tak lama ponselku bergetar lagi: &lt;em&gt;"Di tmpt biasa. Pokoknya sore selepas kerja." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pertemuanku dengannya memang sederhana, bahkan sangat sederhana. Pertemuan antara dua bayangan masa lalu yang terpenggal, lalu secara perlahan kembali dipertemukan oleh waktu. Dua bayangan itu tiba-tiba saling mendekat, tanpa pernah merasa bahwa sebenarnya telah dekat. Pernah dekat. Dari sebuah rasa yang hanya bisa dikhayalkan, akhirnya bisa menjadi sebuah kenyataan. Seperti pertemuan dua muka, pertemuan dua telapak tangan, yang selama ini mungkin hanya hadir dalam cermin. Aku mensyukuri semuanya, seperti halnya mensyukuri pertemuan ini. Aku semakin yakin jika putaran waktu semakin tidak bisa ditebak dan tak terukur. Pertemuan kami adalah seperti takdir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku hanya berani bilang "seperti" karena "takdir" itu sebenarnya bukan milik kami. Sebuah takdir yang terus menjaga perasaan, lalu menghadirkan kembali di saat yang tepat. Sebuah takdir yang mampu membuat sebentuk pertemuan indah seperti pertemuan mentari dan batas cakarawala yang selalu menawarkan keindahan berbeda, saat pagi dan senja, dari hari ke hari. Ia menyisakan rangkaian kisah bernama kenangan setelah menikah dengan seorang bankir pilihan orang tuanya. Katanya, menikah dengan bankir lebih terjamin hidupnya, banyak uang. Mungkin orang tuanya terilhami peribahasa: dekat wak haji bisa jadi santri, dekat penjambret bisa jadi penjahat, dan kerja di bank berarti mandi uang. Tak peduli itu uang orang. Busyet! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebuah senja yang indah menyapa, ketika sore yang dijanjikan itu datang. Dari langit temaram mentari sore menyemburkan sinarnya, membentuk larik-larik merah-jingga di ufuk barat. Sinar-sinar itu menerobos daun-daun yang melambai dan membentuk kotak-kotak keemasan di atas tanah. Aku pun membayangkan apa yang kau lakukan di sore yang indah ini? Apakah wajahmu sudah kembali bersinar dan seindah sore yang menyejukkan kalbu? Ataukah masih dilanda &lt;em&gt;bad mood&lt;/em&gt; yang membuatmu enggan berkata-kata? Aku dan dia punya tempat favorit. Sebuah kafe taman di kota ini. Tempat duduknya di ujung kanan, bukan paling pojok tapi nomor dua dari ujung, di bawah pohon jambu air yang satu-satunya tumbuh di taman itu. Dari tempat ini kami serasa mendapat ruang tersendiri meski jarak kursi lain tak jauh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di bawah pohon jambu yang tak juga tinggi, kini aku menunggunya, menunggu kenangan, dengan cemas dan penuh harap. Aku hendak menelepon, aku ingin memastikan pertemuan ini. Nomor ponselnya sudah tertera di layar. Namun dalam batin terjadi perang antara ’ya’ dan ’tidak’. Akhirnya, aku pencet tombol merah, aku tak jadi meneleponnya. Aku hanya ingin mendengar suaranya langsung dengan melihat bibirnya terbuka. Sebuah pesan singkat masuk lagi: &lt;em&gt;"Aku agak telat, ada rapat kecil evaluasi. Tunggu dulu…." &lt;/em&gt;Menunggu sebenarnya membosankan, tetapi menunggu kenangan adalah sebuah keasyikan. Aku segera me-&lt;em&gt;reply&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;"Tak apa, selesaikan dulu pekerjaanmu."&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di ujung jalan terlihat senja mulai turun. Merah keemasan menyiratkan berbagai kisah hari ini. Mega-mega kuning memecah cakrawala. Sinar-sinarnya mulai membuncah, bergelora menyergap barisan para pekerja yang menyemut di jalanan. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin saja sedang bergegas menjemput istrinya. Mereka tampak sekali "bernafsu" ingin menaklukkan waktu. Mungkin mereka termasuk orang-orang yang mengkaret di sudut mata istrinya. Mungkin pula mereka takut karena istrinya baru saja lulus ujian sabuk hitam karate &lt;em&gt;kyokushinkai&lt;/em&gt;. Yang jelas, mereka begitu takut dengan waktu (dan istrinya). Semua terlihat bergegas, berburu waktu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dulu, aku tak seperti mereka. Belum pernah aku bekerja seperti mesin waktu, berjalan normal dari pukul 09.00-17.00. Aku tak bisa seperti mereka ketika waktu bergerak selalu sama dari hari ke hari. Aku punya putaran waktu sendiri. Tapi, itu dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Waktu terus beringsut hingga berada di antara bibir senja dan malam. Cahaya mentari mulai meredup digantikan sinar-sinar elektronik. Udara sedikit sejuk. Aku mulai resah. Sudah hampir satu jam aku menunggu tetapi tubuh semampai dengan balutan rok tiga perempat tak juga muncul. Aku masih ingat baunya. Ia suka wangi &lt;em&gt;Obsession.&lt;/em&gt; Tetapi hingga detik ini ujung hidungku belum terbetik wangi itu. Aku tetap bertahan, sebuah pertemuan setelah perjalanan panjangku belum tentu kembali terulang. Jangankan pertemuan, bertukar suara saja tidak. Kurun sering tak menentu, meski kadang datang dan pergi tak tentu arah. Begitu juga dengan hidup ini, selalu berjalan antara kejutan dan kenangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Jantungku berdegup semakin kencang. Pantatku mulai panas. Benakku terus dipenuhi pertanyaan: pertemuan ini jadi atau tidak? Apakah aku harus meninggalkan tempat ini? Aku masih bertahan, dengan potongan-potongan kenangan yang beberapa penggal telah mengabur seiring langkah yang kian menjauh. Namun tetap menyilaukan, hingga aku tahu ke mana harus mencari titik-titik dirimu, antara senja dan malam berbintang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Panggung kecil di tengah resto kebun itu mulai terang. Itu tanda pemusik yang memainkan nada-nada lembut siap beraksi. Hari itu Selasa, sebuah hari yang sebenarnya tak begitu pas untuk membuat kenangan lama itu menjadi kenyataan. Tapi aku tak peduli. Aku terus menunggu, menunggu datangnya sebuah kenangan. Aku dan dia memiliki bayangan yang sama tentang masa lalu. Memendam kekaguman tanpa harus banyak bicara. Menyimpan rasa tanpa harus tahu ke mana jejaknya akan pergi. Tetapi apakah sebuah kekaguman itu harus dibicarakan? Aku rasa tidak. Rasa akan dijawab dengan rasa, jiwa akan dibalas dengan jiwa. Aku tak ingin orang lain menjadi elemen ketiga dari rasa kita, jiwa kita. Bukankah ini adalah rasa kita berdua? Bukankah ini jiwa kita berdua? Sebuah kekaguman, keinginan, rasa, dan jiwa yang kemudian dipertemukan. Aku ingin menikmati semuanya ini berdua saja, dengan rasa, dengan jiwa. Tanpa curiga, dan tanpa orang lain yang kadang tak paham dengan dunia kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku memesan &lt;em&gt;coffemix,&lt;/em&gt; minuman kesukaan aku dan dia. Selama ini bayangku tentangnya hanya tertumpah dalam satu bentuk: &lt;em&gt;coffemix&lt;/em&gt;. Aneh memang, tapi itulah kopi yang membuatku ingat padanya. Juga dengan kejap matanya ketika menghirup kepul uapnya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sayup-sayup terdengar intro Kenangan, lagu Bebi Romeo ketika ditinggal kekasihnya. Aku kirim SMS padanya: &lt;em&gt;"Sudah sampai mana? Brp lama lagi aku harus menunggu?"&lt;/em&gt; Tak ada sepotong pun jawaban. Mungkinkah dia terjebak macet hingga dua jam? Apakah rapat kantornya terlalu serius untuk diakhiri? Atau dia ditimpa kecelakaan lalu lintas? Dengan cepat aku menghapus bayangan buruk itu. Aku sahut cangkir, dan aku minum tiga teguk sekaligus. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Malam semakin pekat. Rembulan tiba-tiba muncul di angkasa, menyeruak dari balik awan hitam yang telah menyelimuti langit sejak sore tadi. Rembulan itu kuning benar meski bukan saat purnama. Di sekelilingnya berbinar cahaya putih yang mengikuti ke mana pun dia pergi. Bulan itu seperti tersenyum, menawarkan sebuah keindahan malam setelah beberapa malam ini selalu tersembunyi. Aku pun bertanya-tanya, apakah bulan juga menyimpan dunia keindahan? Aku pun kembali bertanya, apakah di sana juga ada dua insan yang menyimpan kenangan dan memendam rindu? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Debar jantungku mulai bergeser jadi resah. Aku membunuh waktu dengan membuka games di ponsel jadulku. Aku memilih &lt;em&gt;snake,&lt;/em&gt; aku ingin memperbaiki rekor yang masih 710. Tetapi pikiranku sudah telanjur kacau. Angka yang tercatat tak pernah lebih dari 400 sebelum &lt;em&gt;game over. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku sudah benar-benar tak sabar. Penat dan gerah sudah semakin tak mampu kutahan. Batinku seakan mau marah. Ingin sekali aku meneleponnya dan memakinya sekalian. Tapi selalu tertahan. Haruskah aku marah pada sebuah kenangan yang indah? Amarah itu surut diterpa kelebat bayangnya, dengan rambut hitam tersibak bak bintang iklan shampo. &lt;em&gt;Coffemix&lt;/em&gt; di hadapanku tinggal setengah. Aku semakin gelisah, ditingkahi amarah. Apakah dia akan mempermainkanku sekali lagi? Aku pandangi lekat-lekat keramik broken white dengan garis hijau di sampingnya. Masih sama persis dengan tujuh tahun lalu. Bentuknya manis, tapi aku tak yakin itu bikinan FX Wijayanto. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Darahku kembali naik ke otak. Hatiku mulai panas, tak seperti sisa kopi ini yang semakin dingin. The Scientist milik Coldplay yang mengalun lembut tak mampu melunakkan hatiku. Akhirnya aku kirim SMS lebih keras:&lt;em&gt; "Kita jadi bertemu atau tidak?"&lt;/em&gt; Aku tunggu beberapa saat. Tak ada jawaban. Batinku menjadi hening, pikiranku melayang-layang. Semua panca inderaku seperti dikepung bayangannya. Muncul kerlip sesaat, dengan cepat kubuka, ternyata hasil report dari pesan yang lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku masih menunggu dengan rona muka yang tak lagi secerah sore tadi. Waktu terus berputar. Tak juga ada jawaban. Anganku buyar. Aku memandang sesaat kursi kayu di depanku, tempatnya biasa duduk bersamaku, juga &lt;em&gt;coffemix &lt;/em&gt;yang tinggal seteguk lagi. Ponselku kembali bergetar. Aku tahu itu dari dia, mungkin tinggal beberapa langkah lagi ia akan di depanku. Dengan sigap aku buka. Betul dari dia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Dunia benar-benar gelap. Aliran darah seakan berbalik arah. Seribu tanya yang berkubang di kepala berubah menjadi beku. Ia menulis singkat: &lt;em&gt;"Aku tak jadi bertemu, itu selingkuh namanya."  &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-3546235973667572457?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/3546235973667572457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/kenangan-dalam-secangkir-coffemix.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3546235973667572457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3546235973667572457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/kenangan-dalam-secangkir-coffemix.html' title='Kenangan Dalam Secangkir Coffemix'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-2201752158843814251</id><published>2009-02-16T09:00:00.001+07:00</published><updated>2009-02-16T09:13:09.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kilas balik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Setiap hari kau pegang kertas dan pensil itu, siang, malam, tiada hentinya. Untuk apa? Apa kau kira kertas itu dapat kau makan? Kau katakan kau bisa mencari makan dengan pensilmu, tapi mana?! Yang kulihat masih nasi yang kutanak juga yang kau makan." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Begitulah Ibu menggurutu setiap melihat aku mencoret-coret kertas. Aku tak marah, tidak sekali pun. Meski terkadang Ibu &lt;em&gt;merepet&lt;/em&gt; ketika aku sedang menghadap piring nasi. Padahal ayah pernah melarang, jangan memarahi anak ketika dia sedang makan. Tapi Ibu tetap melakukannya padaku. Bahkan pernah lebih pedas lagi kepadaku. Ibu pernah mengancam akan mengusirku jika masih saja menulis dari pada mencari kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Lebih baik kau cari kerja untuk menabung agar kau bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi, dari pada membuat tumpukan kertas dalam kamar. Lebih baik kau tulis surat lamaran kerja. Kalau kau masih juga menulis yang tiada artinya, lebih baik kau pergi saja dari rumah ini, karena kau tidak lagi mendengar kata-kataku, ibumu, untuk apa kau kuberi makan?!" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ibu, kelak jika aku jadi penulis besar, aku akan dapat uang banyak." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;"Kelak! Kelak...! Kelak...! Kapan!? Sampai kelak kau menyusul ayahmu ke liang kubur?! Terus kau akan mencoret-coret kain kafanmu?! Apa itu yang kau harapkan dari tulisanmu?!" &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ibu, aku memang tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha. Dan aku percaya kelak akan berhasil."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Berhasil.?!"&lt;/em&gt; Suara Ibu mengejekku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Iya, Ibu."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Hei, kau bermimpi menjadi penulis? Orang sepertimu, mau jadi penulis?"&lt;/em&gt; Ibu menyindirku. &lt;em&gt;"Tunggu saja tumbuh tanduk di kepala kucing betina. Kau kira ada yang membaca coretan jelekmu itu?! Pantas saja sudah beribu koran yang terbit, semua tertera namamu."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ibu, jangan mengejekku. Aku memang selalu mengirimkan tulisanku ke media massa, tak perduli mereka memuatnya atau tidak. Tetapi aku yakin mereka pasti membacanya, hanya saja mungkin belum sesuai dengan misi media itu. Bagiku, mereka sudah membaca tulisanku, itu sudah cukup. Dan ketika aku dapat menulis sesuatu, aku puas. Karena hanya dengan menulis kita dapat mengingat, ibu. Andaikan hari ini aku menulis tentang Ibu ketika marah, kelak jika Ibu tak marah lagi, aku pasti sangat merindukannya. Tetapi jika aku menulis bagaimana Ibu memarahiku, muka Ibu, kata-kata Ibu, tangan Ibu, langkah kaki Ibu, mata Ibu, bibir Ibu, semuanya tentang Ibu ketika marah, akan ada yang aku ingat. Jika aku rindu Ibu marah, aku tinggal melihat tulisanku tentang Ibu ketika marah. Bukankah menulis itu sesuatu yang mengasyikkan, Ibu?" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Tak usah kau mengajari ibumu."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Aku tidak mengajari Ibu. Aku hanya katakan yang sebenarnya. Nah, coba Ibu ingat tentang kenangan Ibu bersama ayah semasa sekolah dulu. Sukar 'kan? Kalau Ibu masih menyimpan surat ayah, Ibu pasti mudah mengingat semua kata-kata ayah. Jika Ibu ingat ayah, Ibu tinggal membuka suratnya, paling tidak rasa rindu Ibu pasti berkurang," &lt;/em&gt;ujarku manja seraya memeluk Ibu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Saat itulah Ibu akan diam. Kulihat mata Ibu bening. Tapi Ibu masih marah, karena kegemaran Ibu memang memarahiku, apalagi setelah ayah meninggal. Kegemaran Ibu marah padaku semakin bertambah. Tapi aku tak membalasnya dengan kemarahan, malahan aku akan berkata manja sambil membawa nama ayah. Dan aku tahu, marah Ibu sebenarnya hanya karena ingin mendengar aku menyebut masa-masa Ibu bersama ayah. Setiap selesai aku mengungkit masalah Ibu dengan ayah, Ibu langsung diam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;*** Pandanganku seluas laut. Di hadapanku hanya ada kehancuran. Gersang dan fana. Pohon-pohon kayu yang tercabut dari akarnya, rumah-rumah dan gedung yang hanya terlihat pondasi, bangkai mobil yang hitam dan karatan, lumpur dan kotoran yang mulai mengering. Daratan yang telah menyatu dengan laut. Semua tampak seperti laut yang luas. Bau busuk yang sama sekali tak pernah tercium, melintas di hidungku. Satu dua mayat masih tersangkut di balik lumpur hitam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ibu, batinku, aku baru saja kembali melihat kampung kita. Tapi tak kudapati kampung kita yang dahulu. Laut telah menyulap kampung kita menjadi datar seluruhnya. Kemanakah engkau, Ibu? Selamatkah dirimu? Atau adakah Ibu diantara mayat-mayat yang belum sempat diangkat para relawan itu? Aku telah mencarimu di pos-pos pengungsian, tapi tak kudapati namamu dalam daftar orang yang selamat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sekarang aku berdiri tepat di rumah kita, Ibu. Tapi rumah kita hanya tersisa lantainya. Tak ada atap, tak ada dinding, tak ada meja dan kursi kecil tempat aku makan dahulu. Juga tak ada kursi panjang tempat Ibu duduk menampi beras sambil marah-marah kepadaku. Semuanya hanya lumpur hitam. Ibu, lihat, di sebelah kamarmu itu. Seekor bangau sebesar elang berdiri di reruntuhan jendela kamarmu. Bangau itu menatap ke arahku. Dia mengepakkan sayapnya. Bukankah engkau pernah bercerita tentang seorang ibu yang berubah menjadi seekor bangau karena ingin melihat anaknya? Dulu, engkau mengatakan hal itu pernah terjadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Lihat, Ibu, bangau itu menatapku terus. Marahkah dia? Tapi bangau itu tak bersayap merah seperti dalam ceritamu. Apakah dia tidak marah lagi? Sayapnya sangat putih, bersih. Ibu, engkaukah itu? Jika benar, mengapa engkau tidak marah? Aku ingin Ibu marah. Aku rindu makian Ibu. Mana suara Ibu yang selalu mengejekku dahulu? Atau Ibu sudah tahu kabar yang kubawa pulang? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ya, memang benar, aku baru pulang dari Belanda. Sebulan yang lalu aku diundang oleh orang-orang di negeri itu karena tulisanku yang menurut penilaian mereka berhak mendapat penghargaan. Menurut mereka tulisanku sangat merdeka. Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Mereka berpendapat, tulisanku mampu mewakili suara orang-orang kampung kita, bahkan mampu mewakili daerah kita keseluruhan. Karena itulah aku diundang ke negerinya dan diberi sebuah penghargaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Sebulan yang lalu engkau lepas kepergianku di Bandara dengan senyum.&lt;em&gt; "Semoga kau berhasil, Nak."&lt;/em&gt; Katamu waktu itu. Itu kali pertama Ibu memanggilku 'Nak' dengan kelembutan. Menurutmu aku telah berhasil merubah coretan menjadi tulisan. Kala itu pula aku melihat Ibu tersenyum manis ke arahku. Mungkin selama aku besar, itu adalah senyum pertamamu yang kurasakan hangat. Aku tak pernah mengira jika juga menjadi senyum terakhir Ibu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ibu, lihat bangau itu, dia mengepakkan sayapnya ke arahku. Persis seperti lambaianmu ketika melepasku di Bandara. Aku mendekati bangau itu, dia tak terbang. Kubelai sayapnya yang putih, kudekap dalam pelukanku. Kurasakan sejuk sayapnya. Dan aku tertidur di sampingnya. Perlahan kurasakan tubuhku terangkat sambil sayup-sayup terdengar suara, &lt;em&gt;"Dia masih hidup, sebaiknya kita bawa saja ke markas PMI."&lt;/em&gt; Setelah itu aku tak tahu lagi.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;tentang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;seorang kawan di Aceh, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;Azhari (penerima Free Word Award, Belanda):&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;jangan menangis lagi kawan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-2201752158843814251?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/2201752158843814251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/ibu.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2201752158843814251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2201752158843814251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/ibu.html' title='Ibu'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8959960624990178143</id><published>2009-02-15T11:08:00.000+07:00</published><updated>2009-02-18T21:14:56.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;biarlah,&lt;br /&gt;sendiri saja aku berjalan&lt;br /&gt;kan terus kususuri jalanan terjal ini&lt;br /&gt;meski peluh terus bercucuran&lt;br /&gt;pun hela nafasku tersengal&lt;br /&gt;namun, tak usah kau mengiba&lt;br /&gt;seolah kau peduli &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah,&lt;br /&gt;biarkan saja&lt;br /&gt;sendiri kan kutelan rasa sakit ini,&lt;br /&gt;meski nyeri sesakkan dada&lt;br /&gt;pun perih terus merajam hati&lt;br /&gt;namun, takkan pernah lagi&lt;br /&gt;kuteteskan airmata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar,&lt;br /&gt;biarkan saja&lt;br /&gt;jangan pernah kau peduli&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8959960624990178143?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8959960624990178143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/biarlah-sendiri-aku-terus-berjalan-kan.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8959960624990178143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8959960624990178143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/biarlah-sendiri-aku-terus-berjalan-kan.html' title=''/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-2091382358792144805</id><published>2009-02-12T13:37:00.004+07:00</published><updated>2009-02-13T14:36:20.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Lelaki Malam</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ia berhenti di ujung jalan. Menengok ke belakang, menatap jejak langkah yang tersisa. Begitulah, ia menengok, seperti tak mau kehilangan bayang-bayangnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Memang, hanya ada bekas tapak sandal gunungnya saja, basah, karena ia keluar dari becek air di sebuah gang. Tapak sandal itu begitu teratur, berderet rapi di trotoar yang dilintasinya. Tak ada kelokan zig-zag atas tapak sandal, ia berjalan lurus, tak ada yang menghalangi. Tak perlu gontai karena mabuk, dan tak perlu turun dari trotoar lantas naik lagi karena ada deretan becak dan mobil yang diparkir sembarangan seperti di siang hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sekitar lima belas menit ia menghabiskan waktu menapakkan kaki sebelum akhirnya berhenti di ujung jalan. Entah berapa jauhnya tapakan kaki yang telah ia tempuh, barangkali hanya lima ratusan meter. Namun, ia sudah meninggalkan jejak, tapak sandal. Sepanjang berjalan, sesekali ia lirik tempat-tempat hiburan yang belum bubar, padahal sudah menjelang pagi. Arena billiard, cafe, bar, rumah bordil terselubung, dan apapun itu, masih hingar-bingar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Tak satu pun tempat-tempat itu ia singgahi. Padahal, aroma malam yang menguap dari tempat-tempat itu lumayan menarik. Ia sepenuhnya sadar bahwa ia hanya laki-laki biasa, normal dan wajar jika mempunyai hasrat yang menggelinjang, hasrat kelelakian. Hasrat yg senantiasa menuntut pemuasan. Apalagi,-- ini kenyataannya --, ia belum mempunyai istri. Dan usianya boleh dikata sedang berada pada puncaknya untuk selalu mencari pemuasan tersebut, namun ia seperti tidak peduli, seperti memutuskan untuk sendiri. Sekalipun begitu, roman mukanya tak menampakkan beban kesendirian, roman mukanya sungguh roman muka seseorang yang bisa menjalani dan menikmati hidup. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Roman mukanya juga seperti berkabar bahwa hidup tak melulu kesedihan, setidaknya dari caranya berjalan dan menatap, ia bisa menjalani apa yang diinginkannya. Dan jika orang mau peduli terhadap pakaian yg dikenakannya, dan sedikit memperhatikan penampilannya mereka pasti akan berpikiran seragam: tak layak jika ada penilaian bahwa ia adalah seorang yg bosan dan frustasi terhadap hidup. Walaupun ia terkadang,-- atau sering malah --, terkesan sendu, murung, dan muram. Apalagi bagi mereka yg mengenal lelaki itu lewat tulisan-tulisannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Baginya bukanlah pemandangan yg aneh, melihat orang-orang yang ada di sepanjang jalan itu duduk santai di pinggir trotoar untuk menikmati suasana malam. Dan bukanlah hal yg luar biasa pula baginya jika ada sebagian orang yang bersikap aneh dan kelewatan setiap malamnya. Ia seperti memakluminya. Ia seperti sudah terbiasa dengan segala macam perkeliruan jalanan. Ah, bukankah setiap orang sudah suntuk menjalani hari-hari, di siang yang begitu terik, karenanya mesti ada saat untuk terbebaskan. Semacam pelampiasan. Dan malamlah salah satu jalan pelampiasan itu. Sekalipun mesti harus membayar, mungkin mahal, mungkin juga tidak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sudah berpuluh, atau bahkan beratus kali ia menempuh trotoar maupun jalan yang sama, dari kelokan sebuah gang. Dengan cara terus berjalan, menghabiskan malam pada jelujur trotoar maupun jalan lengang, ia seolah belajar untuk tidak pernah kecewa. Ia tak mau kecewa karena apa pun, termasuk dengan keadaanya yg barangkali di luar kelaziman lelaki seusianya. Kadang-kadang ia tertawa memikirkan semua itu, sesuatu hal yang baginya lucu. Sangat lucu. Ia ingat, banyak teman kerjanya memburu hal-hal yang kerap mereka sebut sebagai pencapaian, sumber kebahagiaan, kelayakan hidup, dan entah apalagi. Namun, jika mendengar semua cita-cita dan obsesi semacam itu, ia hanya bisa tersenyum masam. Sungguh masam. Bahkan terkadang sinis dan nyinyir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di tengah pekerjaannya, di siang hari, ia bisa memandangi komputer dengan khusyu-nya berjam-jam, di meja kerjanya. Kawan-kawannya menduga dan mengira bahwa ia sedang sibuk bekerja. Padahal sebenarnya ia sedang melamun, menerawang jauh. Pikirannya kerap terganggu, melayang, tanpa mesti dipicu mariyuana ataupun minuman dengan kadar alkohol yg tinggi. Pikirannya kerap menghambur ke angkasa, mengingat sesuatu yang entah apa, ia sendiri sulit merumuskannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Saat rehat siang, ia biasa minum kopi di kantin sebelah kantor kerja. Ia sering duduk sendirian, sengaja menyingkir dari tawa &lt;em&gt;ngakak &lt;/em&gt;kawan-kawannya, meski sesekali ia juga ikut tertawa kecil, begitu melihat kawan kerjanya memainkan ujung sepatu di betis lawan bicaranya, pastilah di bawah meja. Masih ada pemandangan dari kejauhan yang bisa membuatnya geli, membuat kesendiriannya tak terasa tawar. Ia masih sanggup bergetar dengan pemandangan kecil itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Begitulah ia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Bila malam tiba, selewat jam sembilan, ia akan ke luar rumah. Berjalan sendiri menyusuri gang-gang, trotoar dan jalan-jalan lengang, merasakan sapuan cahaya dari lampu-lampu lampion, lampu-lampu merkuri yang ada di pinggir-pinggir jalan. Ia suka melihat wajah orang yang berjalan dari arah berlawanan menjadi berkilat begitu terkena sapuan lampu-lampu itu, seperti wajahnya sendiri. Lampu-lampu yang berwarna kekuningan, kadang-kadang semburat ungu memutih. Orang-orang menjadi kelihatan unik, seperti berjalan dalam bayangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di kota tempat ia kerap berjalan malam itu, disinyalir, tak jarang terjadi tindak kekerasan semacam penodongan, perampokan, ataupun pembunuhan. Orang yang berjalan malam sendirian bisa tiba-tiba diikuti, dipanggil dari belakang, tanpa &lt;em&gt;ba-bi-bu&lt;/em&gt; langsung dibantai. Namun itu semua tak membuatnya merasa miris dan takut. Ia tetap memutuskan untuk berjalan, dan terus berjalan, hampir setiap malam selewat jam sembilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Suasana kota sangat sepi di malam hari. Udara malam begitu dingin. Pasangan muda-mudi yang biasa berpacaran di alun-alun, di taman-taman kota, tak tampak pada dini hari. Pada saat semacam itu, ia sudah terlalu biasa dengan kesendirian, duduk di bangku panjang taman kota. Dia bisa memperhatikan apapun dari sana. Genangan air, sisa hujan, di malam hari amat menarik baginya, pantulan cahaya bulan bisa berada di tengah-tengah genangan tersebut. Dan baginya itu sangat membius. Berkilat memutih. Meski ia laki-laki, tak jarang matanya berkaca-kaca menyaksikan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Biasanya, sebelum ia memutuskan kembali untuk berjalan, menyusuri gang-gang dan jalan-jalan sepanjang kota, ia akan lama duduk menyendiri di bangku itu. Merasakan desiran angin yang bisa berubah karena malam, menuju dini hari, pun menjelang pagi. Sambil memikirkan hal-hal yang berkelebat dalam otaknya, yang masih menarik untuk dipecahkan. Jika sudah merasa telah memecahkan sesuatu yang berkelebat dalam otaknya itu, ia akan kembali berjalan. Bangkit. Menyusuri trotoar. Dan terakhir, melewati jalan yang di kanan-kirinya adalah kawasan hiburan malam itu. Melirik arena billiard, bar, cafe, rumah bordil terselubung, atau apa pun itu. Melirik saja. Ia enggan masuk, meski sebenarnya keinginan untuk itu pernah mampir di benaknya. Sering malah. Tapi ia selalu berusaha menepiskannya, namun entah sampai kapan dia mampu menahan keinginan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kini, ia kembali berjalan melewati kawasan hiburan malam itu dan berhenti tepat di ujung jalan. Memandang ke belakang, menatap jejak sandalnya sendiri. Ada yang ia kenali, ada yang tidak, karena bertumpukan dengan jejak sepatu orang lain, yang keluar dari bar, yg sebelumnya basah-berair menginjak tumpahan bir. Pada saat itu, waktu sudah tak bisa dikatakan malam, waktu perlahan-lahan berubah menjadi dini hari, menjelang pagi. Udara yang ia rasakan teramat lain. Pasti, bukan lagi dingin malam. Ada kesegaran tertentu yang menusuk lubang hidungnya, yang merambat ke celah pori-pori wajah, membuat matanya berkedip-kedip gembira. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Selang sebentar kemudian, biasanya ia akan melambaikan tangan ke arah taksi yang masih mungkin lewat di sana, memohon diantar pulang. Ia akan beristirahat, tidur secukupnya sebelum jam kerja datang, setelah puas berjalan malam. Kadang-kadang, sekalipun ada taksi yang melintas di sana, ia tak melambaikan tangannya. Ia memutuskan terus berjalan menyusuri trotoar menuju ke rumah, setelah berhenti sekian detik, sekian menit, di ujung jalan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-2091382358792144805?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/2091382358792144805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/lelaki-malam.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2091382358792144805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2091382358792144805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/lelaki-malam.html' title='Lelaki Malam'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8600759623427128195</id><published>2009-02-09T12:25:00.008+07:00</published><updated>2010-02-23T21:23:08.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Jakarta, Kata Orang Itu</title><content type='html'>&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di Jakarta,-- ungkap orang itu --, jam ada di mana-mana. Bertebaran dimana saja. Di pagar rumah, di pintu halaman, di dinding, di samping kiri atau samping kanan pintu masuk dekat bel, di kursi-kursi dan meja di ruang tamu, di ruang tengah yang merangkap ruang keluarga, di layar TV dan monitor komputer, di meja makan dan terutama pada piring dan gelas minum, di ranjang dan bantal kamar tidur, di dapur, di bak air dan di gayung kamar mandi. Di jalanan, di mobil, di motor, di bundaran lampu lalu lintas. Di kemengangaan mulut dan di juluran lidah serta di pangkal tenggorokan ketika orang-orang bercakap-cakap dan berteriak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jam ada di mana-mana. Berdetak-detik dalam pendengaran, berpendar-pendar dalam ingatan. Memaksa setiap orang untuk bergerak lebih cepat dan semakin cepat sehingga waktu pun terengah-engah dan menyerah dibuatnya. Lalu berkata, ”Lakukan semuanya semaumu, aku hanya akan jadi tanda ketika malaikat mencatat semuanya dalam lembar laporan harian kepada &lt;i&gt;Sang Khaliq&lt;/i&gt;…”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dan karena itulah,-- kata orang itu lagi, yg duduk bersebelahan denganku dalam bus yg membawaku ke Jakarta kemarin sore --, Jakarta berubah jadi arena balapan. Di mana setiap orang dipaksa berpacu untuk secepatnya masuk garis&lt;i&gt; finish&lt;/i&gt; tanpa terlebih dahulu memasuki jeda &lt;i&gt;pitstop&lt;/i&gt;. Setiap harinya manusia-manusia statis itu masuk kantor dan memulai kerja dengan jam yang berdetik di laci meja tulis, di perut yang hanya diisi secangkir kopi, di lembaran kertas, di layar monitor, di HP yang setiap saat sepertinya berbunyi, menyatakan ada jalur pacu lain yang harus ditempuh sebagai balapan berikut, atau yang terpaksa diabaikan. Jeda sejenak dengan jam yang terus berdetak di mana-mana, lalu kembali ke tengah lautan jam kerja dan dipacu detak ribuan jam kerja di mana-mana. Dan begitu mereka lepas dari kungkungan jam kerja, semuanya langsung memasuki &lt;i&gt;street race&lt;/i&gt; untuk sekali lagi berpacu, pulang cepat ke rumah dengan berjuta jam yang berdetak dan berpendar di sepanjang jalan, sampai akhirnya tiba di rumah dan disergap jam lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jam di mana-mana. Setiap orang dikepung ratusan jamnya sendiri hingga terkurung sendirian, tidak bisa memanggil siapa pun, atau meminta bantuan siapa pun untuk mendapatkan pertolongan. Gelagapan, dikerubuti jam yang bermunculan dan berdatangan dari mana saja dan hinggap pada apa saja. Yang serentak berpendar dan berdetak menganjurkan semuanya agar terus berpacu. Lagi dan lagi, seolah tiada titik akhir. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jakarta,-- masih kata orang itu --, adalah jam besar dengan miliaran jam kecil yang berdetak dan berpendar serentak, sehingga orang-orang tak akan bisa lepas dari kekangan jam, serta anjuran jam untuk berpacu agar bisa lebih leluasa tak dijadwal, saat waktu terpaksa hanya jadi patokan gerak dan ulah kerja manusia saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bisakah manusia bebas dari waktu, dari ukuran yang diciptakan untuk menandai yang tidak terlihat dan tidak terasa. Yang diam-diam terus maju seperti tak akan berhenti, begitu agresif. Melahap segalanya, menyepah yang kalah dan kehabisan waktu sambil menyisihkannya dari satu jalur pacu. Dan terus melahap apa yang ada dan menempatkan semuanya pada jalur pacu yang ada dan akan senantiasa ada. Bersebelahan, saling kontak-sentuh. Berbelit dan kusut, membentuk kain nasib yang ketika ditelusuri, ternyata benangnya &lt;i&gt;masau&lt;/i&gt; saling menjerat. Ya, manusia memang selalu berada dalam titik saling ketergantungan. Untuk saling menolong, atau kalau tidak, maka akan muncul naluri &lt;i&gt;instingtif&lt;/i&gt; untuk saling tebas menebas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku menatap orang itu: Memakai kaus hitam dengan sablon metalik halus bergambar entah apa, seperti percik cat tumpah dengan tulisan;&lt;i&gt; excited, what ever will be will be.&lt;/i&gt; Deretan kata yang tidak bisa kumengerti dan sepertinya orang itu pun demikian, tidak memahaminya. Yang hanya menjawab,-- saat kutanya --, kaus itu diberikan anak bosnya, karena saat dipakai ditertawakan oleh bos yang mengatakan, ”&lt;i&gt;grammar&lt;/i&gt; apa tuh?”. Dengan celana jeans hitam ketat yang katanya hanya produk tembakan yg harganya hanya cukup untuk naik taxi ke Ancol.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Orang itu berkata lagi: Jakarta itu jam besar dengan anggota miliaran jam kecil, yang memaksa setiap orang untuk menjadi Valentino Rossi, Casey Stoner dan siapapun mereka yang senantiasa berpacu di jalanan, yang lebih memilih sepada motor bukan karena tak punya duit untuk membeli mobil. Bukan. Bukan karena itu, tapi karena jalanan Jakarta bukanlah tempat yang tepat untuk berpacu dengan kendaraan roda empat itu. Terlalu banyak kendaraan, hingga ada jalur khusus yang hanya boleh dilalui mobil bila isinya minimal tiga orang. Karena itulah, banyak orang yg menawarkan dirinya untuk disewa-angkut, agar mobil itu bebas berpacu mengejar waktu di &lt;i&gt;jalur 3 in 1&lt;/i&gt; itu dalam sekian menit. Celakanya, orang-orang itu malahan di&lt;i&gt;uber&lt;/i&gt; dan dikejar Satpol PP karena dianggap membuat orang-orang kaya bisa bebas merdeka berpacu di jalur yang tak sembarang orang bisa masuk bila berdua saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku memandangi yg lainnya. Di deret kursi seberang, di dalam bus itu, ada Saman Bakmi. Di Jakarta, ia berkeliling jualan bakmi dengan gerobak dorong, yang disewa dari seorang juragan yang juga menyediakan mie, bumbu dan keperluan lainnya, serta tempat kos dan pelatihan untuk berjualan bakmi. Tadi dia bercerita, bahwa setiap malamnya dia seolah berlomba dengan gerobak dorong sambil memukulkan &lt;i&gt;sutil &lt;/i&gt;logam pada cekung wajan dalam pacuan di gang-gang kampung. Di sebelahnya, Marto Pedrosa, ia sendiri yang menambahkan nama itu. Aslinya ia bernama Joko Martono. Ia bercerita, dulu ia selalu dipanggil dengan sebutan "No Tit", yang selalu bergaya dengan sepeda motor siapa saja bila pulang kampung. Yang di Jakarta menjadi tukang ojek. Lalu di deret depan kursi kami ada Arpan, seorang yg usianya tak beda jauh denganku. Dulu ia datang ke Jakarta dengan mimpi menjadi seorang aktor. Dan kini, setiap harinya ia berakting menjadi pengemis, memenuhi trotoar Jakarta untuk recehan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Miliaran jam yang terangkum dalam sebuah jam raksasa bernama Jakarta terus berpendar di kelam malam, di langit malam yang penuh bintang, seolah menjadi rembulan gaib dengan cahaya keperakan. Yg seakan membimbing mereka,-- kaum urban --, untuk bangkit dan mempertaruhkan apa saja. Berangkat ke Jakarta, dan menjadi apa saja. Tidak hanya berakting menjadi pengemis, tapi benar-benar menjadi pengemis dan pemulung. Semodel &lt;i&gt;de Grana&lt;/i&gt;, yang selama 15 tahun tak pernah lagi pulang kampung meski setiap Lebarannya selalu menitipkan uang dua atau tiga ratus ribu untuk ibunya. Atau benar-benar berpacu di jalanan dengan menjadi &lt;i&gt;jambret &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;diuber-uber&lt;/i&gt; polisi sehingga &lt;i&gt;blingsatan&lt;/i&gt; memburon ke mana-mana, untuk kemudian mati ditembak dengan belasan lubang luka seperti &lt;i&gt;Isa&lt;/i&gt; yang menjadi gembong dengan tiga orang sekampung lainnya yang masih selamat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dan Jakarta memang menjadi sebuah jam raksasa yang melengkung dan mengayomi miliaran jam kecil yang serentak,-- walaupun sebenarnya tak pernah serentak --, karena selalu ada selisih diantara mereka, lebih lambat atau lebih cepat dalam hitungan mikro sekon atau sekon. Berdetak-detik dan berpendar- pendar. Semua jam itu seperti memanggil mereka,-- kaum urban --, untuk segera meninggalkan kampung mereka yg nyaman, yg sepertinya identik dengan ketiadaan harapan. Padahal kampung mereka adalah tempat dimana mereka bisa mendapatkan kebersamaan saling berbagi dan kejujuran yg alami. Dimana hal itu sangatlah sulit mereka temukan di belantara Jakarta. Sangatlah sulit. Namun entah mengapa mereka seperti tak kuasa untuk tak memenuhi panggilan milyaran jam yg terus berdetak-detik itu. Suara yg terus saja memanggil mereka untuk segera berpacu sebagai apa saja. Untuk berpacu dengan siapa saja. Untuk berpacu dengan waktu, secara baik-baik ataupun tidak baik-baik. Untuk menjadi orang kantoran atau hanya menjadi orang suruhan. Atau malah untuk menjadi seorang buronan karena terlalu kreatif meletakkan jam di jalur pacu yang miring tak beraturan, demi &lt;i&gt;survive&lt;/i&gt; dengan sesuap nasi, yg mana akan mereka dapatkan dengan mudah bila saja mereka tetap berada di kampungnya. Mengakrabinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;LIhatlah mereka,-- kaum urban -- yg tertipu dengan pesona Jakarta yg palsu, yg selalu saja menawarkan mimpi-mimpi yg semu. Berduyun-duyun mereka berangkat dari kampung, untuk sampai di Senen atau Kota. Lalu berhamburan ke mana saja dan jadi apa saja. Lantas bertemu hanya setahun sekali di kampung, untuk kemudian bersama-sama pergi ke Jakarta, lagi. Dan sampai kembali di Senen atau Kota, untuk kemudian berhamburan kemana saja, sebagai apa saja, dan di mana saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kutatap lagi orang itu, yg duduk bersebelahan denganku dalam bus tersebut, yg sedari tadi bercerita tentang Jakarta hingga mulutnya berbusa. Wajahnya terlihat sangat lelah, tampak lebih tua dari usia sebenarnya, dan tatapannya sangat kosong. Begitu sayu. Aku meringis dalam hati, beginikah wajah orang-orang yg kelelahan berpacu di arena pacuan yg bernama Jakarta. Lalu ia kutanya, apakah sudah tidak ada pilihan lain, selain menjadi seorang transmigran yang sangat sengsara?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #b45f06;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #33cc00; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8600759623427128195?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8600759623427128195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/jakarta.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8600759623427128195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8600759623427128195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/jakarta.html' title='Jakarta, Kata Orang Itu'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-2026863277296203023</id><published>2009-02-06T13:02:00.004+07:00</published><updated>2009-02-06T14:10:18.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Bunda, Akhirnya Ayah Menjenguk Kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Tubuh itu kaku, tidak bergerak lagi. Tubuh itu terbungkus kain putih bersih setelah dimandikan. Tubuh itu kini dibaringkan di ruang tengah. Beberapa orang tengah membaca ayat-ayat dari kitab suci. Semuanya begitu khusyuk melantunkan firman-firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Suasana di rumah tersebut begitu hening. Tidak ada canda tawa. Tidak ada nada gembira. Semua sedih. Seluruh anggota keluarga berduka. Sesekali terdengar suara orang-orang, tetapi hanya sebatas menyapa. Di mana gerangan orang yang telah tiada itu? Kapan dimakamkan? Di pemakaman mana? Jauh atau dekat? Siapa saja yang ikut? Ustadz Tamami atau Abah Haji yang memimpin salat jenazah?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sesekali juga terdengar bisik-bisik tidak mengenakkan. Bagaimana nasib anaknya? Siapa yang akan menyekolahkan? Siapa yang akan membiayai kehidupannya kelak? Kok, suami almarhumah tidak terlihat? Belum datang atau tidak akan datang? Memangnya mereka pisah? Masih menikah atau sudah bercerai? Kenapa hidup terpisah? Apa benar almarhumah itu istri kedua?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi yang mendengar semua itu hanya bisa diam. Ia tidak mau berkomentar. Karena ia tahu itu percuma. Biarlah orang bicara, toh mulut mereka sendiri. Daripada buang energi, lebih baik ia diam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Salah seorang paman dari pihak ibunya sibuk mengurus pemakaman almarhumah. Pamannya itu lari ke sana, berjalan ke sini. Semua diurus demi almarhumah dan juga Hadi. Bendera kuning sudah dipasang? Pak RT dan Pak RW sudah diberitahu? Keamanan kampung juga sudah tahu? Sewa tenda bagaimana? Bayar saja berapa mereka mau. Malu kalau tidak ada tenda. Kalau kursi belum ada, pinjam dulu dari Pak Guru Kusno. Katanya, ia punya banyak kursi lantaran punya usaha bimbingan belajar. Pak Haji Yunus sudah dikabari? Sesepuh kampung itu tidak boleh terlambat dikasih tahu. Pak Ustadz Tamami sudah diberitahu supaya ia memimpin shalat jenazah dan acara pemakaman. Nanti jangan lupa kasih amplopnya, begitu kata Pamannya itu yang sibuk ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Saudara-saudara dikabari. Kalau bisa ditelepon, segera dikasih tahu. Tanya bisa datang atau tidak? Kalau hanya bisa dikirimi sms, ya silakan. Suruh sebarkan berita ini ke seluruh keluarga besar di Jakarta, Bogor, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Kasih tahu pakde-pakde, bude-bude, paklik-paklik, dan bulik-bulik. Jangan sampai ada yg terlewat. Kalau ada yang tidak tahu, bisa-bisa kita semua kena damprat. Pesan itu terus terlontar dari Paman anak itu kepada beberapa sepupu Hadi yang telah dewasa. Merekalah yang mendapat tugas untuk mengurus segala sesuatu yang mengharuskan ke luar rumah. Semua hal yang ada di dalam rumah ditangani oleh Bibinya, istri Pamannya. Beberapa kardus air mineral dalam gelas telah disediakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kursi-kursi dari dalam rumah sudah semua dikeluarkan. Beberapa kursi pinjaman dari Pak Guru Kusno juga sudah didatangkan. Tikar dan karpet digelar di ruang tamu dan ruang tengah tempat jenazah almarhumah disemayamkan. Suasana hening. Cukup sunyi. Orang-orang bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali hanya terdengar suara meja atau kursi yang dipindahkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi masih duduk termenung di salah satu sudut halaman. Ia duduk menunduk ke bawah. Tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Tidak ada satu pun orang yang mendekatinya. Sepertinya semua orang sudah tahu dan sudah diberitahu agar membiarkan saja Hadi seperti itu. Biarkan saja anak 10 tahun itu menangisi nasibnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Bunda sudah meninggal? Apa yang bisa aku lakukan? Hadi terus bertanya dalam hati. Siapa yang mengurusku nanti. Pamanku memiliki banyak anak. Ia juga seorang hanya buruh pabrik. Istrinya hanya seorang babu cuci. Apakah aku harus ikut dengan mereka? Menambah beban hidup mereka? Hadi terus bertanya sendiri. Sesekali ia merutuk, seakan menyesali nasib.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebuah &lt;em&gt;pick up&lt;/em&gt; berhenti di depan rumah. Orang-orang menurunkan tenda yang ada di belakang mobil. Orang-orang dengan sigap memasang tenda. Tidak perlu banyak bicara, sesekali hanya terdengar perintah, mengkomando pemasangan tenda. Orang-orang ini tahu diri untuk tidak bersuara saat ada orang berduka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Tidak lama berselang, mobil berisi kursi-kursi juga datang. Pemuda dan orang tua, siapa saja, lelaki dewasa yang menjadi tetangga Hadi, dengan sigap menurunkan kursi dan menatanya agar orang-orang yang datang untuk melihat almarhumah terakhir kalinya bisa duduk dengan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi kecil masih duduk di pojok seorang diri. Tidak ada yang menegur. Sesekali orang menepuk bahunya dan mengatakan agar ia tabah. Hadi hanya tersenyum sinis. Tabah? Seandainya kalian semua mendapat musibah seperti ini, apakah kalian bisa sabar dan tabah menerimanya! Barangkali begitu batinnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Orang-orang terus berdatangan. Ada kerabat yang tinggal tidak jauh dari rumah Hadi. Ada juga beberapa pelanggan ibundanya. Mereka yang biasa menjahitkan baju, memesan kue, atau minta dicucikan bajunya, datang untuk melihat almarhumah. Sekaligus untuk mengasihani Hadi kecil yang terus meratapi nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Tetangga-tetangga dekat juga berdatangan. Mereka bergantian masuk ke dalam rumah. Mereka memasukkan amplop berisi sedikit uang dan kalau sempat menyatakan belasungkawa kepada Hadi yang duduk menyendiri di sudut halaman. Sedikit basa-basi. Secuil simpati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pamannya masih sibuk memberikan instruksi dan komando kepada anak-anaknya, sepupu Hadi yang lain, dan para pemuda kampung untuk menjaga keamanan sekitar. Motor pelayat tolong dijaga. Kalau ada yang membawa mobil, harus diberi perhatian ekstra. Kursi diatur lebih baik dan seterusnya. Begitu juga Bibi Rini yang selalu sigap menyediakan minuman kepada para pelayat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi masih termenung. Sekolahnya masih panjang. Masih ada bangku SMP dan SMU yang harus dilaluinya. Apa aku bisa kuliah? Hadi bertanya-tanya. Ia ingin sekali menjadi dokter atau insinyur. Ia ingin menjadi orang yg bisa membahagiakan ibunya. Ia ingin agar ibundanya tidak usah lagi bekerja. Tidak perlu lagi mencuci pakaian orang lain. Tidak usah lagi menjahitkan baju orang lain. Tidak usah lagi memasak untuk orang lain. Ia ingin semua itu dilakukan hanya untuk ia sendiri dan ibundanya. Kalau perlu, ada dua pembantu di rumah sehingga ibundanya tidak perlu lagi turun ke dapur. Bunda cukup tidur, makan, dan jalan-jalan saja. Hadi selalu bercita-cita seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Menjelang tidur, biasanya Hadi selalu bercerita seperti itu kepada bunda. Aku ingin kuliah, bunda. Aku ingin bunda berhenti bekerja. Itu yang selalu dikatakan Hadi kecil. Bunda hanya mengelus kepala Hadi dan mengatakan semua itu akan terwujud asal Hadi mau belajar, bekerja keras, dan berdoa. Kalau sudah begitu, Hadi akan tersenyum lebar. Bunda juga demikian. Tapi kadang-kadang Hadi bertanya, ia juga ingin hidup bahagia dan membahagiakan ayah. Tetapi, kenapa sampai sekarang ayah tidak juga datang? Kalau sudah seperti itu, tidak ada jawaban dari bunda. Hanya air mata yang berlinang. Sejak itu, Hadi tidak pernah lagi bertanya tentang ayah. Ayah pergi ke mana? Ayah ada di mana? Semua pertanyaan itu hanya disimpannya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dulu, bunda pernah bercerita kalau ayah pergi jauh. Harus bekerja di luar pulau. Ayah harus mencari uang sebanyak-banyaknya supaya Hadi bisa sekolah tinggi, membeli mainan yang bermacam-macam, membeli buku yang banyak. Tapi, bunda tidak mengatakan kapan ayah akan datang. Suatu saat ayah pasti akan datang, hanya jawaban itu yg ia dapatkan. Itu saja. Dan jawaban itulah yang selalu dilontarkan bunda. Kemudian, bunda hanya memperlihatkan sebuah photo dan mengatakan kalau ini adalah ayah Hadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Beberapa waktu lalu, Hadi pernah mendengar dari Pamannya, bahwa ayahnya sudah punya istri sebelum menikah dengan bunda. Hadi sudah memiliki ibu tiri dan tiga orang saudara tiri. Mungkin itu yang membuat ayah jarang menjenguk bunda dan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Para pelayat terus berdatangan. Hampir semua tidak dikenali Hadi. Beberapa kawan sekolah Hadi juga datang. Begitu juga dengan guru-gurunya dan kepala sekolah. Sedikit basa-basi mereka lontarkan, tetapi sepertinya tidak satu pun yang didengarkan Hadi. Ia sibuk melamun sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Cita-cita sekolah tinggi seakan terampas di depan mata. Hadi tidak membayangkan kalau semua yang diimpikannya akan sirna. Bagaimana dengan mimpiku, bunda? tanya Hadi. Kenapa bunda harus begitu cepat pergi? Kenapa bunda harus terkena penyakit ganas itu? Kenapa bunda tidak bisa disembuhkan? Kenapa? Kenapa........................ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Mentari sudah menjelang di atas kepala, tetapi almarhumah belum juga akan dimakamkan. Bisik-bisik para pelayat terdengar juga sampai telinga Hadi. Pemakaman almarhumah masih menunggu suaminya! Hadi terkesiap! Benarkah itu? Ayah akan datang!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pembicaraan seputar hal itu terdengar makin kencang, apalagi setelah beberapa sesepuh keluarga besar berdatangan. Seharusnya usai salat zhuhur, almarhumah sudah dimakamkan, kenyataannya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pamannya mendekati Hadi. Ia menanyakan apakah Hadi mau makan atau tidak. Santapan siang sudah disiapkan Bibinya. Hadi menggeleng. Ia kehilangan nafsu makan. Ia tidak ingin makan. Ia hanya ingin bunda bangun dari tidurnya, sehat kembali, dan menemaninya untuk bermain, belajar, berangkat sekolah, dan juga saat tidur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi beranjak dari duduknya. Ia menuju ruang tengah. Ia lewati begitu saja orang-orang yang duduk di ruang tamu dan ruang tengah. Ia tidak peduli. Orang-orang yang dilewati juga tidak ambil pusing.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Bunda terlihat begitu tenang dalam balutan kain putih. Tidur panjang dengan tenang. Tidak ada senyum, namun jelas, kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Hadi bersedih sekaligus gembira melihat semua itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi duduk bersimpuh di samping jenazah ibunya. Ia pandangi wajah perempuan yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Hadi tidak berani menyentuhnya. Ibundanya sudah suci dari noda, tidak baik untuk dikotori lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Suara-suara terdengar dari luar sana. Orang-orang berbisik, tapi terdengar juga ke telinga Hadi. Ayah Hadi sudah datang! Suami almarhumah sudah tiba.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi tidak beranjak. Ia diam saja. Ia tidak ingin bangun dan menyambut kedatangan ayahnya. Ia hanya ingin menemani ibundanya untuk terakhir kali. Menatap wajah teduhnya untuk terakhir kali. Biarkan saja ayah yang datang menghampirinya, bukan ia yang harus mendatangi ayahnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Sesosok lelaki datang dan berdiri tidak jauh dari Hadi. Ia datang bersama seorang perempuan. Hadi sempat menatapnya. Ia mengenali laki-laki itu. Wajah yang sama dengan raut muka yang ada di photo yang diberikan bunda. Inikah ayahku, tanya Hadi dalam hati. Inikah ibu tiriku?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Laki-laki itu duduk di samping Hadi dan mengelus kepalanya. Lantas ia berdiri lagi. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama. Hadi tidak bereaksi. Ia diam saja. Ia biarkan ayah dan ibu tirinya memandang ia dan ibundanya dalam sepi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hadi tidak beringsut dari duduknya, meski untuk sekedar menyapa ayah kandung dan ibu tirinya. Ia tetap bersimpuh di samping jenazah ibundanya. Lalu, ia membisikkan kata-kata ke dekat telinga ibunya. Entah apa yg dibisikkannya. Biarlah hanya ia dan bundanya yg tahu apa yang ia ucapkan. Tidak ada orang yang perlu tahu termasuk ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-2026863277296203023?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/2026863277296203023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/bunda-akhirnya-ayah-menjenguk-kita.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2026863277296203023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2026863277296203023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/bunda-akhirnya-ayah-menjenguk-kita.html' title='Bunda, Akhirnya Ayah Menjenguk Kita'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-7671183941230677927</id><published>2009-02-03T08:39:00.010+07:00</published><updated>2009-02-04T11:32:47.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Cerita Tentang Hujan</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;kepada: sahabat kecilku&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sore dua hari yg lalu, hujan turun. Begitu deras. Seperti biasa, aku sendirian di kamarku. Di depan layar komputer, menikmati secangkir &lt;em&gt;coffemix&lt;/em&gt; panas, buatanku. Aku teringat kepada seorang gadis kecil berusia enam tahun, Ana namanya. Putri seorang ibu muda berparas cantik. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan, beberapa meter di depan rumahku, dan hanya terhalang beberapa rumah. Di rumah itu tidak ada lelaki yang tinggal menetap. Sopir yang mengantar-jemput Ana datang pagi dan pulang sore. Ayahnya Ana tak pernah menampakkan batang hidungnya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku ingat, suatu siang di satu hari Minggu. Tidak seperti biasanya, sepanjang siang itu Ana tidak muncul di rumahku. Kata pembantunya, sejak pukul sepuluh pagi, Ana menghadiri pesta ulang tahun Sofia, teman sebangkunya. Dan sore harinya, di hari Minggu itu, barulah Ana muncul di rumahku, diantar pembantu rumah tangganya yang telaten dan setia. Seperti tidak sabar, Ana memintaku untuk bercerita tentang hujan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Om, mau kan bercerita tentang hujan sama Ana?!"&lt;/em&gt; tanyanya dikala itu. Aku masih ingat intonasinya yg khas, manja dan kolokan. Serta wajah imutnya yg reaktif, begitu menggemaskan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Memangnya ada apa dengan hujan?”&lt;/em&gt; tanyaku sambil memandangi hujan yang semakin deras. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepalanya. Lantas murid kelas satu sekolah dasar itu berpaling ke arah hujan. Dia mendengarkan nyanyian hujan di atap genting, daun, ranting, dahan, dan pepohonan. Rintik-rintik hujan itu bernada sendu. Suatu elegi, pikirku. Aku perhatikan wajah anak itu, sejak bertemu denganku selalu murung. Tatapan matanya begitu sayu. Seperti menyimpan sebuah beban. Anak perempuan yang sedang tumbuh itu sepertinya merindukan seseorang. Dan sepertinya dia sangat membutuhkan kasih sayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sering aku membayangkan, butiran-butiran hujan memiliki kaki kecil. Mereka selalu bersatu dan berbaris rapi. Hal itulah yg menjadikan mereka sangat kuat. Jutaan butiran hujan menyelinap di antara akar-akar pepohonan di hutan, meresap, kemudian menetap di perut bumi. Tabungan air itu akan sangat bermanfaat saat musim kemarau panjang. Kaki-kaki kecil hujan yang kuat itu tidak seperti kedua kaki Ana. Kaki gadis kecil itu tak bebas melangkah sesuai kemauannya. Ibunya selalu melarangnya meninggalkan rumah. Entah kenapa. Tetapi, setelah kurang lebih setahun bertetangga denganku, Ibunya pun mengizinkan Ana untuk bermain di rumahku pada hari libur. Alhasil, gadis kecil itu jadi sering menghabiskan waktu libur sekolahnya bersamaku. Dan dengan senang hati, aku pun menemaninya. Terkadang kami menghabiskan waktu di rumah dengan bertukar cerita, kadang aku mengajaknya jalan-jalan ke &lt;em&gt;mall.&lt;/em&gt; Bahkan pernah aku mengajaknya ber&lt;em&gt;liften&lt;/em&gt;, menikmati alam pegunungan di daerah pinggiran kotaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Jika agak lama tidak bertemu Ana, kurasa ada yang hilang. Gadis kecil berwajah bulat telur dan berkulit kuning itu tanpa kusadari telah menjadi bagian dari hidupku. Ada kebersamaan yg sepertinya telah menyatukan kami. Melihat senyum dan menyapanya seperti sudah menjadi sebuah keharusan bagiku setiap harinya. Di kantor, aku sering bercerita kepada teman-teman kerjaku tentang Ana. Lantas, teman-temanku terkekeh. Mereka &lt;em&gt;mesem-mesem&lt;/em&gt;. Mereka menduga, aku dan Ibunya Ana yg cantik dan pintar itu, memiliki hubungan khusus. Kubantah: Aku hanya bersahabat dengan Ana! Tidak dengan ibunya! Hanya sekali aku bertemu dengan Ibunya, yakni ketika datang untuk berkenalan, awal tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Jadi om nggak mau cerita tentang hujan sama Ana?”&lt;/em&gt; rengek Ana sekali lagi. Begitu manja.&lt;br /&gt;Aku tersenyum mendengar perkataannya, lalu dengan senang hati, kuceritakan ihwal terjadinya hujan: Mula-mula, sinar matahari memanaskan air sehingga berubah menjadi uap. Udara lembab yang hangat itu menjulang tinggi dan di atas menjadi dingin. Uap itu berubah menjadi butiran-butiran kecil air, yang dingin mengembun. Kemudian, terbentuklah gumpalan-gumpalan awan di langit. Titik-titik air di dalam awan itu menjadi semakin besar dan berat, lalu jatuh ke bumi sebagai hujan. Tiga perempat bagian hujan itu jatuh kembali ke lautan. Seperempatnya, jatuh di daratan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Ana bertanya lagi, masih dengan gayanya yg manja, &lt;em&gt;”Om, apakah hujan itu baik untuk semua makhluk hidup?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kujawab, tentu saja. Hujan baik bagi semua makhluk hidup. Manusia dan hewan memerlukan air untuk minum dan mandi. Air pun digunakan manusia untuk mencuci pakaian, mobil, motor, sepeda, dan keperluan lainnya. Air hujan akan menyuburkan tanah. Bila tanah subur, tumbuhan apa pun hidup subur, segar, berseri, dan berguna bagi sesama makhluk hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ana bertanya pula, jika baik bagi semua makhluk, mengapa hujan menyebabkan banjir dan tanah longsor? Banjir dan tanah longsor &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; menyebabkan manusia dan makhluk lainnya menderita, dan benda-benda pun banyak yg rusak, begitu katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Yakinlah, kataku, hujan tidak pernah jahat kepada makhluk hidup. Banjir dan tanah longsor bukanlah kesalahan hujan! Bila hutan-hutan menjadi gundul setelah ditebangi secara liar oleh manusia, pasti terjadi banjir dan tanah longsor. Banjir dan tanah longsor pun bisa terjadi bila gedung-gedung jangkung telah berdiri rapat di tanah-tanah kosong, di banyak tempat. Sampah-sampah yang mengotori selokan, danau, sungai, dan laut, pun merupakan penyebab banjir. Jadi, bencana banjir dan tanah longsor adalah murni kesalahan manusia, kataku tegas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Apa lagi cerita tentang hujan, Om?”&lt;/em&gt; tanya Ana lagi. Rasa ingin tahunya begitu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Suku &lt;em&gt;Indian Aztec&lt;/em&gt; di Amerika Tengah memuja dewa hujan bernama &lt;em&gt;Tlaloc&lt;/em&gt;, ceritaku. Suku-suku Indian di Amerika Utara melakukan tarian khusus agar para roh mengirim hujan ke negeri mereka untuk menyuburkan tanah pertanian. Apabila musim kemarau sangat panjang, umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat &lt;em&gt;Istighatsah&lt;/em&gt; berjamaah untuk memohon kepada Allah Swt, agar hujan turun ke bumi, sambungku. Umat agama yang lain pun berdoa, memohon agar hujan turun di musim kemarau, lanjutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Aku masih ingat, dalam sebuah kesempatan, gadis kecil yang berotak cerdas itu sempat bertanya kepadaku, &lt;em&gt;"mengapa Om sendirian saja di rumah?" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kujawab, &lt;em&gt;"Om kan belum punya istri!?" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Apa Om enggak merasa kesepian seperti Ana? Ana kan sering ditinggal Ibu sendirian di rumah Om?! Jadi Ana sering banget merasa kesepian,"&lt;/em&gt; lanjut gadis kecil itu dengan polosnya. Namun nadanya begitu pilu. Begitu menyayat hati. &lt;em&gt;"Apa Om nggak pernah merasa kesepian seperti Ana?"&lt;/em&gt; tanyanya lagi. Kali ini nadanya terdengar seperti keluhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Tentu saja sepi,"&lt;/em&gt; jawabku. &lt;em&gt;"Tapi, Om kan senang bikin cerita, membaca, bertualang, lari pagi seusai shalat Shubuh, memasak, jalan-jalan, dan nonton film bagus. Itu bisa jadi pengusir sepi."&lt;/em&gt; tambahku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Euh................., kalau gitu...?!"&lt;/em&gt; Bola matanya bergerak-gerak begitu reaktif&lt;em&gt;. "Ana juga mau jadi petualang seperti Om ah?! Biar Ana ga kesepian lagi."&lt;/em&gt; ucapnya terdengar begitu renyah. Begitu menggemaskan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;*** Satu senja di hari Minggu yg bergerimis. Aku dikejutkan suara perempuan mengucapkan salam di pintu gerbang. Di luar pagar berdiri Ibunya Ana. Dia mengembangkan payung berdaun lebar. Wajah perempuan itu sangat pucat. Matanya sembab dan biru. Aku buru-buru membuka gembok pintu pagar. Kupersilahkan dia masuk. Ibunya Ana memayungiku ketika aku menarik pintu gerbang. Serempak kami menuju ruang tamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ada sedikit oleh-oleh,"&lt;/em&gt; ucap Ibunya Ana sebelum duduk di sofa. Ia menyerahkan satu botol besar terbungkus kertas berkilap warna coklat. Isi botol itu minuman bervitamin untuk penyegar tubuh dari negeri Korea, yakni air ginseng dicampur madu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Terima kasih,"&lt;/em&gt; aku tersenyum setelah menyambut oleh-olehnya itu. Kupersilahkan dia duduk. Tak lupa, aku menanyakan &lt;em&gt;"mengapa Ana tidak diajak?" &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Wanita cantik itu terkejut setelah mendengar pertanyaanku. Dia menatapku dengan penuh curiga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Aku yakin, Ana ada di sini,”&lt;/em&gt; katanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku mengernyitkan dahi. Bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. &lt;em&gt;”Jadi, anakku tidak di sini?”&lt;/em&gt; nadanya sangat panik&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku semakin bingung dengan pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Wanita itu mengatakan, &lt;em&gt;"Ana pergi dari rumah, ketika saya sedang di kantor. Ana tidak mau diajak pindah ke Jakarta,"&lt;/em&gt; ceritanya.&lt;em&gt; "Dia takut kepada Ayahnya. Hati-hati kubilang kepada Ana sebelum tidur tadi malam, saya dan Ayahnya akan memperbaiki rumah tangga yang sempat retak. Ayahnya sudah meminta maaf. Dia menyesali semua perbuatan salahnya. Ayahnya telah bertobat kepada Tuhan. Dia berjanji akan menjadi suami yang baik bagi saya dan ayah yang penyayang bagi Ana. Saya sudah memikirkan hal ini selama sebulan, dan saya putuskan untuk memberinya lagi kesempatan. Ana yang selalu patuh kepadaku, kenapa tiba-tiba jadi pembangkang seperti ini,"&lt;/em&gt; lanjutnya sambil menyeka air mata.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ana masih sangat takut kepada Ayahnya,"&lt;/em&gt; kata Ibunya Ana lagi. &lt;em&gt;"Dia selalu ingat, saat akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5, dulu. Ayahnya tidak memberikan hadiah ulang tahun seperti biasanya, tetapi malah marah-marah dengan suara yg kasar."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sejurus kemudian wanita cantik itu pamit, tapi terus menangis. Sekujur tubuhnya gemetar. Dia sangat panik. Dia khawatir, gadis kecilnya telah diculik orang jahat. Rasa waswas pun menyelinap dalam hatiku. Aku pun sangat khawatir.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Malamnya, seiring rintik-rintik gerimis, kudengar orang mengucapkan salam di luar pagar. Segera kuraih payung. Pintu kubuka. Di luar pagar tampak olehku seorang lelaki dewasa dan dua gadis kecil. Buru-buru aku membuka gembok pintu gerbang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Ana?!”&lt;/em&gt; teriakku ketika melihat gadis kecil itu bersama anak perempuan sebayanya di bawah payung lebar. Payung itu dipegang lelaki dewasa. Ana mengenalkan Sofia,-- teman sebangkunya --, dan ayah temannya itu, Pak Arif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Di ruang tamu, Ana bercerita. Tadi siang dia ke rumah Sofia seusai les piano, tanpa diantar sopir. Pak Sopir sedang sakit. Tadinya dia akan langsung pulang, tapi Ibu Sofia melarang Ana pulang sendirian. Dan sepulang dari kantor, seusai shalat Isya, Pak Arif dan Sofia mengantar Ana ke rumahku atas permintaan anak itu. Dia takut dimarahi ibunya. Setelah Pak Arif dan Sofia pamit, kuajak Ana makan sup telur puyuh hangat, buatanku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Satu jam lebih aku membujuk Ana agar mau pulang ke rumahnya. Kuceritakan tentang kedatangan Ibunya ke rumahku. &lt;em&gt;"Ibumu sangat panik dan sedih,"&lt;/em&gt; kataku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Tapi, Ana nggak mau ikut Ibu ke Jakarta!”&lt;/em&gt; Ana berteriak. Memprotes. &lt;em&gt;”Ana takut sama Ayah. Ana mau disini saja sama Om," &lt;/em&gt;lanjutnya sambil memelukku erat-erat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Cerita Ibunya Ana tadi tentang penyesalan suaminya kuulangi. Lelaki itu akan menyayangi Ana. Dia pun berjanji akan menjadi suami yang baik bagi Ibunya. Lalu, kubujuk Ana agar segera pulang. &lt;em&gt;"Ibumu sangat takut kehilangan kamu," &lt;/em&gt;bisikku lembut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Setelah lama terdiam, perlahan muncul senyum samar-samar di wajah cantiknya. &lt;em&gt;"Om mau mengantarkan Ana pulang?"&lt;/em&gt; Dia bertanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku mengangguk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Kalau Ibu marah, bagaimana Om?"&lt;/em&gt; Ana bertanya lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Ana harus berkata jujur kepada Ibu,"&lt;/em&gt; jawabku. &lt;em&gt;"Kalau Ana merasa punya salah sama Ibu, Ana harus minta maaf. Om yakin, Ibu tidak akan marah,"&lt;/em&gt; lanjutku. Kudengar petir menggelegar di luar. Hujan semakin deras. Angin bertambah kencang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pukul delapan malam, kuantar Ana ke rumahnya. Begitu melihat anaknya datang, Ibunya menangis, memeluk, dan menciumi anaknya. Aku memendangi pemandangan itu dengan takjubnya. Dengan haru. Aku jadi teringat kepada ibuku. Dulu, saat aku pulang dari perjalanan panjangku, ibuku pun melakukan hal yg serupa. Ya, seorang ibu adalah tugu kasih sejati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku pun pamit. Ketika aku berjalan meninggalkan mereka, Ana berlari ke arahku sambil berteriak, "Om!!!" Dia menangis sambil merangkulku. Aku tak mampu menahan keharuan. Aku ikut terisak. Lalu aku berjongkok, kuseka airmata yg mulai berjatuhan di pipinya. Kubelai rambut lurusnya dan kuyakinkan dia bahwa Ayahnya sangat merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;”Kalau Ana ikut Ibu ke Jakarta, siapa yg nanti menemani Om?”&lt;/em&gt; gadis kecil itu bertanya dengan lugu sambil menatapku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt; "Ana nggak mau berpisah sama Om?!"&lt;/em&gt; gadis itu masih tetap terisak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Aku pun menatapnya masih dengan keharuan. Air mata semakin menganak sungai di pipiku, &lt;em&gt;”Euh,.... di kantor, ada teman-teman Om. Nanti mereka yg akan menemani Om,”&lt;/em&gt; jawabku gugup dengan isak yg tertahan. &lt;em&gt;"Dan om janji, kalau om kangen sama Ana, Om akan main ke rumah Ana di Jakarta."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;"Om janji?"&lt;/em&gt; gadis kecil itu merengek manja. Meyakinkan aku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku mengangguk. Kemudian gadis kecil itu menyapukan tangannya di pipiku. Menyeka air mata yg sudah tak bisa lagi kutahan. Lalu aku memeluknya. Gadis kecil itu pun tenggelam dalam pelukku dan semakin merapatkan peluknya. Begitu erat. Seperti tidak rela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;*** Minggu dua hari yg lalu, hujan pun turun. Begitu deras. Seperti biasa, aku sendirian di kamarku. Sedari tadi aku memandangi rumah sewaan di seberang sana lewat jendela kaca kamarku. Kosong dan sepi. Aku terkenang kepada gadis kecil dengan wajah imutnya yg menggemaskan. Sudah lama dia bersama orangtuanya di Jakarta. Dan selama itu pulalah aku belum sempat menunaikan janjiku untuk mengunjunginya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sedang apa dia di sana sekarang ini? Apakah di sana, di tempatnya, hujan juga turun dengan begitu derasnya? Lalu siapa yg menemaninya dalam dingin dan kesendiriannya? Adakah orang yg mau bercerita untuknya? Dan, adakah orang yg dengan sabar dan telaten menjawab semua keingintahuannya? Ingin rasanya aku berada di sampingnya lagi. Menemani dan menghiburnya. Membuatnya tertawa kegirangan. Dan melihat Ana menyunggingkan senyum polos di wajahnya. Dan bercerita lagi kepadanya tentang hujan. Ya, a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;ku merindukannya. Sangat merindukan gadis kecil itu. Kuharap, bila gadis kecil itu meminta cerita tentang hujan, ayah dan ibunya bisa memenuhi keinginannya dengan senang hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-7671183941230677927?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/7671183941230677927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/cerita-tentang-hujan.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7671183941230677927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7671183941230677927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/02/cerita-tentang-hujan.html' title='Cerita Tentang Hujan'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-7766839188971516284</id><published>2009-01-31T11:02:00.005+07:00</published><updated>2009-01-31T11:31:50.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Ada Alquran, Salah Ayat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SYPO1riKMBI/AAAAAAAAAPM/r2MOuaY4kII/s1600-h/pq.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297305008332222482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 208px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SYPO1riKMBI/AAAAAAAAAPM/r2MOuaY4kII/s320/pq.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;MOHON perhatian. Akhir-akhir ini beredar Alquran, tapi di dalamnya terdapat ayat-ayat yang salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Identitas Alquran itu seperti yang terpampang dalam ilustrasi tulisan ini, lebar 24,7 x 17,5 cm dan tebal 7 cm, 1.485 halaman. Pada kulit muka tertulis "PENA QUR'AN, AL-QUR'AN TAJWID TERJEMAH DAN TRANSLITERASI LATIN" (selanjutnya disebut Pena Qur'an). Pena Qur'an ini diterbitkan PT Pena Pundi Aksara, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada 2007.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kesalahan Pena Qur'an terletak pada Surat Al-Qashash, surat ke-28 ayat 42 dan 43, juz 20, yang tercetak pada halaman 891. Ayat 42-43, Al-Qashash bukan seperti itu bunyinya. Ayat 42-43 Al-Qashash yang benar berbunyi, "Wa atba'naahum fii haadzihid dun-yaa la'nataw wa yaumal qiyaamati hum minal maqbuuhiin (42).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Wa la qad aatainaa muusal kitaaba mim ba'di maa ahlaknal quruunal uulaa bashaa-ira lin naasi wa hudaw wa rahmatal la'allahum yatadzakkaruun (43).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Selidik punya selidik, ternyata ayat 42-43 Al-Qashash dalam Pena Qur'an berasal dari ayat 42-43 Surat An-Naml. Jadi tampaknya, penerbit salah pasang ayat. Ayat 42-43 An-Naml dipasang sebagai ayat 42-43 Surat Al-Qashash. Untunglah, ayat 42-43 An-Naml pada Pena Qu'an halaman 867, tidak salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Kesalahan ini adalah kesalahan manusiawi, walaupun Ladjnah Pentash-hih Mushhaf Alquran sudah mengeluarkan tanda tash-hih pada 4 Juni 2007 di Jakarta. Pihak penerbit pun sudah siap-siap menghadapi kalau-kalau terjadi kesalahan dengan menulis pengumuman pada halaman awal Pena Qur'an yang berbunyi&lt;em&gt;:"PERHATIAN, bila Anda menemukan kesalahan cetak dan susunan dalam mushaf Alquran ini, mohon segera mengembalikannya ke toko tempat Anda membelinya atau menukarnya langsung ke PT PENA PUNDI AKSARA".&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Jadi bagi pembaca yang telanjur membeli, dapat mengembalikannya ke toko tempat pembaca membeli atau langsung ke penerbitnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Agar kesalahan Alquran tidak terus meluas, maka melalui tulisan ini, dianjurkan kepada PT Pena Pundi Aksara untuk segera menarik Pena Qur'an dari peredaran, kemudian memperbaiki kesalahan yang ada, setelah itu bisa diedarkan kembali. Namun sangat disarankan, sebelum Pena Qur'an perbaikan itu diedarkan lagi, sebaiknya di-tash-hih sekali lagi supaya mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pabrik mobil yang mesinnya dianggap tidak memenuhi standar saja menarik produknya dari pasar demi keamanan pemakainya. Pabrik makanan yang produknya mengandung melamin saja menarik produknya dari pasar agar tidak membahayakan konsumennya. Apalagi Alquran yang salah menuliskan ayatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;sebuah tulisan dari: M. RIDLO 'EISY&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;disadur dari: klik-galamedia.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-7766839188971516284?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/7766839188971516284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/ada-alquran-salah-ayat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7766839188971516284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/7766839188971516284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/ada-alquran-salah-ayat.html' title='Ada Alquran, Salah Ayat'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SYPO1riKMBI/AAAAAAAAAPM/r2MOuaY4kII/s72-c/pq.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-1019633837866060551</id><published>2009-01-28T09:57:00.000+07:00</published><updated>2009-01-28T12:49:39.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Hanya Intermezzo</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tadi pagi aku buka websitenya Rumah Dunia, ada kabar gembira bagi para penggemar Balada Si Roy, cerita ini akan difilmkan. Dan kabarnya, sekarang ini sedang dalam proses negosiasi dengan salah satu &lt;em&gt;production house&lt;/em&gt;. Balada Si Roy merupakan sebuah karya fenomenal Gola Gong, penggagas Rumah Dunia. Awalnya, novel ini disajikan dalam bentuk cerita bersambung, dan dimuat secara berseri di majalah &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;strong&gt;Hai&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt; sekitar akhir tahun 80an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Balada Si Roy adalah salah satu karya emas Gola Gong, dan pada masanya dianggap sebagai simbol pembebasan remaja. Novel ini dimulai dengan tokoh bernama Roy, seorang remaja yang sedang menikmati keremajaannya. Dalam teori psikologi, masa remaja adalah masa dimulainya tindakan-tindakan yang mencemaskan yg identik dengan sikap memberontak, pencarian jati diri, berkelompok dengan teman sebaya yg senasib, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dalam novel ini, kentara sekali bagaimana seorang "Roy" berusaha untuk memperlihatkan eksistensinya sebagai seorang remaja yang penuh vitalitas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perubahan yang paling sensitif selain perubahan di atas adalah fase di mana seorang remaja sudah mulai mengalami rasa suka terhadap lawan jenis &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;(fase genetikal)&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;. Pada fase ini, proses perkembangan &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;psikoseksual &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;mencapai “titik akhir”. Organ-organ seksual mulai aktif sejalan dengan mulai berfungsinya hormon-hormon seksual, sehingga pada tahapan ini terjadi perubahan fisik dan psikis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;"Roy" tentu saja mengalami hal ini. Dari kehidupan yang dijalaninya, beberapa gadis cantik memang menjadi hiburan, --katakanlah demikian --, yang sangat menarik baginya. Pertemuan-pertemuannya dengan gadis cantik pulalah yang membuatnya menjadi galau terhadap keadaan. Namun gadis-gadis cantik yang sering hinggap dalam jiwanya itu, tak bisa menggantikan Joe,--anjing herder pemberian ayahnya sebelum meninggal dalam pendakiannya--, sahabat sejatinya yang mati dibunuh sekelompok geng di sekolahnya. Untuk menghilangkan semua kegalauan itu, akhirnya ia memutuskan diri menjadi seorang pengembara. Seorang petualang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Firman Venayaksa, presiden Rumah Dunia, menulis dalam situs tersebut, &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;"Novel&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt; “Balada Si Roy” &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;ini sangat ringan karena memang diperuntukan bagi remaja. Gola Gong tidak terlalu banyak memakai unsur-unsur metafor, malah sebaliknya, ia memakai gaya tutur khas remaja. Tulisan yang sangat realis ini justru menjadikan novel ini bisa diterima dikalangan remaja. Roy adalah simbol, mewakili generasi yang ingin terbebaskan dari unsur-unsur yang membelenggu jiwa remaja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ada sebagian orang yang mengkategorikan “Balada Si Roy” sebagai “GENERASI JAGUAR”. Saat itu, 1989 awal, &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;strong&gt;Hai&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt; sedang gencar memposisikan dirinya sebagai majalah remaja pria jantan. Jaguar adalah spisies yg diperkirakan mewakili sosok pria yang jantan. Banyak respon dari pembaca tentang tokoh "Roy" yg bisa kita temui dalam rubrik surat pembaca majal&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;ah tersebut yg mengatakan seperti itu. Bagi pembaca wanita, Roy adalah sosok lelaki impian. Dimana mereka merasa nyaman dan bisa aman bersama Roy. Sedangkan bagi pembaca laki-laki, Roy adalah perwakilan dari mereka yg gelisah, anti kemapanan, pemberontak, petualang, memposisikan cinta bukan sebagai jangkar, serta mencintai alam. Jika berkelahi, Roy anti main keroyok.&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gola Gong pernah menulis dalam situsnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt; "Saya pernah teringat, ketika bertemu komedian Edwin asal Aceh. ”Roy memotivasi saya yang orang kampung, untuk pergi menaklukan Jakarta,” begitu kata Edwin. Beberapa pembaca juga banyak yang merespon seperti itu. Dengan kekampungan yang dimiliki Roy, justru itu membuat hidup lebih tahan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pada era 80-an, memang terdapat beberapa tokoh rekaan yg menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;semacam&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt; trendsetter&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt; anak muda saat itu. Ada “Boy” di &lt;strong&gt;“Catatan Si Boy”&lt;/strong&gt;, rekaan &lt;em&gt;Zara Zetira ZR &lt;/em&gt;yang diudarakan radio Prambors. tokoh ini sangat memikat remaja Indonesia. Wajah setampan Ongky Alexander dengan sedan mewah, seorang play boy tapi rajin sholat dengan simbol tasbih menggantung di spion tengah mobilnya. Boy adalah profil remaja metropolitan yang gandrung budaya Barat.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-424" style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tokoh lainnya adalah tokoh ciptaan&lt;em&gt; Hilman Hariwijaya&lt;/em&gt;, si cuek “Lupus" dengan model rambut John “Duran Duran” Taylor dan permen karet, juga jadi idola remaja urban di Jakarta. Lupus sebetulnya orang kampung, tapi dia “terlindas" modernisasi dan berusaha bertahan dikejamnya kota besar dengan menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt; freelance.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sedangkan "Roy" adalah profil seorang remaja kampung. Baginya, kampung adalah rumah-rumah budaya dan tradisi, yang harus dikenali dan diakrabi. Bagi "Roy", kampung adalah spirit hidupnya. Karena di dalamnya ada kebersamaan saling berbagi, ada kejujuran yang alami. Semua tentang "Roy" adalah urusan kampung; mulai dari kebiasaan, alat transportasi seperti sepeda, serta makanan khas yang disantapnya seperti nasi uduk, nasi sumsum, bandrek, dan kelapa degan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kalau "Boy" dan "Lupus" mengambil latar tempat Jakarta sebagai arena pergulatan, "Roy" dalam novel serial "Balada Si Roy" justru berada di sebuah "kampung" bernama Serang dengan cap &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;santet&lt;/span&gt;, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;pelet&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;debus.&lt;/span&gt; Di kotanya saat itu, "Roy" harus jungkir balik mengakses informasi seperti toko buku yang minim, tidak ada gedung kesenian, dan mencoba menghancurkan mitos seperti &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;santet&lt;/span&gt; dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;debus&lt;/span&gt;. Bagi "Roy", modernisasi bukanlah sesuatu yang harus disimbolkan lewat budaya belanja, mengikuti trend pakaian, musik, atau film. Baginya modernisasi tercermin lewat cara berpikir. Baginya,"Jakarta" bukanlah hegemoni yang harus dijadikan berhala, tapi cukup sebagai informasi saja. "Jakarta" baginya bukanlah tujuan hidup, tapi sebagai sarana menuju tujuan sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lihatlah apa yang dilakukan "Roy kemudian". Dia menyandang ransel, menyusuri kampung-kampung di seluruh pelosok Nusantara. &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;Berliften&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt; dengan menumpang berbagai macam jenis kendaraan, bahkan kadangkala tanpa membayar. Perhatikan bagaimana "Roy" menyikapi perubahan sebagai bagian dari proses hidup. Bagaimana dia berada di dalamnya, menjadi pemain dari proses perubahan itu, bukan sekedar penonton dan pengekor. Menjadi pengekor bukanlah suatu hal yg buruk. Tapi, mengambil posisi dalam sebuah perubahan sangatlah penting. Menjadi pelaku, itulah justru pelopor. "Bagi Roy", itulah hidup sesungguhnya, menjadi pionir. Kampung, bagi "Roy" adalah jantung hatinya. Dari kampunglah, "Roy" merasa harus memulai hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ransel, petualangan, debu jalanan, truk, kereta api, drag race, tawuran antar geng sekolah, cewek, rokok, cimeng, kereta api, truk, jeans belel, rambut gondrong, senyum nakal khas remaja cowok saat melihat cewek cantik, cinta sejati anak sekolahan, romance, ideologi fighting spirit, solidaritas antar teman, semangat berbagi, cinta lingkungan, sayang ibunda…........ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Barangkali, semua hal di atas bisa sedikit merangsang imajinasi kalian yg belum pernah membaca novel serial "Balada Si Roy" untuk sedikit membayangkan, akan seperti apa nantinya film tersebut bila memang jadi difilmkan. Sedangkan bagi kalian, para penggemar "Balada Si Roy", saya yakin, kalian semua memiliki film versi masing-masing dalam imajinasi kalian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dan ada sebuah pernyataan yg bagi saya sangat menarik, yg ditulis Gola Gong, dalam artikel tersebut, &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;"Pertanyaannya, kenapa saya ngotot Balada Si Roy ingin difilmkan? Saya ingin menularkan spirit ke generasi muda di negeri ini, yang sudah loyo, banci, dan cengeng! Industri TV dalam keadaan darurat! Mereka terus mempropagandakan lelaki Indonesia itu banci seperti Olga (Syahputra; pen), Ruben (Onsu; pen), Ivan Gunawan, Indra Bekti…...................."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0); FONT-STYLE: italicfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-1019633837866060551?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/1019633837866060551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/hanya-intermezzo.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1019633837866060551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1019633837866060551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/hanya-intermezzo.html' title='Hanya Intermezzo'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-3298241814927164704</id><published>2009-01-27T10:08:00.007+07:00</published><updated>2009-01-28T09:21:50.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Kemarin Sore</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SX57sINuLpI/AAAAAAAAAO8/53GB0aE15zQ/s1600-h/gm1.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295806209883778706" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 308px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SX57sINuLpI/AAAAAAAAAO8/53GB0aE15zQ/s400/gm1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kemarin sore terjadi gerhana matahari. Salah satu tanda kebesaran Allah,-- &lt;em&gt;Al-Khaliq&lt;/em&gt; --, diantara sekian banyak tanda-tanda kebesaran-Nya yg rasanya tak mungkin untuk kita hitung. Dia mampu berbuat sesuai kehendak-Nya, dengan ataupun tanpa keridhaan makhluq-Nya. Tidak ada sesuatu pun yg mampu mencegah-Nya. Kalaulah semua makhluq berkumpul di sebuah tempat untuk mewujudkan sebuah perkara, namun Allah tidak mengizinkan perkara tersebut untuk terwujud, maka pasti dan pasti perkara tersebut tidak akan pernah terwujud. Namun sebaliknya, andaikata semua makhluq berkumpul untuk menyelisihi kehendak-Nya, maka pasti dan pasti kehendak tersebut akan tetap terwujud.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, selepas 'ashar berjama'ah, aku,-- dengan kemurahan-Nya --, berkesempatan melaksanakan salah satu perintah-Nya sebagaimana telah dicontohkan Baginda Nabi saw apabila terjadi gerhana, matahari ataupun bulan, yakni shalat. Dalam istilahnya dikenal dengan &lt;em&gt;shalat kusuf&lt;/em&gt; untuk gerhana matahari dan &lt;em&gt;shalat khusuf&lt;/em&gt; untuk gerhana bulan. Terdapat sedikit perbedaan dalam tata cara shalat gerhana ini, yakni dua kali ruku' dalam setiap rakaat. Sehingga, dalam satu raka'at kita membaca dua fatihah dan dua surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan memang membaca surat-surat panjang dalam Al-Qur'an, semacam Al-Baqarah, Ali 'Imran, Al-Maidah, dan surat-surat lainnya yg termasuk ke dalam &lt;em&gt;sab'ut tiwal&lt;/em&gt;. Namun dengan pertimbangan yg bijak, imam shalat kami membaca surat-surat yg jauh lebih pendek yg berhubungan dengan hari kiamat dan kedahsyatannya. An-Naba' selepas fatihah pertama, At-Takwir selepas fatihah kedua, Al-Infithar selepas fatihah ketiga, dan Al-Insyiqaq selepas fatihah terakhir. Caranya dalam membaca surat-surat tersebut benar-benar membuatku merinding. Terbayang bagaimana dahsyatnya hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya, dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada adzab.Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah"."&lt;/em&gt; (An-Naba' QS: 78:17-40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, bulu kudukku berdiri, aku benar-benar merinding membayangkan suasana hari kiamat yg digambarkan dengan sangat jelas dalam ayat-ayat tersebut. Namun belum ada air mata yg menetes. Selepas fatihah kedua, Imam pun membaca ayat-demi ayat dari surat At-Takwir dengan suara yg lebih menghentak. Dan di sini, aku benar-benar mengeluarkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya."&lt;/em&gt; (At-Takwir QS; 81:1-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satu air mataku terus menetes sepanjang shalat. Aku berpikir bagaimana aku mempertanggungjawabkan setiap keburukan yg telah aku buat. Selepas shalat, Imam pun ber&lt;em&gt;khutbah&lt;/em&gt;. Dalam &lt;em&gt;muqaddimah&lt;/em&gt;nya beliau membacakan beberapa penggal ayat dari surat Al-Qiyamah. Dan aku masih sangat ingat, dengan sangat jelas malah, ayat-ayat yg beliau bacakan. Dan ayat-ayat tersebut semakin membuatku tertunduk. Aku menangis sejadi-jadinya, meski tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ia bertanya: "Bilakah hari kiamat itu?" Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: "Ke mana tempat lari?" Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali."&lt;/em&gt; (Al-Qiyamah QS; 75:6-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berpikir, merisaukan nasibku kelak. Bagimanakah keadaanku saat itu. Saat catatan amal dibagikan, dari arah manakah aku akan menerimanya. Saat semua manusia dalam keadaan telanjang, tapi mereka tidak peduli karena kesibukan mereka memikirkan nasib mereka masing-masing. Hari dimana seorang bapak tak mampu menolong anaknya dan seorang anak tidak mampu pula menolong bapaknya. Hari dimana sahabat-sahabat karib saling bermusuhan. Hari dimana semua yg Dia berikan akan dihisab. Diperhitungkan untuk dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-3298241814927164704?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/3298241814927164704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/kemarin-sore.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3298241814927164704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3298241814927164704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/kemarin-sore.html' title='Kemarin Sore'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/SX57sINuLpI/AAAAAAAAAO8/53GB0aE15zQ/s72-c/gm1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-5975664994016061757</id><published>2009-01-20T07:24:00.008+07:00</published><updated>2010-02-26T21:34:14.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Rendezvouz</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pernahkah kalian bangun di pagi hari, dan saat itu kalian tidak tahu apa yg mesti kalian lakukan? Ya, kalian bangun dengan kebingungan yg membuncah di kepala kalian. Layaknya orang linglung. Euh, mungkin aku salah memberikan gambaran dan argumen. Ok, aku ralat. Bukan bingung, tapi jenuh dengan semua rutinitas yg ada. Ya, sebuah kejenuhan yg memuncak. Itulah penyebabnya. Dan efek yg kalian dapatkan adalah kebingungan yg luar biasa, barangkali demikian, walaupun aku terkesan berlebih-lebihan dalam memilih kosa kata tersebut. Namun hal itu memang semacam sebuah keharusan yg pasti terjadi. Sebuah konsekuensi. Ketika kejenuhan datang menghampiri kalian, rasa itulah yg akan menyertainya. Dan parahnya lagi, kalian tidak tahu mesti berbuat apa untuk menghilangkan kejenuhan itu. Aku yakin setiap orang pernah merasakan hal tersebut. Termasuk kalian. Dan aku tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Seperti pagi ini, saat aku bangun dari tidurku, aku tak tahu apa yg mesti aku lakukan. Pikiranku menerawang, jauh. Aku tak yakin pikiranku ada di sini. Entah ada di mana. Aku bingung dengan diriku sendiri. Bingung dengan keinginan-keinginan yg ada dalam pikiranku. Keinginan-keinginan yg tak lazim bagi kebanyakan orang. Keinginan yg sangat rumit, &lt;em&gt;njelimet&lt;/em&gt;. Yg terkadang,-- sering malah--, aku sendiri tidak yakin dengan keinginan tersebut. Aku tak tahu persis apa yg kuinginkan. Malah sangat sering kutanya diriku sendiri, apa yg sebenarnya yg kuinginkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aneh bukan? Jadi sebenarnya, aku tak tahu apa yg mesti aku ceritakan pada kalian. Padahal saat ini aku sangat ingin bercerita, berbagi tepatnya. Ya, aku sedang ingin berbagi beban dengan kalian. Bercerita tentang sesuatu yg senantiasa mengganjal perasaanku. Sesuatu yg sebenarnya bukan kali pertama aku alami. Rasanya, sudah sering aku mengalami hal serupa ini. Sejak masa remaja dulu. Tapi aku tidak yakin, apakah kalian masih mau mendengar ceritaku? Aku takut kalian bosan. Karena barangkali, kalian mengira cerita yg akan aku ceritakan ini tidaklah jauh berbeda dengan cerita-ceritaku yg lain, yg pernah aku ceritakan pada kalian tempo hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sebentar, ada sms masuk ke dalam ponselku. Heuh........., lucu juga?! Kenapa aku jadi berpikir seperti ini? Kini aku berpikir untuk menceritakan pengalamanku baru-baru ini, yg ada hubungannya dengan sms yg barusan masuk. Ya, mungkin lebih baik kalian mendengar cerita ini saja. Sekalian, aku ingin tahu pendapat kalian tentang hal ini. Dan bila kalian bersedia berilah aku saran. Daripada kalian mendengar tentang deretan keinginanku yg tak jelas ujung pangkalnya, lebih baik aku bercerita tentang orang ini saja. Orang yg belakangan ini sering mengirimiku sms. Seorang perempuan tepatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;em&gt;"Pagi. Sorry, aku cuman mau mastiin aja koq, kalo pagi ini kamu sehat. Iya kan?"&lt;/em&gt; begitu isi sms-nya. Sebenarnya aku malu harus bercerita hal seperti ini pada kalian, tapi sudahlah, pagi ini aku akan mengesampingkan rasa malu itu. Karena hal ini benar-benar membuatku bingung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Pertama sekali, berilah aku saran, bagaimana aku harus membalas sms ini? Apa yg harus aku katakan padanya? Kalian kan tahu, aku sangatlah tidak ahli dalam hal ini. Apa aku harus menulis, &lt;em&gt;"Ya, alhamdulillah aku sehat. Kamu sendiri bagaimana?"&lt;/em&gt;, atau bagaimana? Apa yg harus aku tulis sebagai balasan sms ini? Ayolah, aku yakin kalian lebih ahli dalam hal ini. Atau mungkin kalian masih bingung, karena kalian belum tahu permulaan cerita ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;*** Begini. Beberapa minggu yg lalu, sepulangnya dari kantor aku tidak langsung ke rumah. Aku,-- &lt;em&gt;entah untuk kali yg ke berapa&lt;/em&gt;--, nongkrong di DS. Begitu kami biasa menyebutnya. Itu singkatan dari Dewi Sartika, nama sebuah jalan yg ada di kawasan pusat kota Bandung, di sebelah selatan alun-alun, di sekitaran Kebon Kalapa (dulu terminal), yg diambil dari nama seorang pahlawan perempuan. Di sana, dengan kawan-kawan lamaku,-- &lt;em&gt;para penjual kaset bekas yg sudah sejak lama berjualan di situ&lt;/em&gt;--, aku berbincang tentang banyak hal. Dari hal yg tidak penting sampai hal yg sangat penting. Di depan sebuah wartel, dimana para supir angkot sering &lt;em&gt;ngetem&lt;/em&gt; untuk mencari penumpang ataupun melepas lelah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dulu, tempat itu adalah tempat favoritku untuk nongkrong, sekarang pun masih. Bila tidak sedang bertualang dan bepergian, aku sering menghabiskan waktuku di sana. Dan sore itu pun begitu, aku menghabiskan waktu berjam-jam disana, sampai larut malam. Saat kulihat jam tanganku, masih jam setengah sembilan. Aku putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, karena sudah lama aku tidak berjalan keliling kota. Itu salah satu kebiasaanku dulu. Rasanya, malam itu aku ingin mengulanginya. Menikmati malam dengan keragaman suasananya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Singkat cerita, setelah cukup lama berjalan, aku sudah berada di persimpangan jalan Otista. Dekat pasar baru. Banyak para penjaja kenikmatan sesaat yg mangkal di situ. Para kupu-kupu malam, itu istilah yg dipakai &lt;em&gt;Slank&lt;/em&gt; dalam salah satu lagunya. Dan Bang Iwan Fals memakai istilah &lt;em&gt;lonte&lt;/em&gt; untuk menyebut mereka. Entah kenapa aku tertarik untuk memperhatikan mereka? Padahal dari tadi, sejak dari persimpangan jalan ABC sampai jalan Suniaraja, aku pun banyak melihat para perempuan malam lainnya. Begitu banyak malahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lantas aku duduk seenaknya di trotoar, di seberang jalan tempat para perempuan malam itu mangkal. Sambil menikmati kopi kental dalam &lt;em&gt;cup&lt;/em&gt; yg tadi aku beli di sebuah &lt;em&gt;waralaba&lt;/em&gt; terkenal, kuperhatikan gerak gerik mereka. Setiap ada kendaraan, terutama mobil mewah, mereka melambaikan tangannya. Dan beberapa kendaraan memang menepi dan berhenti. Si perempuan menghampiri mobil, dan pengendara menurunkan kaca mobilnya. Lalu terjadi sebuah pembicaraan, tawar menawar harga barangkali. Sebuah transaksi. Dan akhirnya, setelah terjadi kesepakatan harga, mobil-mobil mewah itu membawa perempuan-perempuan malam tersebut. Selanjutnya, mungkin mereka &lt;em&gt;check-in&lt;/em&gt; di sebuah hotel. Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Namun malam itu, tanpa sadar aku memperhatikan seorang perempuan dengan &lt;em&gt;hot pants&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;tank top&lt;/em&gt; putih, dia sepertinya malas &lt;em&gt;"bekerja"&lt;/em&gt; malam itu&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Tidak seperti perempuan lainnya yg sangat lincah melambai-lambaikan tangannya kepada para pengemudi mobil ataupun motor yg melintas di situ. Dari tadi dia diam saja, duduk di atas becak yg &lt;em&gt;ngetem&lt;/em&gt; tidak jauh dari tempat para perempuan malam itu mangkal. Barangkali sadar dirinya dari tadi aku perhatikan, perempuan itu beringsut turun dari becak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dan, &lt;em&gt;owh&lt;/em&gt;, sepertinya dia akan menyebrang. Ya, benar, dia menyebrang. Dan, kenapa dia terus melihat ke arahku? Mau ke mana dia sebenarnya? Sepertinya dia berjalan ke arah tempat aku duduk. &lt;em&gt;Oh My God?!&lt;/em&gt; Ternyata perempuan itu mendekatiku. Jujur, aku &lt;em&gt;deg-degan&lt;/em&gt;. Aku &lt;em&gt;nervous.&lt;/em&gt; Entah kenapa? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Lagi ngapain Mas?" tanya perempuan itu setelah berdiri di sampingku. Daya tarik perempuan itu sangat kuat. Aku sempat merinding juga. Wajah cantik dan tubuhnya seksinya yg hanya dia bungkus dengan pakaian minim seperti itu pasti akan menggoda setiap lelaki yg melihatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Lagi nuggguin Mbak" asal saja aku jawab pertanyaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Mau &lt;em&gt;check-in&lt;/em&gt;?" kali ini tatapannya agak nakal. Dia menawarkan jasanya padaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku jadi lebih merinding mendengar perkataan itu. Dan kalian tahu? Aku sempat menelan ludah. Terbayang rasanya bagaimana dia memberikan kenikmatan kepada nafsu bejatku yg senantiasa mencari pelampiasan. Tapi untunglah aku masih waras, aku masih sadar bahwa kenikmatan yg hendak dia jual itu adalah kenikmatan yg terlarang. Setelah emosiku stabil aku katakan padanya, "Aku nggak punya duit Mbak"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mulut perempuan itu membulat mendengar jawabanku tersebut, dia mengangguk. "Minta rokok dong?!" ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Sorry Mbak, aku nggak ngerokok. Kalau kopi sih ada, mau?" aku memberikan alternatif kepadanya karena aku tahu dia kedinginan. "Dingin ya?" aku hanya meyakinkan dugaanku saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Iya nih, dingin banget", dia mengiyakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lalu aku sodorkan &lt;em&gt;cup&lt;/em&gt; kopi tersebut, "Udah tahu dingin, koq masih nekat make baju kaya gitu &lt;em&gt;sih?"&lt;/em&gt; aku iseng saja bertanya seperti itu. Kupasang muka tengilku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dia tertawa renyah. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya setelah menyeruput kopi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku mengangguk. "Silahkan!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Setelah itu, terjadilah percakapan yg cukup panjang antara kami berdua. Dia banyak bercerita tentang dirinya. Tentang masa remajanya yg indah, keluarganya, kebosanannya menjalani profesinya itu, harapan-harapannya, dan banyak hal lagi. Bahkan dia bercerita bagaimana dia bisa terjerembab ke dalam dunia seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Malam itu, sepertinya dia menemukan tempat yg pas untuk menuangkan semua keluhannya. Dan entah mengapa, aku pun seperti menghayati setiap penuturannya. Aku seperti ikut merasakan semua bebannya. Seperti ikut terhanyut. Dan sungguh, aku menyimpan rasa kasihan untuknya. Sebuah simpati. Sepertinya aku tidak rela menerima kenyataan yg ada. Rasanya aku ingin memprotes, mengapa perempuan secantik dan,-- &lt;em&gt;menurutku&lt;/em&gt;--, sepintar dia harus menjadi seorang pemuas nafsu lelaki hidung belang? Tapi siapa yg harus aku salahkan? Keadaan? Heuh, itu sesuatu yg sangat klise. Aku sangat muak bila mendengar seseorang menyalahkan keadaan. Bukankah dia sendiri yg tanpa sadar telah menciptakan keadaaan tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Boleh aku minta nomer hp kamu?" tanyanya sebelum mengakhiri percakapan kami malam itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku mengernyitkan sebelah alisku. Untuk apa, begitu batinku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sepertinya dia memahami apa yg aku pikirkan. "Nggak boleh?" nadanya seperti menyimpan kekecewaan, "Nggak apa-apa deh?!" dia hendak melengos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"Sebentar Mbak?!" aku mencegahnya. Aku jadi tidak tega juga, akhirnya aku berikan nomor ponsel kantorku yg biasa digunakan untuk menerima &lt;em&gt;kompalin&lt;/em&gt; dari downline kami, sebelum dia beranjak dari tempat duduknya. Di sampingku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;"&lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt; ya?! Boleh kan kapan-kapan aku nelpon atau sms kamu?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku mengangguk dengan sebuah senyum di wajahku. Dan, dia pun tersenyum. Namun kali ini senyumannya bukan senyuman nakal khas seorang perempuan jalanan. Tapi sebuah senyum manis yg tulus. Begitu indah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;*** Semenjak itu, kami mulai menjalin komunikasi. Sampai akhirnya, aku memberinya nomor pribadiku karena intensitasnya yg tinggi dalam mengontakku. Dia sering mengirimiku sms, dan aku pun selalu membalasnya. Saat dia merasa membutuhkan teman bicara, dia menelponku. Dan beberapa hari yg lalu kami bertemu. Sebuah pertemuan yg kami rencanakan sebelumnya. Sebuah pertemuan kecil yg meninggalkan kesan lain bagiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sore itu, dia tidak seperti yg aku lihat pada pertemuan pertama kami di persimpangan Otista. Sore itu, dia benar-benar jauh dari kesan perempuan malam. Dengan pakaian yg lebih sopan dan tertutup, ternyata dia tampak lebih anggun. Sangat anggun. Belum lagi sikapnya yg lembut dan santun. Aku yakin, itu bukanlah sikap yg dibuat-buat. Justru aku mengira, itulah dia yg sebenarnya. Seorang perempuan cantik dengan sikap yg santun dan simpatik. Begitu mengesankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Namun ada sesuatu yg membuatku serba salah. Sikapnya kepadaku. Sepertinya dia mengharapkan aku menjadi seseorang yg selalu ada untuknya. Entahlah, mengapa aku bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Aku hanya menangkap kesan tersebut dari arah pembicaraan dan bahasa tubuhnya. Aku harap aku salah dalam menyimpulkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Mungkin kalian akan balik bertanya, bagaimana perasaanku kepadanya? Baik, aku akan jujur. Dari pertemuan kecil yg sudah kami buat, dan hanya satu kali itu, aku merasa nyaman ada di dekatnya. Dan entah mengapa aku seperti tidak peduli dengan kenyataan yg ada, bahwa dia adalah seorang perempuan malam. Sungguh, aku tidak mempedulikannya. Yg membuatku bingung adalah, aku takut salah dalam menilai perasaanku sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-family:trebuchet ms;" &gt;Jadi tolong, berilah aku saran. Bagaimana aku harus bersikap dalam hal ini? Aku yakin kalian mengerti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-5975664994016061757?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/5975664994016061757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/rendezvouz_20.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5975664994016061757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/5975664994016061757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/rendezvouz_20.html' title='Rendezvouz'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-2517493239385317701</id><published>2009-01-19T14:42:00.005+07:00</published><updated>2009-01-20T16:11:58.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='punya orang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>parachutes</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;in a haze &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;a stormy haze&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;i’ll be around&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;i’ll be loving you, always&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;always,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;here I am &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;and I'll take my time&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;here I am &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;and I’ll wait in line, always &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;always&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;Chris Martin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-2517493239385317701?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/2517493239385317701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/blog-post.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2517493239385317701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/2517493239385317701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/blog-post.html' title='parachutes'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-1894678073238896575</id><published>2009-01-10T16:42:00.004+07:00</published><updated>2009-01-12T18:27:54.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Perang</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;perang,&lt;br /&gt;ya, perang lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;semakin menjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;berita ini hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;berita jerit pengungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tuan, tolonglah tuan ?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;perang dihentikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;lihatlah di tanah yg basah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;air mata bercampur darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tidakkah bosan telinga tuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;mendengar teriak dan pekik dendam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tidakkah jemu hidung tuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;mencium amis darah dan jantung korban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;derap kaki para pengungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;bercengkrama dengan derita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;derap kaki para pengungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;bercerita pada penguasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang anaknya yg mati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang istinya yg mati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang suaminya yg mati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang ibunya yg mati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang ayahnya yg mati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang temannya yg mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;tentang ...............................,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;dan tentang harapannya yg mati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;*sebagian besar dari lirik lagunya Bang Iwan Fals&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-1894678073238896575?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/1894678073238896575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/perang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1894678073238896575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/1894678073238896575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2009/01/perang.html' title='Perang'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-6010668260315234440</id><published>2009-01-09T04:12:00.001+07:00</published><updated>2009-01-10T07:21:35.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><title type='text'>Tentang Rasa</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Barangkali sudah menjadi keumuman bagi setiap orang untuk tidak pernah merasa cukup dengan apa yg dimilikinya. Dan mungkin aku termasuk di dalamnya. Ya, aku termasuk salah satu dari mereka. Begitu seringnya perasaan seperti itu datang, berkali-kali dan berulang-ulang. Entah puluhan, ratusan, atau mungkin ribuan kali,aku tak tahu. Dan konsekuensi dari itu semua adalah hinggapnya perasaan yg pasti tidak pernah dikehandaki kehadirannya, oleh siapapun. Perasaan yg tidak nyaman. Sangat tidak nyaman. Resah, bimbang, gundah, gelisah, dan apapun itu namanya, yg sejenisnya dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Meskipun secara zhahir, seseorang dalam keadaan yg serba berkecukupan bahkan mungkin berlebih, tapi bila hatinya tidak pernah mencukupkan dengan apa yg ada, maka pasti dan pasti berbagai macam perasaan yg sangat tidak nyaman tadi akan terus menemani kesehariannya, dan mengiringi setiap langkahnya. Sudah terlalu banyak contoh dalam masyarakat kita yg bisa dijadikan bukti atas perkara ini. Dan mestinya hal ini pun sudah cukup dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kekayaan pada hakikatnya ada di dalam hati. Ini berarti, kaya adalah sebuah rasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;color:#33cc00;"&gt;Pernah kudengar seorang 'alim mengatakan, apabila ada orang yg mengatakan bahwa orang Islam wajib kaya (secara zhahir; &lt;em&gt;pen&lt;/em&gt;) maka pastikanlah bahwa orang tersebut abnormal, dan jangan dengarkan pendapatnya (tentang hal tersebut; &lt;em&gt;pen&lt;/em&gt;). Karena yg harus adalah merasa dirinya kaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Maka sungguh beruntunglah orang-orang yg telah memiliki rasa semacam itu di dalam hatinya. Mencukupkan diri dengan apa yg ada. Ini bukan berarti mereka tidak berusaha untuk sesuatu yg lebih di dalam kehidupannya. Bukan. Tapi mereka paham bahwa setiap usaha yg mereka buat adalah dalam rangka menjalankan keharusannya sebagi manusia (&lt;em&gt;baca : kewajiban&lt;/em&gt;), yakni membuat asbab. Karena ia yakin bahwa usahanya tersebutlah yg akan menjadi ladang amal baginya. Karena soal hasil, itu mutlak menjadi hak perogratif &lt;em&gt;Rabb&lt;/em&gt;-nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di dalam qaidah &lt;em&gt;ushul fiqih&lt;/em&gt; disebutkan, apabila yakin bahwa usaha yg kita buat mampu mendatangkan rizki maka ini hukumnya musyrik, tetapi apabila kita tinggalkan usaha tersebut dengan dalih bahwa Allah-lah yg memberi kita rizki, maka hal tersebut hukumnya haram. Jadi letak persoalannya, untuk apa kita berusaha (bekerja, bertani, berdagang, dlsb) ? Jawabannya adalah, untuk menjalankan sunnah Baginda Nabi saw. Karena Beliau pun melakukan hal tersebut. Dan memang seperti itulah perintahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Aku yakin, apabila setiap orang memahami perkara ini maka rasa kaya pasti akan datang dengan sendirinya. Karena apabila orang telah memahaminya pasti dia akan mampu menempatkan dirinya dalam posisi yg sesungguhnya. Yakni sebagai seorang hamba. Dan bila kesadaran sebagai seorang hamba telah muncul maka dia pasti akan ingat untuk apa ia diciptakan. Yakni untuk mengabdikan diri kepada Rabb-nya. Ya, hanya untuk itu, tunduk dan patuh pada titah-Nya. Dan itulah sumber ketenangan hati seorang hamba. Hanya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-6010668260315234440?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/6010668260315234440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/08/tentang-rasa.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/6010668260315234440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/6010668260315234440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/08/tentang-rasa.html' title='Tentang Rasa'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-668336349038806536</id><published>2009-01-02T10:59:00.006+07:00</published><updated>2009-01-03T12:56:20.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Sebuah Revisi (Tentang Perempuan)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Awalnya mempesona dan mengagumkan, sehingga yg nampak dalam angan hanyalah tentang keindahan. Itu saja. Namun tunggu hingga saatnya tiba, dimana ia akan menyita seluruh perhatianmu. Ya, tidak sedikit laki-laki yg nampak seperti seorang bodoh di hadapannya. Bahkan tidak jarang yg terlihat seperti seekor keledai dungu. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Bukankah sudah terlalu banyak kisah yg kita dengar bagaimana seorang laki-laki,--bahkan orang-orang besar sekalipun--, dijadikan alat untuk memuaskan hasrat seorang perempuan terhadap kemewahan dan keglamoran dunia ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Namun ada sebuah hal yg lebih parah. Sebuah fenomena yg sudah berumur ratusan tahun, dan kini semakin menjadi-jadi. Hanya saja, saat ini semua itu telah dikemas dengan kata-kata yg terkesan berkelas. Dalihnya pun macam-macam, tren, mode, seni, profesionalitas, tuntutan peran, kemajuan zaman, mengekspresikan diri dan lain sebagainya. Tapi tetap saja, perempuan hanya dijadikan sebuah objek. Sebuah komoditi yg dinilai tidak lebih dari barang dagangan. Kemolekan tubuh dan sensualitasnya bisa dilihat secara cuma-cuma. Dan lebih parah lagi, atau mungkin celakanya, mereka sudah tidak merasa malu dengan hal tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka merasa bangga dan terhormat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Seseorang pernah berkata kepadaku, dahulu, mereka yg mengaku dirinya pelacur saja tidak mau memperlihatkan kemolekan tubuhnya secara cuma-cuma. Namun hari ini, mereka yg mengaku sebagai wanita baik-baik dan terpelajar pun, rela mempertontonkan kemolekan dan bagian-bagian terlarang dalam tubuhnya kepada siapa saja. Gratis. Diobral malah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Coba kita lihat dan mari kita nilai dari sudut pandang yg paling jernih. Adakah bedanya para pelacur dan &lt;em&gt;(maaf)&lt;/em&gt; kebanyakan artis wanita yg menjadikan kemolekan tubuh dan sensualitasnya sebagai&lt;em&gt; "senjata"?&lt;/em&gt; Ya, hanya sedikit bedanya bukan? Yg pasti, mereka sama-sama menjual harga diri mereka, namun dalam level, bentuk, dan cara yg berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Namun bagaimanapun haruslah diakui, wanita adalah perhiasan terindah yg ada di jagat raya ini. Bayangkan bila hidup kita tanpa keberadaan mereka. Mereka&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt; adalah penawar duka, sumber motivasi dan inspirasi, serta penentram jiwa. Bila seorang perempuan itu baik (baca :&lt;em&gt; shalehah&lt;/em&gt;), maka ia akan menjadi makhluq yg sangat luar biasa. Yg katanya, disebutkan dalam sebuah &lt;em&gt;khabar&lt;/em&gt; bahwa do'anya lebih maqbul daripada do'anya 70 orang wali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Peradaban modern memang telah membuat perempuan sedikit lebih bijaksana, tapi justru hal itulah yg telah menciptakan penderitaan lebih berat baginya karena ketamakan laki-laki. Namun sangatlah jarang yg menyadari hal tersebut. Perempuan masa lalu adalah istri yg bahagia, namun perempuan masa kini ialah seorang nyonya yg menderita. Di masa lalu ia berjalan dalam cahaya dengan mata buta, namun kini ia berjalan dengan mata nyalang dalam kegelapan. Dahulu, ia anggun dalam kebodohannya, berwibawa dalam kebersahajaannya, dan perkasa dalam kelemahannya. Kini ia telah menjadi buruk dalam kelincahannya, picik dan tanpa hati nurani dalam kepintarannya, serta rapuh dalam kekuatannya. Akan datangkah masanya, ketika keanggunan dan kepintaran, kelincahan dan kewibawaan, serta kelemahan raga dan keperkasaan jiwa berhimpun dalam diri wanita? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-668336349038806536?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/668336349038806536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/08/tentang-perempuan.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/668336349038806536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/668336349038806536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/08/tentang-perempuan.html' title='Sebuah Revisi (Tentang Perempuan)'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-4502044362955357353</id><published>2008-12-27T13:48:00.002+07:00</published><updated>2009-01-03T12:57:50.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Orang Miskin ?</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;**** Bila ada orang yang bangga menjadi miskin, mungkin akulah orangnya. Bagaimana tidak, sejak pemerintah menjanjikan akan memberikan dana "Bantuan Langsung Tunai" (BLT), aku mengikutsertakan keluargaku sebagai keluarga yang patut disumbang. Dan kiranya, aku memang patut diperhatikan pemerintah. Tidak punya pekerjaan tetap, punya istri dua, anak lima, yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aku sudah berusaha banting tulang sekuat tenaga. Terkadang menjadi sopir tembak. Serabutan di bengkel mobil. Atau menjadi kuli angkut di pasar. Tetapi, penghasilan yang aku dapat begitu-begitu saja. Hanya bisa untuk makan dan membayar utang. Makanya aku bersyukur mendengar kabar pemerintah akan memberikan sumbangan langsung tunai pada rakyat miskin. Dan aku menyatakan bahwa keluargaku miskin. Aku membutuhkan kartu kemiskinan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika orang-orang dari kelurahan berencana datang untuk memeriksa keadaan rumahku dari istri pertama, terpaksa aku menyuruh istriku menyembunyikan pesawat televisi 14 inci miliknya di kolong tempat tidur. Tak lupa pula melarang salah satu anakku yang biasa bermain sepeda. Semua baju yang bagus-bagus tak boleh ada di dalam lemari. Dispenser, rice cooker, kulkas, harus dienyahkan untuk sementara. Pokoknya, di mata aparatur pemerintah kami harus terlihat miskin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Begitu pula di rumah istri keduaku. Saat pemeriksaan, istri mudaku yang masih bekerja di sebuah pasar swalayan aku larang bekerja. Aku meminta istriku izin dulu pada perusahaan, untuk sementara di rumah menunggui si kecil. Sepeda motor hasil kreditan kami titipkan di rumah seorang kerabat dekat. Harapanku, saat orang dari kelurahan memeriksa rumah kami, tak ada barang-barang yang dikategorikan sebagai barang mewah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebelum pemeriksaan berlangsung, anak tertuaku,--anak dari istri pertama--, protes padaku, “&lt;em&gt;Pak,kalau cuma main playstation masak nggak boleh?”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Nggak boleh! Kamu sehari saja nggak main PS bisa,kan?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Memangnya kenapa harus disembunyikan, sih, Pak?”&lt;/em&gt; dia malah balik bertanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena dia memang belum tahu kalau orang yang datang memeriksa rumah kami adalah petugas dari kelurahan yang memastikan apakah kami benar-benar miskin atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Nak, tolonglah bapak sehari ini saja. Kamu nggak main PS sehari saja nggak akan disebut pecundang. Besok dan lain waktu, kamu bisa main sepuasnya kok?” &lt;/em&gt;Anakku yg tertua itu akhirnya mau mengerti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tetapi, malah ibunya yang tiba-tiba tidak terima. &lt;em&gt;“Kita nggak pantas mendapatkan sumbangan pemerintah, Pak. Kan kita masih mampu...” &lt;/em&gt;katanya, seraya menggendong Tika, anak kami yang paling kecil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Bukan soal mampu atau tidak, Bu. Aku hanya ingin mendapatkan uang dari pemerintah. Daripada uang itu mereka makan sendiri, kan lebih baik kita juga ikut menikmati.” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Maksud Bapak apa, toh? Bukankah masih banyak orang lain yang lebih membutuhkannya?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Bu, dengar ya. Ibu tahu kan Pak Dirjo?”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Pak Dirjo yang mengaku adiknya Pak Lurah itu, kan? Ya tahu dong!”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Nah, Pak Dirjo saja dapat kok Bu. Kalau orang seperti Pak Dirjo saja dapat bantuan langsung tunai, kenapa kita tidak?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Pak Dirjo kan lain, Pak. Mungkin dia memang sedang butuh uang. Lagipula, berapa besar sih pemberian pemerintah itu. Nggak sebanding sama omongan orang-orang nanti, Pak. Kalau mereka tahu kita juga dapat...” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Apa pedulinya sama orang lain, Bu. Memangnya mereka peduli kalau kita miskin atau nggak? Lagipula, lumayan kalau cair, Bu. Dalam dua bulan ini, kita dapat enam ratus ribu. Di zaman serba sulit seperti ini, orang macam kita mencari satu rupiah saja susah. Kalaupun uang itu tidak kita ambil, apa Ibu tahu uang itu dikemanakan?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Ya, disimpan pemerintah, Pak.” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Disimpan di mana? Apa Ibu tahu?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Ibu ndak tahu! Itu kan urusan pemerintah!” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Ibu mau tahu uang rakyat itu ditaruh di mana?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Apa Bapak tahu?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;“Justru karena aku juga nggak tahu, makanya aku berusaha mendapatkan sumbangan itu!”&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah itu istri pertamaku diam. Pada akhirnya ia setuju dengan rencanaku mengambil bantuan langsung tunai yang diberikan pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;**** Ternyata pemeriksaan seperti yang dibicarakan banyak orang tak pernah terjadi. Tak ada orang dari kelurahan atau instansi pemerintah manapun yang memeriksa kedua rumahku. Yang aku temui justru Pak Jalil, orang dari kelurahan yang menangani proyek bantuan langsung tunai di kampungku. Pak Jalil bilang, bahwa aku dijamin mendapatkan bantuan itu. &lt;em&gt;“Yang penting ada pelicinnya...”&lt;/em&gt;, ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku tentu saja menyetujui usul Pak Jalil. Kuturuti kemauannya, sebab yang lainnya pun begitu, katanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah mendapat kartu untuk mengambil uang bantuan langsung tunai di kantor pos nanti, aku berjanji akan memberikan sepuluh persen pada Pak Jalil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tetapi bukan sesuatu yang mudah mengambil uang bantuan pemerintah di kantor pos. Kudengar Pak Dirjo ditanyai ini dan itu oleh petugas. Rupanya ada saja petugas kantor pos yang bersikap sinis saat Pak Dirjo mengambil uangnya. &lt;em&gt;“Masak orang seperti Bapak dapat juga?”&lt;/em&gt; tanya seorang petugas di kantor pos, saat Pak Dirjo mencairkan dana bantuan langsung tunai miliknya. Pak Dirjo cuma senyum, karena ia tidak bisa mengelak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mendengar cerita Pak Dirjo yang entah dari mana datangnya itu, aku pun mempersiapkan diri sebaik mungkin agar petugas kantor pos tidak curiga padaku nantinya. Aku harus mengubah penampilanku agar aku terlihat benar-benar miskin. Sebab, menurut ketentuan resmi pemerintah, yang berhak mendapatkan dana bantuan langsung tunai adalah rakyat yang benar-benar miskin. Warga yang memiliki televisi, tidak masuk ke dalam kategori rakyat miskin. Kalau ternyata aku dan keluargaku tetap mendapatkan kartu untuk mengambil dana bantuan langsung tunai itu, bukan semata-mata karena kami miskin. Melainkan karena aku sudah berjanji pada Pak Jalil,--oknum pemerintah kelas cere itu--, akan memberikan bagian untuknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;**** Pada hari pencairan dana di kantor pos, aku sudah siap pagi-pagi sekali. Tadinya, aku ingin pakai sepeda motor istri mudaku. Tetapi aku urungkan karena khawatir akan banyak cibiran dari orang-orang yang ikut mengambil dana itu, menganggapku sebagai rakyat yang tidak berperikemanusiaan, karena ikut-ikutan mengambil bagian yang bukan haknya. Untuk itulah aku cukup berjalan kaki, dilanjutkan naik angkutan kota, lalu berjalan sekitar seratus meter untuk memasuki pintu kantor pos. Aku berjalan dengan langkah gontai. Aku lupa bagaimana cara orang yang benar-benar miskin berjalan. Mungkin lebih gontai dari orang kaya. Atau lebih tidak bersemangat daripada orang putus asa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan yang terpenting adalah penampilan. Sebelum berangkat, kucari baju paling kumal yg ada di lemariku, tidak menarik, kalau perlu yang ada tambalannya. Tapi, aku tidak punya. Maka kurobek satu kemeja yang sudah tua dan agak lusuh, lalu segera kukenakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku sengaja tidak mandi terlebih dulu, agar terlihat benar-benar kumuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Alhasil, setelah tiba di kantor pos, semua dugaanku tentang orang miskin di negaraku benar-benar meleset! Ternyata tidak semua orang miskin kumal seperti aku. Karena saat aku tiba di halaman parkir kantor pos, halaman tersebut dipenuhi sepeda motor. Mereka adalah orang-orang yang hendak mengambil dana bantuan langsung tunai sebagaimana aku. Namun begitu, lebih banyak perempuan tua dan ibu-ibu serta lelaki paruh baya. AKu tidak tahu apakah sepeda motor yang terparkir di halaman kantor pos ini milik mereka, atau mungkin cuma ojek. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat memasuki pintu kantor pos, antrian sudah lumayan panjang. Oh, begitu melimpahkah orang miskin di kampungku, di negeriku yg katanya &lt;em&gt;gemah ripah loh jinawi ini&lt;/em&gt;? Orang-orang saling berdesakan. Bahkan di antara mereka ada yang sempat ribut omongan. Aku berusaha mengalah. Aku pikir, aku dan kedua istri serta anak-anakku masih memiliki persediaan cukup uang untuk tiga hari ke depan. Jadi, tak perlu bernafsu mencairkan dana ini, apalagi sampai bertengkar dengan sesama pengantri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku menghindar ke salah satu sudut. Aku perhatikan sesama pengantri. Seorang ibu mengeluarkan kaca rias dari dalam dompetnya, lalu memoles bibirnya dengan sebuah lipstik bermerk. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada seorang lelaki paruh baya, kukira seumuran denganku, mengeluarkan telepon genggam dari kantong celananya. Karena penasaran, aku dekati lelaki itu. Aku mendengar lelaki itu bicara, &lt;em&gt;“Bu, antri banget nih! Dulu kenapa nggak pakai KTP Ibu saja. Di sini bau apek lagi! Ya, sudah. Saya antri. Tapi, kayaknya lama. Kalau kamu mau ke mal, kamu berangkat saja sama anak-anak duluan. Nanti saya menyusul!”&lt;/em&gt; Lelaki setengah baya itu menutup telepon selulernya. Bicaranya memang sedikit keras. Mungkin ia sengaja bicara keras-keras agar orang di sekitarnya mengetahui bila ia bicara melalui ponsel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berikutnya, ada satu dua orang pengantri lain yang juga mengeluarkan telepon seluler. Bahkan ada yang sempat mengabadikan orang-orang yang antri dengan ponsel kameranya. Tiba-tiba aku merasa muak melihat tingkah mereka. Sangat memuakan. Apalagi gelang emas salah seorang perempuan paruh baya yang berdiri di tengah-tengah antrian. Aku jadi ragu, apakah aku sedang berada di tengah-tengah antrian orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan pemerintah? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku tidak percaya bila aku tengah berada di sebuah kantor pos, tengah menunggu antrian pencairan dana kemiskinan. Aku merasa malu berada di antara mereka. Sangat malu. Ingin rasanya aku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menghujat mereka, seperti menghujat diriku sendiri. Aku benar-benar tak habis pikir, siapakah orang yang disebut miskin? Aku lihat di televisi, banyak sekali korban bencana alam yang membutuhkan dana kemanusiaan. Sementara aku seperti merengek-rengek, mengantri sumbangan pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk menghilangkan rasa malu, kukeluarkan surat pengambilan pencairan dana itu, lalu langsung aku robek-robek. Aku membuangnya ke tong sampah, di atas tumpukan tisu, kaleng bekas fresh drink, dan juga kulit jeruk mandarin. Semua itu sampah dari para pengantre. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;**** Hari berikutnya, saat Pak Jalil menagih jatah, kukatakan padanya bahwa aku tidak mengambil dana BLT tersebut. Namun, dia tidak percaya. Dia tetap yakin kalau aku telah mengambil dana bantuan tersebut di kantor pos. Sehingga dia tetap minta bagian sepuluh persen. Aku merasa muak dan juga kasihan padanya, maka kuberikan sepuluh persen dari jumlah uang yang seharusnya kudapat kemarin. Aku menatap kepergian Pak Jalil,--oknum pemerintah kelas cere itu--, sampai tubuhnya tertelan sebuah sedan mengkilat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Aku tidak peduli orang pemerintahan macam Pak Jalil telah menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Aku serahkan saja pada Tuhan. Aku yakin kelak Tuhan akan menghukum orang-orang zhalim sepertinya. Sebab aku percaya Tuhan Maha Adil. Namun aku khawatir, apakah orang seperti Pak Jalil mempercayai Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-4502044362955357353?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/4502044362955357353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/11/blt.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4502044362955357353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4502044362955357353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/11/blt.html' title='Orang Miskin ?'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8830446531501375571</id><published>2008-12-22T09:00:00.002+07:00</published><updated>2009-01-02T10:16:22.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>My Sweet Seventeen</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bila kau merencanakan sebuah perjalanan, pasti banyak orang yg akan bertanya padamu, kawan. Untuk apa kau lakukan itu semua? Apa kau tidak memiliki keinginan seperti kebanyakan orang? Ini kan hanya buang-buang duit dan waktu? Apa kau tidak sayang dengan itu semua? Dan sederet pertanyaan lainnya, yg pasti akan membuatmu jengah. Aku pun demikian, setiap kali kurencanakan sebuah perjalanan, orang-orang akan bertanya seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;br /&gt;Dan tak usah kau berargumen untuk menjawabnya. Cukup kau berikan saja sebuah senyum dan kebungkaman sebagai jawabannya. Ya, itu sudah cukup sebagai jawaban. Karena kau harus tahu, sebenarnya mereka tidak mengerti dan tak ingin mengerti. Entah apa maksud mereka bertanya seperti itu. Bahkan aku selalu ragu, apakah mereka benar-benar ingin mengerti dengan ini semua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Apa yg harus kujelaskan pada mereka, tanyamu padaku tempo hari. Sementara, mereka tidak pernah berbuat seperti apa yg telah kau buat. Bahkan keinginan untuk berbuat hal yg serupa pun tak pernah ada. Jadi jelas bukan, mereka tidak pernah merasakan apa yg telah kau rasakan, begitu kau berargumen padaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku pun mengamini pernyataanmu itu. Lalu aku kuatkan argumenmu, sepertinya akan percuma saja semua penjelasanmu itu nantinya. Mereka belum tahu kenikmatan yg dirasakan saat datang kesadaran bahwa kita memang kecil, bukan apa-apa. Atau mungkin mereka tidak akan pernah tahu? Karena sepertinya, mereka pun tidak memiliki kesungguhan untuk memahami hal itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Jadi sudahlah, tak usah kau pedulikan semua pertanyaan dan keheranan mereka. Biarkan saja. Pergilah sebentar, dan tinggalkan rumahmu sejenak. Sisakanlah waktu dalam hidupmu, untuk melihat dan menikmati dunia ini. Terlalu banyak tempat indah yg sangat sayang untuk tak kau singgahi dan tak kau nikmati. Hidup ini tidak melulu cuma harta, tahta dan kehormatan. Dengan melakukan perjalanan dan bertualang banyak hal yg akan kau peroleh, yg tidak akan kau dapati di bangku sekolah. Ingatlah kawan, hidup ini adalah merangkai segala macam pengalaman. Hidup adalah menyiapkan diri untuk membawa bekal menuju perjalanan panjang sesungguhnya ; menuju Al-Khaliq. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bukankah ini sebuah keinginan yg telah lama kau pupuk dan kau persiapkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Atau kau masih ragu untuk melakukan perjalanan ini kawan? Baiklah, aku akan ingatkan kau tentang perjalanan pertamaku yg pernah kuceritakan padamu tempo hari. Yg membuatmu iri padaku. Dan cerita inilah yg membuatmu ingin melakukan sebuah perjalanan. Sebuah petualangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kau tentu masih ingat dengan kisah yg pernah aku ceritakan padamu bukan, saat kali pertama aku melakukan perjalanan. Saat itu usiaku genap 17 tahun. Kau ingat itu? Saat itu aku nekat lari dari sekolah. Aku tinggalkan pelajaran. Aku katakan padamu bahwa aku benci sekolah, yg hanya membuatku seperti seorang koki penghapal menu-menu makanan di restoran. Dan saat itu kau mencoba untuk mencegah keputusanku dengan memberi pengertian. Tapi aku sudah terlanjur benci sekolah. Aku sudah terlanjur membenci teman-teman sekolahku yg serupa para penjilat, yg menghalalkan cara apapun untuk mendapatkan nilai yg baik, seolah-olah hal itu adalah segalanya. Aku terlanjur membenci guru-guruku yg tak memiliki dedikasi kepada profesinya, mereka seperti bermuka dua. Guru-guru yg aku rasa sudah tidak pantas menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Guru-guru yg tidak seperti guru-guru SD-ku dahulu. Guru-guru yg sudah tak lagi seperti guru &lt;em&gt;Oemar Bakrie&lt;/em&gt;. Dan itu semua membuatku muak. Aku apatis. Berbekal itu semua, aku memilih mengejar matahari ke timur. Kau ingat bukan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saat itu aku lupa segalanya. Yg ada dalam benakku saat itu hanyalah terus berjalan ke arah matahari terbit, menyongsongnya. Melakukan perjalanan dengan ber&lt;em&gt;liften&lt;/em&gt;. Ya, ber&lt;em&gt;liften&lt;/em&gt; menumpang berbagai macam kendaraan tanpa membayar ternyata mengasyikan, kawan. Tidur di stasiun kereta api, terminal bus, pos polisi, emperan pertokoan, dan teras masjid ternyata sangat menantang serta memberikan banyak pelajaran berharga. Bertemu dengan orang-orang baru, merangsang imajinasiku untuk terus melakukan perjalanan &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt; pada usia sekolah. Dimana orang-orang seusiaku saat itu sedang tekun mempersiapkan ujian sekolahnya. Sebagaimana kau saat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Betapa heroiknya, duduk di samping sopir truk pada malam hari, menemani kantuknya, mendengar ceritanya yg penuh derita, sehingga mengasah rasa sosialku. Begadang bersama preman di sebuah terminal bus, mendengarkan mimpi dan harapannya tentang sebuah keluarga kecil, lalu di ujung malam, seorang penusuk misterius menghabisi nyawanya. Mendengarkan cerita seorang pedagang rokok di stasiun kereta kecil yg mendambakan sebuah rumah kecil dengan sawah sepetak dua petak di mana kelak anak dan istrinya bisa berlindung. Semua peristiwa yg tidak ada di bangku sekolah itu memasuki relung jiwa remajaku. Mengendap dan mengerak di sana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Lantas, semua peristiwa itu aku catat dalam catatan perjalananku. Bahkan bila sempat, aku pun menceritakannya dalam surat-suratku untukmu, kawan. Aku merasa sedang bersekolah. Gedungnya adalah dunia yg mahaluas ini. Kelas-kelasnya adalah kota-kota yg aku kunjungi. Guru-gurunya adalah orang-orang yg kutemui dalam perjalanan. Dan pelajarannya adalah belajar peduli kepada sesama. Berbuat baik kepada mereka, belajar peduli dengan segala kesusahan hidup mereka, dan berbagi beban hidup bersama mereka. Siapapun itu, kawan. Meski aku tak mengenalnya sama sekali. Aku hanyutkan diriku dalam arus kehidupan mereka, terlibat langsung dan bergumul di dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dan saat kau dengar semua cerita itu setelah kepulanganku, kau katakan, itulah yg telah merubah caraku berpikir. Sekarang kau tak lagi apatis, begitu kau membesarkan hatiku.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Perjalanan itu telah menempamu menjadi seorang lelaki yg memiliki kepekaan sosial yg baik. Kau terus menghiburku. &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Sedikit banyak, kau telah mengetahui cara melihat kebaikan orang lain serta bagaimana menghargainya. Sepertinya kau telah sadar, betapa banyak kebaikan yg telah kau terima dari orang-orang terdekatmu yg belum sempat kau balas, yg dulu sama sekali tak kau hargai, begitulah kau terus mengomentariku, dan aku masih ingat tatapanmu saat itu. Aku lihat ada kebanggaan di sana. Ya, kau bangga kepadaku, kawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dan kau pun harus tahu, kawan, perjalanan itulah yg membuatku semakin mencintai mereka,--orang-orang yg telah memberikanku banyak kebaikan--, Ibu bapakku, adik-adikku, keluargaku, teman-teman dan sahabat-sahabatku dan tentu saja kau, kawan, serta setiap orang yg masih sanggup aku ingat kebaikannya. Dan saat itu, aku jadi tahu bagaimana rasanya merindukan mereka, orang-orang yg aku cintai. &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Rasa yg membuatku tak nyaman. Resah, gundah, dan gelisah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Di akhir perjalanan itu aku &lt;em&gt;homesick.&lt;/em&gt; Ya, aku ingat rumah. Aku merindukan suasananya. Sangat merindukannya. Dan perasaan itulah yg akhirnya mendasari keputusanku untuk mengakhiri perjalanan itu. Itupun sebuah pelajaran yg sangat berharga. Aku jadi sadar, betapa beruntungnya aku masih memiliki sebuah keluarga yg lengkap. Dan betapa beruntungnya pula memiliki orang-orang dekat yg mencintaiku. Serta, betapa beruntungnya memiliki sebuah rumah yg masih bisa aku rindukan untuk sebuah kepulangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saat itu, berjam-jam hanya aku habiskan untuk melamun, merenung tepatnya. Mengingat semua hal yg telah aku buat. Bayang-bayang masa laluku berkelebatan di kepalaku. Aku seperti mengumpulkan puzzle-puzzle kehidupanku yg berserakan. Saat itulah aku sadar, kawan, betapa berharganya mereka semua. Dan aku pun sadar, ternyata tidak baik terlalu lama meninggalkan orang yg kita cintai dan mencintai kita. Sehingga aku berani menyimpulkan, aku harus pulang. Ya, sejauh apapun seorang lelaki pergi meninggalkan rumahnya, ia tetap harus pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Adik-adik kecilku selalu memanggilku untuk pulang dalam mimpi. Mereka merindukanku, kakaknya. Begitu pula ibu dan bapakku, hampir setiap malam mereka tersenyum dalam tidurku, menyemangatiku, mereka tidak melarang&lt;em&gt; &lt;/em&gt;keinginanku untuk bertualang, meski sebenarnya mereka pun merasa berat untuk selalu berjauhan denganku, aku tahu itu. Mereka merindukanku, anaknya yg paling besar. Yg mereka harapkan bisa menjadi seorang lelaki sejati yg akan menjadi tulang punggung keluargaku kelak. Seorang lelaki yg mampu memberikan teladan kepada adik-adiknya, serta menjaga mereka. Seorang lelaki yg mampu menjaga ahli wanita yg ada di rumahnya. Menjaga kehormatan mereka. Belum lagi &lt;em&gt;si Manis&lt;/em&gt; yg aku kagumi, setiap malam wajah dan senyumnya yg memabukkan selalu tampak dalam tidurku. Aku benar-benar lelah dan kesepian saat itu, kawan. Setelah sekian jauh jarak yg kutempuh dalam perjalananku. Sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yg melelahkan. Sangat melelahkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Tapi anehnya, begitu fajar menyingsing, aku tidak pernah merubah arah. Aku terus menuju matahari terbit, berjalan dengan sisa-sisa semangatku. Semakin jauh dari rumah. Dan kau pun bertanya, mengapa? Lantas aku jawab, karena semakin jauh dari rumah, akan semakin banyak yg aku ketahui dan aku dapatkan sebagai bekal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Saat itu kau angguk-anggukan kepalamu, sorot matamu memancarkan keyakinan, dan kau bergumam, aku harus melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8830446531501375571?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8830446531501375571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/11/avonturir.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8830446531501375571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8830446531501375571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/11/avonturir.html' title='My Sweet Seventeen'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-910097338418401440</id><published>2008-12-16T15:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-16T15:40:47.331+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Implikasi Sifat Ilmu Barat di Dunia Modern Menyebabkan Krisis Kemanusiaan Yg Memilukan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;Guru Besar di ISTAC-IIUM, Malaysia mengatakan, implikasi sifat ilmu Barat di dunia modern telah menyebabkan krisis kemanusiaan memilukan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#00cccc;"&gt;Hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;-- Dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Desember 2008, dengan tema ”Dewesternisasi, Dekolonisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan” Prof. Dr. Wan Mohd Noor Wan Daud memaparkan bahwa salah satu sumber krisis peradaban manusia modern dewasa ini adalah krisis dalam keilmuan dan pemikiran. Dan inti dari krisis dalam keilmuan dan pemikiran ini berakar dari krisis epistimologi, hal ini terjadi karena konsep ilmu yang dikembangkan Barat melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu, dan memisahkan ilmu dari agama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Guru Besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia ini mengatakan,  implikasi dari sifat ilmu barat yang dikembangkan di dunia modern dewasa ini menyebabkan krisis kemanusiaan yang memilukan, yaitu rusaknya akhlak manusia dan hilangnya adab dari kehidupan manusia yang pada akhirnya meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri. Diantara fenomena yang menunjukkan hal ini adalah munculnya apa yang disebut oleh Prof Wan Daud sebagai fenomena ”Bangsa-Bangsa Yang Gagal”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebagai tanggapan atas problem ini maka Prof. Wan Daud menegaskan perlunya gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan, yang diantara tujuannya adalah bukan saja untuk memberikan solusi atas krisis peradaban manusia modern saat ini tetapi sekaligus sebagai cara untuk menegaskan identitas bagi umat islam sebagai umat yang memiliki cara pandang alam atau worldview tersendiri, yang islami dan bersumber dari wahyu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sementara itu, pembicara lain, Dr. Khalif Mu’ammar memaparkan lebih lanjut implikasi dari hegemoni sekulariasasi pada bidang politik dalam makalahnya yang berjudul “Dewesternisasi Politik Kontemporer: Islam dan Konstitusionalisme”. Menurut beliau, demokrasi tak dapat dipisahkan dari sekularisme dan liberalisme karena memang eksistensinya tergantung pada kedua filosofi tersebut. Karenanya penilaian terhadap demokrasi tidak dapat dipisahkan pula dari penilaian terhadap sekularisme dan liberalisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sejak kemunculan sekularisme, bidang yang pertama mendapat serangan ialah bidang politik. Karena tujuan sekularisme adalah agar supaya agama dan gereja tidak campur tangan dalam urusan dunia yang murni diserahkan kepada penguasa politik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pemikiran sekuler, menurut Khalif,  telah memisahkan antara wahyu dan akal, agama dan sains dan seterusnya. Sekularisme berasumsi bahwa kedua perkara tersebut dilihat saling bertentangan dan tak dapat dipadukan, keduanya dilihat secara dikotomik. Dengan dualisme ini, sekularisme telah menempatkan manusia dan Tuhan sebagai identitas yang berlawanan dan terpisah. Inilah yang dimaksud dengan desakralisasi politik. Desakralisasi politik memutuskan kuasa dunia dari kuasa transenden. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa pemerintahan agama akan menghalangi perubahan dan kemajuan. Manusia mengatur kehidupannya tanpa melibatkan bimbingan Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik  berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlaq, etika dan moral politik kontemporer yang merupakan esensi dari ajaran agama (Islam) itu sendiri. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar masivilis ”al-ghayah tubarriru al wasilah” (tujuan dicapai dengan cara menghalalkan segala macam cara).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kuliah umum ini merupakan kerjasama IPI Jogja, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Islamic Law Forum--FH UGM dan Jama’ah Shlahuddin UGM . [fathurahman/&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#00cccc;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;]  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-910097338418401440?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/910097338418401440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/implikasi-sifat-ilmu-barat-di-dunia.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/910097338418401440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/910097338418401440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/implikasi-sifat-ilmu-barat-di-dunia.html' title='Implikasi Sifat Ilmu Barat di Dunia Modern Menyebabkan Krisis Kemanusiaan Yg Memilukan'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-622083818627984010</id><published>2008-12-12T13:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:50:37.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahan renungan'/><title type='text'>Jangan Tertipu Dan Keliru</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sungguh, perkara terpenting dalam kehidupan seorang manusia, adalah iman. Perkara yg paling berharga adalah iman. Derajat yg paling mulia, adalah iman. Kekayaan yg sebenarnya adalah iman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hari ini, kebanyakan dari kita telah terbiasa menghitung kekayaan seseorang dengan apa yg nampak dari segi zhahirnya. Dengan uangnya, dengan hartanya, dengan sawahnya, dengan perusahaannya, dengan tokonya. Dan itu semua adalah perhitungan yg keliru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Akan datang satu masa dimana manusia mati, maka saat itu dia baru sadar bahwa dia tidak memiliki apa-apa. Dia tidak punya rumah, tidak punya kendaraan, tidak punya uang dan harta, tidak punya perusahaan, sawah, ataupun toko. Dan saat itu dia baru paham, bahwa perhitungan yg telah dia buat selama ini adalah perhitungan yg keliru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Saudaraku, memang telah menjadi ketetapan Allah swt, bahwa dunia ini tidak bisa dimiliki, oleh siapapun. Rumah tidak bisa dimiliki, kendaraan tidak bisa dimiliki, uang dan harta tidak bisa dimiliki, perusahaan, sawah ataupun toko, juga tidak bisa dimiliki. Semua itu  akan kita tinggalkan, dan akan meninggalkan kita semua. Dan itu adalah sebuah kepastian.  Sampai-sampai makanan yg telah masuk ke dalam perut kita pun, beberapa jam kemudian akan keluar lagi, masuk ke dalam kakus, tidak bisa dimiliki. Jadi apa yg bisa kita miliki dari dunia ini ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dan kebanyakan dari kita pun sudah sangat terbiasa, mengukur kemuliaan seseorang dengan pangkat, jabatan, ataupun kekuasaan yg dimilikinya. Dan inipun adalah tolok ukur yg sangat keliru. Karena akan tiba satu masa, dimana seluruh pangkat, jabatan, pun kekuasaan akan hilang dari tangan manusia. Bangkainya seorang raja dan bangkainya seorang kuli sama saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Maka janganlah tertipu dan keliru. Inilah nikmat sesungguhnya. Inilah kekayaan sebenarnya. Ya, nikmat iman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebiji &lt;em&gt;dzarrah&lt;/em&gt; iman akan Allah ganti dengan surga. Sekecil-kecilnya surga, seluas bumi lipat sepuluh kali. Ini apabila kita bandingkan dari segi luas. Apabila kita bandingkan dari segi nilai, maka sungguh tidak berbanding. Baginda Nabi saw pernah sampaikan bahwa tempat cemetinya seorang ahli surga lebih mahal daripada dunia dan segala isinya. Ini baru tempat cemetinya, belum cemetinya. Belum lagi dipan-dipan, ranjang-ranjang, dan istana-istana dan semua macam kenikmatan yg telah Allah siapkan ? Dan itu semua Allah berikan untuk dimiliki, selama-lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dan haruslah kita pahami bersama, bahwa seorang ahlul iman adalah calon raja besar. Hari ini apabila ada seseorang yg dicalonkan jadi presiden, misalnya. Maka orang itu akan dianggap orang yg istimewa, padahal belum tentu jadi. Kalaupun jadi, itu hanya dalam beberapa tahun saja. Dan beberapa tahun itupun pasti akan penuh dengan masalah. Tapi tetap saja orang tadi akan dianggap orang yg istimewa. Bandingkan dengan ahlul iman, dia adalah calon raja besar di surga. Dan yg mencalonkan, Allah sendiri. Dan ini pasti jadi, untuk selama-lamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Maka, adalah sebuah karunia yg tak ternilai ketika Allah tanamkan dalam hati kita benih-benih iman. Namun hari kita tidak paham terhadap perkara ini. Bahkan sebagian lainnya tidak mau memahami. Kalaulah kita habiskan seluruh usia kita untuk mensyukuri nikmat ini, maka itu semua tidak akan pernah cukup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Seorang 'alim telah datang ke negerinya orang kafir. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang lumpuh yg buta, bahkan seluruh tubuhnya dipenuhi penyakit lepra. Orang 'alim tadi heran karena melihat dari mulut orang sakit itu tidak henti-hentinya keluar kalimat tahmid, &lt;em&gt;"alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah&lt;/em&gt;, ...................". Maka si 'alim bertanya, "Wahai tuan, anda ini lumpuh, tidak bisa melihat, dan berpenyakit. Tapi dari mulut anda tidak henti-hentinya keluar ucapan tahmid. Nikmat Allah mana yg anda syukuri ?". Dan orang sakit tadi menjawab, "Anda ini betul-betul bodoh. Coba anda perhatikan, berapa banyak orang yg hidup di negeri ini ? Yg kenal kepada Allah hanya saya seorang. Bukankah ini nikmat yg sangat besar ?". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Maka inilah perkara yg harus sama-sama kita perbaiki.Karena hal inilah yg telah membuat tertib hidup kita jadi salah. Banyak dari kita yg menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar kekayaan, pangkat, jabatan, dan lain sebagainya, sampai-sampai lupa diri dan lupa waktu. Padahal, sehebat apapun usaha yg kita buat, tetap saja kita tidak akan mendapatkan lebih dari apa yg telah Allah tentukan untuk kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Wallahu a'lam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-622083818627984010?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/622083818627984010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/06/muqaddimah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/622083818627984010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/622083818627984010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/06/muqaddimah.html' title='Jangan Tertipu Dan Keliru'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-8262228471934176757</id><published>2008-12-11T10:08:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T10:20:15.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Anak Terlahir Sudah Mengimani Tuhan</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Penelitian ilmiah Dr. Justin Barrett menunjukkan bahwa mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;Hidayatullah.com&lt;/em&gt;-- Pernyataan bahwa keyakinan kepada Tuhan dalam kepribadian anak adalah hasil indoktrinasi semata, dibantah oleh Dr. Justin Barrett, peneliti ahli di Centre for Anthropology and Mind, University of Oxford, Inggris. Hasil penelitian ilmiahnya bertahun-tahun menunjukkan bahwa mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir. Temuan ini sekaligus membantah pandangan kaum Atheis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Laporan ini diliput Martin Beckford di media kondang Inggris, Telegraph, 24 November 2008 dengan judul “Children are born believers in God, academic claims” (Anak terlahir mengimani Tuhan, kata akademisi). Menurut Dr. Barrett, manusia berusia muda menganggap bahwa setiap sesuatu di dunia diciptakan dengan sebuah tujuan. Ini menjadikan mereka memiliki kecenderungan meyakini keberadaan Dzat Mahatinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Anak-anak yang masih belia telah memiliki keimanan kepada Tuhan bahkan meskipun mereka belum diajarkan tentang hal itu oleh keluarga mereka atau oleh guru mereka di sekolah. Mereka yang dibesarkan sendirian di pulau tak berpenghuni sekalipun akan menjadi beriman kepada Tuhan, kata Dr. Barrett yang juga tercatat namanya di Institute for Cognitive and Evolutionary Anthropology, Oxford University, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Bukti ilmiah berlimpah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebagaimana disiarkan BBC Radio 4 tanggal 24 November lalu, pendapat Dr. Barrett ini menyanggah pandangan sebagian kalangan atheis. Kalangan yang mengingkari Pencipta itu berpendapat bahwa keyakinan agama didapatkan anak melalui indoktrinasi dalam keluarga. &lt;br /&gt;Hal ini telah dibantah ilmu pengetahuan modern. Menurut Dr. Barrett, bukti-bukti ilmiah selama kurang lebih 10 tahun terakhir lebih kuat menunjukkan bahwa lebih banyak faktor tampak mempengaruhi perkembangan alamiah pola pikir anak. Ini di luar dugaan semula. &lt;br /&gt;Di antara faktor ini adalah kecenderungan melihat dunia alamiah sebagai sesuatu yang memang telah dirancang dan punya tujuan, dan bahwa suatu wujud cerdas ada di balik tujuan itu, kata Dr. Barrett.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dr. Barrett memiliki bukti-bukti hasil temuan ilmiah di bidang psikologi yang melibatkan anak-anak. Menurutnya, kumpulan bukti ini menunjukkan anak-anak memperlihatkan keyakinan naluriah bahwa hampir segala sesuatu telah sengaja dirancang untuk suatu tujuan tertentu.&lt;br /&gt;Di antara bukti ilmiah yang mendukung adalah percobaan pada bayi-bayi berusia 12 bulan. Perilaku keterkejutan teramati pada bayi-bayi itu saat diperlihatkan film di mana sebuah bola gelinding tampak tiba-tiba saja mencipta sebuah tatanan teratur rapi dari tumpukan acak.&lt;br /&gt;Dalam kajian ilmiah lain, anak-anak usia 6 dan 7 tahun ditanya mengapa burung pertama ada di dunia ini. Mereka menjawab &lt;em&gt;"untuk membuat musik yang indah"&lt;/em&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;"karena hal itu menjadikan dunia tampak indah ".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dr. Barrett memaparkan fakta tambahan mengenai penelitian tersebut. Ada bukti bahwa anak-anak yang usianya belum melebihi 4 tahun sekalipun telah paham bahwa meskipun sejumlah benda dibuat oleh manusia, namun dunia alamiah sungguhlah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Atheis merasa terganggu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Bisa ditebak, kalangan intelektual atheis sangatlah terganggu dengan temuan ini. Di antaranya adalah Anthony Grayling, Profesor Filsafat di Birkbeck College, University of London, Inggris. Di koran Guardian, 28 November 2008, ia menuliskan sanggahannya terhadap pernyataan-pernyataan Dr. Barrett tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Namun sanggahan tersebut lebih banyak berisi kecaman terhadap organisasi pemberi dana penelitian Dr. Barrett, yakni Templeton Foundation. Sanggahan semacam ini tentu saja tidak ilmiah dan tidak bisa sama sekali digunakan untuk menyanggah hasil penelitian ilmiah.&lt;br /&gt;Misalnya, adalah hal wajar dan biasa di dunia ilmiah bahwa perusahaan farmasi mendanai kajian ilmiah mengenai obat-obatan, lembaga pertahanan mengucurkan dana penelitian tentang teknologi persenjataan, dsb. Namun untuk mengatakan bahwa hasil penelitian ilmiah itu keliru karena didanai oleh lembaga-lembaga tertentu sangatlah tidak ilmiah. Menyanggah suatu hasil kajian ilmiah haruslah dengan kajian ilmiah pula.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;Evolusi tidaklah alamiah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam bukunya “Why Would Anyone Believe in God?” (Mengapa Orang Percaya Tuhan?) Dr. Justin Barrett memberikan jawaban sederhana atas pertanyaan yang menjadi judul bukunya tersebut: itu karena pola pikir kita sudah dirancang demikian. Penulis memaparkan hal ini disertai bukti berlimpah dari bidang ilmu kognitif (cognitive science), yakni ilmu yang mempelajari perihal pola pikir dan kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di samping itu, pakar antropologi telah menemukan bahwa di sejumlah masyarakat tertentu anak-anak mengimani Tuhan bahkan ketika ajaran-ajaran mengenai agama tidak diberikan kepada mereka, kata Dr. Barrett.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hasil kajian ini berarti bahwa anak-anak lebih cenderung percaya mengenai penciptaan daripada evolusi, terlepas apa yang dikatakan para guru atau orang tua mereka. &lt;em&gt;"Pola pikir yang mengalami perkembangan secara wajar dan alamiah pada diri anak-anak menjadikan mereka lebih mudah meyakini penciptaan ilahiah dan perancangan cerdas. Sebaliknya, evolusi tidaklah alamiah bagi nalar manusia; relatif sulit untuk dipercaya"&lt;/em&gt;, imbuh Dr. Barrett.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Teori evolusi menolak keberadaan Pencipta, penciptaan dan adanya perancangan sengaja di balik keberadaan alam semesta dan kehidupan ini. Dalam kacamata teori evolusi, dunia seisinya adalah mutlak bersifat materi semata. Keberadaannya bukan karena ada Tuhan yang menciptakan, namun muncul menjadi ada dengan sendirinya, tanpa tujuan dan tanpa makna keberadaan. [wwn/telegraph/guardian/bbc-radio4/&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;]  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-8262228471934176757?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/8262228471934176757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/anak-terlahir-sudah-mengimani-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8262228471934176757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/8262228471934176757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/anak-terlahir-sudah-mengimani-tuhan.html' title='Anak Terlahir Sudah Mengimani Tuhan'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-4218878009234458831</id><published>2008-12-10T08:59:00.000+07:00</published><updated>2008-12-10T09:04:06.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Wartawan Inggris Ungkap Skenario Israel Dan Neo-Konservatif Pecah Belah Islam</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Jurnalis Inggris mengungkap skenario Israel dan Neo-konservatif untuk memecah belah Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hidayatullah.com--Jonathan Cook, seorang jurnalis muda dan berbakat asal Inggris yang bekerja pada majalah terkemuka The Guardian, baru-baru ini menulis sebuah buku berjudul &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;"Israel and The Clash of Civilization" (Israel dan Benturan Antar Peradaban).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Buku tersebut dibesut di Amerika, dan sontak menjadikan negeri Paman Sam itu gempar. Keberadaan buku tersebut seakan membalik tesis Bernand Lewiss dan Samuel Huntington tentang benturan antar peradaban sebagaimana tertuang dalam buku &lt;strong&gt;"The Clash of Civilization"&lt;/strong&gt; yang fenomenal di paruh terakhir tahun 1990-an, dan memberi pengaruh yang sangat kuat pada kebijakan pemerintahan Amerika di era Bush untuk senantiasa memandang Islam sebagai "musuh".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebagaimana dilansir harian al-Quds (6/12), dalam bukunya Cook mengungkap dan membongkar skenario Israel serta kalangan neo-konservatif, yang menguasai lobi di gedung putih Amerika, termasuk Lewiss dan Huntington, terkait usaha mereka untuk memecah belah dan "membagi-bagi kue potong" Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Hemat Cook, sejak tahun 1980 Israel mulai menerapkan skenarionya untuk membelah negara-negara Arab, yang dimulai dari Palestina, menjadikan negara-negara Arab tidak memiliki kekuatan dan pengaruh terkait masalah Palestina disebabkan permasalahan-permasalahan dalam negeri yang timbul, meledakkan perang teluk, memprovokasi Amerika untuk menyerang Afganistan dan Iraq, dan seterusnya. Kesemua itu adalah babakan-babakan menuju berdirinya negara Israel Raya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sementara itu, kalangan neo-konservatif Yahudi yang menguasai lobi Amerika senantiasa menyetir Amerika untuk senantiasa mendukung segala usaha Israel. Maka tak mengherankan jika hampir semua kebijakan Amerika selalu timpang di hadapan negara-negara Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam kesimpulan akhirnya, Cook menyatakan bahwa titik simpul benturan peradaban dan krisis yang mengemuka di Timur Tengah dan di dunia Islam lainnya adalah Israel. Cita-cita Israel untuk mendirikan negara Israel Raya di Timur Tengah, yang kemudian menunggangi Amerika, adalah sumber dari itu semua. [qds/atj/&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;]  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-4218878009234458831?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/4218878009234458831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/wartawan-inggris-ungkap-skenario-israel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4218878009234458831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/4218878009234458831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/wartawan-inggris-ungkap-skenario-israel.html' title='Wartawan Inggris Ungkap Skenario Israel Dan Neo-Konservatif Pecah Belah Islam'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-957289855391145291</id><published>2008-12-09T13:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T13:44:31.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Warning, BIOHAZARD !!!!!!! (Virus Liberalisme dan Pluralisme)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;Bekerjasama dengan Amerika, sejumlah Perguruan Tinggi Islam --khususnya IAIN/UIN-- dikabarkan menyiapkan guru-guru agama yang “liberal”. Baca CAP Adian Husaini ke-250&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Adian Husaini&lt;br /&gt;Pada 25 November 2008, situs berita Detik.com menurunkan sebuah berita berjudul &lt;em&gt;”Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif”&lt;/em&gt;.  Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;”Guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa masih bersikap konservatif. Bahkan, para guru tersebut sangat rendah dalam mengajarkan semangat kebangsaan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Direktur PPIM-UIN Jakarta Dr. Jajat Burhanudin mengatakan, bahwa survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakan metode random acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawancara terstruktur terhadap 200 siswa.  &lt;em&gt;"Dari 500 responden, 67,4% mengaku merasa sebagai orang Islam dan hanya 30,4% yang merasa sebagai orang Indonesia,"&lt;/em&gt; tambah dosen Fakultas Adab UIN Jakarta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Lokasi survei dilakukan di kota-kota besar dan menengah di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Malang, Solo dan Cirebon. Berdasarkan hasil survei tersebut, Jajat merasa khawatir terhadap keberlangsungan berkebangsaan ke depan. Pemahaman kebangsaan yang sempit bisa mempengaruhi wawasan kebesangaaan. &lt;em&gt;"Banyak faktor kenapa guru agama berperilaku seperti itu, bisa karena pemahaman individu guru, kurikulum atau rendahnya dialog antar agama. Padahal itu di SMA/SMK umum, bukan disekolah agama," &lt;/em&gt;pungkasnya. Begitulah berita dari Detik.com.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Koran The Jakarta Post melalui situsnya, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.thejakartapost.com/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.thejakartapost.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;, juga menurunkan berita hasil survei PPIM-UIN Jakarta, dengan menulis bahwa &lt;em&gt;”Sebagian besar guru-guru agama Islam di sekolah negeri dan swasta di Jawa menentang Pluralisme, cenderung ke arah radikalisme dan konservatisme.&lt;/em&gt; (Most Islamic studies teachers in public and private schools in Java oppose pluralism, tending toward radicalism and conservatism, according to a survey released in Jakarta on Tuesday).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Menurut survei ini, sebanyak 62,4 persen guru agama – termasuk dari kalangan NU dan Muhammadiyah, misalnya, menolak untuk mengangkat pemimpin non-Muslim. Survei juga menunjukkan, 68.6 persen guru agama menentang diangkatnya orang non-Muslim sebagai kepala sekolah mereka; dan sebanyak 33,8 persen menolak kehadiran guru non-Muslim di sekolah mereka. Persentase guru agama yang menolak kehadiran rumah ibadah non-Muslim di lingkungan mereka juga cukup besar, yakni 73,1 persen. Sementara itu, ada 85,6 persen guru agama yang melarang murid mereka untuk ikut merayakan apa yang dipersepsikan sebagai “Tradisi Barat”. Begitu juga ada 87 persen yang menganjurkan muridnya untuk tidak  mempelajari agama-agama lain; dan 48 persennya lebih menyukai pemisahan murid laki-laki dan wanita dalam kelas yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Menurut Jajat Burhanuddin, pandangan anti-pluralis para guru agama tersebut terefleksikan dalam pelajaran mereka dan memberikan kontribusi tumbuhnya konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Survei PPIM-UIN Jakarta itu juga menunjukkan ada 75,4 persen dari responden yang meminta agar murid-murid mereka mengajak guru-guru non-Muslim untuk masuk Islam, sementara 61,1 persen menolak sekte baru dalam Islam. Sebanyak 67,4 persen responden yang lebih merasa sebagai muslim ketimbang sebagai orang Indonesia. Lebih dari itu, mayoritas responden juga mendukung penerapan syariah Islam untuk mengurangi angka kriminalitas: 58,9 persen mendukung hukum rajam dan 47,5 persen mendukung hukum potong tangan untuk pencuri serta 21,3 persen setuju hukuman mati bagi orang murtad dari agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebanyak 44,9 responden mengaku sebagai anggota NU dan 23,8 persennya mengaku pendukung Muhammadiyah. Menurut Jajat, itu menunjukkan kedua organisasi tersebut gagal menanamkan nilai-nilai moderat ke kalangan akar rumput. Menurutnya, moderatisme dan pluralisme hanya dipeluk oleh kalangan elite mereka. Ia juga mengaku takut bahwa fenomena semacam ini telah memberikan kontribusi dalam meningkatkan radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Bahkan, katanya, para guru agama itu telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim saat ini. Konservatisme dan radikalisme bukan hanya dikembangkan di jalan-jalan sebagaimana dikampanyekan oleh FPI, tetapi telah berakar dalam sistem pendidikan agama. Bahkan, lebih jauh ia katakan, bahwa sikap intoleran yang dikembangkan dalam pendidikan agama Islam selama ini akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari kaum non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Begitulah hasil survei PPIM-UIN Jakarta. &lt;em&gt;Secara jelas, penelitian PPIM-UIN Jakarta membawa misi besar untuk merombak pola pikir para guru agama di masa depan. Mereka diharapkan agar menjadi pluralis, tidak konservatif, tidak radikal. Mereka nantinya harus mau menerima pemimpin non-Muslim, menerima guru non-Muslim, menolak penerapan syariah, mendukung hak murtad, mendukung perayaan-perayaan model Barat, dan sebagainya. Itulah yang disebut oleh Direktur PPIM-UIN Jakarta itu sebagai jenis Islam moderat, Islam pluralis, atau entah jenis Islam apa lagi.&lt;/em&gt; Yang penting jenis Islam yang baru nanti harus mendapat ridho dari negara-negara Barat yang menjadi donatur penting dari lembaga-lembaga sejenis PPIM-UIN Jakarta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Misi inilah yang sebenarnya sedang diemban oleh lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan Islam yang sadar atau tidak menyediakan dirinya menjadi agen dari pemikiran dan kepentingan Barat. Dalam website PPIM-UIN Jakarta (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ppim.or.id/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.ppim.or.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;) dapat dilihat daftar mitra kerja dari lembaga ini, diantaranya: &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;AUSAID, US embassy, The Asia Foundation, The Ford Foundation, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Karena itu, yang kini sedang dikerjakan oleh sejumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia adalah menyiapkan guru-guru agama yang pluralis. Ini sesuai dengan isi memo Menhan AS Donald Rusmsfeld, pada 16 Oktober 2003: &lt;em&gt;“AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru,  lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka."&lt;/em&gt; (Harian Republika, 3/12/2005).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;AS dkk memang sangat serius dalam menggarap pendidikan Islam di Indonesia. Disebutkan dalam ”Laporan Kebebasan Beragama Internasional 2007” yang dikeluarkan oleh Deplu AS, bahwa: ”Misi diplomatik AS terus mendanai Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.”  CRCS adalah program pasca sarjana lintas budaya dan lintas agama yang ditempatkan di UGM yang misinya mencetak sarjana-sarjana agama yang pluralis. Namun, sebagai bagian dari program politik luar negeri AS, CRCS bukan sekedar program pasca sarjana biasa. Lembaga ini sangat aktif dalam menyebarkan pemikiran-pemikirannya ke tengah masyarakat, melalui berbagai program siaran di radio dan televisi. Hasil dialog itu pun kemudian dibukukan dan disebarkan ke tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Menyimak materi-materi yang disebarkan, terlihat dengan jelas, bahwa misi yang diemban oleh CRCS adalah misi penghancuran keyakinan dan fanatisme umat beragama terhadap agamanya sendiri. CRCS juga mengembangkan misi agar pelajaran agama nantinya dihapuskan dari sekolah-sekolah, digantikan dengan ”pelajaran keagamaan”. Dalam buku berjudul Resonansi: Dialog Agama dan Budaya, (Yogya: CRCS, 2008), dikutip ucapan nara sumber diskusi (Prof. Djohar MS) yang menyatakan: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;”Kalau pendidikan agama itu berarti mempelajari satu pemahaman keagamaan tertentu sedangkan pendidikan keagamaan itu mempelajari agama-agama. Kalau di madrasah misalkan itu adalah pendidikan agama yang mempelajari hanya agama Islam, tetapi kalau di sekolah-sekolah umum adalah pendidikan keagamaan, yang mencari common-ground dari semua agama… Nah, kalau common ground ini dipelajari di sekolah, maka persatuan dan kesatuan bangsa ini akan bisa tercapai. Sedangkan pelajaran agama sesuai dengan agama masing-masing siswa dipelajari di sekolah akan bisa memunculkan bibit-bibit perpecahan yang akan berbahaya di kemudian hari.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam buku terbitan CRCS Yogya ini juga dipromosikan bagaimana satu sekolah di Yogyakarta telah menerapkan pendidikan Pluralisme, dan tidak lagi mengajarkan pendidikan agama berdasarkan agama masing-masing. Seorang guru di sekolah itu menyatakan: &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;”...kami memang tidak bisa menggolong-golong anak melihat  dari sisi agamanya apa. Tetapi yang lebih penting menurut kami adalah meskipun dia tidak beragama tetapi kami yakin bahwa dia beriman.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Jadi, jelaslah bahwa CRCS mengemban misi penggantian pelajaran agama dengan pelajaran keagamaan yang lintas-agama. Pendidikan Religiositas sudah pernah diajukan oleh Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Semarang, dan didefinisikan sebagai:&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt; ”komunikasi iman antar-siswa yang seagama maupun berlainan agama mengenai pengalaman hidup mereka yang digali/diungkapkan maknanya, sehingga mereka terbantu untuk menjadi manusia utuh (religius, bermoral, terbuka) dan diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan sosial, demi terwujudnya kesejahteraan bersama lahir dan batin.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Di kalangan Katolik sendiri, banyak yang mempertanyakan model pendidikan agama semacam ini, khususnya mempertanyakan dimana posisi gereja sebagai lembaga yang mewartakan Kristus. Yang mengapresiasi gagasan ini diantaranya adalah Keuskupan Palembang yang bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Provinsi menyelenggarakan pelatihan untuk mempersiapkan para guru pendidikan Religiositas. Gagasan ini juga pernah dipresentasikan di Jakarta oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas pada 1 April 2006, dalam sebuah seminar bertema ”Pelayanan Keagamaan yang Inklusif bagi Para Siswa.” (Lebih jauh tentang Pendidikan Religiositas, lihat buku Problematika Pendidikan Agama di Sekolah: Hasil Penelitian tentang Pendidikan Agama di Kota Jogjakarta 2004-2006, terbitan Interfidei, 2007).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Meskipun masih merupakan hal yang kontroversial, model pendidikan agama yang baru inilah yang sedang dipromosikan oleh CRCS. Misi CRCS yang diakui sebagai bagian dari misi diplomatik AS juga bisa dibaca melalui jurnal  terbitannya, RELIEF (Journal of Religous Issues). Pada Vol. 1, No. 2, Mei 2003, editorial jurnal ini sudah mengritik pendidikan agama di Indonesia. Ditulis dalam jurnal ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;”Dalam realitasnya, pendidikan agama kita cenderung dogmatis, eksklusif, rigid, dan mengabaikan kebenaran-kebenaran di luar agamanya. Padahal, seperti ditulis oleh Paul F. Knitter dalam No Other Name,  bahwa kita tidak bisa mengatakan agama yang satu lebih baik dari agama yang lain. Semua agama, kata Fritjof Schuon dalam The Trancendent Unity of Religion, pada dasarnya (secara esoteris) adalah sama dan hanya berbeda dalam bentuk (secara eksoteris). Kebenaran dengan demikian tidak lagi eksklusif hanya ada pada agama tertentu, tapi pada semua agama. Kebenaran dalam agama, dengan demikian, adalah plural.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pemikiran yang disebarkan CRCS UGM ini tentu sangat naif. Aspek eksoteris (aspek luar, aspek syariat) dalam agama-agama adalah hal yang prinsip. Bagi kaum Muslim, ada tata cara shalat yang wajib diikuti, sebab cara ibadah itu diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, utusan-Allah yang terakhir. Kaum Muslim yakin, hanya itulah cara shalat yang benar kepada Allah. Kaum Muslim tidak dapat menerima teori, bahwa Allah akan menerima ibadah semua manusia, dengan cara apa pun ibadah itu dilakukan. Ada pun teori Kesatuan Transendensi Agama-agama pada level esoteris hanyalah khayalan Fritjof Schuon dan kawan-kawannya, yang anehnya juga dijadikan dogma dan diterima kebenarannya oleh banyak orang tanpa berpikir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam sampul belakang Jurnal RELIEF edisi ini juga ditonjolkan kutipan wawancara Prof. DR. Machasin, guru besar UIN Yogya, yang menyatakan: &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;”... kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pasca Perang Dingin, AS dan negara-negara Barat lainnya, memang sangat serius dalam mengembangkan pemikiran Islam seperti yang mereka kehendaki. Pada tahun 2007, menyusul berdirinya CRCS, di UGM juga didirikan program doktor lintas agama yang didukung oleh tiga kampus: &lt;strong&gt;UGM, UIN Yogya, dan Universitas Kristen Duta Wacana.&lt;/strong&gt;  Melalui lembaga-lembaga pendidikan tinggi lintas agama inilah diharapkan akan lahir pakar-pakar agama yang pluralis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Ke depan, kemungkinan mereka akan mengisi pos-pos sebagai dosen atau guru agama di sekolah-sekolah. Dengan cara seperti inilah, maka secara otomatis pendidikan agama di sekolah-sekolah akan berubah. Tidak lagi bersifat konservatif seperti yang dicap oleh PPIM-UIN Jakarta, tetapi sudah bersifat pluralis. Cara ini tentunya sangat efektif, dibandingkan dengan cara mengubah kurikulum dan materi pendidikan agamanya, seperti mensosialiasikan buku Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, sebagaimana pernah kita bahas dalam CAP-239.&lt;br /&gt;Dulu, di tahun 1980-an, rencana program pengajaran Panca Agama di sekolah-sekolah pernah gagal, karena ditolak keras oleh tokoh-tokoh Islam dan tidak mendapat dukungan dari kalangan akademisi dari Perguruan Tinggi Islam. Kini, situasi sudah berubah. Kini, justru lembaga seperti PPIM-UIN yang ingin merombak Pendidikan Agama, sesuai dengan pesanan Barat. Pemikiran-pemikiran keagamaan yang tidak sesuai dengan selera kaum liberal dicap sebagai konservatif, radikal, dan berpengaruh atas terjadinya terorisme di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Betapa naif dan konyolnya cara berpikir model PPIM-UIN Jakarta tersebut. Guru agama yang meyakini kebenaran aqidah dan syariah Islam dicap sebagai konservatif, radikal, dan sebagainya. Jika para guru agama menyarankan murid-muridnya agar tidak mengikuti perayaan-perayaan ala Barat, tentunya itu harus dihormati. Di sinilah kita melihat bagaimana otoriternya kaum liberal dalam memaksakan pandangan dan konsep-konsep Barat terhadap kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam masalah aqidah, sejak dulu, kaum Muslim sudah bersikap tegas. Berkaitan dengan kekufuran,  para pimpinan NU, misalnya,  telah bersikap tegas. Dalam Muktamar NU ke-14 di Magelang, 1 Juli 1939, ditetapkan bahwa kitab Taurat, Injil, dan Zabur yang ada di tangan kaum Kristen, Katolik, dan Yahudi sekarang ini bukanlah kitab samawiyah yang wajib diimani kaum Muslim. Dalam Muktamar NU ke-13 di Menes Banten, 12 Juli 1938, diputuskan, bahwa seorang (muslim; &lt;em&gt;red&lt;/em&gt;) yang mengatakan kepada anaknya yang beragama Kristen, ”Kamu harus tetap dalam agamamu”, yang diucapkan dengan sengaja dan ridha atas kekristenan si anak, maka orang tua tersebut telah menjadi kufur dan terlepas dari agama Islam. (Lihat, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam; Keputusan Muktamar, Munas, Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), terbutan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN-NU) Jawa Timur).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Dalam buku Tanya Jawab Agama  Jilid II, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI. Adapun  soal ”Mengucapkan Selamat Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar perbuatan ini tidak dilakukan. Terhadap orang yang mengakui adanya nabi lagi setelah nabi Muhammad saw, Majlis Tarjih PP Muhammadiyah tanpa ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa orang tersebut kafir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Pandangan dan sikap kaum Muslim yang tegas dalam urusan aqidah tersebut harusnya dihormati oleh para dosen dan peneliti di PPIM-UIN Jakarta. Keyakinan terhadap kebenaran agamanya juga ditunjukkan oleh Gereja Katolik. Melalui Dokumen Dominus Iesus yang dikeluarkan Vatikan pada 6 Agustus 2000, Gereja Katolik menegaskan: ”Jelas sangat bertentangan dengan iman Katolik,  bila berpendapat bahwa Gereja seperti salah satu alternatif jalan keselamatan bersama-sama dengan yang ditawarkan oleh agama-agama lain, yang dipandang sebagai pelengkap bagi Gereja, atau secara substansial sederajat dengan Gereja... ”. (Lihat perdebatan seputar Dominus Iesus pada buku Stefanus Suryanto berjudul Paus Benediktus XVI (Jakarta: Obor, 2008)).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Sebagai salah satu lembaga yang menyandang nama Islam, sebaiknya PPIM-UIN menghentikan aktivitas-aktivitasnya yang menyudutkan umat Islam dan mengajak umat Islam ragu dengan kebenaran aqidah dan syariah Islam. Kita mengimbau agar mereka mau belajar dan bersikap kritis – sedikit saja – terhadap pemikiran dan politik imperialistik negara-negara Barat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Kita berharap, lembaga-lembaga seperti PPIM-UIN mau menyadari kekeliruannya dan memiliki rasa malu untuk merusak agama dengan dalih membuat kemaslahatan untuk umat manusia. Masih banyak jenis penelitian lain yang bermanfaat bagi umat Islam, meskipun mungkin kurang diminati  para ”cukong”.  Betapa pun, kita sebenarnya salut dengan kesungguhan PPIM-UIN Jakarta dalam melakukan suatu penelitian. Satu pelajaran berharga bisa kita petik: &lt;em&gt;untuk merusak Islam pun perlu strategi dan kesungguhan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;Akhirul kalam, kita renungkan satu peringatan dari Allah SWT: &lt;em&gt;”Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.”&lt;/em&gt; (QS ar-Rum: 60). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;[Depok, 7 Dzulhijjah 1429 H/5 Desember 2008/&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;]&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#33cc00;"&gt;www.hidayatullah.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-957289855391145291?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/957289855391145291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/warning-biohazard-virus-liberalisme-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/957289855391145291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/957289855391145291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/warning-biohazard-virus-liberalisme-dan.html' title='Warning, BIOHAZARD !!!!!!! (Virus Liberalisme dan Pluralisme)'/><author><name>atenk</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06807914197889597722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_pSUHmGmvhXU/Suhcmquc1_I/AAAAAAAAASA/1o4uhnGC4Os/S220/atenk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2923454532600598290.post-3432926764745584145</id><published>2008-12-06T09:31:00.000+07:00</published><updated>2008-12-06T09:43:15.239+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='punya orang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fenomena'/><title type='text'>Aurat Perempuan, Pemandangan Terindah Yg Pernah Tercipta</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;“Sebelumnya saya mohon maaf kalau tulisan ini sedikit menjurus ke Pornografi, bagi yang tidak suka silahkan keluar dari jendela blog ini. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Tulisan ini hanya sebagai bentuk kegelisahan saya terhadap cara berpakaian perempuan. Insya Allah tulisan ini tetap mengandung nilai edukasi untuk kita semua.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Assalamu’Alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Jangankan melihat, menghayalkannya saja sudah menimbulkan fantasi yang luar biasa dipikiran para lelaki. Bukan lelaki normal namanya kalau nafsu syahwatnya tidak mencurah begitu melihat pemandangan yang teramat indah ini. Pesona alam yang disajikan dipulau Dewata sana, atau indahnya sunset dikala petang masih kalah jauh dari pemandangan yang satu ini. Ya, aurat perempuan, suatu pemandangan yang begitu dilihat tidak hanya menimbulkan kekaguman yang luar biasa atas kesempurnan ciptaan Tuhan, tetapi dalam sekejap juga mampu meningkatkan kinerja syaraf dan hormon hingga tercipta suatu kenikmatan yang teramat dalam. Kenikmatan yang membuat mulut para lelaki sulit terbuka, nafas yang sedikit tersenggal, dan mata yang tak bisa berkedip.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Begitulah realitas yang ada saat ini. Jika lelaki suka melihat aurat perempuan, maka perempuan suka memperlihatkan aurat mereka dihadapan para lelaki. Memang benar apa yang tercantum dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini secara berpasang-pasangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Dengan memakai kaos tank top yang dipadukan dengan rok mini plus tas jinjing berwarna cerah, dengan percaya dirinya mereka melangkah melewati para lelaki. Mungkin mereka tidak tahu atau sebenarnya tahu tapi cuek saja, kalau para lelaki disekitarnya sedang menikmati pesona alami yang secara tidak langsung mereka tawarkan. Suatu pesona yang tidak dikenakan biaya sepeserpun untuk menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Jika untuk melihat indahnya pemandangan di Hawai sana, atau melihat suasana romantis pada malam hari di menara Eifel paris harus mengeluarkan biaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah, tapi mengapa untuk melihat pesona alami terindah yang pernah diciptakan Tuhan ini harus dibayar murah? Kalau begitu adanya, berarti pesona alami yang teramat indah ini hanyalah pesona “murahan” belaka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Apakah perempuan-perempuan itu tidak mengetahui kalau pesona tubuh mereka itu adalah pemandangan terindah yang pernah tercipta?&lt;br /&gt;Apakah perempuan-perempuan itu tidak tahu kalau sebenarnya pesona alami yang ada pada tubuh mereka itu adalah amanat dari Tuhan yang harus mereka jaga?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Apakah mereka tidak tahu kalau pesona tersebut hanya boleh dinikmati oleh orang yang berhak atas diri mereka? Dan apakah mereka tidak tahu kalau Allah sangat memuliakan perempuan, sampai-sampai ada salah satu Surat dalam Al-Qur’an yang bercerita tentang mereka?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Wahai mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, jagalah dengan baik amanah dari Tuhan yang teramat berat itu. Jika kalian terbiasa dengan pakain yang dhalim yaitu pakaian yang tiada pantas untuk kalian kenakan, maka mulailah untuk mengenakan pakaian yang menurut kalian itu baik, pakaian yang tidak memperlihatkan lekuk indah tubuh kalian, pakaian yang membuat kalian tiada diganggu oleh para lelaki.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala lebih dari apa telah mereka kerjakan.”&lt;/em&gt; (QS An-Nahl : 97)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Wallahu’alam&lt;br /&gt;Malang, 9 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Oleh : Abdul Hair&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2923454532600598290-3432926764745584145?l=mthalhah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mthalhah.blogspot.com/feeds/3432926764745584145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/aurat-perempuan-pemandangan-terindah-yg.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3432926764745584145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2923454532600598290/posts/default/3432926764745584145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mthalhah.blogspot.com/2008/12/aurat-perempuan-pemandangan-terindah-yg.html' title='Aurat Perempuan, Pemandan
